Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
His arrival



Sepi....


Begitu dirinya tiba di kediaman keluarga Kim itu, tak tampak ada kehidupan disana. Bahkan gerbang pun tertutup rapat. Padahal di jam seperti ini biasanya semua orang sudah berada dirumah.


Melihat keanehan itu Jungkook pun mengalihkan perhatiannya ke sekitar. Siapa tahu ada seseorang yang bisa ia tanyai. Walaupun sebenarnya bisa saja ia menyuruh anak buahnya untuk melakukannya. Namun belum sempat ia melangkah, pintu gerbang terbuka, menampilkan sosok namja setengah baya yang sedikit terkejut melihat kehadiran mereka.


" Maaf paman, apa semua orang ada didalam? Bisakah kami bertemu?"


Orang itu tampak bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Apalagi kehadiran mereka yang mendadak dan membawa begitu banyak orang.


" Ah, kami tidak akan macam-macam, kami hanya ingin bertemu dengan Tuan Kim sekeluarga."


" Maaf sebelumnya tuan, tapi dirumah tidak ada orang. Semuanya sudah pergi kemarin malam."


" Pergi? Kemana mereka pergi?"


" Tuan dan nyonya menyusul tuan Hoseok dan tua muda Taehyung ke Daegu."


" Daegu? Kenapa mendadak sekali? Apa ada masalah disana?"


" Memangnya tuan tidak tahu?"


" Tahu tentang apa?"


" Tuan muda Taehyung dan tuan muda Yoongi besok akan menikah disana."


Bagai disambar petir di siang hari yang cerah, Jungkook seperti kehilangan semua fungsi tubuhnya. Ia jatuh terduduk dengan pandangan kosong, Luhan yang melihatnya dengan sigap memeluknya memberikan kata-kata penyemangat.


Tak jauh beda dengan Jungkook, Jimin pun seperti mayat hidup yang hanya bisa terdiam. Namun, akal sehatnya kembali setelah mendengar Isak tangis sang adik.


" Maaf paman, apa paman tahu dimana acaranya?"


" Maaf, kalau itu saya tidak tahu. Karena acaranya di tempat tuan muda Yoongi, saya juga sebenarnya tidak diperbolehkan untuk mengatakan hal ini. Maaf tuan."


" Tidak perlu minta maaf paman.. terima kasih, dan maaf karena mengganggu."


Setelah mengunci gerbang, orang itu meninggalkan mereka yang masih diam disana. Di gelapnya malam itu, Jungkook kembali menangis. Lagi dan lagi ia harus menelan kenyataan pahit, bahwa takdir seperti mengutuknya berulang kali.


" Hyung ... Kita harus menyusul kesana. Kookie harus bicara dengannya dulu, Hyung..."


" Tenang Kook, kita akan menemukan mereka. Hyung juga ingin berbicara dengan Yoongi Hyung sebelum semuanya terlambat."


Mereka bergegas pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim. Mereka harus mencari dimana lokasi Taehyung dan Yoongi saat ini. Dan entah ini memang sebuah keberuntungan atau keajaiban, lokasi ponsel Seokjin mengarahkan mereka ke sebuah desa di pesisir Daegu. Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka menyadari bahwa disana lokasi yang harus mereka tuju.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi ini adalah hari yang begitu sakral untuk mereka. Taehyung dan Yoongi akan mengikat janji sehidup semati yang akan mengubah seluruh hidup mereka.


Baik Omma Min maupun Omma Kim tidak berhenti memuji kecantikan paras Yoongi yang sudah dipoles sedemikian rupa. Tidak seperti para orang tua, Seokjin justru menangis karena merasa bahagia dan sedih karena sang sahabat akan segera berganti status.


" Sudahlah Hyung... Kenapa kau begitu cengeng sekarang. Apa kau tidak malu, Namjin saja sudah memandang mu aneh sejak tadi."


" Diem kau, Yoon! Namjin masih kecil, dia mana tau perasaanku!"


" Sudah-sudah... Seokjinie... Ayo ikut Omma... Omma Min perlu waktu berdua dengan Yoongi."


Mengerti akan situasi... Seokjin mengikuti Omma Baekhyun meninggalkan kamar itu, menyisakan Yoongi dan Omma Min berdua. Perlahan, Omma Min mendekat dan memeluk sang putra tersayang. Yoongi adalah putra tunggalnya, ia hanya ingin yang terbaik untuknya. Dan tentu ia sangat senang karena Taehyung yang akan menjadi pendamping putranya ini. Karena ia tahu, Taehyung adalah namja baik dan bertanggung jawab.


" Yoongiaa... Setelah ini status mu akan berubah, tanggung jawab mu juga akan bertambah. Namun kasih sayang Omma tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.


Setelah menikah, kau harus bisa mengatasi semuanya... Tidak ada hubungan yang tenang-tenang saja. Pasti suatu saat akan ada masalah, dan kau harus bisa mengatasi semua dengan kepala dingin dengan Taehyung bersama-sama."


" Nee Omma... Ugi akan mengingat.. hiks..nasehat Ommaaa...."


Tumpah sudah air mata itu... Yoongi tidak menyangka ia benar-benar akan menikah hari ini. Apa lagi Omma nya terlihat sangat senang.


" Omo.. Omo... Putra Omma kenapa menangis? Hei, ini hari bahagia untukmu sayang... Jangan merusaknya dengan air mata di wajah manismu ini. Nanti make up mu bisa berantakan. Bagaimana kalau nanti Taehyung melihat itu dan membatalkan pernikahan ini?"


" Ommaaa....!"


.


.


.


Ditempat lain, Taehyung terlihat gagah dan rupawan dengan setelan putih dan jas biru yang melekat ditubuhnya.


Benar-benar seperti pangeran dari negeri dongeng. Namjoon yang melihatnya jadi mengingat kembali bagaimana ia dan Seokjin dulu menikah. Terlihat lucu, karena konsep yang diinginkan Seokjin adalah Aladin. Bayangkan saja ia harus memakai pakaian timur tengah saat sedang musim dingin.


" Kau sangat beruntung Tae, untung bukan Seokjin yang menyiapkan semuanya. Kalau tidak kau akan bernasib seperti ku." Candanya mengingat ia harus sakit setelah acara pernikahan nya dulu.


" Kau tahu, aku bahkan harus memakai pakaian terbuka saat musim dingin karena konsep yang diinginkannya. Kau tahu kan, Seokjin sangat menyukai hal-hal seperti itu."


" Oh... Jadi kau menyesal menikah dengan ku!"


Namjoon terdiam. Tamatlah sudah riwayatnya, padahal ia sudah bersusah payah memendamnya selama ini. Ia tidak tahu bahwa Seokjin sudah ada di sana entah sejak kapan. Dan yang pasti ia sudah mendengar semua keluhannya.


" Aniyaa... Bukan seperti itu chagiyaa... Kau jangan salah paham."


" Diam! Tidak ada jatah untukmu selama sebulan!"


" Sayang... Itu menyiksaku... Ayolah..."


" Diam, atau aku tambah jadi tiga bulan!"


Bungkam, mulutnya terkunci rapat. Gila kali ia harus puasa selama tiga bulan, seminggu saja ia sudah tidak sanggup apa lagi tiga bulan.


Seokjin memberikan Namjin padanya, tanpa banyak bertanya Namjoon pun menerimanya. Entah itu ledekan atau apa, sang putra terlihat begitu senang melihatnya seperti itu.


Seokjin langsung memeluk Taehyung yang sudah ia anggap adiknya itu.


" Kalian harus saling menjaga satu sama lain, ingat... Setelah ini Yoongi akan menjadi tanggung jawab mu. Jangan kecewakan ketulusannya, karena ia melakukan ini untuk mu."


Taehyung sedikit kaget mendengar ucapan itu, apa Seokjin sudah mengetahuinya?


" Apa maksudmu, Hyung?"


" Kalau bukan Yoongi, mana ada yang mau menikahi alien tembok beton seperti mu! Jadi kau harus menjaganya dengan baik, atau Hyung akan menghajar mu!!!"


Taehyung sedikit lega ternyata dugaannya salah. Tidak tahu saja, Seokjin sudah menahan diri untuk tidak berteriak mengatakan semua isi hatinya.


" Hyung... Apa kau melihat Hoseok Hyung? Dari tadi bangun tidur aku belum melihatnya."


" Hoseok? Tadi pagi aku sempat melihatnya pergi keluar dengan beberapa orang. Mungkin sedang menyiapkan sesuatu. Jangan khawatir, dia tahu apa yang harus dia lakukan dan dia pasti akan datang sebelum kalian mengucapkan janji sehidup semati nanti."


Taehyung hanya mengangguk mengiyakan. Tapi tidak untuk Seokjin. Ia tahu kemana Hoseok pergi, dan apa yang akan ia lakukan. Ia hanya berharap semuanya bisa berjalan lancar seperti yang dikatakan Hoseok tadi pagi.


.


.


.


.


~Light Of Blue~


.


.


.


.


Seperti yang dikatakan Seokjin tadi, Hoseok benar-benar datang sebelum acara dimulai. Tidak banyak yang dikatakannya, hanya memberikan beberapa nasehat seperti yang lainnya. Hingga acara pemberkatan itu akan segera dimulai.


Sebuah gereja kecil ditepi pantai dengan sebuah kebun yang tidak terlalu luas menjadi tempat ikrar janji itu. Begitu indah dengan dekorasi bunga putih yang tertata rapi menambah kesan elegan namun tetap sakral.


Taehyung sudah berdiri menanti calon istrinya yang sebentar lagi akan memasuki tempat itu, dan pintu akhirnya terbuka... Menampilkan Yoongi yang terlihat sangat manis bersama sang ayah.


Langkah demi langkah semakin mendekatkan mereka. Hingga tuan Min menyerahkan tangan Yoongi kepada Taehyung untuk menjaganya menggantikan dirinya.


" Appa serahkan putra tercinta kami padamu, Tae... Appa harap kau bisa kami percaya menggantikan kami untuknya."


" Nee, Appa... Taehyung janji akan menjaga Yoongi Hyung dengan sepenuh hati sampai ajal memisahkan."


Yoongi tahu apa maksud Taehyung berbicara seperti itu, namun ia tetap merasa sakit jika mengingatnya lagi.


Keduanya berdiri menghadap pastur untuk mengucap janji. Walau wajah dingin Taehyung tetap tidak berubah, tapi Yoongi tahu bahwa namja itu tengah berfikir begitu pula dengan dirinya. Keduanya tengah berfikir tentang semuanya... Karena setelah ini, mereka tidak akan bisa melihat kebelakang lagi apapun yang terjadi.


" Hari ini, didepan Tuhan dan semua saksi yang hadir dalam acara sakral ini...


Saudara Kim Taehyung, apakah ada berjanji... Akan menjaga, mencintai dan menyayangi saudara Min Yoongi sebagai pasangan anda dalam keadaan sedih maupun senang, baik maupun susah sampai maut memisahkan anda?"


Terdiam... Mulut itu seperti terkunci.


Hingga pintu besar itu terbuka, menampilkan sosok yang begitu mereka kenal.


" Hyungie..."


Ada juga beberapa orang dibelakang mereka, Jimin dan Luhan datang tak lama setelahnya.


Namun tidak sedikitpun Taehyung menoleh kebelakang. Justru genggaman tangannya pada Yoongi semakin menguat.


"Hyung-/Saya Kim Taehyung... Berjanji, akan menjaga, mencintai dan menyayangi Min Yoongi dengan sepenuh hati. Baik senang maupun susah, hingga maut memisahkan."


Air mata Jungkook mengalir begitu saja, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seseorang yang begitu dicintainya mengucap janji suci dengan orang lain.


Walaupun para sahabatnya sedikit kaget dengan kedatangannya, namun Hoseok justru terlihat tenang dan tidak bereaksi apapun.


Yoongi yang melihat itu sedikit bimbang, apa lagi dengan tatapan Jimin padanya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah tidak bisa mundur lagi, apalagi jika harus meninggalkan Taehyung sendirian lagi.