
Setiap gumpalan kecil salju yang turun malam ini, membawa kisahnya masing-masing. Salju pertama tahun ini terasa menyenangkan untuk sebagian orang. Tawa dan canda saling bersaut diantara kerumunan orang yang berlalu lalang mencari kesenangan mereka. Namun tidak untuk seseorang yang tengah duduk disebuah kafe di sebrang jalan. Ia hanya memandang keluar jendela dengan secangkir kopi hangat ditangannya.
Senyum sendu yang terlihat diwajahnya menandakan isi hati pemiliknya yang tengah dilanda kesedihan yang mendalam. Ia adalah Jeon Jungkook. Seseorang yang masih betah memandang salju yang turun dengan santainya dimalam yang mulai dingin ini.
Sudah 7 tahun berlalu sejak kejadian itu, namun tak pernah sedikitpun ia melupakan orang itu. Seseorang yang selalu ada dalam hatinya, yang menjadi alasan dirinya berubah sampai ke titik ini.
Namun sekeras apapun ia mencoba mencari tahu keberadaan orang itu, tak satupun upayanya membuahkan hasil. Jungkook hanya ingin menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi, namun takdir seolah tidak menghendakinya. Bahkan usaha yang sudah ia rintis dari dulu pernah mengalami kemunduran karena kejadian itu. Namun dengan dukungan keluarga dan jimin, ia bisa kembali bangkit dari keterpurukan dan berusaha lebih keras lagi demi menemukan orang itu. Seseorang yang sangat ia cintai, Kim Taehyung.
Dering ponsel dari sakunya membuyarkan lamunannya, dan ia tahu siapa yang menghubunginya disaat seperti ini. Jimin, Hyung nya yang selalu cerewet namun sangat memperdulikannya.
" Iya, Hyung... Ada apa? Aku hanya mampir minum kopi sebentar. Pak Han dan Jackson bersamaku, jadi tidak perlu mengkhawatirkan ku seperti itu."
" Kau ingat tidak!!! Hari ini kita ada rapat dengan Namjoon Hyung!!! Cepat kembali ke kantor, Kook."
Setelah mengatakan itu, Jungkook dapat mengerti kalau Hyung nya itu pasti akan marah besar padanya nanti. Ia tadi hanya ijin makan siang, tapi lihatlah sekarang sudah pukul 7malam. Jungkook benar-benar tidak sadar ia terlalu lama pergi keluar. Bahkan ini sudah gelas ketiga yang ia minum. Ia tatap kembali supir dan pengawalnya yang duduk tak jauh dari mejanya.
" Maaf pak Han, kalian jadi bosan menungguku."
" Tidak apa-apa, tuan. Ini sudah tugas kami. Apa kita akan kembali kekantor sekarang?"
" Emm... Jimin Hyung sudah marah-marah saat berbicara di telfon tadi."
Jungkook keluar dari kafe itu dan memasuki mobilnya. Beberapa pengawal yang menjaganya mengikutinya dari belakang menggunakan mobil lainnya. Didalam mobil itu sangatlah sunyi, baik Jackson maupun pak Han tidak berani berbicara sepatah katapun. Mereka tahu tuannya ini tengah memikirkan sesuatu, dan mereka tahu apa itu. Mereka berdua juga saksi hidup Bagaimana tuannya ini menjalani hidup, terluka, ditinggalkan dan yang terakhir saat kehilangan.
" Hyung, apa di rapat nanti... Orang itu juga ada disana?"
Walaupun Jungkook adalah seorang majikan, ia masih menghormati seseorang yang lebih tua darinya. contohnya seperti saat ini, Jackson yang lebih tua 4tahun darinya.
" Kalau yang tuan maksud itu tuan Hoseok, memang beliau juga akan mengikuti rapat nanti tuan. Karena beliau juga termasuk perencana dalam kerjasama kita dengan perusahaan tuan Namjoon."
Bukannya Jungkook tidak mau bertemu dengan orang itu, tapi setiap mereka bertemu Hoseok selalu mengabaikan dirinya. Sekeras apapun Jungkook mencoba menjelaskan semuanya, namun Hoseok justru memilih pergi. Jungkook tidak tahu lagi dengan cara apalagi harus menghadapi orang itu. Padahal ia ingin bertanya tentang keberadaan Taehyung padanya, namun melihat betapa besar kebencian orang itu terhadapnya Sepertinya itu tidak mungkin.
Mobil mewah itu berhenti didepan sebuah kantor yang terbilang besar dan sangat tinggi. Para pengawal segera turun dan membukakan pintu untuk majikan mereka. Wajah yang tadi terlihat sendu itu berganti dengan wajah tegas nan dingin. Semua pegawai langsung membungkukkan badan begitu Jungkook memasuki gedung itu.
" Apa klien kita sudah sampai?"
" Mereka baru sampai 2 menit yang lalu, tuan. Hanya tuan Min saja yang belum sampai."
Dengan langkah pasti, Jungkook melangkah menuju ke ruangannya dilantai atas. Ia menaiki lift khusus yang diperuntukkan hanya untuk beberapa orang saja. Tidak sampai semenit, ia sudah tiba dilantai 30 dan langsung disuguhi pemandangan sang sekretaris yang menatapnya horor. Jungkook sadar dirinya lupa waktu, dan itu pasti membuat sekretarisnya kalang kabut. Apalagi mereka sudah akrab satu sama lain, Jungkook bahkan sudah menganggapnya Noona nya sendiri.
" Apa anda menikmati waktu santai anda, sajangmin."
Sang sekretaris bernama Lee Ji_eun ini menyapanya saat sudah sampai didepan ruangannya dengan senyum menawannya. Namun itu tidak membuat Jungkook terpikat sama sekali, justru ia sedikit takut saat sekretaris nya ini bersikap demikian. Karena itu tandanya dia membuat kesalahan besar.
" Noona, berhenti tersenyum seperti itu. Kau justru membuatku takut."
" Kau tahu, Kookie.... Bukankah tadi kau bilang hanya ingin makan siang, tapi kenapa baru kembali mendekati makan malam. Asal kau tahu saja, Jimin sudah marah-marah dari tadi. Bahkan aku juga kena getahnya, lalu dari mana saja kau tadi?"
Jungkook benar-benar ketakutan sekarang. Nada bicaranya yang tenang dengan senyum lembut itu benar-benar menakutkan untuknya. Wanita benar-benar menakutkan saat sedang marah.
" Maafin Kookie, Noona. Marahnya nanti saja ya, kita ada rapat kan sekarang...."
" HAH..... Kalau saja kau bukan atasanku, sudah ku tendang kau."
Jungkook hanya bisa tersenyum menanggapinya. Selain karena pekerjaannya yang bagus dan cekatan, alasan lain Jungkook sangat mempercayai Ji_eun sebagai sekretarisnya juga karena sikapnya yang dewasa dan keibuan, sangat mirip dengan Omma nya.
Perlahan ia masuk ke ruangannya, ruangan yang didominasi warna pastel dan beberapa furniture mewah. Jungkook berjalan kearah meja kerjanya, mengambil dokumen yang ia perlukan untuk rapat malam ini. Sejenak pandangannya bertemu dengan bingkai foto yang masih setia ia pajang dimeja kantornya, foto dirinya dengan Taehyung 7tahun yang lalu. Saat mereka masih bersama, dan sangat bahagia.
" Sajangnim, rapat akan segera dimulai. Tuan Jimin meminta anda segera hadir."
Mendengar itu, Jungkook segera menghapus air matanya yang sempat mengalir. Dan bergegas menuju ruang rapat, atau hyung nya akan ngomel-ngomel lagi padanya. Sedangkan sang sekretaris hanya memandangnya sendu, ia tahu betapa rindunya atasan nya yang sudah ia anggap adik itu pada sosok yang ada dalam foto disana. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya orang luar, walaupun hubungan mereka sangat baik ia juga tidak bisa ikut campur sembarangan.
Begitu ia membuka pintu itu, ia sudah disuguhi wajah penuh amarah dari Jimin. Walaupun sudah semakin dewasa, Hyung nya satu ini masih saja selalu mengkhawatirkannya. Apalagi kalau menyangkut keselamatannya, Jimin tidak akan main-main. Jimin bahkan menugaskan 5 bodyguard terlatih hanya untuk menjaganya, padahal itu tidak perlu menurutnya. Iya juga bisa menjaga diri.
Jungkook memilih mengabaikan Jimin dan berjalan menuju kursinya. Sesekali ia melirik seseorang diseberang nya yang enggan menatapnya. Orang itu masih juga tidak berubah, selalu membuang muka saat bertemu dengannya. Hanya saja auranya semakin mencekam saat mereka bertemu pandang.
Walaupun hubungan mereka sangatlah buruk, namun dalam hal bisnis tidaklah begitu. Awalnya Hoseok juga tidak menyukai ide Namjoon untuk berkerjasama dengan Jungkook, namun karena ia ingin bersikap profesional maka ia terima kerjasama itu.
Berbicara tentang Namjoon, orang itu sudah menikah dengan Seokjin dua tahun yang lalu. Bahkan mereka sudah memiliki seorang putra yang masih berusia 6bulan bernama Kim Namjin. Nama itu gabungan dari nama mereka, Namjin sangat mirip dengan Namjoon. Bukan dalam hal merusak barang melainkan dalam hal kepandaian. Diusia yang masih bayi, Namjin sangat menyukai membaca buku seperti Appa nya.
Kalau Hoseok sendiri, ia juga sudah menikah, bahkan sekarang sedang mengandung. Diusia pernikahan yang hampir setahun ini, Hoseok sangat bahagia saat mengetahui istrinya sedang mengandung buah hati mereka. Bahkan kini sudah berjalan 3bulan. Walaupun ia kadang kewalahan menghadapi ngidamnya yang terkadang aneh dan menyulitkan, tapi itu menjadi tantangan untuknya.
Kembali ke cerita tadi. Jungkook sebenarnya ingin memulai rapat itu, namun ia melihat kursi yang masih kosong dihadapannya. Ia edarkan pasangannya, hingga menyadari satu orang belum hadir dalam rapat ini.
" Yoongi Hyung belum datang?"
" Maaf, saya sedikit terlambat. Ada beberapa dokumen yang harus saya selesaikan hari ini."
" Tidak masalah hyung. Lagipula rapat ini baru akan dimulai."
Rapat itu berlangsung hampir selama 1,5jam. Entah apa saja yang mereka diskusikan hingga selama itu. Namun dari rapat ini mereka berencana membangun sebuah resort di Jeju dengan fasilitas lengkap, juga dengan standard keamanan serta kenyamanan paling bagus. Namjoon yang memang menekuni bisnis perhotelan dengan Seokjin sahat antusias dengan rencana itu. Apalagi pulau Jeju selalu menjadi icon di negara ini. Hoseok dan Yoongi hanya membantu dalam tata ruang dan arsitektur nantinya. Namun, pendapat mereka juga sangat dibutuhkan mengingat ini kerjasama yang mereka jalani bersama.
Kening Jimin berkerut saat melihat Yoongi buru-buru merapikan berkas-berkas miliknya, dan itu membuatnya bertanya-tanya. Mungkinkan Yoongi akan langsung pulang? Padahal ada yang ingin ia sampaikan. Namun sepertinya Namjoon lebih dulu menyadarinya.
" Kau akan langsung pulang Hyung?
Kita bisa makan malam dulu setelah ini."
" Mungkin lain kali saja, Joon. Aku harus cepat-cepat pulang, besok sore aku harus pergi ke Turki."
Tentu saja itu membuat semua orang yang ada disana terkejut, terutama Jimin dan Hoseok. Mereka tidak mendengar kabar itu sebelumnya. Apalagi Hoseok dan Yoongi adalah sahabat baik.
" Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini padaku dulu Hyung?"
" Ada sedikit masalah dengan pengiriman perusahan milikku, Seok. Appa memintaku memeriksanya secepatnya."
" Apa perlu aku bantu, Hyung?"
Yoongi hanya menatap Jimin dengan senyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya. Yoongi tahu seberapa sibuknya Jimin saat ini, walaupun hati kecilnya sedikit tersentuh dengan tawaran itu. Namun, Yoongi masihlah sadar dimana posisinya. Mereka hanya berteman dan selama 7 tahun ini tidak ada perkembangan dalam hubungan mereka. Keduanya sama-sama pasif akan perasaan mereka sendiri.
" Tidak perlu, Jim. Aku tidak akan lama disana."
" Berapa hari kau disana, Hyung apa kurang dari 4 hari?"
" Hanya 3 hari, Seok. Memangnya kenapa? Kau butuh sesuatu?"
" Bukan aku Hyung, tapi istriku. Semalam Hana ngidam ingin parfum yang dulu pernah kau hadiahkan untuknya. Aku sudah mencoba menghubungi toko itu, tapi aku harus memberikan sampel nya terlebih dahulu. Bisakah kau pesankan untukku? Aku akan kesana 3hari lagi. Please Hyung... Aku tidak ingin anakku ileran kalau permintaan Omma nya tidak dikabulkan..."
Semua yang ada disana menahan tawa melihat wajah memelas Hoseok kepada Yoongi. Bahkan Hoseok dengan tidak malunya berlutut memohon kepadanya, bagaimana Yoongi tidak luluh coba.
" Apa kau bawa Sempel nya?"
" Ada dirumah Hyung."
" Baiklah, kita ke rumahmu dulu. Waktuku tidak banyak Seoki... Kalau begitu kami Permisi."
Jimin hanya bisa memandang kepergian Yoongi dan Hoseok dalam diam. Sebenarnya ia ingin berbicara tentang perasaannya, namun sepertinya lagi-lagi waktunya tidak tepat. Jungkook yang mengetahui isi hati Hyung nya itu hanya bisa menghela nafas. Ia sebenarnya tahu Hyung nya ini serius dengan Yoongi, namun sikapnya yang pasif itu membuatnya geram juga.
" Mau sampai kapan kau seperti ini terus, Hyung. Kalau kau benar-benar mencintainya, kau ungkapkan saja secepatnya. Kau tidak ingin menyesal nanti kan?"
" Benar yang dikatakan Jungkook, Jim. Jangan terlalu lama membuatnya menunggumu. Yoongi Hyung juga punya batas kesabaran dalam hatinya."
" Gue hanya nggak yakin Yoongi Hyung bakal Nerima gue, Hyung."
Namjoon hanya bisa memijat kepalanya yang mulai pening. Padahal keduanya sama-sama suka, tapi susah sekali untuk mengungkapkan satu sama lain.
" Kalau tidak dicoba, mana mungkin kau tahu jawabannya Jim."
" Lalu aku harus bagaimana, Hyung?"
" Susul saja dia ke Turki, kalau perlu lamar sekalian nanti!"
Mungkinkah ia harus memakai usul Jungkook ini? Mungkin ini kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan untuknya. Dan ia harus mengambilnya.
Salju yang turun siang ini tidak terlalu lebat, hanya saja udara disekitar bandara internasional Seoul saat ini tidak terlalu bersahabat untuknya. Ini terlalu dingin untuknya. Ia merapatkan mantel tipisnya semakin erat, menunggu jadwal keberangkatan yang mendadak dimajukan. Untungnya dia sudah berkemas lebih awal semalam, jadi tidak terlalu terburu-buru saat jadwalnya berubah.
' Attention, flights with code T673 to Turkey please go to gate two. The flight will be in ten minutes. thank you.'
Yoongi bergegas menuju gerbang dua saat nomor penerbangan miliknya dipanggil. Ia harus bergegas atau ia akan ketinggalan pesawat. Tak lupa ia mematikan ponselnya lebih dulu. Tepat dua menit setelah Yoongi masuk gerbang keberangkatan, terlihat Jimin yang berlari dengan nafas yang tersengal-sengal. Sepertinya dia tengah mencari keberadaan Yoongi disana, namun sepertinya lagi-lagi waktu nya tidak tepat. Yoongi sudah berada dalam pesawat. Jimin melihat bagaimana pesawat yang membawa Yoongi lepas landas meninggalkan Korea. Jimin benar-benar merutuki kebodohannya karena tidak tahu jadwal keberangkatan Yoongi dipercepat. Berulang kali ia menghubungi Yoongi, namun tak juga berhasil. Bagaimana pun caranya, ia harus mengatakan perasaannya pada Yoongi. Sekarang atau tidak sama sekali.
Penerbangan selama 10jam itu sungguh membuat Yoongi betah tertidur selama penerbangan. Ia sampai Istambul hampir tengah malam, dan nampaknya disini mulai turun hujan rintik-rintik. Dan sialnya ia lupa kalau disini memang sedang musim hujan. Yoongi hanya menengadah menatap langit dengan mata terpejam, membiarkan tetes-tetes air hujan itu menyapa wajah manisnya. Hingga ia tak merasakan tetesan air lagi mengenai wajahnya. Perlahan ia membuka kedua matanya, terlihat sebuah payung melindungi dirinya dari hujan yang ingin membasahi tubuhnya.
" Kau bisa sakit kalau seperti itu, Hyung."
Terdengar suara yang tidak asing menyapa pendengarannya. Dan Yoongi sangat kenal siapa pemilik suara ini. Perlahan ia membalikan badan dan tersenyum tipis.
" Bagaimana kau tahu aku ada disini? Apa Hyung mu yang mengabari mu....
Taehyung."