Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
What about us?



Jalanan pagi ini masih terlihat lengang. Tidak banyak kendaraan berlalu-lalang disekitar sana karena memang mentari bahkan belum menampakkan sinarnya, namun namja tampan dengan iris kelamnya sudah berdiri diantara rindangnya pepohonan yang semula tertutup salju kini perlahan mulai mencair. Ia bahkan tidak menghiraukan dinginnya suhu yang membuat kebanyakan orang lebih memilih berbaring di bawah selimut tebal dirumah.


Taehyung hanya berjalan dan berjalan. Dirinya tidak bisa memejamkan mata hanya untuk tidur. Selalu seperti itu dari dulu. Padahal badannya sangat letih dan perlu beristirahat, tapi ia hanya bisa tertidur selama dua jam, selebihnya hanya keheningan yang menemani kesendiriannya. Kakinya melangkah meninggalkan rumahnya. Tidak mungkin ia membangunkan yang lain, disaat semuanya sedang tertidur pulas.


Lama ia berjalan, dan entah kenapa kakinya membawanya ketempat itu... Tempat pertama kali ia bertemu dengan namja bergigi kelinci yang membuatnya melupakan kepahitan dan sakit hatinya. Ia ingat bagaimana Jungkook yang selalu tersenyum padanya, mengganggu dirinya, dan memberikan dukungan padanya saat pertandingan basket dulu. Semua terekam jelas ditempat ini. Sekolah nya yang dulu pernah membuatnya bahagia juga yang membuatnya kehilangan jiwanya.


" Taehyung hyung? Kau Kim Taehyung kan?"


Seseorang memanggil dirinya, namun ia tidak terlalu mengingat siapa namja tinggi didepannya ini. " Ya, tapi apa kita saling mengenal sebelumnya? Karena saya tidak mengenal anda."


" Kau kejam sekali padaku, kau benar-benar tidak ingat padaku? Gue Kiming, Mingyu! Kim Mingyu! Junior Hyung di klub basket dulu!"


Taehyung mencoba mengingat siapa namja didepannya ini. Tak lama ia melotot walaupun tidak terlalu terlihat raut keterkejutannya.


Taehyung :" Kiming? Si Malika yang selalu mengekori Wonwoo?"


Mingyu :" Iya Hyung, ini gue junior tampanmu itu."


Mingyu menarik kerah jasnya agar terlihat keren didepan seniornya itu. Dari dulu Mingyu memang mengidolakan Taehyung dalam segala bidang. Baik itu dalam pelajaran, olahraga bahkan cinta. Mingyu mengikuti setiap cara yang Taehyung gunakan.


Taehyung :" Kenapa kau disini? Bukankah kau ikut pindah menyusul Wonwoo ke Amerika dulu?"


Mingyu :" Aku disini hanya sementara, Hyung. Sekarang aku sudah bekerja di Canada bersama Wonwoo Hyung. Ada beberapa berkas yang harus kuambil disini."


Taehyung :" Tunggu, kau dan Wonwoo kerja di Canada? Kalian akhirnya jadian?"


Mingyu mengangkat tangannya dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri didepan Taehyung. " No... No... Kami tidak hanya jadian Hyung, kami bahkan sudah menikah." Dengan bangganya Mingyu mengatakan hal itu.


Taehyung :" Kau apakan Wonwoo sampai mau denganmu? Seingat ku dia sangat membencimu." Tentu saja Taehyung sedikit terkejut, karena yang dia tau sahabatnya itu sangat membenci juniornya ini. Bahkan sampai pindah ke luar negeri.


Mingyu :" Tentu saja karena perjuanganku Hyung, dan mana mungkin Wonwoo Hyung menolak namja super tampan seperti diriku ini."


Taehyung hanya geleng-geleng kepala, junior nya ini tidak pernah berubah. Justru dirinya yang banyak berubah dan bahkan ia tidak mengenali siapa dirinya kini.


Mingyu :" Dari dulu kau itu adalah panutan ku, Hyung. Lihat, bahkan aku juga menikah dengan seseorang bermarga Jeon. Oh, apa Hyung sudah menikah dengan Jungkook?"


Mingyu menyadari ada sesuatu yang berbeda dari seniornya ini, apa yang ia tanyakan salah? Bahkan dari tadi ia tidak melihat seniornya ini tersenyum sedikitpun. Mungkinkah ada yang terjadi setelah kepergiannya?


" Hyung?"


Taehyung :" Bagaimana kalau kita minum kopi di kafe depan sana?"


Bukannya menjawab pertanyaannya, ia justru mendapat tawaran lainnya. Yang lebih aneh, seniornya ini mengajaknya minum kopi. Padahal yang ia tahu seniornya ini tidak minum kopi, karena tidak menyukainya. Mingyu hanya mengangguk dengan sejuta pertanyaan mulai memenuhi kepalanya. Apa yang terjadi kepada senior panutannya ini...


.


.


.


.


.


.


.


Kopi yang semula panas kini menjadi dingin, bahkan suasana di kafe itu juga terlihat sangat sunyi dikarenakan ini masihlah terlalu pagi.  Tak ada suara ataupun kata yang terdengar hampir tiga puluh menit ini. Mingyu masih sedikit terkejut dengan apa yang dia dengar tadi. Otaknya terlalu bingung untuk memproses segalanya dalam sekejap.


Berpisah?


Kenapa hal itu bisa terjadi pada panutannya ini? Karena yang ia tahu keduanya dulu sangat saling mencintai, bahkan sangat lengket satu sama lain. Apa hal ini yang membuat seniornya ini berubah begitu drastis? Ingin rasanya ia menampar pipinya sendiri agar dia yakin semua itu bukanlah mimpi, tapi ia sayang kalau harus memukul wajah tampannya sendiri. Kalau memukul seniornya ini, mana ia berani! Yang ada dia babak belur nantinya.


Mingyu :" Aku masih tidak percayakan dengan semua ini, Hyung. Maksudku, hampir semua orang tahu betapa serasinya kalian dulu. Tapi-"


Taehyung :" Setiap orang bisa berubah, Gyu. Tidak terkecuali dengan perasaan itu sendiri."


Mingyu tercekat. Bahkan nada bicara seniornya ini telah berubah, sangat dingin dan tajam. Padahal istrinya juga bermulut tajam, tapi seniornya ini justru sangat tajam. Belum sempat membuka mulutnya kembali, suara dering ponsel menghentikan mingyu untuk membuka pertanyaan pada Taehyung. Itu bukan ponsel Mingyu, melainkan ponsel milik Taehyung. Mingyu mencoba mengintip siapa yang menelepon seniornya itu, tapi tidak terlalu terlihat.


Taehyung :" Hallo, Hyung... Kenapa menelepon pagi-pagi sekali?"


Kalau kalian menduga itu Hoseok, kalian salah besar. Karena yang tengah menghubungi Taehyung itu adalah Yoongi.


Yoongi :" Tae, kau ada dimana? Semuanya mengkhawatirkan dirimu. Kenapa kau pergi tanpa memberitahu orang rumah?"


Taehyung :" Aku hanya berjalan-jalan sebentar, Hyung. Kebetulan tadi bertemu teman lama, sebentar lagi aku pulang."


Yoongi :" Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu, dan cepatlah pulang."


Taehyung :" Hemm..."


Taehyung menaruh ponselnya kembali ke sakunya.


Mingyu :" Siapa Hyung? Hoseok Hyung ya?"


Taehyung :" Bukan, Yoongi Hyung yang menelepon ku."


Mingyu :" Oh! Yoongi Hyung yang putih itu! Tetanggamu yang sangat manis itu kan! Bagaimana kabarnya? Apa dia juga sudah menikah?" Akhirnya mingyu mendapat ide untuk bertanya lagi, dari pada hanya diam bagai patung.


Taehyung :" Belum, tapi sebentar lagi."


Taehyung :" Ya, kau mengenalnya. Orang itu sedang minum kopi denganmu saat ini."


"UHUKKK!!!"


Beruntung Mingyu hanya tersedak, tidak sampai menyemburkan minumannya. Taehyung mengambil selembar tisu dan memberikannya pada juniornya itu. Cukup risih juga melihat wajah juniornya yang basah karena tersedak tadi.


Mingyu :" Kau akan menikah dengannya, Hyung? Beneran? Bagaimana bisa? Kapan jadiannya? Kapan tunangannya?Kapan kalian akan menikah? Kau tidak sedang bercanda kan?"


Taehyung bingung harus menjawab apa. Mungkin kalau Jin Hyung ada disini juga, kepalanya akan meledak mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka. Sungguh, Mingyu dan Seokjin dari dulu sangat cerewet. Dia mengira hanya Seokjin yang semakin cerewet, tapi juniornya ini juga tambah cerewet.


Taehyung :" Akhir bulan ini."


Mingyu :" Apanya?"


Taehyung :" Bukankah tadi kau bertanya? Dan itu jawaban ku."


Mingyu :" Pertanyaan ku kan banyak, Hyung! Kau menjawab yang mana!"


Taehyung :" Pernikahan kami. Kami akan menikah akhir bulan ini."


Mingyu :" SERIUS!!! INI BUKAN PRANK KAN! APRIL MOP MASIH JAUH!"


Taehyung :" Kalau kau tidak percaya, kau bisa datang nanti. Beritahu saja kemana harus ku kirim undangan nya."


Mingyu :" Tidak perlu, Hyung. Aku akan langsung datang ke rumah mu nanti malam, aku rindu masakan Omma Baekhyun." Mingyu tertawa dan tidak sabar ingin bertemu kembali dengan Omma Baekhyun, dari dulu dia memang cukup dekat dengan ibu seniornya ini.


Taehyung :" Kau masih tidak punya rasa malu seperti dulu ya."


Mingyu :" Malu tidak akan membuatku kenyang, Hyung. Dan satu lagi, karena hal itu juga Wonwoo Hyung akhirnya menjadi milikku."


Taehyung :" Ya.. Ya... Ku akui kau sangat hebat bisa menaklukkan dinding baja Wonwoo."


.


.


.


.


.


Setelah beberapa saat, Mingyu pamit lebih dulu karena ada hal mendesak yang harus ia lakukan. Taehyung tidak menyangka juniornya yang dulu sangat kikuk itu, kini sudah banyak berubah. Ya walaupun banyak juga yang masih sama, tapi setidaknya dia bisa mencapai tujuannya. Sangat berbeda dengan dirinya. Jangankan mencapai tujuan, bahkan waktu pun tidak ia miliki.


Entah dirinya yang memang tidak beruntung, atau memang waktunya yang tidak tepat. Begitu Taehyung sampai didepan rumahnya, sosok Jimin sudah ada disana. Menanti dirinya seorang diri.


Jimin :" Bisa kita bicara sebentar?"


Taehyung :" Sebaiknya anda pulang, saya tidak ada waktu untuk bicara dengan anda."


Jimin :" Ini tentang Jungkook. Tolong pertimbangkan lagi keputusan mu untuk menikah dengan Yoongi Hyung."


Taehyung :" Bukankah sudah saya katakan tempo hari, kami tidak punya hubungan apapun lagi. Saya harap anda tidak menggangu saya lagi, tuan Park."


Jimin :" Jungkook sangat menderita setelah kau pergi. Dia tidak pernah berhenti mencari mu, dan mengabaikan semuanya termasuk kesehatannya sendiri. Dia bahkan sering keluar masuk rumah sakit karena memikirkan dirimu yang entah ada dimana. Ku mohon... Berikan dia kesempatan lagi, aku tidak tega melihatnya menderita lebih dari ini."


Taehyung terdiam tanpa ekspresi sedikitpun. Namun jauh di lubuk hatinya, jutaan panah seperti telah tertancap menghujam dirinya. Hatinya sakit, saat mendengar semua itu. Ingin rasanya ia berlari menemui Jungkook, dan memeluk namja bergigi kelinci itu. Namun apalah daya jika semua keputusan sudah tidak bisa ia ubah lagi. Ini semua yang ia pilih, untuk keluarganya dan tentu saja demi kelangsungan hidup Jungkook nantinya. Karena bagaimanapun, hidupnya tidak akan lama lagi.


Rasa sesak kembali menerpa dirinya. Kepalanya mendadak sakit serta tangan yang mulai gemetaran. Ia tahu, penyakitnya mulai kambuh. Dan ini lebih buruk dari sebelumnya. Ia harus segera pergi dan meminum obatnya, atau semua orang akan mulai curiga tentang dirinya.


Taehyung :" Anda sudah selesai bicara? Kalau begitu, saya permisi."


Jimin :" Taehyung, ku mohon dengarkan aku dulu!"


Taehyung :" KU BILANG PERGI DARI HADAPANKU!!!"


Taehyung menghempaskan tangan Jimin yang menggenggam tangannya. Jimin yang mendapat perlakuan seperti itu pun terkejut. Karena bagaimanapun, ini kali pertama ia mendengar namja didepannya ini bicara dengan nada keras dan tinggi. Bahkan dari dulu pun, Taehyung tidak pernah membentak siapapun.


"TAEHYUNG!!!"


Yoongi yang baru membuka pintu rumahnya, terkejut mendengar teriakkan Taehyung dan keberadaan Jimin disana. Dengan Langkah tergesa-gesa, Yoongi menghampiri mereka.


Yoongi :" Kau kemana saja? Dan... Kenapa tadi kau berteriak?"


Bukannya mendapat jawaban, yang Yoongi lihat justru peluh yang mulai menetes, dan tangan Taehyung yang mengepal kuat.


'Oh, tidak. Penyakitnya kambuh lagi. Aku harus segera membawanya pergi dari sini.'


Yoongi :" Tae, ayo ke rumah ku dulu. Ada yang harus kita bicarakan."


Yoongi membawa Taehyung menuju rumahnya, mengabaikan Jimin yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Taehyung hanya diam mengikuti kemanapun Yoongi membawanya pergi, kemanapun itu asal tidak kerumahnya.


Jimin :" Hyung... Aku-"


Yoongi :" Saya harap anda tidak memperburuk keadaan, tuan Park."


Jimin kembali terdiam. Dia hanya bisa melihat kepergian orang yang dia cintai dalam diam itu menggenggam tangan orang lain. Meninggalkan dirinya sendiri yang hanya menatap punggungnya yang perlahan menghilang dibalik pintu yang menutup.