
Kaki jenjang itu melangkah turun dari mobil mewahnya. Pandangannya menerawang jauh setelah hampir tujuh tahun meninggalkan tempat kelahirannya. Diusianya yang baru memasuki kepala tiga, namun wajah manisnya tidak menunjukkan keriput ataupun kesan dewasa. Wajahnya masih terlihat seperti anak remaja di bangku perkuliahan.
Senyum terpatri saat mendengar rengekan anak kecil yang sejak tadi memanggil namanya dari dalam mobil. Tangannya terbuka menunggu pelukan yang biasa ia dapatkan darinya.
" Mommy... Why do we have to come here? Where's Daddy?"
Akan kecil dalam dekapannya itu melihat kesana-kemari mencari keberadaan sang Daddy, namun tak kunjung terlihat. Alhasil ia hanya cemberut dan melipat tangannya.
" Ochi... Your daddy is in a meeting, so Ochi is currently playing with Mommy first, okay?"
" Kenapa sih, Daddy selalu sibuk! Kita kan baru datang, kenapa Daddy harus pergi lagi!" Rajuk nya kembali menggunakan bahasa Korea.
" Hey, boy... Apa kau tidak ingin melihat sekolah barumu, hem?"
Mendengar kata sekolah, senyum itu merekah bahkan mata itu semakin menghilang mendengar tempat kesukaannya. Meminta diturunkan dari gendongan sang Mommy. Padahal baru berusia lima tahun tapi sepertinya anak itu sudah sangat menyukai tentang sekolah barunya.
" Let's go, Mommy!!! Ochi ingin cepat bertemu teman-teman!"
Namja manis itu hanya bisa mengikuti saat tangannya ditarik memasuki sebuah taman kanak-kanak. Berhubung sudah siang, tidak banyak anak-anak yang ada disana. Hanya beberapa dan sisanya mungkin guru-guru dan staf penjaga sekolah.
Setelah mendaftar dan berkenalan dengan para guru, mereka memutuskan pulang. Namun perhatian si kecil teralihkan dengan adanya pedagang eskrim tak jauh dari sana. Mengerti akan keinginan si kecil, si manis meminta pengawalnya menemani si kecil. Ia hanya bisa memandang mereka dari jauh.
Jungkook tersenyum melihat bagaimana si kecil sangat senang, terlihat dari bagaimana ia melambai padanya. Ya itu Jungkook. Setelah tujuh tahun menghilang, ia memutuskan kembali lagi ke Korea setelah memantapkan hati. Dan siapa si kecil yang bersama dan memanggil dirinya Mommy itu? Kalau kalian kita itu anak Jungkook, kalian salah besar. Nyatanya sampai detik ini ia belum menikah, ataupun menjalin hubungan dengan siapapun.
Lalu siapa anak itu? Kenapa memanggilnya Mommy? Kalau kalian kira Jungkook mengadopsi anak, kalian juga salah. Karena nyatanya itu adalah putra tunggal Jimin. Iya, Park Jimin. Lalu kenapa memanggilnya Mommy? Karena Jimin dan sang istri sudah bercerai, sebulan setelah Ochi atau Park Hoshi ini lahir. Sang istri lebih memilih karirnya dibandingkan pernikahan mereka.
Jimin tidak banyak meminta, asal Hoshi bersamanya ia bersedia berpisah. Kenapa seperti itu? Karena dari awal tidak ada perasaan apapun diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan, dan Jimin tidak ingin membantah permintaan sang ibu.
Hoshi yang dari kecil hanya mengenal Jungkook sebagai ibunya. Bahkan sang ibu kandung juga tidak pernah mau menemuinya, seolah-olah dirinya tidak pernah ada di dunia dan Jungkook tidak menolak untuk itu. Karena Jungkook juga sangat menyanyinya.
Lama ia pandangi si kecil hingga indra pendengarannya mendengar suara tangisan. Pandangannya mencari ke semua tempat, hingga ia melihat seorang anak kecil tengah duduk menangis sendirian disana. Dengan tergesa Jungkook menghampiri anak manis itu. Terlihat lucu mengingat anak itu menatap dirinya dengan tatapan polos disertai air mata yang masih mengalir.
" Ada apa? Kenapa kau menangis, hem?"
" Appa bilang akan menjemput Ji hari ini, tapi dari tadi belum datang.. hiks... Hiks... Ji takut sendirian, Imo...."
Jungkook benar-benar gemas dengannya. Bagaimana ia memanggil dirinya sendiri seperti itu, sama seperti Hoshi saat memanggil dirinya sendiri. Apa lagi anak manis ini juga bermata sipit sepertinya, kalau ia tidak mengenal Hyung nya dengan baik mungkin ia akan mengira anak manis ini kembaranya Hoshi.
" Ji, tahu alamat rumah? Mau Imo antar?"
" Emm! Tapi Appa bilang, Ji nggak boleh pergi sama orang asing. Appa juga bilang hari ini mau memberi hadiah bunga sama Omma. Jadi Ji mau nunggu Appa."
Baru ingin bertanya kembali, suara Hoshi sudah mengagetkan dirinya. Ia bahkan tidak sadar bahwa bocah kecil itu sudah ada disampingnya.
" Mommy... Who is this girl?"
" Hey, boy... He just like you. He's a man too."
" But he is very beautiful."
Namja yang tengah dibicarakan hanya diam terbengong dengan penuh tanda tanya karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hoshi yang melihat si kecil menangis memberikan eskrim yang dia bawa padanya.
" For you, and don't cry anymore okay."
" Ini untuk ku?"
Si manis kecil tersenyum menerima eskrim itu, ia bahkan tidak memperdulikan wajahnya yang masih tergenang air mata. Namun itu justru membuat Jungkook terdiam. Senyum itu mengingatkannya akan seseorang yang sudah lama hilang dari hidupnya.
" Boleh Imo tahu siapa namamu?"
" Emm! Nama Ji itu-/ JIHOON!!!!"
Teriakan itu menarik perhatian mereka bertiga. Dari kejauhan terlihat seorang yeonja paruh baya yang berlari mendekati mereka. Sepertinya ia adalah keluarga anak itu.
" Jihoon.... Ha..hah... Maaf, Imo sedikit terlambat. Appa mu harus ke sekolah Hyung mu dulu, sepertinya akan lama jadi tidak apa-apa kan kalo pulang sama Imo dulu?"
" Nee, princess. Apapun keinginanmu."
" Ih, Imo!!! Ji itu laki-laki!"
Jihoon cemberut dan itu justru membuatnya semakin lucu. Sang bibi yang gemas akan sikap sang keponakan hanya bisa mengusap gemas rambutnya, hingga dirinya tersadar bukan hanya mereka yang ada disana.
" Oh, maaf. Terimakasih karena sudah menjaganya sementara, apa anak anda juga bersekolah disini?"
" Ah benar, kami baru saja pindah kesini. Dan saya baru selesai mendaftarkan Hoshi sekolah disini, semoga Jihoon yang manis ini mau berteman dengannya."
" Tentu saja, Imo. Ji mau kok berteman dengan Ochi."
" Kalau begitu kami pergi dulu, aku takut Appa Jihoon mencarinya nanti. Permisi."
Yeonja itu perlahan mulai menjauh, sesekali menengok kebelakang. Jungkook pun pergi dari sana bersama Hoshi, karena memang sudah sangat siang saat itu dan kemungkinan Jimin saat ini juga tengah mencarinya.
Tak jauh dari sana, yeonja tadi kembali menengok kebelakang mencari keberadaan orang yang tadi bersama keponakannya itu. Namun orang itu sudah pergi entah kemana.
" Imo... Kenapa lihat kebelakang terus? Ada yang aneh ya?"
" Aniyaa.... Hanya saja, Imo seperti mengenal orang tadi. Tapi dimana Imo juga lupa, hanya wajah itu sepertinya tidak asing."
" Tapi Imo yang tadi sangat cantik kan?"
" No, no, no. Bagi Imo, Jihoon yang paling cantik dan manis."
" Imoo!!!!"
Mereka kembali menyusuri jalan karena sekolah Hyung Jihoon tidak jauh dari sana. Karena terburu-buru, sang bibi bahkan meninggalkan mobilĀ di parkiran sekolah anaknya.
...~Light Of Blue 2~...
Ruangan yang semula sepi itu kini berubah riuh setelah dua keluarga dari siswa yang berkelahi itu datang. Merasa anaknya menjadi korban, orang tua dari siswa itu menuntut pertanggung jawabannya dari pihak sekolah.
" Sekolah macam apa ini! Apa kalian tidak lihat! Putraku yang korban disini! Anak ini saja yang bermasalah!"
" Nyonya, bisa kita bicara baik-baik. Kami belum bisa menyimpulkan siapa yang bersalah disini, karena yang kami tahu Hyungjay bukan anak yang seperti itu."
" Jadi kalian menuduh Jaehyun-ku! Kalian tidak mengenal siapa keluarga kami, hah!!!"
" Maaf, saya diam dari tadi bukan berati menerima bahwa putra saya bersalah. Saya mengenal kepribadian putra saya dengan baik. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu kalau tidak ada sebabnya."
Ibu dari anak yang bernama Jaehyun tadi menciut juga ditatap dengan tajam seperti itu. Kim Taehyung memandang sang putra yang berada disampingnya. Tatapan tajam itu sedikit melunak melihat sedikit lebam di wajah sang putra. Padahal ia saja tidak pernah memukul putra nya, berani benar mereka memukul putra nya yang masih berusia tujuh tahun.
" Hyungjay... Kenapa kau memukul temanmu? Apa kau sengaja melakukannya?"
Ditatap seperti itu oleh sang ayah membuat nyali Hyungjay sedikit ciut. Sebar-bar apapun dirinya disekolah, dirinya tetap takut dengan sang ayah.
" Dia terus mengganggu teman-teman di kelasku, Appa. Dan tadi dia menaruh permen karet di rambut Soomi juga lem di bangku Junnie. Namjin Hyung sama Beomgyu Hyung juga ada disana."
Sang kepala sekolah menyuruh wali kelas untuk memanggil mereka. Ibu dari Jaehyun melirik anaknya, namun sang anak justru buang muka tanpa rasa bersalah. Setelah semua penjelasan itu, Hyungjay terbukti tidak bersalah dan hanya membela diri. Karena yang pertama memulai itu semua adalah Jaehyun.
Taehyung meminta ijin agar Hyungjay bisa pulang lebih awal karena hari ini adalah hari ulang tahunnya dan sekolah mengijinkannya. Karena kebetulan keluarga Kim juga salah satu penyumbang terbesar di sekolah tersebut. Walaupun begitu, Hyungjay tidak pernah sombong ataupun sok berkuasa. Dirinya dididik untuk selalu rendah hati dan tidak membeda-bedakan status.
" Coba lihat, wajah tampanmu dari jelek seperti ini. Hari ini hari ulang tahunmu, tapi kau masih juga membuat ulah. Kalau Omma mu tahu, bisa habis Appa dan dirimu diceramahi ya semalaman."
" Maaf, Appa."
" Aniyaa... Kau tidak perlu meminta maaf. Seharusnya kau memukulnya lebih keras, lihat ini! Pasti sangat sakit kan? Kalau saja yang datang ayahnya, sudah Appa pukul balik tadi."
Hyungjay memeluk Appa nya erat. Ia sangat senang Appa nya tidak marah padanya. Wajah yang sejak tadi murung kini berubah cerah. Senyum yang sangat mirip dengan sang Appa menghiasi wajahnya.