
Yoongi hanya terdiam. Ia sebenarnya tahu, apa maksud ucapan Jungkook tadi. Hanya saja lidahnya kelu untuk berucap. Tangannya meremas kuat jaket yang ia kenakan. Walaupun begitu, tatapannya tidak pernah lepas dari iris tajam didepannya. Ia sudah melangkah sejauh ini untuk Taehyung dan keluarganya, dan ia tidak mungkin mundur lagi.
Jungkook :" Aku tahu Hyung tidak benar-benar mencintai Taehyungie. Pernikahan ini hanyalah sebuah paksaan. Kau tidak mencintainya, begitu juga sebaliknya. Aku yang lebih mencintai Taehyungie, jadi aku yang lebih pantas bersanding dengannya."
Yoongi :" Dari mana kau tahu aku tidak mencintai Taehyung?"
Jungkook :" Aku tahu, karena kau mencintai orang lain yaitu Jimin Hyung. Kenapa kau tidak menikah dengannya saja."
Yoongi :" Sepertinya kau salah paham denganku, Jungkook_ssi. Aku menerima pernikahan ini karena aku mencintai Taehyung, bahkan jauh sebelum dirimu datang dalam kehidupan kami aku sudah mencintainya.
Aku bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak ku sepertimu. Bagiku, asal orang yang kucintai itu bahagia, itu sudah cukup untukku."
Kaget?
Tentu saja. Jungkook tidak pernah tahu hal ini sebelumnya. Ia tidak berfikir Yoongi ternyata menyimpan perasaan pada Taehyung. Karena yang ia lihat kasih sayang yang Yoongi tunjukkan pada Taehyung tak lebih dari kasih sayang seorang Hyung pada dongsaeng nya. Terlebih kedekatan Yoongi dan Jimin justru terlihat jauh lebih baik.
Jungkook :" Kau pikir aku akan percaya semudah itu? Kalau kau benar mencintai Taehyungie, kenapa kau diam saja saat kami bersama? Atau kau memang sengaja mempermainkan perasaan Jimin Hyung!"
Yoongi :" Kau pikir aku baik-baik saja melihat kalian bersama? Kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku. Dan Jimin... Apa aku pernah memberikannya harapan? Apa aku pernah bilang padanya kalau aku menyukainya? Tidak kan?"
Yoongi berkata dengan perasaan sesak yang mengikat hatinya. Ia terpaksa berbohong agar Jungkook segera pergi dari sana. Karena tak jauh dari sana, Yoongi menyadari keberadaan Baekhyun dan Hana istri dari Hoseok yang tengah memperhatikan mereka. Bagaimanapun Omma Baekhyun juga masih dalam masa pemulihan, bisa gawat kalau Jungkook bertemu dengannya dan membuat kegaduhan disini. Tak berselang lama, Baekhyun dan Hana pergi dari sana. Yoongi bisa sedikit bernafas lega, setidaknya Jungkook tidak menyadari keberadaan mereka tadi.
Jungkook :" Hahahaha... Aku tidak menyangka kau orang yang licik, Hyung. Jadi selama ini kau menunggu hubungan kami berakhir agar kau bisa merebut Taehyungie dariku!"
Yoongi :" Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak seperti dirimu. Bagiku asal Taehyung bahagia, itu sudah cukup untukku.
Tapi apa? Kau membuatnya menderita, kau mengubahnya menjadi sosok yang tidak pernah kami kenal, kau membuatnya meninggalkan kami semua! Dan kau menyebut dirimu itu lebih baik dariku!!!"
Entah dorongan dari mana, Yoongi bisa berbicara dengan emosional seperti itu. Semua bayangan saat melihat betapa menderitanya Taehyung ketika penyakitnya kambuh terus terlintas dibenaknya. Saat yang paling membuatnya ingin merengkuh seseorang yang sudah ia anggap adik itu lebih lama. Bahkan ia tidak bisa berbagi penderitaannya pada keluarganya, hanya Yoongi tempat Taehyung bersandar saat ini. Hanya dirinya seorang.
Jungkook terdiam dengan iris yang mulai berembun. Ia sadar, dirinya lah yang paling ikut andil dalam perubahan Taehyung. Karena kebodohannya dimasa lalu, ia kehilangan cintanya yang kini bahkan tidak Sudi menatapnya lagi.
Yoongi :" Kenapa sekarang kau diam? Apa sekarang kau sudah sadar dengan apa yang sudah kau lakukan? Apa kau menyesal sekarang? Jadi, Berhentilah mengganggu Taehyung... Karena kau hanya akan membuatnya lebih menderita."
Baru beberapa langkah meninggalkan meja itu, Langkan Yoongi terhenti karena ucapan Jungkook yang membuatnya terdiam seribu bahasa. Bukan membuatnya senang, justru apa yang ia dengar membuatnya marah dan naik pitam.
Jungkook :" Akan ku pastikan, pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi. Karena Taehyungie, hanya akan menjadi milikku. Bukan namja licik seperti dirimu Hyung."
Senyum itu, Yoongi tahu apa arti senyum itu. Ia tidak bodoh untuk mengetahui maksud dari senyuman itu. Ia tahu Jungkook sangat mencintai Taehyung, dan kekuasaan yang dia punya bisa membuatnya berbuat semaunya. Tapi apa ia harus diam saja saat Taehyung harus lebih menderita, jika harus bersama seseorang yang ambisius seperti Jungkook?
Jungkook :" Kau lupa siapa diriku, Hyung? Aku bisa melakukan apapun dengan kekuasaan yang kumiliki. Termasuk membuat keluarga mu jatuh miskin, dan mengemis padaku. Jadi lebih baik kau pikirkan lagi tawaranku tadi, dan batalkan pernikahan kalian."
Yoongi :" KAU-!!!"
PLAAK!!!
Tepat saat Yoongi ingin menjawab, entah dari mana datangnya, Seokjin langsung mengambil alih keadaan. Bahkan Tamparan keras di pipi mulus Jungkook juga ia tambahkan disana.
Bahkan Jungkook dan Yoongi bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana Seokjin bisa ada disana? Apa mungkin Seokjin sudah mendengar semuanya sehingga ia berbuat seperti itu?
Jungkook :" Jin Hyung? Apa... yang kau-"
Seokjin :" Berani sekali kau mengancam Yoongi seperti itu! Kau kira Taehyung akan kembali padamu walaupun Yoongi membatalkan pernikahan mereka!!!
DIA AKAN LEBIH MEMILIH MATI DARI PADA HARUS KEMBALI PADAMU!!!"
Yoongi :" Hyung, tenangkan dirimu.."
Yoongi berusaha menenangkan Seokjin yang terlihat sangat marah. Sepertinya Seokjin sudah mendengarkan semuanya.
Seokjin :" DIAM YOONGI!!!"
Yoongi terdiam. Seokjin memang selalu marah, namun itu hanya bentuk kasih sayangnya. Namun ia bisa melihat bahwa sekarang Seokjin benar-benar marah dan itu bukanlah hal yang biasa.
Seokjin :" Kau tahu berapa kali Taehyung mencoba mengakhiri hidupnya karena dirimu dulu, Kook?
Tiga kali... TIGA KALI!!! DAN KAU INGIN DIA KEMBALI PADAMU DENGAN CARA SEPERTI INI, HAH!!! Bahkan aku pun tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
KAU DENGAR ITU TUAN JEON YANG TERHORMAT! DAN BERHENTI MENGGANGGU KEHIDUPAN ADIK DAN SAHABATKU!"
Seokjin pergi dari sana dengan menggandeng tangan Yoongi, meninggalkan Jungkook yang masih terdiam seribu bahasa dengan air mata yang mulai menetes. Bahkan ia sudah tidak dapat berpijak dengan tubuhnya yang perlahan luruh bersimpuh di lantai.
Jungkook :" Kenapa tidak ada seorangpun yang mengerti perasaanku, kenapa...
KENAPA!!! KENAPA!!!"
Kemarahan dan kesedihan membuat Jungkook tak terkendali. Ia meluapkan semuanya pada benda-benda disekelilingnya. Beruntung tempat itu sudah ia sewa penuh, bahkan sang supir harus menghubungi orang rumah untuk segera datang. Tak ada seorangpun yang berani mendekat, mereka tahu siapa itu Jungkook dan lebih memilih pergi dari sana.
Mungkin benar, uang dan kekuasaan bisa menyelesaikan segalanya... Tapi tidak semuanya...
Tidak ada yang bisa Yoongi sembunyikan jika sudah berhadapan dengan Seokjin. Sahabatnya ini seperti memiliki Indra keenam dan mata batin yang sangat kuat.
Seokjin :" Katakan sekarang, Yoon!!!"
Yoongi :" Hyung... Ini tidak seperti yang kau dengar tadi... Aku mengatakan itu... Karena... Aku... Itu... Jadi..."
Seokjin :" Kau pikir aku bodoh, dan tidak menyadari semuanya! Aku tahu dari dulu kau menyukai Taehyung, tapi apa dengan kau mengatakannya pada Jungkook itu akan membuatnya berhenti!!! Kau justru akan semakin membuatnya marah, Yoon!"
Yoongi :" Ka... kau tahu Hyung?"
Seokjin :" Kau pikir aku tidak akan tahu! Caramu memandangnya itu sangat berbeda, Yoon. Aku mengerti kenapa dulu kau lebih memilih menyerah, tapi kenapa kau harus membuka semuanya sekarang? Aku tahu sekarang kau menyukai Jimin dan sudah menganggap Taehyung seperti adikmu, tapi kenapa kau...
ACHK!!!! KAU BENAR-BENAR MEMBUAT SEMUANYA SEMAKIN RUMIT, YOON!!!"
Seokjin tidak bisa berkata-kata lagi, sahabatnya ini terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Awalnya ia hanya akan memperhatikan pembicaraan mereka dari jauh, saat tanpa sengaja melihat mereka melintas didepan toserba. Tapi rasa penasaran dan kekhawatiran yang ia miliki lebih besar. Dan benar saja, semuanya semakin buruk saat ini.
Apa yang ia dengar tadi benar-benar tidak bisa ia terima begitu saja. Ia tidak akan pernah membiarkan orang-orang yang ia sayangi terluka lagi. Apapun konsekuensinya nanti, akan ia hadapi.
Yoongi sendiri bingung harus berbuat apa lagi, pikirannya tadi benar-benar tidak bisa terkontrol hingga mengatakan semua itu.
Yoongi :" Hyung... Jadi aku... harus bagaimana?"
Seokjin :" Sekarang kau baru ingat denganku? Kenapa tidak dari dulu saja kau mengakuinya? Kau ini pintar, tapi sangat bodoh kalau menyangkut hal seperti ini."
Yoongi :" Kenapa kau jadi mengatai ku, Hyung?"
Seokjin :" Karena kau memang bodoh!"
Yoongi hanya bisa cemberut dengan sindiran Seokjin. Setiap kata-kata dan makian sahabatnya ini memang setajam pisau. Bahkan dari dulu tidak pernah ada yang berhasil membuat dia diam, termasuk Namjoon suaminya sendiri.
Seokjin :" Tidak ada cara lain, kita harus bicara dengan Hoseok."
Yoongi ;" Tapi, Hyung.... Taehyung tidak ingin ada yang tahu tentang-"
Seokjin :" Aku tidak akan membicarakan hal itu, Yoon."
Yoongi :" Lalu apa yang akan kalian bicarakan? Kau... Tidak mungkin! Kau ingin mengadukan pertemuan kami tadi Hyung!"
Seokjin :" Tidak ada cara lain, Yoon. Hoseok pasti akan berbuat sesuatu untuk menghentikan Jungkook, kita sangat mengenal bagaimana sifatnya kalau sudah menyangkut Taehyung kan?"
Yoongi :" Apa benar tidak apa-apa Hyung? Maksudku... Sebelum ini saja hubungan Hosiky dan Jungkook juga sudah buruk, apa dengan kabar ini akan membuat semuanya menjadi semakin mudah?"
Seokjin :" Tidak ada yang mudah Yoon, tapi ini satu-satunya cara yang terlintas di kepalaku."
Mereka terdiam cukup lama, hingga dering ponsel Yoongi mengalihkan perhatian mereka. Nama Taehyung terpampang jelas disana. Yoongi menatap Seokjin, dan Seokjin memberi isyarat untuk menerima panggilan itu.
Yoongi :" Hallo... Kau sudah bangun? Ada apa? Apa masih sakit? Aku akan segera pulang kalau begitu."
Taehyung :" Aku sudah merasa lebih baik Hyung... Aku hanya mengabari mu karena aku akan pulang."
Yoongi :" Kau mau pulang? Jangan dulu, aku sebentar lagi sampai. Akan ku buatkan sarapan untukmu, kau belum makan apapun dari tadi."
Taehyung :" Tidak perlu Hyung... Aku bisa makan dirumah."
Yoongi :" Aku tidak mau mendengar alasan apapun, pokoknya kau harus menungguku sebentar."
Yoongi segera mematikan ponselnya, dan bergegas pulang sebelum tangan Seokjin memegangnya erat.
Seokjin :" Maaf, Yoon. Tapi Hoseok harus tahu semuanya, ini juga untuk kebaikan kalian."
Yoongi :" Baiklah, Hyung... Tapi jangan ceritakan tentang penyakit Taehyung padanya."
Seokjin :" Emm.... Aku tidak akan memberitahukan hal itu padanya. Tapi mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati, terutama pada Jungkook."
Yoongi mengerti itu semua. Ia menganggukkan kepalanya, dan pergi dari sana setelah berpamitan dengan Seokjin. Dipikirannya hanya tentang kesehatan Taehyung saat ini.
Seokjin :" Kuharap kau juga bisa bahagia, Yoon... Bukan hanya sebatas memberi kebahagiaan saja, tapi kau harus bahagia."