
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu Jungkook. Ia akan mengatakan semuanya pada kekasihnya tentang semuanya. Dan Jungkook sudah tidak ragu akan perasaannya. Satu tahun menjalin kasih sudah cukup membuatnya percaya dengan kesungguhan kekasihnya itu.
Kediaman keluarga Jeon sudah dihias dengan berbagai macam bunga dan dekorasi mewah untuk hari ulangtahun penerus keluarga mereka. Undangan sudah disebar sehari sebelumnya. Banyak perusahaan yang penasaran, karena tidak biasanya keluarga Jeon mengadakan acara di kediaman mereka, biasanya acara-acara besar selalu diadakan di hotel mewah. Jadi mereka sangat menunggu momen langka ini.
Penjagaan super ketat disiagakan di seluruh penjuru mansion. Tamu yang bisa masuk pun terbatas, hanya mereka yang memiliki undangan asli yang bisa masuk. Satu undangan hanya untuk 2orang, jadi kalaupun ada yang menyelinap masuk akan segera diketahui karena undangan itu memiliki barcode kode digital. Akan sulit memalsukannya.
Jungkook masih tersenyum menantikan malam ini. Ia tak sabar bertemu dengan kekasihnya. Apalagi hampir sebulan ini mereka tidak bertemu. Ia memang merasa sedikit aneh, beberapa hari ini kekasihnya itu tidak menghubunginya. Apa dia marah, tapi biasanya semarah apapun Taehyung pasti akan terus menghubunginya. Apa mungkin terjadi sesuatu? Tapi anak buahnya tidak memberi kabar apapun padanya. Ia hanya mendapat kabar kalau Taehyung sering mencarinya dan menghubunginya. Dan seminggu ini ia tidak mendapat laporan apa-apa karena kekasihnya itu tidak pergi kemanapun.
" Kau sedang memikirkan apa, sayang..."
Usapan lembut pada rambutnya menyadarkan Jungkook dari lamunannya. Sang Omma masih memandangnya dengan senyum nan hangat, dan itu membuat Jungkook ikut tersenyum. Setelah kepergian sang Appa, hanya sosok Omma yang ia punya. Kalau Jimin dan keluarganya tidak ikut membantunya mungkin Jungkook tidak akan menjadi Jungkook yang sekarang.
" Tidak ada apa-apa, Omma... Hanya tidak sabar menunggu acara malam nanti, hanya itu."
" Benarkah??? Bukannya sedang memikirkan kekasihmu? Kau bahkan tidak pernah mengenalkannya pada Omma. Omma kan juga ingin tahu calon menantu Omma itu seperti apa, bagaimana dia bisa membuat anak Omma yang gila kerja ini jadi seperti ini."
Dengan malu-malu kelinci, Jungkook hanya bisa menggaruk pipinya yang mulai merona. Ia memang belum sempat mengenalkan kekasihnya itu pada Omma nya. Selain karena belum yakin, ia juga tidak bisa sembarangan membawa orang asing kerumahnya. Ia takut kejadian 2tahun lalu terulang, dimana sang Omma hampir dibunuh oleh saingan bisnisnya.
" Kookie memang tidak berniat Seperti itu Omma. Dia terlalu kuatir dengan keadaan diluar Mension."
Jimin yang baru datang dengan membawa tablet ditangannya menginterupsi percakapan mereka. Walaupun Jimin memiliki rumah sendiri, tapi Jungkook yang memintanya ikut tinggal dengan mereka. Lagipula Jimin sudah seperti keluarga mereka juga.
" Lihat dirimu sendiri, Hyung.... Kau saja tidak pernah menyatakan perasaanmu pada Yoongi Hyung. Jangan menceramahi ku."
" YAKK! Bukannya Hyung tidak mau!!! Tapi Hyung takut, dia tidak memiliki perasaan yang sama. Bagaimana kalau sebenarnya dia memiliki seseorang dalam hatinya??"
" Bilang saja kau takut Yoongi Hyung menolak dirimu, Hyung!!! Jangan banyak alasan."
Luhan hanya tersenyum melihat perdebatan mereka. Ini sudah biasa menurutnya. Justru akan terasa aneh bila kedua anak ini tidak berdebat ataupun bertemu. Ia memutuskan pergi dari sana meninggalkan keduanya yang masih cekcok entah tentang apa. Ia harus mengecek apakah semua persiapannya sudah tertata rapi sesuai keinginan Jungkook atau tidak.
Akhirnya malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada tamu undangan yang memiliki undangan resmi mulai memasuki mansion dengan pemeriksaan ketat. Banyak dari mereka terperangah dengan mewahnya kediaman keluarga Jeon. Begitu memasuki gerbang besar itu, mereka bisa melihat pohon Pinus yang tertanam rapi di kanan kiri jalan. Jarak dari gerbang ke mansion memerlukan waktu 5menit dengan mobil. Dan begitu barisan pohon Pinus itu habis, terlihat mansion keluarga Jeon yang sudah dihiasi banyak dekorasi lampu yang sangat indah.
Begitu masuk kedalam mansion, kemewahan lainnya juga bisa terlihat. Dekorasi yang mewah dan elegan menghiasi setiap sudut ruangan. Banyak bunga beraneka warna menghiasinya. Warna ungu yang mendominasi, menjadi pilihan Jungkook itu sendiri.
Banyak pasang mata menatap kearahnya. Bagaimana pemilik acara malam ini terlihat menawan, hingga mencuri perhatian semua tamu undangan. Namun tak satupun dari mereka bisa menarik perhatiannya. Mata bulat ini masih mencari sosok yang dinantinya diantara kerumunan itu, sambil sesekali menatap pintu masuk. Namun sosok itu masih belum menampakkan batang hidungnya. Padahal ia sudah menantikannya sejak tadi. Bahkan undangan khusus untuknya sudah ia berikan, tidak mungkin kekasihnya itu tidak datang. Bahkan pengawalnya bilang undangan itu sudah diterima langsung oleh keluarga kekasihnya. Hingga senyumnya mengembang melihat teman-teman kekasihnya melewati pintu masuk itu.
Dengan tergesa-gesa, Jungkook menghampiri mereka. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya. Namun perlahan langkahnya semakin memelan. Senyum yang semula merekah itu perlahan hilang. Ia tidak melihat kekasihnya diantara orang-orang itu. Apa ia masih dibelakang pikirnya. Sejenak ia alihkan pandangannya kepada Hyung kekasihnya ini. Jungkook juga sedikit canggung, mengingat keduanya tidak terlalu dekat. Apalagi Jungkook tahu Hoseok sangat tidak menyukai dirinya.
" Hyung... Apa Taehyungie masih dibelakang? Kenapa kalian tidak masuk bersama?"
Seokjin dan Namjoon juga sadar tidak ada Taehyung saat mereka sampai tadi. Kenapa mereka jadi melupakan adik sahabat mereka sendiri? Bahkan Yoongi yang datang bersama Hoseok juga tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam dan menundukkan kepalanya seperti menahan sesuatu.
" Maaf, saya tidak bisa berlama-lama disini. Selamat ulang tahun, Kook. Dan ini hadiah dariku, dan satu lagi... Ini dari Tae. Kalau begitu saya permisi. Yoongi Hyung, aku pulang duluan ya."
" Tunggu, Hob. Aku ikut bersamamu."
Setelah menyerahkan kado, Yoongi ikut pulang bersama Hoseok. Yoongi hanya tidak ingin Hoseok menyetir dengan suasana hati yang kalut Seperti itu. Sementara Jungkook masih memandangi surat yang ditujukan untuknya dari Taehyung. Seolah tersadar, Jungkook berlari mengejar Hoseok untuk meminta penjelasan.
Dengan nafas yang tersengal-sengal akhirnya Jungkook dapat mengejar Hoseok tepat sebelum orang itu masuk ke mobilnya. Dengan erat ia menggenggam tangan Hyung kekasihnya itu. Namun, sebuah tepisan yang ia terima. Ia bisa melihat kebencian dimatanya yang ditujukan untuk dirinya.
" Hyung.... Apa maksudnya ini? Dimana Taehyungie? Kenapa dia tidak datang. Kenapa hanya memberi surat Seperti ini?"
Jungkook bertanya dengan segala kekhawatiran yang mulai menghinggapi dirinya. Ia mulai takut dengan kemungkinan terburuk, ia takut Taehyung meninggalkannya. Hingga tawa kecil masuk ke indra pendengarannya.
" Hahaha... Baru sekarang kau mencarinya? Setelah 3minggu kau pergi tanpa kabar? Wah bagus sekali kau Jeon."
" Hyung... Sebenarnya aku ingin-"
" KAU TAHU APA TENTANG ADIKKU, HAH! KAU MEMBUATNYA BERTEKUK LUTUT PADAMU, KAU MEMBUATNYA HANYA MENATAPMU, KAU MEMBUATNYA GILA KARENA CINTANYA PADAMU!!!!"
Namjoon yang melihat itu, mulai menahan sahabatnya agar tidak bertindak lebih jauh. Bagaimana pun mereka ini hanya tamu disini. Sedangkan Seokjin dan Yoongi saling berpegangan satu sama lain. Mereka tidak pernah melihat Hoseok semarah ini. Yang mereka tahu Hoseok itu seorang yang ramah dan penyayang, apalagi terhadap sang adik. Kalau sampai sosok yang biasanya begitu hangat menjadi tidak terkendali Seperti ini, mereka bisa menyimpulkan pasti terjadi sesuatu dengan Taehyung, dan itu tidaklah bagus. Sementara Jimin menyuruh anak buahnya menjauhkan para tamu dari area itu.
" Hyung, tenanglah. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik."
" DIEM LO JOON!!! LO NGGAK TAHU APA-APA! DAN LO!!! GARA-GARA LO ADIK GUE JATUH SAKIT!!!
LO BUAT TAEHYUNG SAKIT JIWA DAN RAGANYA!!! GARA-GARA LO JUGA, GUE JAUH DARI TAEHYUNG!!! SEKARANG LO PUAS, HAH!!!"
" Di-Dimana Tae.. hyungie, Hyung. Kookie harus menemuinya. Kookie harus menjelaskan semuanya, Hyung. Ini tidak seperti yang Hyung pikirkan."
" Ha ha ha.. Menemuinya? DARI MANA SAJA KAU, HAH!!! KAU MENGABAIKAN SEMUA PANGGILANNYA!!! KAU JUGA TIDAK MENGABARINYA SELAMA INI!!! DAN SEKARANG KAU INGIN MENEMUINYA!!!
DIA SUDAH PERGI, BRENGSEK!!! DIA PERGI KARENA KAU! ADIKKU PERGI GARA-GARA DIRIMU SIALAN!!!!"
Hoseok benar-benar meluapkan semua kekesalannya malam itu juga. Ia benar-benar tidak terima adiknya pergi jauh darinya. Ia bahkan tidak tahu kemana adiknya tinggal saat ini. Semua akses tentang adiknya terputus begitu saja. Hanya Daddy nya yang mengetahui itu semua. Itupun setelah tahu alasan kenapa ia harus melakukan itu semua.
" Yoon, lebih baik kau antar Hoseok pulang. Aku tidak yakin ia bisa mengemudikan mobilnya dengan emosi yang tidak terkontrol Seperti itu."
" Nee, Hyung."
Akhirnya Hoseok pulang dengan Yoongi setelah diseret masuk oleh Namjoon. Meninggalkan Jungkook dan tiga orang lainnya disana. Jimin benar-benar tidak tega melihat Jungkook menangis seperti ini. Bagaimana pun mereka sudah tumbuh bersama dari kecil. Ia juga tidak bisa menyalahkan Taehyung, karena ini memang bukan salahnya.
" Kookie... Terlepas apapun alasanmu melakukan itu pada Taehyung, kau memang sudah salah dari awal. Kalau kau benar-benar mencintainya, tidak seharusnya kau melakukan ini semua. Aku dan Yoongi tumbuh bersama Taehyung sedari dulu, dan aku tahu Taehyung itu orang baik. Tidak seharusnya kau meragukannya."
Penuturan Seokjin semakin membuatnya terluka. Tangisnya tak terbendung lagi. Acara yang ia siapkan dengan penuh suka cita, kini membuatnya menangis karena kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya. Ia semakin erat memeluk Seokjin, menumpahkan segala kesedihannya pada malam itu. Dibawah ribuan bintang dan dihiasi cahaya ratusan lampu taman menjadi saksi betapa terpuruknya seorang Jeon Jungkook karena sikapnya sendiri.
Acara yang seharusnya meriah itu kini harus dibatalkan karena sang pemilik acara mengurung diri dalam kamar. Banyak tamu yang penasaran dengan batalnya acara tersebut. Tentu saja alasan sebenarnya menjadi rahasia pribadi, dan tidak boleh ada yang tahu.
Dikamar yang bernuansa pastel ini, air mata itu masih mengalir dengan pemiliknya yang memandang kosong kearah jendela. Tidak memperdulikan pakaian mahalnya yang akan kotor karena ia duduk dilantai yang dingin. Perlahan ia mengalihkan pandangannya pada sepucuk surat dalam genggamannya. Dengan tangan gemetar ia mulai dengan hati-hati membukanya. Air mata itu kian menetes sesaat ia membaca beberapa kata dalam surat itu.
Dear my Kookie.
Selamat ulang tahun Kookie. Kuharap kau selalu bahagia, dimana pun kau berada.
Maaf aku tidak bisa datang. Sulit bagiku untuk bertemu lagi denganmu. Kau adalah hidupku, Kook. Kau cahaya hidupku. Tanpamu, duniaku terasa kosong. Hanya dengan senyum mu, hari-hariku terasa berwarna. Hanya dengan mendengar suaramu, jantungku kembali berdetak.
Namun, kenapa kau tidak pernah menganggap ku ada Kook. Kenapa kau selalu meragukan cintaku? Apa yang kurang dari diriku?
Sekarang aku sadar, kau tidak pernah mencintaiku. Hanya aku yang selalu memperjuangkan hubungan ini, tidak denganmu. Sebuah hubungan harus didasarkan dengan kepercayaan. Namun saat dirimu tidak percaya dengan perasaanku, apa yang harus ku pertahankan lagi.
Kurasa kisah kita cukup sampai disini. Terimakasih atas hari-hari yang kau lalui bersamaku. Aku pergi.
Kumohon jangan mencari ku. Kuharap kau bahagia dengan jalan hidupmu, dan biarkan aku memilih jalan hidupku. Dan bila suatu saat kita bertemu lagi... Ingatlah.
Aku bukan lagi Taehyungie mu yang dulu. Aku adalah diriku sendiri, dan kau dengan duniamu sendiri.
Selamat tinggal, Kook.
Dari seseorang yang tulus mencintaimu.
Kim Taehyung.
" HYUNGIE!!!!!"
Jungkook berteriak histeris setelah membaca surat itu. Rasa bersalahnya semakin menjadi dan tidak bisa terbendung. Air mata itu seolah menjadi bukti betapa Jungkook sangat terpukul dengan perginya Taehyung dari sisinya. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena telah meragukan cinta yang begitu tulus untuknya.
" Maafkan aku Hyung.... Maafkan aku... Kumohon kembalilah. KEMBALILAH HYUNGIE!!!"
Jungkook benar-benar mengabaikan semua orang. Bahkan Jimin dan Luhan yang sedari tadi mengetuk pintu itu tidak ia dengarkan. Ia masih tenggelam dalam rasa bersalahnya yang begitu besar dan mengabaikan semuanya.
" Jim, bagaimana ini. Jungkook tidak juga membuka pintunya. Omma khawatir ia berbuat nekat."
Jimin juga memikirkan hal yang sama. Sekuat apapun ia berusaha pintu ini benar-benar terkunci rapat dari dalam. Dan hanya Jungkook yang bisa membukanya. Tidak ada kunci cadangan, dan sulit baginya untuk mendobrak masuk. Hingga terdengar suara gaduh dari dalam. Ia yakin Jungkook pasti mengamuk dan menghancurkan barang-barang. Tanpa pikir panjang ia masuk ke kamar sebelah, karena kamar sebelah memiliki balkon yang terhubung ke kamar Jungkook.
Dengan usaha yang cukup sulit, akhirnya Jimin bisa sampai ke balkon kamar Jungkook. Ia bisa melihat betapa berantakan nya kamar adiknya itu. Namun yang menjadi pertanyaannya, dimana Jungkook? Mata sipit itu mengedar ke segala arah dan membola begitu mengetahui tubuh adiknya itu tergeletak dilantai begitu saja. Jimin tidak memikirkan apapun saat menerobos masuk dengan memecahkan kaca yang lumayan tebal itu. Ia bahkan tidak merasakan sakit, padahal darah segar mulai menetes dari lengannya. Yang menjadi fokus utamanya saat ini adalah Jungkook. Ia bisa mencari tahu situasi sebenarnya nanti.
Sejak kejadian itu, Hoseok benar-benar menjauh dari Jungkook. Bahkan saat Jungkook masuk ke kampus yang sama dengannya, ia terus saja mengabaikannya. Hanya Seokjin dan Namjoon yang kadang-kadang menyapanya. Itupun karena kebetulan jadwal kelas mereka yang bersamaan. Namun, tidak dengan Hoseok. Orang itu benar-benar merubah jadwal kelasnya agar tidak pernah bertemu dengan Jungkook. Sedangkan Yoongi, hanya sesekali terlihat saat jam makan siang. Maklum saja ia dan Seokjin adalah mahasiswa tingkat akhir, jadi lebih banyak kegiatan.
Usaha Jungkook untuk mencari Taehyung juga tidak membuahkan hasil sama sekali. Jejaknya benar-benar tidak bisa dilacak. Ia hanya tahu, Taehyung terakhir kali terlihat di Jepang. Namun setelah itu bagai hilang ditelan bumi. Puluhan orang yang ia kerahkan untuk mencarinya juga tidak menemukan apapun. Ingin sekali ia pergi ke kediaman keluarga Kim, tapi ia merasa tidak pantas mendapatkan kaki disana setelah apa yang ia lakukan pada putra keluarga mereka.
" Hyungie... Kau dimana?
Kumohon pulanglah... Kookie akan menjelaskan semuanya. Maafkan aku, Hyung... Hiks...hiks... Asal hyungie tahu, Kookie juga mencintai mu... Maaf baru bisa bilang sekarang... Pulanglah Hyung...."