Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
Just Enough



Seperti dugaannya sebelumnya, Jungkook lagi-lagi menghilang bagai ditelan bumi. Sudah ratusan kali Taehyung menghubunginya namun tak satupun terjawab. Ia bahkan mencoba menghubungi Jimin, namun ternyata sama saja. Sudah 3 minggu ini Taehyung tidak semangat mengikuti pelajaran, padahal 3hari lagi ia akan mengikuti ujian kelulusan yang ia minta untuk dipercepat.


Tidak hanya itu, akibat tidak adanya Jungkook juga sedikit banyak mempengaruhi emosinya. Ia jadi mudah marah dan bertingkah ceroboh dan Hoseok sangat membenci saat adiknya jadi seperti ini karena Jungkook. Bahkan adiknya sering menghancurkan barang-barang dilamarnya karena merasa putus asa.


" Hyung... Kenapa dia selalu seperti ini padaku, hyung? Apa kesalahanku?"


Hancur sudah pertahanan Hoseok melihat kesedihan dan air mata adiknya ini. Ia benar-benar tidak mengerti, bagaimana Jungkook bisa melakukan hal ini pada adiknya. Sebenci apapun Hoseok pada Jungkook, tapi ia akan memaklumi semuanya asalkan adiknya bahagia.


" Tae... Jangan seperti ini. Kau membuat kami sedih. Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan pergi kemanapun. Dia akan kembali padamu Tae, percayalah pada Hyung."


Hoseok masih memeluk adiknya yang masih menangis sejak tadi. Ini adalah titik terendah dimana ia tidak sanggup lagi menahan kesedihan adiknya. Ia harus berbuat sesuatu sebelum ia kehilangan adiknya hanya karena cinta yang tidak pernah tulus untuk adiknya.


" Sekarang Tae makan ya... Kau belum makan dari kemarin. Appa dan Omma sangat mengkhawatirkan dirimu Tae. Hyung mohon..."


" Tae tidak nafsu makan Hyung. Nanti saja."


" Tapi kau sangat pucat Tae.... Makanlah sedikit, Hyung tidak ingin kau sakit lagi."


" Tae hanya butuh tidur sebentar Hyung. Nanti juga-"


" TAEE!!!!!"


Tiba-tiba saja Taehyung jatuh pingsan, membuat Hoseok berteriak karena terkejut. Dengan segera ia hampiri tubuh adiknya yang tergeletak lemas dilantai. Badannya sedikit panas. Ini yang ia takutkan jika mengenai kondisi Taehyung. Adiknya itu mudah stress dan itu mempengaruhi kesehatannya.


" OMMA!!! APPA!!! CEPAT PANGGIL DOKTER!!!"


Baekhyun yang mendengar teriakan sang putra pun langsung naik ke kamar sang putra diikuti Chanyeol dibelakangnya. Mereka juga mengkhawatirkan kondisi Taehyung yang seminggu ini lebih sering mengurung diri dalam kamar.


" ASTAGA! TAEHYUNG!!!"


Baekhyun terlihat sedih dan tak kuasa menahan tangis melihat kondisi putranya yang sangat pucat, sedangkan Chanyeol segera menghubungi dokter.


Setelah beberapa saat memeriksa, dokter tersebut menjelaskan kondisi Taehyung yang kekurangan cairan dan butuh asupan nutrisi, serta kondisi mental yang tidak stabil juga sedikit mempengaruhi kondisi kejiwaannya.


" Saya mohon anda semua lebih memperhatikan Taehyung lebih baik lagi. Kondisi mentalnya lebih buruk dari sebelumnya. Saya kuatir ini akan memperburuk kondisinya. Buat dia bersemangat kembali. Atau jauhkan dia sementara dari pemicu yang membuatnya depresi."


Penjelasan dari dokter bernama Park Shin Hye itu membuat semua keluarga tercengang, terlebih Hoseok. Ia bahkan menangis melihat betapa rapuhnya adiknya saat ini. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk adik tercintanya. Bahkan ia juga berusaha menghubungi Jungkook namun tetap tidak berhasil. Ia juga sudah mencari alamat rumah mereka, tapi Jungkook seperti enggan ditemui siapapun. Tidak ada yang tahu dimana kediaman keluarga konglomerat itu. Kalau seperti ini bagaimana ia bisa membawa Jungkook untuk adiknya.


" Saya sudah memberikannya obat dan mungkin Taehyung tidak akan terbangun sampai besok pagi. Saya akan kembali kemari setelah 5jam untuk mengganti infusnya."


" Terimakasih dokter Park, maaf merepotkan Anda diwaktu Seperti ini. Dan saya mohon, jangan sampai berita ini keluar dari dalam rumah ini."


" Tenang saja nyonya Kim, anda bisa mempercayai saya. Saya yang harusnya berterimakasih kepada keluarga anda. Keluarga anda banyak membantu keluarga saya saat kami kesulitan."


Baekhyun yang mendengar itu tersenyum. Ia tahu orang didepannya ini sangat baik. Keluarga mereka dulu adalah pekerja dirumahnya. Orang tua Baekhyun membantu membiayai sekolahnya sampai sarjana dan sekarang menjadi dokter. Bahkan sekarang dokter Park telah menjadi dokter keluarga untuk mereka.


" Sampaikan salam ku untuk keluargamu. Lain kali ajak Hana juga kemari. Hoseok pasti akan senang."


" Nee nyonya Kim."


" Panggil saja Noona, umur kita tidak terpaut jauh juga kan. Itu terdengar lebih baik untukku."


" Nee Noona, kalau begitu saya permisi."


Setelah mengantar dokter Park, Baekhyun kembali ke kamar Taehyung. Hatinya kembali sakit melihat keadaan putranya yang biasa ceria kini terlihat tanpa nyawa itu. Ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja besok.


Sinar mentari mulai masuk disela-sela tirai yang tertutup. Menandakan hari sudah berganti dan pagi yang baru harus mereka jalani. Hoseok bangun cukup pagi hari ini, kebetulan ia tidak ada kelas jadi ia habiskan untuk menemani sang adik.


Ia melangkahkan kakinya keluar kamar setelah mandi, menghampiri kamar sang adik yang terletak disebelah kamarnya. Ia ketuk pelan pintu itu, namun setelah beberapa saat masih tak ada jawaban. Terpaksa ia buka perlahan dan begitu pintu itu terbuka, hatinya berdenyut sakit melihat sang adik hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela.


Tidak ada senyum kotak yang selalu ia lihat, tidak ada sapaan manja untuknya, tidak ada rengekan yang biasa ia dengar saat ia sengaja memasuki kamar adiknya. Adiknya hanya diam tak merespon apapun. Hatinya menangis melihat keadaan adiknya yang seperti ini. Namun ia tidak boleh lemah untuk adiknya, ia harus kuat dan mendukungnya.


" Tae... Kau sudah bangun? Ingin sesuatu? Sepertinya Omma sedang memasak masakan kesukaanmu. Ingin makan sekarang?"


Nihil. Adiknya tidak menjawab sedikitpun, bahkan menatap pun tidak. Adiknya Seperti kehilangan jiwanya, hanya ada raga kosong dihadapannya. Kalau bisa ia akan menarik paksa Jungkook saat ini. Ia akan melakukan itu dan membuang semua kebenciannya asal adiknya bisa tersenyum kembali.


" Hyung..."


Suara lirih itu terdengar. Walaupun samar, Hoseok bisa mendengar suara adiknya memangil dirinya. Hoseok mengambil tempat didepan Taehyung, menumpukan lututnya pada lantai dan menggenggam tangan sang adik yang sedikit hangat. Mungkin demamnya sudah berkurang.


" Ada apa, hemm.... Adik Hyung satu ini mau sesuatu? Mau Hyung bawakan stroberi?"


Hoseok tahu, adiknya ini sangat menyukai stroberi. Dan ia baru kepikiran sekarang kalau Taehyung sakit, ia pasti selalu makan stroberi.


" 4hari lagi ulang tahun Jungkook Hyung. Kenapa dia masih belum menghubungiku?"


Luntur sudah senyuman Hoseok dan tergantikan dengan raut sedih saat mendengar semua itu. Ia melihat tangan adiknya masih menggenggam ponsel yang tertera kontak Jungkook. Sebegitu cintanya adiknya dengan namja itu, sampai hal yang pertama dilakukannya ketika sadar adalah menghubungi orang itu. Namun Hoseok bisa apa, ia sangat menyayangi adiknya. Ia akan mengorbankan apapun demi adiknya.


" Tae ingin apa? Hyung akan mencari Jungkook kalau Tae menginginkannya. Jadi Hyung mohon jangan sedih lagi, nee..."


" Tae ingin pergi, Hyung."


Usapan itu berhenti. Otaknya memproses apa yang baru saja adiknya itu ucapkan. ' Pergi?' apa maksud adiknya ini. Tangannya bahkan mulai gemetar memikirkan kemungkinan terburuk yang diinginkan adiknya ini.


" Pe-pergi? Tae ingin pergi kemana? Tae ingin jalan-jalan, mau Hyung temani?"


" Tae ingin pergi, Hyung. Pergi jauh dari sini. Tae mohon Hyung, Tae sudah tidak sanggup Seperti ini terus. Tae ingin melupakannya Hyung.... Dia tidak pernah mencintaiku Hyung... Dia meragukan diriku Hyung... Tae mohon Hyung... Bawa Tae pergi dari sini..."


Tangis Taehyung menjadi seiring raungan yang membuatnya sesak nafas dan kembali pingsan. Orang tuanya yang berada didepan pintu tidak kuasa menahan tangisnya saat mendengar permohonan putra mereka. Bahkan Hoseok yang masih berada di kamar adiknya terpaku, melihat bagaimana adiknya tidak berdaya dengan beberapa suntikan yang dokter itu berikan pada tubuh ringkih adiknya.


Tubuh itu merosot sesaat setelah menutup pintu kamar adiknya. Adiknya ingin pergi jauh darinya, meninggalkan dirinya dan keluarganya. Bagaimana ia bisa hidup tanpa adik yang teramat ia sayangi.


" Hoby-ah... "


Hoseok menengok menatap Appa Kim yang berdiri disampingnya. Tatapannya sendu dan terlihat kesedihan disana. Perlahan Hoseok bangkit, walaupun terlihat jelas air mata yang masih mengatur dari mata indahnya.


" Appa dan Omma ingin membicarakan sesuatu. Turunlah kebawah sebentar."


" Nee, Appa...."


Sudah 5menit, belum ada yang mulai berbicara. Kesedihan sangat terasa di ruangan yang biasanya hangat dan ramai dengan senda gurau itu. Bahkan Omma Kim masih menangis memikirkan keadaan putra bungsunya itu.


" Hoby-ah... Bisa Appa minta tolong"


" Tentu saja, Appa. Memang Appa ingin minta Hoby melakukan apa?"


" Bukan kau nak, Appa butuh bantuan Daddy-mu."


" Daddy?"


" Appa ingin Daddy-mu menjaga Taehyung. Appa dan Omma mu tidak sanggup melihat adikmu menderita seperti itu."


" Tapi kenapa harus Daddy Hoby, Appa? Hoby bisa menjaga Tae... Hoby akan membawa Tae jauh dari sini kalau perlu."


Hoseok tidak ingin jauh dari adiknya. Bagaimanapun, Taehyung satu-satunya adik yang ia miliki. Bagaimana mungkin orang tuanya tega menjauhkan mereka begitu saja.


" Kau masih harus menyelesaikan kuliahmu nak. Lagipula kita tahu, siapa kekasih Taehyung. Ia bukan orang sembarangan, mereka pasti akan curiga kalau kau juga pergi. Appa ingin Taehyung menyendiri dan melanjutkan pendidikannya tanpa ada yang mengetahui keberadaannya. Dan hanya Daddy-mu yang bisa melakukannya."


" Omma mengerti kekhawatiran mu nak... Tapi ini juga demi Taehyung. Kami juga berat hati untuk membiarkan Tae-Tae pergi. Omma harap kau mengerti."


Hoseok mengerti kedua orang tuanya ingin adiknya segera sembuh dan bangkit dari keterpurukan. Tapi ia khawatir, bagaimana adiknya itu akan hidup di negara lain tanpa mengenal siapapun. Perasaannya tidak menentu tiap kali melihat kesedihan orang tuanya tapi adiknya memang butuh waktu menyendiri. Terpaksa ia menyetujui usulan itu, yang terpenting baginya adiknya bisa kembali ceria seperti dulu.


Sementara ditempat lain, di kediaman keluarga Jeon. Jungkook baru saja bangun dari tidurnya. Semalam ia dan Jimin baru saja pulang dari London. Ada beberapa masalah di perusahaannya yang harus ia tangani sendiri, dan tidak bisa ia serahkan kepada orang lain. Ia melirik ponselnya yang sudah 3minggu ini ia matikan. Ia tahu kekasihnya itu pasti mencarinya. Dan benar saja begitu ia hidupkan banyak sekali notifikasi masuk, dan hampir 75% dari itu dari kekasihnya.


Jungkook tahu, ia sedikit kelewatan karena sama sekali tidak menghubungi kekasihnya itu. Tapi ini ia lakukan juga karena ingin melihat kesungguhan nya. Ia hanya tidak ingin terluka. Dan setelah melihat semuanya, ia yakin Taehyung benar-benar mencintainya. Bahkan ia berencana memberitahukan semuanya padanya saat hari ulang tahunnya esok lusa. Ia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya agar menjadi sebuah kejutan.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, ia turun kebawah menyapa pekerja yang mulai sibuk menghias rumah besarnya. Ulang tahunnya kali ini akan mengundang berbagai kalangan, guna mengumumkan siapa dirinya. Karena ia sangat tertutup untuk urusan pribadi.


" Kau baru bangun Kook?"


" Iya Hyung. Kookie masih sedikit lelah karena penerbangan semalam. Omma dimana Hyung?"


" Omma ada di taman. Kau sudah menghubungi Taehyung, Kook? Anak itu sempat menghubungiku Beberapa kali, namun aku belum sempat menjawabnya."


" Biarkan saja Hyung. Kookie ingin memberikannya kejutan. Lagipula saat ulang tahunku nanti juga ketemu kan, hanya 3hari lagi dia pasti bisa kok."


" Hyung hanya mengingatkanmu Kook, kau terlalu acuh pada hubungan kalian. Hyung tidak ingin kau menyesal nantinya."


" Tidak Hyung... Saat pesta besok kookie akan menjelaskan semuanya pada Taehyungie. Kookie sudah yakin dengan semuanya."


" Syukurlah kalau kau sudah memikirkan semua itu."


Jimin tersenyum melihat adiknya yang terlihat sangat bahagia itu. Mungkin Taehyung memang obat penyembuh yang tepat untuk Jungkook yang dari dulu tidak mempercayai siapapun karena perbuatan kerabatnya dulu.


Mereka tidak sadar bahwa di kediaman keluarga Kim sedang menyiapkan kepergian Taehyung tanpa memberitahu siapapun. Hanya keluarga inti yang mengetahui hal itu. Bahkan segala akses yang menyangkut Taehyung telah mereka tutup rapat agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya.


Kini yang tertinggal hanyalah kekosongan untuk namja tampan yang masih betah menatap keluar jendela. Jiwanya terasa kosong tanpa gairah. Wajah yang semula ceria itu kini seolah menghilang ditelan kegelapan, datar dan tanpa ekspresi. Tatapannya kosong dan sedingin es.


Ia palingkan kembali wajahnya kearah meja samping, menatap ponselnya yang masih terdiam. Diambilnya benda pipih itu, dan menggeser layarnya. Menampilkan wajah yang selama ini ia rindukan. Hatinya kembali teriris saat melihat senyuman itu.


Digenggamnya erat ponsel itu dan setelah beberapa saat ia masukan kedalam sebuah kardus. Disana berisi semua kenangannya dengan Jungkook. Foto, boneka, gelang dan semua yang mengingatkannya pada sosok itu. Perlahan ia tutup dan membiarkan maid mengambilnya nanti. Entah mau diapakan semua barang itu, ia tak perduli. Keinginannya sudah bulat, dan ia harus kuat.


' Selamat tinggal Kook...


Kuharap kau bahagia dengan jalan hidupmu. Dan biarkan aku menjalani kehidupanku, tanpamu....'