
Dua minggu sudah mereka berada di Jepang, kini mereka sedang berada di bandara menunggu jadwal keberangkatan. Tampak hadir disana tuan Jung dan sang istri yang mengantar mereka. Yuri yang sudah sangat menyukai Yoongi sebenarnya tidak rela kalau namja mungil itu pulang ke Korea. Ia merasa sangat kesepian, ditambah lagi putranya yang masih berusia empat tahun juga sangat menyukai Yoongi. Sepertinya Yoongi sudah menarik hati banyak orang disana.
" Sayang.... Apa tidak sebaiknya meminta mereka pindah kesini saja? Aku tidak rela membiarkan mereka pergi, apalagi Haruto juga sangat menyukai Yoongi... Coba kau bujuk Hosiky, siapa tahu boleh?"
" Itu tidak akan terjadi, anak itu sangat keras kepala. Apa lagi ini menyangkut adiknya, bahkan kalau Haruto berada diposisi Taehyung saat ini.. aku yakin dia juga akan melakukan hal itu."
" Kau memang selalu seperti itu!!!" Dengusnya dan mulai mendekati Yoongi. " Yoongi sayang.... Sering-seringlah mampir kesini ya? Nanti kita bisa membuat kue bersama lagi. Haruto pasti akan senang saat kalian berkunjung nanti."
" Nee, Imo... Kalau ada waktu, kami usahakan akan berkunjung."
" Daddy... Apa Soobin tidak kembali ke Korea bersama kami?"
Sesuai kesepakatan, Taehyung akan memanggilnya seperti itu. Beberapa hari yang lalu, tuan Jung sempat marah karena Taehyung memanggilnya paman. Bukan marah yang berlebihan, hanya sebal saja karena Hoseok saja sudah menganggap Chanyeol seperti Ayah keduanya maka Taehyung juga harus seperti itu. Dan Taehyung tentu saja tidak menolak nya.
" Dia akan berangkat besok lusa. Dia bilang ingin berangkat bersama Yeonjun, tapi Daddy yakin dia hanya malas untuk kembali bekerja."
Mereka bersenda gurau sambil menunggu penerbangan. Pelukan dan lambaian tangan mengantarkan mereka menuju pesawat yang sudah menanti. Langit Jepang yang semula sedikit mendung, kini mulai berganti cahaya matahari yang terus terpancar. Penerbangan Jepang-Korea
Tidak memakan waktu yang lama, bahkan hanya hitungan jam.
Begitu mendarat, Hoseok sudah ada didepan sana. Menunggu dengan cemas sambil berjalan kesana-kemari. Benar-benar tidak seperti seorang dominan sejati.
" Kenapa baru sampai!!! Bukanya kalian seharusnya sampai satu jam yang lalu!!! Kenap baru sampai!!!"
Bukan pelukan hangat atau ucapan selamat datang, justru interogasi yang mereka terima. Mereka lupa memberi kabar kalau penerbangan mereka ditunda satu jam karena cuaca buruk.
" Maaf, Hyung.... Penerbangan kami ditunda satu jam, dan aku lupa mengabari mu. Lagian kenapa kau repot-repot menjemput kami, kamu bisa naik taksi atau menelepon orang rumah."
Hoseok terbengong dan mulut terbuka dengan tidak elitnya. Ini adalah kalimat terpanjang yang ia dengar dari adiknya setelah ia kembali. Benar-benar luar biasa...
" Woah!!! Kau memberi dia makan apa Hyung? Bagaimana Tembok Es ini bisa banyak bicara lagi? Kau memberi dia sup api atau tumis cabe?"
" Berhenti bicara Hyung, kita pulang saja. Yoongi Hyung sepertinya juga sudah lelah."
Taehyung pergi meninggalkan sang kakak mengambil barang bawaan Yoongi dan membawanya sendiri. Yoongi hanya bisa mengikutinya.
" Dasar!! Setelah menikah anak itu semakin keras kepala!!! Tapi Hyung senang kau seperti itu, Tae..."
Hoseok tersenyum dan berjalan menyusul mereka. Bagaimanapun juga ia bersyukur, karena hal itu kini adiknya sendiri demi sedikit mulai membuka dirinya seperti dulu.
Selama perjalanan Yoongi hanya tertidur, Taehyung dan Hoseok tidak mempermasalahkan hal itu. Lagipula perjalanan ini memang membutuhkan waktu lumayan lama karena mereka menuju rumah baru mereka.
" Hyung... Soal kepindahan kami ke Canada, apa tidak bisa ditunda sebentar? Maksud ku kami baru saja menikah, dan rumah itu juga akan kami tempati. Apa tidak bisa menunggu lebih lama lagi?"
" Tidak bisa, Tae... Kau harus segera pindah kesana. Soal rumah itu bisa Hyung atur. Kau bisa menyewakannya sementara, setelah semua masalahnya selesai kalian bisa kembali lagi kemari."
" Apa aku benar-benar harus kesana Hyung? Apa tidak Hyung saja yang pergi kesana?"
" Kau tahu kan kakak iparmu sedang hamil besar? Hyung tidak tega jika harus meninggalkan nya disaat seperti ini, dan ini juga untuk kebaikan mu."
" Maksud Hyung?"
" Kita bicarakan dirumah saja."
...~Light Of Blue ~...
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai dirumah baru mereka. Rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar, namun terlihat sangat nyaman dan indah. Walaupun tidak semegah rumah orang tua mereka, tapi itu terasa lebih baik untuk mereka saat ini.
Yoongi sudah terbangun lima menit yang lalu, dan tidak menyadari dirinya tertidur selama itu. Semua barang mereka juga sudah dibawa Taehyung kedalam. Ia jadi merasa bersalah.
" Maaf merepotkan mu, kau pasti kelelahan membawa semuanya."
" Tidak Hyung... Lagian Hoby-Hyung juga ikut membantu tadi."
" Kalau bukan karena Yoongi Hyung, aku juga ogah. Kau kan suaminya, kenapa Hyung juga harus membawa barang-barang mu!"
" Maaf ngerepotin. Akan ku buatkan kalian minuman dan ada beberapa kue yang aku beli tadi. Kalian duduk saja dulu."
" Makasih Hyung."
Yoongi pergi meninggalkan mereka yang mulai membuka pembicaraan. Entah apa itu ia tidak tahu, karena terlihat serius ia tidak ingin mengganggu.
" Jadi Hyung.... Kau ingin membicarakan apa?"
" Ha.... Hyung ingin kau pindah ke Canada secepatnya, dan....
Lanjutkan pengobatan mu disana."
Taehyung terdiam. Lidahnya terasa kelu, dan seluruh otot tubuhnya seperti mati rasa. Bagaimana Hyung nya bisa tahu hal itu, tidak mungkin Yoongi Hyung yang memberitahukan hal itu. Karena ia sudah berjanji padanya.
" Hyung.... Bagaimana kau-"
" Berhenti mengulur waktu, dan jangan menolak Hyung kali ini atau Hyung akan memberitahukan hal ini kepada Appa dan Omma."
" Tapi, Hyung.... Tak ada lagi yang bisa ku lakukan. Hampir semua dokter yang kutemui sudah menyerahkan tentang penyakit ku Hyung. Dan tidak ada lagi alasan untuk ku untuk terus bertahan seperti ini Hyung...."
" Kau punya banyak alasan untuk bertahan Tae... Ada aku, Appa, Omma... Dan sekarang.... Kau punya Yoongi Hyung... Apa kau tega meninggalkan nya seperti itu?"
" Aku-"
'PRAANG!!!!'
Terdengar suara benda jatuh/pecah dari arah dapur. Keduanya saling bertatapan, dan menyadari sesuatu.
"YOONGI HYUNG!!!"
Tanpa menunggu lama, keduanya berlari menuju dapur dimana Yoongi berada. Mereka terkejut mendapati Yoongi sudah tidak sadarkan diri di sana. Taehyung dengan sigap menggendong ala bridal style dan membawa Yoongi keluar.
" Kita ke rumah sakit, biar Hyung yang menyetir."
Tak mau banyak berdebat, Taehyung langsung membawa Yoongi kedalam mobil. Tangannya tak henti menepuk pelan pipi Yoongi agar terbangun sembari terus memanggil namanya. Seharusnya ia sadar dari tadi bahwa Yoongi tengah sakit. Wajah pucat nya juga belum sepenuhnya hilang dan kini bertambah pucat. Apa yang salah? Apa Yoongi Hyung keracunan makanan, dan ia tidak menyadarinya?
Taehyung tidak bisa tenang menunggu Yoongi diperiksa. Dirinya sibuk mondar-mandir kesana-kemari sambil sesekali menatap pintu, berharap dokter segera keluar. Hoseok yang baru datang hanya geleng-geleng kepala, ia baru saja mengabari orang rumah kalau Yoongi masuk rumah sakit dan sebentar lagi mereka akan segera menyusul.
" Ini salahku Hyung... Bagaimana kalau Yoongi Hyung keracunan makanan? Aku sangat bodoh tidak bisa memperhatikannya, bagaimana kalau-"
" Hei, tenanglah. Dokter sudah menanganinya. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja."
Pintu terbuka. Dokter Park Shin Hye yang tak lain adalah ibu mertua Hoseok mendekati mereka.
" Omma bagaimana keadaan Yoongi Hyung?"
Dokter Park hanya tersenyum melihat kepanikan dari wajah sang menantu dan juga Taehyung.
" Dia baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan dan karena ada beberapa makanannya yang seharusnya tidak boleh dimakan berlebihan, jadi itu sedikit mempengaruhi kesehatannya."
" Jadi Yoongi Hyung benar-benar keracunan makanan? Ini salahku, aku tidak mengetahui kalau Yoongi Hyung... Aku seharusnya..."
Taehyung jatuh terduduk memikirkan Yoongi, dirinya benar-benar tidak menyangka akan membuat malaikat sebaik Yoongi harus merasakan sakit seperti itu.
Dokter Park dan Hoseok mulai menenangkan Taehyung.
" Tidak perlu menyalahkan dirimu seperti ini, Tae... Hyung tahu kau tidak sengaja melakukannya. Kalau pun kau sengaja, Hyung sendiri yang akan menghajar mu."
" Hoseok benar. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah kesehatan Yoongi, jaga dia baik-baik. Awalnya mungkin sedikit merepotkan, tapi itulah yang akan terjadi selama awal kehamilan. Kau harus ekstra menjaganya."
" Tentu saja aku akan menjaga Yoongi Hyung. Itu tidak akan merepotkan, karena dia-
Eh???"
Taehyung dan Hoseok terdiam. Pikiran mereka mendadak Blang. Apa dokter bilang tadi? Hamil? Maksudnya Yoongi sedang hamil?
" Kenapa kalian diam dan melihat ku seperti itu? Jangan-jangan kalian tidak tahu Yoongi sedang hamil?"
Keduanya sama-sama menggelengkan kepala dengan wajah syok nya. Dokter Park hanya tersenyum. Pantas saja mereka tidak tahu makanan apa yang tidak boleh dimakan seseorang yang sedang hamil.
" Istrimu saat ini sedang hamil, dan kau akan segera menjadi seorang Appa. Dan karena umur kehamilannya masih sangat muda, ya mungkin baru memasuki Minggu pertama kau harus memperhatikan segala detailnya. Makan apa saja tidak masalah asal tidak berlebihan, kurangi makanan berlemak, pedas, asam dan hindari minuman beralkohol. Kau mengerti kan?"
Keduanya kembali mengangguk. Taehyung dan Hoseok masih terdiam, padahal sang mertua sudah meninggalkan mereka. Hoseok yang pertama tersadar, dan memegang pundak sang adik memintanya memandang dirinya sepenuhnya.
" Apa dengan ini kau masih akan bilang tidak ada alasan lagi untuk bertahan, Tae? Yoongi dan calon anak kalian membutuhkan mu. Kau harus sembuh untuk mereka."
Semua orang sangat gembira mendengar kabar membahagiakan itu. Baekhyun bahkan tidak berhenti berterimakasih kepada Yoongi. Sedangkan Yoongi sendiri hanya terdiam dengan seulas senyum. Dirinya tidak mendapati keberadaan Taehyung disisinya bahkan sejak ia sadar tadi. Mungkinkah Taehyung kini membencinya?
Pintu terbuka, menampilkan Taehyung dengan membawa beberapa makanan dan buah. Keduanya hanya saling tatap tanpa ada suara. Mengerti situasi, Hoseok mengajak semua orang pergi meninggalkan kedua orang yang membutuhkan privasi.
Taehyung mendekat, dan duduk di kursi yang tadi sempat diduduki Omma Baekhyun.
Terdiam cukup lama, isakan Yoongi menarik atensi Taehyung. Dirinya terkejut bukan main saat melihat Yoongi yang mulai menangis.
" Hyung, kenapa kau menangis? Ada yang sakit? Perlu ku panggil perawat atau dokter?"
" Maaf... Maafkan aku..."
Taehyung kembali terdiam. Ia sadar ini bukan kesalahan Yoongi seorang, ini juga bukan kesalahan mereka berdua. Karena mungkin ini sudah menjadi takdir mereka. Perlahan ia genggam tangan mungil yang terpasang infus itu, menenangkan sang pemilik yang masih senantiasa menyalahkan dirinya sendiri.
" Ini bukan salahmu, Hyung.... Mari kita besarkan dia bersama-sama. Kita mulai lagi semuanya dari awal."
Yoongi terdiam tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Melihat tidak ada reaksi dari sang istri, Taehyung tersenyum dan menghapus air mata di wajah pucat itu.
" Demi kalian.... Aku akan berusaha sembuh. Walaupun ini sangat terlambat... Apa kita bisa memulai semuanya lagi dari awal, Hyung? Maukah kau mendampingi ku ke Canada dan hidup dengan ku disana bersama anak kita?"
Air mata Yoongi tidak bisa terbendung lagi. Mungkin karena efek sedang hamil, ia justru menangis keras sambil memeluk Taehyung. Tak banyak bersuara, Yoongi hanya bisa mengangguk. Taehyung nya akan sembuh, dan itu membuatnya sangat bahagia. Mereka tidak tahu, dibalik tirai sebelah seseorang tengah menangis tanpa suara. Siapa lagi kalau bukan Jeon Jungkook.
Dirinya tidak pernah menyangka akan mendengar kabar itu. Dirinya hanya berniat melihat sang mantan untuk terakhir kalinya sebelum pindah ke Inggris, namun kabar yang baru saja didengarnya benar-benar membuat hatinya teriris. Yoongi tengah hamil anak Taehyung. Itu berarti sekarang tidak ada lagi alasan baginya untuk berada disini namja itu. Tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap di negara ini. Sebelum benar-benar pergi, ia lihat lagi wajah yang akan selalu ia simpan dihati terdalamnya.
" Selamat tinggal, Hyung. Aku harap kau akan selalu bahagia, dan maafkan atas semua luka yang kuberikan padamu."
Tak ingin mengganggu, Jungkook memilih pergi dengan diam-diam. Tak ada yang menyadari keberadaannya, hingga bayangannya pun menghilang diantara kegelapan. Meninggalkan jejak yang mungkin perlahan akan menghilang seiring berjalannya waktu.
...Aku pergi......
...Bukan karena aku...
...Menginginkannya.......
...Tapi aku...
...Harus pergi,...
...Agar kau bisa bahagia....
...Biarkan aku...
...Tanggung kerinduan ini...
...Sendiri......
...Selama ada kenangan...
...Bersamamu......
...Kau akan selalu...
...Hidup...
...Di hatiku......
...Selamat tinggal...
...Hyung.......
...Semoga kau...
...Bahagia....