Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
are you really love me?



Suara alarm yang berisik membangunkan namja yang tengah tertidur lelap. Dengan segera mematikan alarm dan bergegas mandi. Kurang dari 15 menit namja itu keluar dengan keadaan segar dan langsung memakai seragamnya.


Berjalan menuruni tangga saat sepasang mata elangnya melihat sang Hyung sudah duduk tampan sambil memakan sarapannya bersama sang Appa.


" Hyung sudah pulang? Bukannya harusnya besok baru kembali ke Korea? Memangnya Daddy sudah sembuh?" tanya namja itu mengambil tempat di hadapan sang Hyung.


" Hemmm... Semalam Hyung baru sampai, tapi kau sudah tidur. Daddy sudah lebih baik. Buktinya kemarin sebelum Hyung pulang, Daddy sudah mulai sibuk diruang kerjanya. Hyung sampai pusing dibuatnya, Tae.." jawab sang Hyung. Mereka adalah KIM TAEHYUNG sang adik dan JUNG HOSEOK sang Hyung.


Marga mereka memang berbeda karena Appa mereka juga berbeda. Saat Hoseok baru berusia 1th orang tuanya bercerai, dan sang Omma menikah kembali setelah itu lahirlah Taehyung. Walaupun berbeda Appa, namun mereka saling menyayangi. Bahkan Hoseok tinggal bersama keluarga KIM karena Daddy Hoseok tinggal di Jepang. Keluarga KIM tidak mempermasalahkannya karena mereka juga menyayangi Hoseok.


"Appa juga heran dengan orang satu itu... Bukanya istirahat ini malah langsung berkencan dengan berkas-berkas kantor. Appa hanya kuatir Daddy mu kecapean lagi Hoby" kata Appa KIM dengan lembut.


Hoby adalah nama kesayangan untuk Hoseok dari keluarga ini. Bukan tanpa alasan Appa Kim sampai seperti itu, karena ia juga pernah mengalaminya dulu. Bahkan ia pernah dirawat lebih dari seminggu karena kelelahan dan berakhir dengan menerima omelan sang istri.


"Hoby sendiri juga pusing sendiri melihatnya, Appa... Ingin rasanya Hoby kunciin Daddy Hoby di kamar dan memberi obat tidur padanya agar cukup istirahat, tapi Hoby takut kualat. Untung ada Yuuri Noona yang setia menjaga dan mengawasi Daddy, kalau tidak ada Yuuri noona entah bagaimana beliau bisa menjaga diri di negara itu..."helaan nafas itu menjadi tanda betapa khawatirnya Hoby pada sang ayah.


"Lagipula kenapa Daddy Jung tidak menikah secepatnya saja dengan Yuuri Noona? Kenapa harus menunggu Hoby Hyung lulus dulu?" Taehyung bertanya sambil menikmati sarapannya.


" Entahlah, Hyung juga tidak paham apa alasan Daddy melakukan itu. Tapi yang Hyung tahu, itu permintaan Yuuri noona. Noona meminta Daddy lebih perhatian pada Hyung. Padahal Hyung juga sudah dewasa, sebentar lagi juga lulus." Jawabnya seadanya.


Taehyung hanya memandang sang Hyung dengan tatapan datar. Padahal sang Hyung ini baru tahun kedua di kampus, artinya masih 2th lagi kalau mau lulus.


"Itu artinya, Yuuri juga perhatian padamu hoby-ah..." Kata sang Omma sambil meletakan minuman di atas meja.


" Hobby tahu, Omma... Yuuri Noona sangat baik dan perhatian. Selain itu juga tidak mempermasalahkan keinginan Hobby untuk bekerja disini. Asal Hobby sering memberi kabar."


Percakapan itu terhenti karena mereka harus cepat-cepat berangkat sebelum terlambat sekolah dan kuliah. Taehyung baru memasuki jenjang akhir sekolah menengah atas, sedangkan Hoseok sudah kuliah di tahun kedua.


Berangkat bersama sang kakak dengan mobil yang terbilang cukup mahal, karena mereka tergolong keluarga terpandang di Korea. Banyak pasang mata menatap puja kepada mereka. Apalagi wajah tampan itu seperti magnet yang memikat mata untuk terus menatapnya. Selang beberapa detik muncul mobil yang tak kalah keren mengambil parkir disebelah mobil mereka.


"Pagi Tae, Hoby.." sapa Seokjin yang lebih dulu turun dari mobil diikuti sang kekasih. Dan satu lagi orang keluar dari pintu belakang. Mereka adalah sahabat Hoseok. KIM NAMJOON, yang tak lain adalah kekasih KIM SEOKJIN. Dan seorang lagi MIN YOONGI, namja manis yang jarang sekali bicara.


" Pagi NAM-JIN Hyung, pagi Yoongi Hyung..."


Taehyung segera menyapa mereka setelah tahu siapa yang baru saja berbicara. Teman-teman Hyung nya ini memang sudah dekat dengannya. Bahkan mereka dulu sering main ke rumah saat senggang hanya untuk menemaninya bermain.


"YAK!!! TAEHYUNG JANGAN SUKA MENGGABUNGKAN NAMA ORANG SEENAKNYA...!!!"


Teriak Seokjin karena tidak suka namanya digabung dengan nama sang kekasih. Ia merasa itu bukan sebuah pujian tapi lebih seperti ledekan untuknya.


"Biar cepat Hyung... Kalau aku sebut satu-satu, lama." Jawabnya santai.


Seokjin hanya bisa menggerutu dan pergi dari tempat itu. Sedangkan yang lain hanya bisa tersenyum melihat kekasih sahabatnya yang terlihat kesal meninggalkan mereka.


Mereka memang mengambil kelas yang sama, hanya saja Taehyung sedang mengambil akselerasi untuk masuk kampus yang sama dengan sang kakak. Taehyung memang tergolong pandai, dan disaat ini dia masih duduk dibangun sekolah menengah atas. Kenapa dia mau mengambil akselerasi? Itu karena sang kekasih juga akan mengambil akselerasi padahal kekasihnya itu sudah lulus kuliah di usia muda, tapi entah bagaimana dan kenapa ingin merasakan bangku sekolah. Mereka pertama bertemu saat tahun ajaran baru dimana Taehyung naik kelas 2. Anak baru yang menarik perhatian padahal masih sangat muda.


Kedekatan mereka membawa hubungan yang lebih serius dan berakhir menjadi sepasang kekasih. Dan saat ini sang kekasih yang bernama JEON JUNGKOOK itu ingin masuk kuliah dengan jalur akselerasi. Padahal tanpa jalur itupun dengan mudah langsung diterima di universitas manapun. Dan tentu saja Taehyung tak ingin jauh dari sang kekasih.


" Kau benar-benar ingin mengambil jalur akselerasi ini Tae?" Tanya Yoongi di sebelah Taehyung.


Saat ini, ia sedang menemaninya menuju ruang Dekan untuk mendaftar. Usia mereka memang terpaut 2tahun sama seperti Hyung nya, namu Yoongi memiliki postur tubuh yang mungil.


"Ne, Hyung... Jungkook bilang dia dan Jimin Hyung sudah mendaftar ke kampus ini, jadi aku juga akan mendaftar ke kampus ini." Jawabnya sambil tersenyum kotak seperti biasa.


Mendengar nama Jimin disebut, membuat pipi Yoongi bersemu. Namja itu memang menaruh hati pada namja bernama Jimin itu. Jimin adalah orang kepercayaan Jungkook lebih seperti kakak yang selalu mengawasi adiknya kemanapun. Pertemuan mereka pun karena Taehyung yang mengajaknya. Sekalian double date katanya. Yoongi sudah mulai menaruh hati padanya karena perhatian Jimin yang begitu hangat. Namun sampai sekarang keduanya hanya sebatas teman.


Selesai dengan berkas-berkas yang lumayan banyak itu, Taehyung langsung menuju sekolah. Sebelumya dia sudah ijin akan mendaftar di universitas, makanya tidak masalah terlambat masuk kelas. Begitu masuk disuguhkan pemandangan senyum manis sang kekasih. Bagaimana tidak berbunga-bunga hati Taehyung...


"Ne.... Hyung sudah mendaftar tadi. Appa dan Omma juga tidak mempermasalahkannya. Tapi maaf baby, hyungie mengambil jurusan bisnis."


Memandang sang kekasih dengan wajah sedih. Padahal sang kekasih mengambil jurusan seni, karena Jungkook sudah pernah mengambil 3 jurusan dulu yaitu bisnis, hukum dan informatika. Sebenarnya Taehyung juga ingin masuk jurusan seni, tapi mau bagaimanapun ia adalah pewaris keluarga Kim, jadi ia harus bisa mengurus bisnis keluarga untuk seterusnya.


"Tidak masalah hyungie, yang penting kita satu kampus. Kookie senang akhirnya kita bisa bersama-sama lagi nanti."


Taehyung hanya tersenyum melihat tingkah laku sang kekasih. Walau Jungkook terbilang jenius, tapi tingkahnya masih seperti anak kecil. Ia sangat beruntung mempunyai kekasih seperti Jungkook. Walau kadang sempat membuatnya frustasi dengan menghilang selama beberapa hari tanpa kabar. Tapi, mau bagaimana lagi karena ia sudah terlanjur cinta mati dengan kelinci manisnya ini.


Jungkook memang seorang namja jenius. Selain itu keluarganya juga tidak bisa dianggap remeh. Perusahaan mereka menjadi pemegang jabatan tertinggi di Korea, Amerika juga Eropa. Semua itu juga berkat campur tangan Jungkook sendiri. Walau sangat manja, Jungkook tidak pernah mencampurkan hubungan pribadi dengan pekerjaan. Hanya sang ibu yang terus memanjakan jungkook, maka dari itu Jungkook tumbuh dengan sikap manja, dan terkadang keras kepala. Kalau kalian bertanya dimana Appa Jungkook, jawabannya sudah meninggal saat Jungkook berusia 10 tahun karena sebuah kecelakaan janggal. Saat Jungkook tahu semua itu ulah pamannya sendiri yang ingin mengambil alih perusahaan mereka, maka dengan mengumpulkan bukti-bukti langsung menjebloskan sang paman kedalam jeruji besi.


Dari situ pula ia mulai tidak mempercayai siapapun. Hanya keluarga inti dan Hyung nya lah yang jadi pondasi untuknya bertahan hidup.


" Hyung... Maaf nanti aku tidak bisa pulang bersama. Aku dan Jimin Hyung ada urusan penting. Mungkin kita juga tidak bisa bertemu untuk beberapa hari ke depan."


Jungkook bersandar pada dada bidang kekasihnya itu. Mencari kenyamanan yang selalu ia dapatkan setiap ia merasa sedang kacau akan suatu hal.


" Lagi? Bukankah bulan lalu kau sudah pergi? Sekarang ada masalah apa lagi? Kenapa kau tidak menyerahkan semuanya pada Jimin Hyung saja?"


Ia tak habis pikir, padahal baru bulan lalu kekasihnya ini pergi mengerjakan sesuatu dan selama seminggu tanpa kabar sedikitpun. Dan sekarang ia bilang akan kembali pergi. Ia sadar betul posisi Jungkook yang memegang kendali atas semua perusahaannya, tapi bukan berati ia tidak memberi kabar padanya hingga membuatnya hampir gila setiap saat karena mengkhawatirkannya.


Sebagai kekasih, tentu saja ia khawatir dengan keadaan kekasihnya yang tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia hanya takut kehilangan jungkook, karena ia tahu banyak sekali orang yang mengincar Jungkook kekasihnya ini.


" Ayolah Hyung, kau tahu kan sudah tugasku memeriksa perusahaan keluarga. Jimin Hyung tidak bisa memeriksa semuanya sekaligus, aku perlu memeriksanya juga."


Taehyung hanya bisa pasrah saat melihat tatapan itu. Ia memang tidak bisa menolak apapun yang berhubungan dengan keinginan kekasihnya ini. Kadang ia menanyakan kembali halam hatinya, apakah Jungkook benar-benar mencintainya seperti ia yang sangat mencintainya?


Dengan langkah gontai, Taehyung menghampiri sang kakak yang menunggunya digerbang depan. Ia yakin Hyung nya akan bertanya macam-macam nanti. Perlahan ia menegakkan badan dan memasang senyum kotak andalannya.


" Hyung sudah lama disini? Mau langsung pulang?"


Hoseok tidak langsung menjawab. Ia masih menatap datar sang adik karena sedari tadi ia perhatikan, adiknya ini terlihat murung dan memaksakan senyum untuknya.


" Ada apa denganmu?"


Nah kan! Hyung nya ini langsung tahu apa yang sedang ia rasakan. Ia tidak mungkin menceritakan tentang kepergian Jungkook, karena ia tahu Hyung nya ini tidak menyukai Jungkook sejak kejadian terakhir itu. Kejadian dimana Jungkook menghilang tanpa kabar selama sebulan dan tidak bisa dihubungi. Taehyung bahkan sampai sakit memikirkannya. Dan saat ia kembali, Jungkook sama sekali tidak terlihat menyesal telah pergi tanpa kabar. Ia beralasan itu masalah perusahaan, jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hoseok yang mendengar semua itu sangat marah dan mulai membenci Jungkook. Ia beranggapan Jungkook tidak pantas untuk Taehyung, karena tidak mengkhawatirkan adiknya yang sakit gara-gara dirinya. Sejak saat itu pula setiap Jungkook berkunjung, Hoseok lebih suka menghabiskan semua waktunya dikamar.


" Tidak apa-apa Hyung."


" Kau ingin membohongi hyung-mu Tae? Kau tahu, kau itu tidak pandai berbohong. Apa ini tentang kekasihmu yang sombong itu?"


" Hyung... Jungkook tidak seperti itu. Dia hanya menjalankan apa yang sudah menjadi tugasnya."


" Ya..ya dan pergi meninggalkan kekasihnya tanpa kabar. Membiarkannya menunggu dalam ketidakpastian hingga membuatmu dirawat di Rumah Sakit. Bela saja terus."


Hoseok meninggalkan Taehyung dan masuk mobil begitu saja. Taehyung sudah tahu akan seperti ini jadinya. Ia hanya menunduk dan memasuki mobil itu. Ia bahkan tidak berani menatap atau berbicara dengan Hyung nya. Karena baginya saat Hyung nya marah itu sangat menakutkan.


Dalam perjalanan Taehyung memikirkan kembali bagaimana sikap Jungkook kepadanya. Sejak dulu tidak berubah dan tetap sama. Hangat namun penuh dengan kehati-hatian.


' Apa yang membuatmu tidak bisa mempercayaiku, Kook. Apa semua yang kulakukan belum cukup untukmu?


Harus bagaimana lagi ku tunjukan padamu sebesar apa aku mencintaimu, agar kau lebih percaya dan yakin padaku.


Kuharap kau tidak menghilang lagi, Kook. Aku benar-benar bisa gila kalau kau tidak ada di sampingku lagi. Mungkin kematian lebih baik daripada hidup tanpa dirimu.'