
Seminggu berlalu.
Pagi ini Bella dan Fhia berencana untuk membeli beberapa kebutuhan mereka di salah satu pusat perbelanjaan.
Mulai ada kelengkapan mandi dan keperluan di dapur.
Seminggu terakhir mereka selalu makan junk food dan kini ingin kembali memulai gaya hidup sehat mereka.
Menggunakan masker dan topi sebagai penutup wajah, Bella dan Fhia mulai keluar.
Masuk ke dalam lift dan turun ke lobby apartemen. Sesekali keduanya tertawa kecil, saling bertukar canda.
Hingga langkah Bella melambat saat merasa melihat seseorang yang ia kenal di ujung sana, namun saat ia memastikan sekali lagi, orang itu menghilang.
Azam. Batin bella dengan hatinya yang kembali berkecamuk. Bayangan pria brengsek itu masih terus berkutat diisi kepalanya.
Meskipun berulang kali ia mengatakan bahwa ia sudah melupakan Azam, namun sejujurnya itu hanyalah ucapan semata.
Bella tak benar-benar lupa, bahkan ia masih mengingat dengan jelas semua sentuhan Azam yang pernah ia terima. Meskipun membuatnya jijik namun tetap saja ia tak bisa lupa.
"Kenapa?" tanya Fhia, karena kini Bella mendadak berhenti. Mereka berdiri persis di pintu keluar masuk apartemen.
Fhia bahkan sampai menarik Bella untuk sedikit menyingkir karena mereka menghalangi orang yang berlalu lalang.
"Aku seperti melihat pria brengsek itu," jawab Bella dengan suaranya yang lirih, tidak ada yang ingin ia tutupi dari Fhia. Bella tidak ingin memendam semuanya sendiri.
Mendengar itu, sontak saja Fhia langsung mengedarkan pandangannya. Melihat ke seluruh penjuru bahkan sampai di seberang jalan sana.
Namun sosok Azam tidak bisa ia temukan. Tepatnya tidak ada.
"Dimana? aku tidak melihat dia ada disini," jawab Fhia setelah puas mencari.
"Entahlah, ku rasa bukan dia, mungkin aku salah lihat."
Baik Bella ataupun Fhia langsung menghembuskan napasnya berat.
"Itu karena kamu belum benar-benar melupakan dia Bell."
Bella terdiam.
Bagaimana bisa dia lupa, pada pria brengsek yang susah memporak porandakan hidupnya.
"Sudahlah, ayo," ajak Bella.
Dan setelahnya keduanya kembali melanjutkan langkah. Melambai pada salah satu taksi dan masuk kesana.
Selama berbelanja ini dan itu, lalu kesana kemari Bella selalu merasa bahwa ada yang mengikuti langkahnya.
Namun tiap kali menoleh kebelakang, tidak ada satupun yang mencurigakan.
Tapi desiran di hatinya tidak bisa bohong. Ia sangat yakin jika Azam ada di sekitarnya. Namun Bella tidak bisa membuktikan itu.
Drt drt drt
Ponsel Bella bergetar, membuat kegundahannya teralihkan. Ia melepas satu tangannya dari troli belanjaan dan mulai melihat ponsel.
Ada panggilan masuk dari Edward. Bella lantas menjawabnya tanpa mengulur-ngulur waktu.
"Maaf Ed, aku tidak bisa," tolak Bella, saat Edward memintanya untuk makan siang berdua.
Mereka memang berteman dan sejak awal Bella sudah mengatakan jika ia tidak ingin memiliki hubungan saat ini. Ia butuh waktu untuk sembuh dari luka.
"Sekali ini saja Bell," bujuk Edward di ujung sana.
"Lain kali saja, hari ini aku dan Fhia punya rencana sendiri."
"Hem, baiklah. Beri tahu aku jika ada sesuatu yang terjadi."
"Iya."
Dan panggilan itu terputus.
Bella dan Fhia pun menyudahi belanjanya dan memutuskan untuk langsung pulang.
Kembali ke apartemen dengan banyak kantong belanjaan di tangan mereka.
Namun langkah keduanya terhenti saat mendengar suara yang begitu familiar memanggil nama Bella.
"Bella," panggil Azam.
...TAMAT...
Dan ini season 2 nya ya..