
Tak bisa Yoongi pungkiri, saat ini ia tengah dilanda kekhawatiran yang mendalam. Sosok didepannya ini sudah mengetahui kondisi Taehyung yang notabenenya telah mereka sembunyikan dari orang lain.
Dan bagaimana namja di depannya ini bisa tahu semua itu?
Bibirnya sangat sulit untuk berucap, keringat dingin perlahan membasahi wajahnya. Yoongi bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak, yang jelas rasa penasarannya tentang sosok didepannya ini jauh lebih mendominasinya.
Yoongi :" Maaf, tapi apa kita saling mengenal? Dan bagaimana anda bisa mengenal Taehyung?"
Wonwoo :" Ah, maaf sepertinya saya sudah tidak sopan. Perkenalkan, saya Kim Wonwoo... Istri Kim Mingyu. Mungkin Hyung lupa, tapi dulu saya pernah menjadi teman sekelas Taehyung sebelum saya pindah ke Inggris."
Yoongi menerima uluran tangan dari Wonwoo sembari mengingat-ingat siapa orang ini. Hingga detik selanjutnya, ekspresi terkejut yang Yoongi tunjukkan membuat Wonwoo tersenyum. Sepertinya Yoongi sudah mengenalinya.
Yoongi :" Kau Jeon Wonwoo? Teman Taehyung waktu kelas dua dulu? Yang dikejar-kejar si Malika itu?"
Wonwoo :" Iya Hyung, ini aku. Dan yang lebih lucu, aku sudah menikah dengannya."
Keduanya tertawa mengenang kejadian dulu, ya kita doakan saja telinga Mingyu tidak gatal karena sedang dibicarakan oleh sang istri.
Yoongi :" Maaf, Won... Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang kondisi Taehyung? Karena setahuku tidak banyak yang mengetahui kondisi Taehyung saat ini."
Wonwoo :" Sebelumnya maaf karena kelancangan Mingyu yang tidak sengaja menguping pembicaraan kalian. Beberapa waktu lalu Mingyu tidak sengaja bertemu dengan Taehyung, dan mengikutinya lalu tanpa sengaja mendengar semuanya."
Yoongi :" Aaa.... Jadi seperti itu ya..."
Wonwoo bisa melihat kesedihan di wajah Yoongi. Ia semakin yakin, bahwa semua perkataan suaminya tentang keadaan Taehyung itu benar. Kalau pun ia memang harus membantunya, ia harus tahu dulu sejauh dan seburuk apa kondisi Taehyung sebelum melakukan semuanya.
Yoongi :" Seperti yang kau tahu, Taehyung tengah sakit. Tapi ia selalu menolak untuk melanjutkan pengobatan. Presentase kesembuhan yang kecil membuatnya enggan untuk melanjutkan terapinya. Dan itu berdampak pada kondisinya."
Wonwoo :" Kalau boleh tahu... Taehyung sakit apa, Hyung?"
Yoongi terdiam cukup lama, tangannya meremas erat selimut yang ada disampingnya. Bahkan bulir Ari mata sudah tak bisa ia bendung lagi.
Yoongi :" Tumor otak, stadium akhir. Dan kalau ia masih menolak untuk melanjutkan terapinya.... Ia hanya memiliki waktu tidak lebih dari setahun."
Wonwoo tidak terkejut mendengarnya, karena tadi ia sempat melihat Taehyung meminum beberapa obat yang sudah tentu ia kenali fungsi dan berapa besar dosisnya.
Namun yang membuatnya terkejut adalah sisa waktu yang terbilang cukup lama itu. Padahal setahunya jika sudah masuk stadium akhir, tidak akan pernah lebih dari lima atau enam bulan saja. Berati besar kemungkinan Taehyung masih memiliki kesempatan untuk sembuh lebih besar.
Wonwoo :" Hyung... Aku seorang dokter. Dan kebetulan sebelumnya aku dan temanku pernah menangani masalah seperti ini. Temanku sangat bisa dipercaya untuk hal ini."
Yoongi :" Benarkah! Apa kau bisa menyembuhkan Taehyung?"
Yoongi tidak kuasa menahan tangis bahagianya. Ia bahkan dengan erat menggenggam tangan Wonwoo berharap akan ada keajaiban yang bisa menyembuhkan Taehyung kali ini.
Wonwoo :" Aku yakin kami bisa, Hyung. Namun ada beberapa masalah yang harus Hyung lakukan dengan segara."
Yoongi :" Katakan saja! Apapun itu akan aku lakukan demi kesembuhan Taehyung!"
Wonwoo :" Pertama, setelah kalian menikah... Kalian harus pindah ke Canada, karena pengobatan ini membutuhkan waktu yang lumayan lama."
Yoongi :" Ca... Canada?"
Wonwoo :" Iya, Hyung. Sahabatku, dokter Mark Lee adalah dokter terbaik yang pernah aku temui untuk pasien kangker. Dia tidak akan mau datang ke Korea, karena itu Taehyung harus menetap disana untuk sementara."
Yoongi :" Tapi aku tidak yakin Taehyung akan menerimanya. Maksudku, sebelum ini ia juga menolak untuk berobat."
Wonwoo :" Itulah peran Hyung disini. Paling lambat dua bulan dari sekarang, kalian sudah harus menetap disana. Aku ingin Hyung menyakinkan Taehyung. Kalau bisa, berikan Taehyung sebuah alasan besar baginya untuk sembuh."
Yoongi :" Tapi apa, Won? "
Wonwoo :" Itu yang harus kita pikirkan, Hyung. Taehyung butuh motivasi agar presentase kesembuhannya semakin besar."
Mereka berdua hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, tanpa menyadari ada sosok lain yang tanpa sengaja mendengar setiap kalimat yang mereka bicarakan dengan tangan yang mengepal kuat hingga kuku itu memutih.
.
.
.
.
.
.
Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana hancurnya hati, terkecuali kita pernah merasakannya sendiri. Terombang-ambing antara cinta, penyesalan, dan keinginan untuk memiliki membuat siapapun akan nekat melakukan segalanya.
Namun berbeda kiranya kali ini untuk Jungkook, ia sadar.... Semua yang telah ia lakukan selama ini hanyalah keegoisan dan sebuah obsesi. Maka dari itu sejak semalam suntuk, ia merenung memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semuanya tanpa membuat kesalahan yang sama.
Jungkook sadar sikapnya pada Yoongi juga sangat kasar, terlihat ia paham... Kedekatan Yoongi dan Taehyung tidak terjalin hanya satu atau dua tahun saja melainkan sudah tumbuh bersama. Ia sadar, memang pantas dirinya untuk mendapat hinaan atau makian dari Seokjin kemarin karena memang ucapannya sangat keterlaluan.
" Kook..."
Usapan dan Suara lembut yang teramat ia kenali mengalihkannya sejenak. Bisa ia lihat, sang Omma berdiri tengah duduk disampingnya, memandangnya dengan seulas senyum.
" Kau harus makan, sayang... Dari pagi kau belum menyentuh apapun, Omma tidak ingin kau sakit."
Usapkan lembut yang membelai rambutnya membuatnya nyaman... Namun itu tak membuatnya bangkit, justru perlahan Jungkook merebahkan tubuhnya dan menjadikan pangkuan sang Omma sebagai tempat ternyaman nya.
Luhan hanya tersenyum dan tetap membelai sayang sang putra. Sepertinya putranya ini masih enggan turun, karena ia melihat Jungkook justru memejamkan matanya. Hingga tidak lama, Jungkook membuka suara.
" Omma... Apa Kookie jahat kalau tetap menginginkan Taehyungie sepenuhnya?"
Pertanyaan sang putra tidak membuatnya menghentikan usapannya. Luhan tahu bagaimana watak sang putra yang sangat mirip dengan almarhum sang suami.
" Tidak, Kookie tidak salah. Tapi yang akan membuat itu menjadi sebuah kesalahan adalah bagaimana Kookie melakukannya. Jika Kookie mewujudkan nya dengan cara yang salah, tentu itu juga sebuah kesalahan, sayang."
Mata bulat nan sayu itu terbuka perlahan, memandang sang Omma yang memandangnya penuh kasih sayang selama ini.
" Lalu Kookie harus bagaimana? Taehyungie bahkan tidak ingin bertemu denganku. Bahkan sampai detik ini pun, Taehyungie tidak mau menerima permintaan maaf ku."
Perlahan Luhan mendudukkan sang putra, ia genggam tangan yang sedikit bergetar itu dengan lembut. Memintanya memandang tepat padanya.
" Kookie tahu kan kalau yang Kookie lakukan dulu salah?"
Tak membantah ucapan sang Omma, Jungkook hanya bisa mengangguk membenarkan semuanya karena ia sadar betul itu memanglah kesalahannya.
" Kookie tahu, saat mendengar semuanya dari Jimin... Omma juga marah padamu sayang... Tapi Omma tahu, kau melakukan semua itu karena teringat perbuatan paman mu dulu. Tapi yang harus Kookie tahu, tidak semua orang sama dengan mereka sayang.
Kau boleh saja tidak mempercayai orang lain, tapi dalam suatu hubungan... Kepercayaan dan kejujuran itu sesuatu yang penting. Jika Omma saja bisa marah padamu, Bagaimana menurutmu dengan keluarga Taehyung?"
Air mata itu mengalir, Jungkook tidak bisa membendung perasaan bersalahnya pada orang tua Taehyung karena ulahnya pada putra mereka itu.
" Kau harus meminta maaf pada keluarganya lebih dulu sayang, kau perlu menjelaskan semuanya pada mereka juga. Omma tidak bisa menjamin apakah mereka akan menerima mu, tapi setidaknya kau harus mencobanya. Omma dan Jimin akan selalu bersamamu."
" Nee, Omma... Kookie akan kesana. Kookie tidak mau kehilangan Taehyungie, Kookie sangat mencintainya Omma..."
" Emm... Omma tahu itu sayang. Jadi sekarang Kookie harus bersiap dan turun untuk sarapan, setelah itu Omma dan Jimin akan menemanimu kesana. Arachi?"
Anggukan darinya membuat sang ibu tersenyum dan memeluk putranya sayang. Tak lup menghapus sisa air mata yang membasahi pipi chubby nya.
.
.