
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Taehyung memperhatikan seisi rumah itu. Tidak banyak yang berubah sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini tujuh tahun yang lalu.
Taehyung :" Hyu... Hyung... Kita ke apartemen mu saja. Aku takut, paman dan bibi akan tahu keadaanku."
Yoongi :" Kau tidak perlu khawatir, mereka tidak ada dirumah saat ini. Mereka sedang ada urusan di Daegu, mungkin lusa baru akan kembali."
Rasa sakit di kepala Taehyung tak bisa terbendung lagi. Badannya lirih kelantai, tangannya terus menerus memegangi kepalanya yang terasa seperti mau meledak. Ia berteriak kesakitan hingga Yoongi yang melihatnya hanya bisa menangis sambil memeluknya. Ia tidak akan pernah tega membiarkan Taehyung menggigit lengannya sendiri, seperti terakhir kali saat penyakitnya itu kambuh. Ia harus memeluknya dengan erat agar Taehyung berhenti menyakiti dirinya sendiri untuk menyalurkan rasa sakitnya itu.
Perlahan Taehyung mulai tenang karena Sepertinya obat itu mulai bereaksi. Melihat keadaan Taehyung yang seperti ini membuat Yoongi semakin hancur. Seperti Seokjin, Taehyung sangat berarti untuknya. Selain cinta pertamanya, Taehyung sudah dia anggap sebagai keluarga. Walaupun sebentar lagi hubungan mereka akan berubah setelah ikrar pernikahan terjadi. Kakinya melemah dan terduduk dilantai. Ia hanya bisa menggenggam tangan Taehyung yang sejak tadi menggenggamnya.
Yoongi :" Tae... Hyung mohon... Kita lanjutkan saja pengobatan mu. Hiks.. hiks... Hyung... Hyung... tidak sanggup melihatmu menderita seperti ini lagi. Jungkook pasti akan menerima dirimu lagi, tidak perduli bagaimana keadaanmu saat ini. Hyung mohon..."
Taehyung :" Aku tahu itu, Hyung... Jungkook akan menerimaku lagi. Tapi aku tidak ingin dia bersedih karena tahu keadaanku, Hyung. Aku ingin dia membenciku, aku ingin dia melupakanku Hyung. Sudah banyak dokter yang kutemui, Hyung. Dan semuanya sama, mereka menyerah menghadapi penyakit ku. Tumor ganas ini tidak mudah diobati Hyung."
Hanya ada suara Isak tangis Yoongi yang mengalun dari kamar itu dengan Taehyung yang sudah memejamkan matanya karena efek obat itu.
Bahkan mereka tidak menyadari, seseorang mendengar semuanya dari balik pintu yang tertutup rapat itu.
Ya... Itu mingyu. Saat perjalanan pulang tadi ia lupa meminta no telp Taehyung, jadi ia memutuskan mampir saja sekalian. Tapi yang ia lihat justru seniornya itu sedang berdebat dengan seseorang. Dan dibawa Yoongi kerumahnya. Dengan segala keingintahuannya, ia memutuskan mengikuti seniornya itu setelah kepergian Jimin. Beruntung pintu rumah tidak terkunci.
Begitu masuk yang ia dengar hanya teriakan kesakitan seniornya itu. Ingin membantu, tapi nanti ia ketahuan masuk rumah orang tanpa izin. Jadi ia hanya diam bak patung didepan kamar orang. Bukan maksud menguping, tapi hanya penasaran saja.
Dan alangkah terkejutnya saat ia mendengar semuanya. Seniornya itu sakit parah, dan yang terburuk tidak ada harapan sembuh untuknya.
Dengan langkah pelan namun cepat, mingyu meninggalkan rumah itu dan menuju mobilnya. Tak menunggu lama ia menekan no satu pada ponselnya, hingga nada tunggu mengalun cukup lama. Ia tidak berfikir selisih waktu saat dalam keadaan panik seperti ini. Nada tunggu berakhir tanda panggilannya diterima dari seberang sana.
Mingyu :" Hal-"
Wonwoo :" YAK!!! KAU TIDAK ADA KERJAAN APA! DISINI MASIH JAM 1 MALAM! KAU MENGGANGGU WAKTU TIDURKU!!! KALAU INI TIDAK PENTING, TIDAK AKAN ADA JATAH UNTUKMU SELAMA TIGA BULAN!"
Baru juga ingin menyapa, suara sang istri tercinta sudah menggelegar sehingga secara reflek Mingyu menjauhkan ponselnya dari telinganya. Bagaimanapun ia masih mau mendengar saat istrinya itu mendesah kan namanya
Mingyu :" Maaf Hyung... Aku lupa kalau disana tengah malam. Tapi ini sangat mendesak hyung!"
Wonwoo :" Hal mendesak apa sampai kau menghubungi ku tengah malam seperti ini! Kalau ini cuma akal-akalan mu saja, awas saja nanti."
Mingyu :" Apa Hyung bisa pulang ke Korea secepatnya?"
Wonwoo :" KIM MINGYU!!! KAU BENAR-BENAR CARI MATI YA!!! KAU LUPA PEKERJAAN KU DISINI SANGAT BANYAK! DAN KAU MEMINTAKU-"
Mingyu :" Hyung masih ingat Taehyung? Kim Taehyung teman sekolah Hyung dulu?"
Wonwoo :" Taehyung? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan namja elien itu?"
Mingyu :" Kau kan dokter spesialis kangker terbaik yang ada di Canada, bisakah kau mengobati penyakitnya?"
Wonwoo :" Apa maksudmu? Si elien itu sakit! Kau sedang tidak bercanda kan, Gyu?"
Mingyu :" Akan ku jelaskan detailnya nanti saat kau sampai. Aku harus mengambil berkas dirumah Appa secepatnya."
Wonwoo :" Baiklah. Aku pulang ke Seoul dengan penerbangan pertama pagi ini. Dan aku akan menagih penjelasan darimu."
Mingyu :" Emm... Katakan saja kapan Hyung sampai, nanti akan ku jemput."
Panggilan berakhir, dan Mingyu bergegas pergi ke rumah orang tuanya. Walau pikirannya masih shock mendengar fakta itu, ia juga tidak bisa gegabah memberitahukan itu pada sembarang orang. Dilihat dari situasinya, Sepertinya seniornya itu menyembunyikan penyakitnya dari semua orang kecuali Yoongi.
.
.
.
.
.
Tak banyak yang dapat ia lakukan saat ini. Jungkook hanya terduduk menatap pepohonan dari balkon kamarnya. Ia tidak ada minat sedikitpun untuk bekerja seperti yang biasa ia lakukan. Hanya melamun, melamun dan melamun. Setiap detiknya hanya memikirkan namja bermata hazel itu. Memikirkan bagaimana kebersamaan mereka dulu yang terasa sangat indah baginya, namun kini semuanya telah sirna.
Air mata kembali menetes saat mengingat penolakan yang ia terima terakhir kali. Bagaimana Taehyung lebih memilih Yoongi daripada dirinya. Isak tangis kembali terdengar memenuhi kamar itu, membuat siapapun yang mendengarnya tahu bagaimana keadaan Jungkook saat ini.
Luhan kembali menutup kamar sang putra, membiarkannya menangis seperti itu. Karena tidak satupun ucapannya akan didengarkan. Ia kembali dengan nampan yang masih terisi makanan namun sangat dingin. Bisa disimpulkan, Jungkook lagi-lagi membiarkan perutnya tak terisi.
Jimin :" Kookie tidak menyentuh makanannya lagi, Omma?"
Luhan :" Kau bisa lihat sendiri, Jim. Semuanya masih utuh, Omma takut Kookie akan jatuh sakit lagi. Bagaimana denganmu? Kau sudah bicara dengannya?"
Luhan :" Apa kita pindah ke luar negeri saja, Jim? Bagaimana menurutmu?"
Jimin :" Jimin juga tidak tahu, Omma... Apa Jungkook akan setuju dengan ide ini. Jimin takut ide ini justru akan membuatnya berbuat nekat dan gegabah."
Luhan :" Lalu apa yang harus kita lakukan, Jim? Omma tidak sanggup melihat Kookie seperti ini terus-menerus."
Jimin :" Akan Jimin usahakan, Omma. Biar nanti Jimin bicara dulu dengan Jungkook."
Luhan :" Baiklah... Omma percayakan semuanya padamu, Jim."
Luhan pun akhirnya pergi meninggalkan Jimin yang hanya memandang pintu kamar Jungkook. Jimin tahu adiknya itu sangat menderita, tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun lagi saat ini. Bisa saja ia menggunakan seluruh kekuasaannya untuk kebahagiaan adiknya itu, namun jika ini menyangkut Taehyung dan Yoongi ia tidak akan pernah bisa melakukannya.
Dengan langkah gontai, Jimin pun akhirnya pergi meninggalkan Jungkook sendirian dan memilih memasuki kamarnya sendiri. Setelah kepergian Jimin, pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sang pemilik kamar yang terlihat rapi dan melangkah pergi meninggalkan rumah. Tak ada yang berani menyapanya. Semua maid lebih memilih menunduk karena Sepertinya majikan mereka itu tidak ingin diganggu.
Jungkook pergi seorang diri tanpa pengawalan sama sekali. Hanya sopir yang mengantarkannya entah kemana. Bahkan sang sopir tidak berani bertanya kemana sang majikan ingin pergi.
Jungkook :" Bisa kita pergi ke jl. xxx?"
Sang supir hanya menjawab seadanya, bagaimana pun ia digaji untuk mengantarkan kemanapun majikannya ini inginkan.
.
.
.
.
Mobil mewah itu berjalan membelah jalanan pagi ditengah kota. Tak seperti tadi, kini jalanan mulai ramai karena waktu menunjukkan jam sibuk alias waktu semua aktivitas akan dimulai. Lampu merah menyala, tanda semua kendaraan harus berhenti dibelakang garis marka. Sejenak pandangan Jungkook teralihkan oleh sepasang kekasih yang sedang bertengkar dipinggir jalan. Ia tersenyum bagaimana sang namja berusaha membujuk kekasihnya agar tidak marah lagi padanya. Ingatannya kembali melayang saat pertama kali ia dan Taehyung bertengkar dulu. Ia sangat ingat bagaimana cara Taehyung meyakinkan dirinya bahwa dia sangat mencintainya. Taehyung bahkan sampai membelikan sebuket mawar merah untuk nya, tapi ia buang begitu saja karena terlalu emosi.
Mobil itu kembali melaju, meninggalkan pemandangan yang sempat membuatnya menitihkan air mata kembali. Setelah beberapa menit, mobil itu memasuki kawasan perumahan elit. Terlihat dari deretan rumah mewah dengan pagar tinggi yang menjulang.
Jungkook :" Menepi."
Dalam diam Jungkook terus memandangi rumah yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Rumah mewah namun terlihat minimalis dan sangat nyaman. Rumah itu adalah kediaman keluarga Kim. Ya, Jungkook nekat pergi sendiri karena perasaannya tidak bisa ia bendung lagi. Namun ia cukup sadar diri dan hanya melihat saja dari kejauhan, tidak sampai mendatangi namja bermata hazel itu dirumahnya.
Lama ia menunggu agar Paling tidak ia bisa bertemu dengan Taehyung, namun sampai detik ini tak terlihat tanda-tanda namja itu keluar dari rumahnya. Hanya Hoseok dan tuan Kim saja yang terlihat meninggalkan rumah. Tak berselang lama, ia melihat Yoongi keluar dari rumahnya menuju mobil. Tanpa menunggu lama, ia meminta supir mengikuti Yoongi. Sepertinya ia perlu bicara dengan namja yang membuatnya kehilangan Taehyung itu.
Hanya lima menit dengan mobil, Yoongi sudah sampai tujuannya. Ia, ia ingat dirumahnya tidak ada bahan makanan sama sekali. Jadi ia memutuskan untuk pergi berbelanja, Untung saja Taehyung masih tertidur karena efek obat tadi. Tapi ia harus cepat, ia tidak ingin Taehyung mencarinya nanti.
Begitu masuk, Yoongi langsung pergi kebagian daging. Ia berfikir untuk membuat semur daging untuk Taehyung. Sebenarnya ia tidak tahu apa makanan kesukaan Taehyung sudah berubah atau tidak, saat bertanya dulu pun Taehyung selalu menjawab seadanya. ' Aku bisa makan apa saja Hyung, asal tidak pedas.' Hanya kalimat itu yang ia dapatkan. Saat seperti ini, ia jadi merindukan Soobin. Namja tinggi itu selalu memiliki pertanyaan yang kadang membuatnya kebingungan juga. Tapi sayang, Soobin sedang berada di Jepang saat ini. Ia harus menyiapkan segala kebutuhannya saat akan pindah ke Korea nanti.
Dari bagian daging, Yoongi menuju rak sayur dan buah. Ia tahu, Taehyung tidak terlalu suka makan sayur. Taehyung sangat pemilih kalau itu menyangkut sayur, hanya satu dua jenis sayuran saja yang bisa atau mau dia makan. Selebihnya tidak.
Troli yang ia dorong sudah terisi setengahnya. Saat tiba di area buah, mata Yoongi hanya tertuju pada tumpukan buah strawberry yang menggunung. Dari warnanya saja bisa Yoongi tebak itu pastilah sangat manis dan segar. Taehyung pasti akan menyukainya. Namun saat ia hendak mengambilnya, tangan seseorang lebih dulu berada disana.
" Taehyungie sangat menyukai buah ini, ia bahkan bisa menghabiskan satu keranjang buah ini sendirian."
Yoongi membeku, suara lembut namun terkesan dingin ini sangat ia tahu. Bahkan tanpa harus melihat wajahnya pun, Yoongi bisa menebak siapa orang ini.
Yoongi :" Jung...Kook?"
Jungkook :" Hallo Hyung... Lama tidak bertemu. Apa kita bisa bicara sebentar? Hanya berdua."
Mata mereka saling menatap satu sama lain. Dapat Yoongi lihat walaupun wajah didepannya ini terlihat tenang, namun sorot mata itu terlihat lebih dingin dari biasanya. Memang sejak pertemuan mereka terakhir kali di kafe itu, Yoongi tidak pernah bertemu lagi dengan Jungkook. Bahkan ia juga sudah tidak pergi ke kantor karena larangan sang Omma, pamali katanya Kalau calon pengantin pergi keluar terlalu lama.
Yoongi mengangguk, bagaimana pun ia tidak bisa menghindar dari orang ini. Apapun itu harus ia hadapi. Karena Taehyung juga telah menghadapi masalahnya, maka ia juga akan berusaha menghadapi Jungkook juga. Walaupun ia tidak tahu akan bagaimana ia nanti setelah ini.
.
.
.
Setelah selesai berbelanja, Yoongi akhirnya mengikuti langkah Jungkook yang masuk ke sebuah kafe di samping mall itu. Dari sepinya pengunjung, dapat Yoongi simpulkan Jungkook membooking semua meja yang ada agar bisa leluasa berbicara dengannya.
Belum ada yang membuka suara bahkan setelah mereka duduk disana selama sepuluh menit. Barulah setelah pesanan mereka datang, Yoongi memberanikan diri berbicara.
Yoongi :" Apa yang ingin kau bicarakan, Kook?"
Jungkook :" Aku tidak ingin basa-basi lagi Hyung.
Bisakah kau batalkan pernikahanmu dengan Taehyungie untukku?"