Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
Between us



Hanya keheningan yang terasa disana. Tak ada seorangpun yang berani menginterupsi sikap diam yang diperlihatkan Taehyung saat ini.


Setelah kepergian Luhan dan Jimin tadi, baik Taehyung dan Yoongi hanya duduk diam tanpa mengatakan apapun. Padahal semua orang disana bertanya-tanya kenapa dia datang ke rumah tiba-tiba.


Melihat suasana yang murung, mau tidak mau Yoongi mencoba mencairkan suasana. Menurutnya diam saja seperti ini justru tidak menyelesaikan masalah.


Yoongi :" Emm, Samchon... Sebenarnya kedatangan kami kemari untuk-"


Baekhyun :" No no no, mulai sekarang kau harus memanggil kami Appa dan Omma Yoongi_aa. Sebentar lagi kalian akan menikah, jadi kau harus memanggil kami seperti itu nee?"


Yoongi jadi kikuk, apa yang akan dia sampaikan justru hilang dari pikirannya. Hoseok yang melihat itu justru tertawa, karena Yoongi seperti mati kutu dihadapan orang tuanya.


Hoseok :" Wah Hyung, sebentar lagi kau akan jadi adik ipar ku dong. Bagaimana aku akan memanggilmu nanti."


Suasana kembali menghangat dengan canda tawa. Tak elak itu membuat Yoongi sedikit tenang dan bersyukur, Taehyung sudah selangkah lebih baik. Tadinya ia mengira kedatangan Omma Jungkook akan menambah beban pikirannya, namun yang ia lihat justru sebaliknya. Taehyung nampak tenang menghadapi itu semua. Walaupun wajah dingin itu tidak menunjukkan ekspresi apapun tapi Yoongi tahu, Taehyung sudah menetapkan keputusan untuk melangkah maju.


Chanyeol :" Tae, Apa kau sudah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan Appa?"


Taehyung :" Nee, Appa. Setelah menikah nanti mungkin Tae akan mulai menanganinya."


Baekhyun :" Kalian akan tinggal dimana?"


Taehyung :" Tae sudah meminta Soobin mencarikan rumah yang tidak jauh dari sini, tapi tidak terlalu jauh juga dari kantor."


Yoongi :" Kau sudah mencari rumah? Kenapa tidak bilang dulu padaku?"


Taehyung :" Aku tidak ingin mengganggu mu Hyung. Jangan khawatir, aku masih ingat rumah seperti apa yang kau inginkan."


Baekhyun :" Kenapa kalian tidak tinggal disini saja? Omma akan sangat senang kalau kalian mau tinggal disini."


Chanyeol :" Chagiaa... Biarkan mereka mengambil keputusan yang mereka inginkan. Kita bisa mengunjungi mereka kapanpun nanti."


Baekhyun :" Tapi rumah ini akan sepi nantinya sayang... Hoby dan Hana juga tidak tinggal disini."


Taehyung :" Soobin akan tinggal disini Omma, jadi jangan khawatir."


Hoseok :" Tiang listrik itu akan tinggal disini? Dia akan pindah kemari?"


Taehyung :" Iya Hyung, aku kesini juga ingin menyampaikan hal itu."


Baekhyun :" Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, setidaknya kalian sudah memikirkan semuanya. Omma akan siapkan makan malam, kalian harus ikut makan malam disini nanti. Tidak ada penolakan."


Yoongi :" Biar Yoongi bantu I... Maksud Yoongi, Omma..."


Yoongi segera meralatnya setelah mendapat tatapan tajam dari Baekhyun. Senyum Baekhyun merekah mendengar panggilan itu. Sudah lama ia menantikan nya. Di apit nya tangan Yoongi menuju dapur. Hal itu tak luput dari pandangan Taehyung, ia senang Omma nya kembali ceria seperti dulu. Apapun akan ia lakukan untuk membuat keluarganya bahagia sebelum waktunya habis.


.


.


.


.


Laju mobil yang tengah melintasi hutan Pinus itu memelan setelah sang supir mendapat instruksi dari sang pemilik. Walaupun tidak ada percakapan disana, tapi suasana teras sesak. Baik Luhan maupun Jimin masih diam setelah meninggalkan kediaman keluarga Kim tadi.


Luhan :" Katakan yang sebenarnya, Jim. Apa ada masalah dengan hubungan Kookie dan Taehyung dulu? Apa maksud mereka dengan kondisi Taehyung yang dulu?"


Jimin :" Maaf Omma, Jimin juga sebenarnya tidak terlalu paham akan hal itu. Namun sepertinya sikap Jungkook yang dulu sangat melukai Taehyung. Omma ingat pesta ulang tahun Jungkook dulu? Saat itu Jimin baru mengerti semuanya. Hoseok Hyung sangat marah saat itu, Taehyung sudah beberapa kali sakit karena Jungkook menghilang tanpa kabar."


Luhan :" Astaga... Kenapa kau tidak bilang hal ini dari dulu, Jim... Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin keluarga mereka akan menerima Jungkook."


Jimin :" Maaf, Omma."


Luhan :" Ini bukan sepenuhnya salahmu, Jim. Bagaimana pun ini salah Jungkook yang terlalu takut memberikan kepercayaan pada orang lain. Trauma masa lalunya sepertinya telah merubahnya menjadi seseorang yang ambisius, dan itu membuatnya jadi seperti ini. Omma bisa melihatnya sekarang, sorot mata yang kosong dan penuh dengan luka. Sangat berbeda dengan foto yang Omma lihat di kamar Jungkook.


Omma tidak tahu, seperti apa waktu yang anak itu lalui hingga menjadi seperti itu."


Jimin tidak menanggapi apapun, Karena dia juga masih tidak percaya Taehyung bisa berubah sampai seperti itu. Tidak ada senyuman, tak ada pancaran kehidupan, dan sikap nya yang terlampau dingin dan tak tersentuh. Sangat berbeda dengan Taehyung yang ia kenal penuh semangat dan selalu tersenyum.


.


.


.


.


Suara dentuman jari yang menyentuh keyboard mengisi ruangan bernuansa pastel itu tidak mengganggunya sama sekali. Bahkan celoteh putranya yang sedari tadi dalam pangkuannya tidak ia dengarkan. Seokjin begitu terlarut dalam pikirannya saat ini. Bagaimana mungkin ia tidak tahu, adik sahabatnya yang sudah ia anggap adik sendiri itu menderita penyakit yang begitu berbahaya. Bahkan hidupnya tidak akan lama lagi.


" Kumohon, Hyung... Jangan katakan hal ini pada orang lain. Aku tidak ingin Taehyung semakin tertekan, Hyung."


" Tapi bagaimana mungkin, Yoon. Keluarganya berhak mengetahui keadaannya juga. Kita bisa membuatnya melanjutkan terapi, bukankah itu jauh lebih baik untuknya."


" Kau pikir aku tidak pernah melakukannya, Hyung? Aku sudah membujuknya selama 2 tahun, dan itu tidak pernah berhasil Hyung. Taehyung tetap tidak bergeming dengan pendiriannya. Aku hanya tidak ingin ia melalui semuanya sendirian Hyung, kau tahu kan aku sangat menyayangi nya."


" Tapi menyayangi yang kau maksud itu berbeda, Yoon. Kau menganggap nya seperti adik mu sendiri, sama seperti aku menganggap Taehyung selama ini. Apa kau harus menikah dengannya dan mengubur perasaanmu untuk Jimin?"


" Perasaanku padanya memang semestinya harus aku kubur dalam-dalam Hyung... Aku sudah lelah menantinya selama ini. Aku tidak sanggup lagi, Hyung... Setidaknya dengan pernikahan ini, orang tua kami bisa bahagia... Dan aku bisa menjaga Taehyung sampai waktunya tiba."


" Tapi, Yoon... Jika kita berusaha membujuk Taehyung sekali lagi, mungkin dia akan mendengar kali ini. Tumor otak bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap remeh, walaupun presentase kesembuhannya kecil kita masih punya harapan Taehyung akan sembuh. Dia hanya butuh motivasi untuk melakukannya, Yoon."


" Jika Taehyung sendiri tidak ingin sembuh, apa yang bisa kita lakukan Hyung?"


Masih terdengar dengan jelas pertanyaan Yoongi yang tidak bisa ia jawab kala itu. Jika Taehyung memang memilih hal ini sendiri. Tapi bukankah itu berarti ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri? Seokjin benar-benar tidak mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan saat ini untuk membujuknya.


Namjoon :" Sayang... Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak lihat wajah putra kita?"


Seokjin yang merasa terpanggil hanya memandang suaminya itu dengan tatapan sendu. Namjin yang menyadari keanehan sang istri, langsung mendekat dan mengambil alih sang putra dan duduk disebelahnya.


Namjoon :" Kau kenapa Hyung? Ada masalah? Coba katakan padaku, aku tidak suka melihatmu muram seperti ini, Hyung...."


Seokjin :" Joon... Bagaimana ini... Apa yang harus aku lakukan... Bagaimana mungkin-"


Ucapan itu tertahan begitu saja. Seokjin ingat, ia harus merahasiakan keadaan Taehyung yang sebenarnya. Melihat raut khawatir sang suami yang penuh tanda tanya, ia sangat ingin mengatakan semuanya. Namun ia juga tidak bisa mengingkari janjinya pada Yoongi. Kebisuan Seokjin sungguh membuat Namjoon khawatir. Tidak biasanya istrinya ini diam seperti ini. Biasanya Seokjin akan bicara terus-menerus dan tidak suka dibantah. Tapi sekarang sangat berbeda.


Seokjin :" Aniyaa... Hanya.... Tadi... Tadi Yoongi menghabiskan semua red Velvet milikku... Padahal aku sangat ingin memakannya tadi..."


Namjoon :" Astaga, Hyung... Hanya itu? Nanti kita bisa membelinya, kau bisa memakan sebanyak yang kau inginkan. Ku kira ada masalah apa sampai istriku ini terlihat begitu muram."


Seokjin hanya tersenyum kecut mengingat ini pertama kalinya ia berbohong pada suaminya setelah pernikahan mereka. Bagaimana ia bisa bahagia, saat adik yang disayanginya sedang berjuang antara hidup dan mati saat ini.


Namjoon :" Hyung... Apa kau sudah memikirkan hadiah untuk pernikahan Taehyung?"


Seokjin :" Kau sudah tahu mereka akan menikah?"


Seokjin cukup terkejut, pasalnya suaminya ini bisa tahu tentang hal itu. Padahal dirinya saja tidak tahu apa-apa.


Namjoon :" Emm... Hoseok yang memberitahuku kemarin. Sedikit mengejutkan karena Yoongi Hyung adalah orangnya, tapi kita juga tidak bisa ikut campur masalah keluarga mereka kan. Lagipula keluarga mereka sudah saling mengenal cukup lama."


Seokjin :" Joon... Apa menurutmu, ini keputusan yang tepat? Maksudku..."


Perlahan Namjoon menurunkan sang putra, membiarkannya bermain dengan beberapa mainan yang memang sengaja ia siapkan jauh-jauh hari. Dipeluknya sang istri yang terlihat was-was akan sesuatu itu. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya saat ini, tentu saja itu tentang pernikahan Taehyung dan Yoongi. Mengingat ada orang lain yang mungkin akan menyebabkan masalah nantinya. Apalagi ini menyangkut Taehyung yang sangat Seokjin sayangi.


Namjoon :" Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Taehyung, Hyung...  Tapi percayalah pada keputusannya. Kau ingin Taehyung bahagia kan? Kalau ini memang yang ia inginkan, cobalah menerimanya dan mendukungnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, tapi kita akan ada untuk mereka."


Seokjin :" Tapi bagaimana dengan Jungkook dan Jimin, Joon? Kau tahu kan siapa Jungkook itu? Bagaimana kalau-"


Namjoon :" Aku tahu, Hyung... Aku tahu. Tapi apa kau lupa siapa Hoseok? Dia juga tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut Taehyung. Kalau dia bisa menyembunyikan Taehyung selama ini dari kita semua, dia juga bisa melakukan apapun untuk menjaga Taehyung."


Seokjin :" Apa Maksudmu? Apa mungkin kau tahu dimana Taehyung selama ini? Dan kau tidak pernah memberitahuku?"


Namjoon :" Aku tidak tahu Hyung, tapi aku pernah mendengar Hoseok berbicara dengan Appa nya ditelepon. Dia berterimakasih karena mau membantu menyembunyikan Taehyung saat itu. Dari sana aku tahu, kalau Hoseok memang sudah merencanakan ini semua. Tapi aku tidak berani untuk bertanya lebih jauh, karena itu bukan wewenang ku Hyung... Lagipula kita semua tahu, siapa Appa kandung Hoseok. Dia juga bukan orang biasa Hyung."


Seokjin :" Kenapa kau tidak pernah bilang hal ini padaku?"


Namjoon :" Kalaupun aku mengatakannya padamu, apa ada kemungkinan Hoseok akan memberitahukan keberadaan Taehyung pada kita? Kau tahu sendiri kan, bahkan Baekhyun Imo dan Chanyeol Samchon juga tidak mengetahuinya."


Seokjin :" Aku tidak tahu, Joon. Hanya... Kau tahu kan, aku sangat menyayangi Taehyung. Dia sudah seperti adik bagiku, begitu pula Yoongi. Dia sahabatku, Joon. Aku tidak ingin mereka semua terluka dengan pernikahan ini."


Namjoon sangat mengerti kegelisahan sang istri, bagaimana pun ia juga sempat khawatir tentang hal itu. Dipeluknya dengan erat sang istri agar dapat mengurangi sedikit kecemasannya.


Namjoon :" Kita doakan saja yang terbaik, Hyung. Kalaupun mereka butuh bantuan kita, mereka pasti akan menghubungi kita secepatnya."


Hatinya sedikit tenang mendengar kata-kata sang suami. Mata mereka saling bertatapan, mengikis jarak diantara keduanya. Hanya beberapa inchi bibir mereka akan bersentuhan, sampai tangis sang putra merebut perhatian mereka.


"HUAAAAAAA!!!!"


Namjoon :" Aigooo.... Maafkan Appa dan Omma, nee... Ada apa Hem? Apa putra Appa ini sudah lapar sekarang? kajja kita pulang sekarang."


Seokjin :" Apa pekerjaanmu sudah selesai? Kalau belum, kami bisa pulang duluan."


Namjoon :" Pekerjaan bisa aku tangani nanti, Hyung. Tapi aku tidak ingin melewatkan waktu bersama kalian."


Dikecupnya pipi Seokjin dan sang putra berkali-kali hingga tawa riang namjin membuat Seokjin sejenak merasa lega. Keputusannya memilih Namjoon sebagai pasangan hidupnya tidak pernah salah. Walaupun ia tengah menggendong namjin, tangan satunya tidak pernah lupa untuk menggenggam tangannya. Sungguh pemandangan yang membuat siapapun iri dengan keluarga satu ini.


.


.


.


Selepas makan malam bersama itu, Taehyung memutuskan untuk tidur di kediaman keluarga Kim. Kamar lamanya dulu sebelum ia pergi ke Turki. Sebelumnya ia sudah mengantarkan Yoongi kembali kerumahnya, lagi pula rumah mereka bersebelahan jadi tidak makan banyak waktu.


Padahal Yoongi sudah menolak untuk diantar, tapi ya karena paksaan Baekhyun yang kekeh akhirnya Yoongi membiarkannya. Kembali ke Taehyung, kini namja tampan itu tengah berdiri menatap seisi kamar. Dari setiap sudut ruang itu, masih sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Kakinya melangkah mendekati meja di samping jendela, jendela yang sama yang selalu menjadi tempatnya melihat keluar.


Taehyung tidak menyangka akan bertemu dengan Omma Jungkook hari ini. Padahal sudah sejak dulu ia sangat ingin bertemu dengan orang yang begitu kekasihnya sayangi itu. Tapi kini semuanya sudah berubah, mereka bukan lagi sepasang kekasih. Mereka bukan lagi satu jiwa yang ingin bersama, karena ia telah memutuskan semua hubungan itu.


Hoseok :" Tae... Boleh Hyung masuk?"


Taehyung alihkan perhatiannya pada sang Hyung yang tengah berdiri didepan pintu. Sepertinya ia lupa menutup pintu, sehingga sang Hyung bisa melihatnya yang tengah berdiri menatap ke luar jendela.


Taehyung :" Tentu Hyung, ada apa?"


Hoseok :" Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan memendamnya sendirian, ada Hyung yang selalu siap mendengarkan mu setiap saat."


Taehyung :" Tidak ada Hyung. Hanya... Tae sedikit khawatir, apakah Tae akan bisa membahagiakan Yoongi Hyung nantinya?"


Hoseok :" Hei, dengarkan Hyung..." Tangan besarnya menyentuh pundak sang adik agar sedikit mengurangi kekhawatiran yang entah bagaimana Sepertinya ia juga tidak begitu mengerti. " Kau itu kuat, Tae... Kau juga sudah mengenal Yoongi Hyung dari dulu. Kau tahu apa yang membuatnya bahagia, tersenyum, sedih, dan kau juga tahu bagaimana menangani itu semua.


Yakinlah pada dirimu sendiri, bahwa kalian bisa bahagia saat kalian bersama. Saat kau yakin pada dirimu sendiri, kau pasti bisa membuat Yoongi Hyung bahagia. Kau lihat Hyung, Hana dan Hyung juga sudah saling mengenal dari dulu. Dan lihatlah sekarang, kami bahagia. Bahkan sebentar lagi kau akan memiliki keponakan.


Saat dia lahir nanti, kau juga harus membantuku merawatnya. Karena kau tahu kan, Hana kadang suka bekerja terlalu keras. Padahal aku sudah memintanya untuk tidak lagi bekerja." Jelas Hoseok panjang, lebar kali tinggi.


Taehyung hanya bisa terdiam mendengar penuturan sang Hyung. Apakah mungkin dia masih memiliki waktu selama itu untuk bersama mereka? Dadanya berdenyut sakit mengingat mungkin dia tidak akan melihat keluarganya lagi nanti.


Dengan senyum tipis, Taehyung menjawab sang Hyung. " Aku hanya berharap, keponakan ku nanti tidak mirip denganmu Hyung, akan lebih baik jika dia seperti Hana Noona."


Hoseok menganga tidak percaya dengan apa yang adik ya katakan. Bagaimana mungkin anaknya tidak boleh mirip dengannya?


Hoseok :" YAK!!! KAU MAU CARI RIBUT DENGANKU! DIA ANAKKU! TENTU SAJA DIA HARUS MIRIP DENGANKU!"


Taehyung :" Tapi kau sangat cerewet, Hyung. Lebih baik nanti keponakan ku lebih mirip Noona saja."


Hoseok :" MANA BISA BEGITU! ANAKKU HARUS MIRIP APPA NYA LAN!"


Taehyung :" Lebih baik jangan."


Baekhyun yang melihat kedua anaknya berdebat hanya tersenyum teduh. Tak ada niatan untuk melerai mereka, karena pemandangan seperti ini sudah lama ia rindukan. Ia hanya berharap pilihannya tepat dengan menikahkan putranya dengan Yoongi.


Malam itu walaupun Hoseok marah-marah tidak jelas, tapi di hatinya sangat bahagia. Setidaknya ia bisa melihat adiknya yang jail dulu kini perlahan mulai kembali, walaupun wajah datar masih terpampang disana. Dia berharap sedikit demi sedikit Taehyung bisa kembali seperti dulu setelah menikah dengan Yoongi.


.


.


.