Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
Seeking help



Lama melamun, Hyungjay tidak sadarĀ  bahwa waktu istirahat sudah tiba. Bahkan ajakan Namjin dan Beomgyu tidak ia hiraukan. Hingga tepukan pelan menyadarkannya.


" Are you oke?" tanya Namjin pelan.


" Kalian sudah disini Hyung? Dari kapan?" tanya Hyungjay sedikit bingung.


" Dari jaman Majapahit berubah nama jadi Joseon." jawab Beomgyu jutek.


Beomgyu yang sebal akan tingkah Hyungjay hanya mendengus dengan wajah menyebalkan. Padahal sudah dari tadi mereka menunggunya untuk makan bersama, tapi yang mereka lihat justru Hyungjay yang sibuk melamun entah memikirkan apa.


" Gyu..." tegur Namjin.


" Habisnya ini anak lama Hyung! Beomgyu kan udah laper." rajuk nya pada Namjin.


" Maaf Hyung, aku hanya sedang memikirkan sesuatu." keluhnya sambil menghela nafas.


" Kita bicara di kantin saja. Aku udah kelaparan nih." tawar Beomgyu yang langsung menarik tangan sepupu nya itu.


Hyungjay hanya pasrah ditarik Beomgyu. Dirinya saja sudah sangat pusing memikirkan permintaan sang Omma, apalagi harus berdebat dengan sepupunya yang sangat cerewet ini. Namjin hanya bisa menghela nafas, bagaimana pun ia yang tertua diantara mereka bertiga.


Kantin sekolah itu cukup ramai disaat mereka bertiga kesana. Walaupun mereka masih kecil, jangan tanya berapa banyak pengagum mereka. Hal itu pula yang membuat mereka dibenci beberapa siswa lainnya, termasuk Jaehyun yang kemarin berkelahi dengan Hyungjay.


Dan lagi-lagi sepertinya anak itu ingin mencari masalah dengannya mereka. Lihat saja, begitu mereka bertiga memasuki kantin suara Jaehyun sudah terdengar sedang membicarakan tentang dirinya.


" wah, lihat siapa yang datang. Si juara sekolah tak terkalahkan. Tapi sayang, nggak punya Omma! Hahaha!" ejek Jaehyun bersama teman-temannya.


Mereka tahu Jaehyun selalu mencari masalah pada mereka, apalagi dengan Hyungjay. Semua bermula karena Hyungjay lebih unggul darinya dalam segala hal, dan Jaehyun selalu menjadi yang kedua. tentu saja ia yang selalu dididik keras agar selalu unggul tidak terima dengan hal itu.


" Bocah satu itu memang cari masalah Mulu ya, nggak bisa dibiarin nih!" kata Beomgyu tidak terima sepupunya dihina seperti itu.


" Udahlah Hyung, nanti juga capek sendiri orangnya." kata Hyungjay menghentikan langkah Beomgyu.


Jaehyun yang tidak mendapat tanggapan dari Jaehyun tentu saja kesal. Dengan marah ia pergi meninggalkan kantin bersama teman-temannya.


" Apa lihat-lihat!" bentak Beomgyu saat Jaehyun dan teman-temannya melewati mereka.


" Sudahlah, Gyu. Cepat duduk, kau mau makan apa? Biar Hyung pesankan."tawar Namjin.


" Seperti biasa aja Hyung, tapi telurnya tambahin ya?" jawab Beomgyu duduk disamping Jaehyun.


" Kau juga sama?" tanyanya pada Hyungjay.


" Samain saja Hyung. Kau tahu aku tidak pemilih soal makanan kan." jawab Hyungjay pada sang Hyung.


Namjin mengangguk dan pergi memesan makanan mereka. Tidak ada percakapan disana. Beomgyu sibuk bermain game di ponselnya sedangkan Hyungjay masih sibuk berpikir tentang wasiat sang Omma.


" Jadi hal apa yang membuatmu sampai kebingungan seperti ini?" tanya Namjin yang baru datang dengan pesanan mereka.


" Hea... Benar uga." sambung Beomgyu yang sedang menikmati makanannya.


" Jangan berbicara saat mulutmu sedang penuh, Gyu." Namjin mengingatkan.


" Iya, maaf Hyung." jawab Beomgyu sambil cemberut.


Keduanya memandang Hyungjay yang masih diam tidak menjawab pertanyaannya mereka. Ia hanya sibuk mengaduk-aduk makanan didepannya, tanpa berniat memakannya.


" Jay?" panggil Namjin.


" Aku bingung, Hyung." keluhnya.


" Bingung kenapa? Ada masalah dirumah?" tanya Namjin lagi.


" Kemarin aku dapat surat dari Omma, Seokjin Imo yang memberikannya." jawab Hyungjay jujur.


" Mommy? Bagaimana bisa?" Bingung Namjin .


" Emang isinya apaan? Kenapa kau sampai bingung seperti ini?" tanya Beomgyu kembali.


" Omma ingin Appa menikah lagi." jawab Hyungjay sambil meletakkan sendok makannya.


" Apa kau yakin itu memang dari Yoongi Imo, Jay? Atau Seokjin Imo sengaja melakukannya?" tanya Beomgyu hati-hati.


" Mommy bukan orang seperti itu, Gyu." bela Namjin.


" Ya aku kan cuma menebak, Hyung." gurau Beomgyu.


" Lalu bagaimana keputusan mu? Apa kau sudah membicarakan hal itu dengan paman Kim?" tanya Namjin lagi.


Lagi-lagi tak ada jawaban dari Hyungjay, hanya helaan nafas yang terdengar dari bibirnya. Tentu saja itu membuat Namjin dan Beomgyu bingung, memang seberat itu ya menerima orang tuanya menikah lagi?


" Bagaimana bisa aku mengatakannya pada Appa, jika calon yang Omma inginkan itu adalah mantan kekasih Appa dulu." jawab Hyungjay mulai memakan makanannya.


"APA!!!" teriak Namjin dan Beomgyu bersamaan.


"UHUK!!!" kaget Hyungjay karena teriakan mereka.


Tidak hanya dirinya, bahkan hampir semua siswa di kantin menatap kearah meja mereka. Apalagi seorang Namjin yang jarang sekali berteriak, kini ikut berteriak bersama Beomgyu.


" Kenapa kalian berteriak! Kalau aku mati tersedak gimana!" teriak Hyungjay tak kalah keras.


Sungguh, kini ketiganya benar-benar menjadi pusat perhatian. Mengetahui itu mereka hanya mengabaikannya, dan kembali kepada pokok permasalahan yang sungguh tidak mereka mengerti. Bagaimana mungkin hal itu terjadi.


" Bagaimana bisa? Memang kau tahu siapa mantan Appa mu? Kita kenal?" tanya Beomgyu berturut-turut.


" Kalau orangnya aku nggak tahu, Omma nggak ngasih fotonya. Cuma ngasih tahu nama sama ceritain kisah mereka dulu." keluhnya.


" Memangnya siapa namanya?" tanya Namjin penasaran.


" Jeon Jungkook." jawab Hyungjay.


Mereka diam memikirkan apa yang harus mereka lakukan untuk menemukan siapa itu Jeon Jungkook. Hingga Namjin menemukan sebuah cara yang cukup cemerlang.


" Yang ini bukan?" tanya Namjin menunjukkan sebuah foto pada ponselnya pada kedua temannya.


Mereka memandang foto itu dengan seksama kemudian membaca identitas dan data yang tertera di dalamnya.


" Wah... Kalau benar dia orangnya, bakalan sulit ini mah." sahut Beomgyu terperangah dengan apa yang dibacanya.


" Lalu bagaimana caranya kita memastikan orangnya?" tanya Hyungjay bingung.


" Bagaimana kalau kita tanya orang tua kita dulu? Paman dan Mommy sudah berteman cukup lama bukan? Dan paman Hoseok adalah kakak paman Taehyung. Otomatis mereka pasti tahu yang mana orangnya bukan?" terang Namjin


" Sebenarnya aku juga memikirkan hal itu, cuma bingung gimana bilangnya." keluh Hyungjay.


" Tenang, nanti Hyung bantu tanya sama Mommy. Jadi jangan murung lagi, oke?" Namjin tersenyum menyemangati Hyungjay yang terlihat murung.


Beomgyu yang melihat itu merenggut tidak suka. Sudah lama ia diam-diam mengagumi Namjin, dan kini ia harus melihatnya memanjakan Hyungjay. Walaupun Hyungjay itu sepupunya, tapi tetap saja ia tidak menyukainya. Dengan sebal ia melahap semua makanannya, bahkan makanan Hyungjay tidak luput dari itu.


Hyungjay yang menyadari hal itu tentu saja tersenyum. Ia sebenarnya sadar, sepupunya itu diam-diam menaruh hati pada Namjin. Jadi mungkin ini adalah kesempatan baginya menjahili sepupunya itu.


" Hah... Kenapa kemarin Sunoo nggak jadi datang, padahal aku sudah menantikannya." keluh Hyungjay dan mulai melancarkan aksinya.


Beomgyu yang melihat Hyungjay semakin lengket dengan Namjin tentu saja semakin cemberut, bahkan dengan sengaja meletakkan sendok diatas meja dengan keras sehingga mengagetkan keduanya.


" Aku sudah selesai, duluan." katanya dingin.


" Gyu..." panggil Namjin pelan.


Namun tak ada jawaban darinya, Beomgyu terus saja berjalan meninggalkan mereka yang kebingungan. Dan sedetik kemudian tawa Hyungjay terdengar memenuhi kantin.


" Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?" tanya Namjin bingung.


" Masak kau tidak sadar sih, Hyung. Beomgyu Hyung sedang cemburu padamu tau." jawabnya masih dengan tawa renyahnya.


" Ha?" bingung Namjin dibuatnya.