
Pagi menjelang.
Malam tadi, Bella sudah terlelap saat mereka sampai di mansion. Mungkin sekitar jam setengah 12 malam. Azam memanfaatkan itu untuk membawa istrinya masuk ke dalam kamar mereka. Lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menyembunyikan kunci itu ditempat yang paling aman.
Ditempat yang Bella tidak akan pernah bisa menemukannya, di dalam tas Bella sendiri.
Perlahan, Bella mengerjab, merasakan tubuhnya yang terasa berat. Lalu membuka matanya pelan-pelan dan langsung bertemu tatap dengan mata sang suami.
Mata Bella seketika membola, bahkan manyadari jika salah satu lengan Azam memeluk erat pinggangnya.
Reflek, Bella mendorong dada suaminya itu. Tapi bukannya menjauh, mereka malah semakin dekat.
Karena tenaga Azam lebih kuat daripada sang istri yang kesadarannya belum pulih betul.
Dengan tersenyum lebar, Azam menyembunyikan wajah Bella di dadanya yang terbuka. Sengaja memang ia tak memakai baju, berusaha membuat Bella akan terbiasa dengan tubuhnya. Dengan sentuhannya.
"Lepas!" pinta Bella, ia memukuli dada polos suaminya itu. Bukan apa-apa, ia merasa engap. Bangun tidur seperti ini ia butuh banyak oksigen.
"Beri aku ciuman selamat pagi dulu," pinta Azam memberi sebuah syarat.
Syarat yang membuat Bella sampai geleng-geleng kepala. Baginya, Azam masih saja menjadi misteri. Kadang dingin, kadang cuek, kadang galak, pemaksa dan brengsek, kadang hangat dan tiba-tiba kekanak-kanakan seperti ini.
Entah mana, Azam yang sesungguhnya.
Merasa engap, Bella pun lantas mendongak, mendekatkan bibirnya pada bibir sang suami tanpa basa basi.
Dulu, Azam begitu benci mendapati sikap Bella yang agresif seperti ini. Yang tiba-tiba datang dan bergelayut manja di lengan tangannya.
Namun ternyata, lama Bella tak memperlakukannya seperti itu membuat ia rindu.
Bahkan kini, entah kenapa Azam begitu menanti Bella yang seagresif ini.
Ternyata benar kata Zura, yang Azam butuhkan hanyalah penerimaan. Menerima Bella menjadi istrinya, hingga lambat laun rasa cinta itu pun akan datang.
Bahkan Bella tidak perlu berubah menjadi seperti keinginannya, tapi Bella sudah berhasil membuat Azam terpana.
Tidak ingin hilang kesempatan. Azam lalu menahan tengkuk sang istri dan memperdalam ciuaman mereka. Azam bahkan bergerak, menindih tubuh Bella. Dada polosnya bersentuhan langsung dengan dada sang istri yang menjulang tinggi.
Membuat hasratnya kembali bangkit tanpa permisi.
Apalagi saat teringat semalam, Azam yang menggantikan baju Bella hingga berhasil berganti baju tidur ini.
Membuat fantasinya semakin liar dan tak terkendali.
Pelan-pelan, tangan kanan Azam masuk menelusup kedalam baju sang istri. Merayap melewati punggung dan melepas pengait bra itu.
Bella bahkan membusungkan dadanya, memberi akses.
Lalu dengan mudahnya, Azam pun membuat tubuh atas istrinya menjadi polos. Ia menarik diri, agar lebih leluasa memandangi sang istri.
Dada Bella naik turun, dengan napasnya yang terengah. Bella bahkan sudah siap, jika kini Azam ingin memasukinya.
Hingga terasa dibawahnya sana intinya seperti mengeluarkan sesuatu.
"Tunggu Zam, sepertinya aku datang bulan," ucap Bella buru-buru, ia bahkan langsung mendorong dada Azam agar pergi dari atas tubuhnya.
Bella hendak berlari ke kamar mandi, namun urung karena Azam menahan lengannya.
"Datang Bulan?" tanya Azam, saat sang istri kembali berbalik.
Dan Bella menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Tak ingin berakhir sendirian disini, Azam pun lantas ikut turun dari atas ranjang, lalu menggendong sang istri untuk masuk ke dalam kamar mandi mewah mereka.
"Kamu mau apa?" tanya Bella curiga, saat kini mereka sudah berada didalam kamar mandi.
"Ku rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti," jawab Azam.
Dan detik berikutnya, tak ada lagi kata-kata yang terdengar diantara mereka. Hanya terdengar gemericik air dan desahaan pelan dari Bella.
Merasakan tubuh polos basahnya dijamahi oleh sang suami. Tanpa penyatuan, keduanya bisa mendapatkan pelepasan.
Pagi itu, hubungan mereka jadi semakin intim. Apalagi saat mereka sudah melihat tubuh polosnya satu sama lain.
Pagi ini, di mansion Azam terasa panas.
Namun di Bandung sana, seorang wanita merasakan hatinya yang jadi dingin dan membeku.
Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan sang pujaan hati dan istrinya tengah bersama.
Bahkan Azam dengan berani mengelus pucuk kepala Bella dengan sayang didalam video itu.
Air mata Raya jatuh, merasakan dadanya yang terasa sesak. Sakit namun tidak mengeluarkan darah. Ia pikir, pesan Azam kemarin hanyalah main-main. Namun ternyata itu adalah sungguhan.
Azam benar-benar berusaha menerima Bella jadi istrinya.
Isak tangis Raya itu terdengar hingga keluar kamarnya. Sang ibu Sundari yang tak sengaja lewat pun langsung membuka kamar sang anak.
"Raya!" panggil Sundari, cemas. Ia bahkan langsung berlari dan memeluk sang anak. Ikut duduk disisi ranjang.
"Apa yang terjadi Ray? kenapa kamu menangis?" tanya Sundari, bertubi.
"Mas Azam Mah, mas Azam," jawab Raya lirih, diantara isak tangisnya.
Raya lalu menceritakan pada ibunya itu jika beberapa hari yang lalu Azam mengiriminya pesan perpisahan.
Namun Raya kira itu tidak akan mungkin terjadi, tidak mungkin Azam akan berpaling darinya, demi wanita seperti Bella. Wanita yang bahkan tidak bisa menjaga harga diri. Mengumbar tubuh untuk semua orang.
Tapi ternyata pikiran Raya salah, hatinya remuk saat melihat banyaknya video yang tersebar tentang Azam dan Bella di dunia maya.
Belum lagi saat Raya membaca banyak komenan yang mengeluh eluhkan pasangan itu. Bahkan mendoakan agar Azam dan Bella segera dikaruniai anak.
Makin membuat hati Raya terasa panas.
"Kamu yang bodoh, sudah Mamah bilang, jangan terlalu memberi kebebasan pada Azam. Ini jadinya, dia meninggalkanmu," ucap Sundari setelah ia puas melihat video-video itu.
"Sekarang apa yang mau kamu lakukan?" tanya Sundari pula dengan suaranya yang meninggi.
Sementara Raya hanya menggelengkan kepala, tidak tahu harus berbuat apa.
"Ambil lagi simpati Azam padamu, hanya itu yang bisa kamu lakukan." timpal Sundari.
Dengan langkahnya yang penuh kekesalan, Sundari pun meninggalkan kamar itu. Membiarkan Raya terus menangisi Azam.
Sudah dari dulu, sudah sejak lama Sundari meminta pada Raya untuk berani. Berani meminta pada Azam untuk menikahinya, berani untuk mengatakan pada tuan Adam dan nyonya Haura bahwa mereka memiliki hubungan.
Tapi Raya tidak pernah menurut, anaknya itu hanya selalu mempercayai ucapan Azam yang masih abu-abu.
Azam selalu mengatakan jika ia tak ingin melawan sang ibu. Hingga menunggu waktu yang tepat untuk membuka semuanya.
Tapi nyatanya hingga kini waktu itu tak kunjung datang. Yang ada malah Azam meninggalkan anaknya.
"Bodoh!" Sundari terus merasa kesal, ia bahkan melempar kain lap yang ia pegang di atas meja makan.
Seraya terus berpikir, apa yang bisa ia lakukan. Untuk kembali membuat sang anak menyatu dengan Azam.
Sehingga Raya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik, ketimbang kehidupannya saat ini.