Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 40 - Kejujuran Bella



Pemakaman nenek Zahra sudah usai malam itu juga, bahkan di mansion langsung di gelar acara yasinan.


Mendoakan kepergian nenek Zahra.


Para pengawal keluarga Malik bekerja ekstra untuk melindungi mansion dari membludaknya orang-orang yang berbela sungkawa. Bahkan orang-orang dari kalangan menengah kebawah yang pernah dibantu nenek Zahra pun berbondong-bondong ke mansion itu.


Tidak peduli jika hari sudah malam, mereka tetap di sana, membacakan surat yasin meski berada di pinggiran pagar mansion.


Media juga tak putus-putusnya selalu menyiarkan tentang meninggalnya nenek Zahra. Sosok yang dikenal mereka begitu dermawan.


Adam dan semua keluarganya pun khusuk mendoakan sang nenek. Hanya ada satu wanita yang diam-diam memikirkan anak laki-lakinya, Azam. Dan wanita itu adalah Haura.


Kesedihannya seolah berlipat-lipat, meninggalnya nenek Zahra, dan kekecewaan kepada sang anak, Azam.


Astagfirullahalazim, batin Haura, lalu kembali fokus pada buku yasin kecil yang ada di tangannya.


Adam dan Haura sudah tahu gelagat aneh anak dan menantunya itu, tak lama setelah pernikahan keduanya. Lalu diam-diam Adam meminta Kris untuk menyelidiki.


Dan sebuah kenyataan yang membuat dada keduanya sesak pun akhirnya terkuak.


Azam, memiliki hubungan dengan salah satu pekerja di rumah mereka.


Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat kelakuan hina anaknya itu. Tapi kasih sayang orang tua tidak pernah putus, mereka terus berdoa dan berharap agar Azam sadar. Menyadari kesalahannya.


Berbagai cara mereka lakukan dibelakang anak-anak, agar pernikahan itu tetap utuh.


Tapi nyatanya, usaha mereka tetap gagal.


Kesalahan Azam sudah begitu fatal, dan Adam ataupun Haura sudah tidak bisa memaafkan.


Jam 9 malam tepat, acara yasinan selesai. Para kerabat dan kolega pamit untuk pulang.


Di mansion besar ini, hanya menyisahkan keluarga dan orang-orang terdekat. Julian dan Arnold pun masih setia tinggal.


Masih bersimpuh di atas karpet tebal di ruang keluarga, Adam akhirnya buka suara. Setelah cukup lama hanya ada hening ditengah-tengah keluarga Malik.


"Maafkan aku, karena Azam tidak datang dan melihat nenek untuk yang terakhir kali," ucap Adam pada semua keluarganya. Hingga kini pun Azam belum juga pulang dan tidak bisa dihubungi.


Ben, hanya bisa menunduk dan duduk di bagian paling belakang.


Adam mengambil jeda, lalu kembali berucap.


"Agra maafkan aku," ucap Adam pula, membuat Agra menatap lekat kearahnya. Juga Sarah yang terus memperhatikan.


Sedari tadi, sudah menjadi pertanyaan dibenak keduanya tentang ucapan Adam sebelum menguburkan sang nenek. Tentang ketidak datangan Azam kini dan seorang wanita yang entah siapa.


Agra, tidak menjawab apapun. Masih menunggu penjelasan Azam selanjutnya.


Adam, kini menoleh kearah menantunya yang masih menangis. Bella, Zura, Agatha dan Alesha duduk berdampingan dan saling memeluk dengan derai air mata, masih terekam jelas bayangan sang nenek dibenak mereka berempat.


"Bella," panggil Adam pelan, membuat Bella pun menatap kearah sang ayah mertua. Ia pun menghapus air matanya agar mereda.


"Kamu tahu dimana Azam sekarang? jawablah Nak," ucap Adam.


Sebuah pertanyaan yang membuat Bella tersentak, sejenak ia melupakan sakit hati yang ditorehkan oleh sang suami. Namun kini kembali terasa sakit dengan begitu jelas.


"Katakan sayang, katakan yang sejujurnya. Ibu dan ayah sudah tahu semuanya. Biarkan papa Agra dan mama Sarah juga tahu." Haura pun buka suara, meski dengan suara yang serak.


Aida, yang duduk disebelah Haura dan tidak tahu apa-apa pun jadi bingung. Dia hanya bisa merangkul pundak kakak iparnya itu agar tenang. Nampak jelas olehnya wajah Haura yang pias.


Juga tentang keputusan akhirnya.


"Aku akan menggugat cerai Azam Bu, maafkan aku," ucap Bella lirih pada sang ibu mertua, mengakhiri ucapannya dengan derai air mata.


Zura dan adik-adiknya langsung memeluk Bella erat.


Dan Agra mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak terima anaknya diperlakukan seperti ini.


"Kenapa baru sekarang kamu katakan Nak, harusnya sejak dulu kamu beri tahu papa!" bentak Agra. Marah dan kecewa kini menguasai hatinya.


Haura makin menangis, juga Sarah.


"Maafkan aku Gra, aku yang salah." Adam berucap. Sungguh-sungguh meminta maaf. Adam bahkan mengatupkan kedua tangannya didepan dada, menghadap kepada Agra.


Membuat kepalan tangan Agra perlahan melemah.


Tidak seharusnya ia memarahi Bella ataupun Azam. Karena disini yang salah adalah Azam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Helikopter yang di naiki Azam mendarat di gedung Malik Kingdom. Ia hendak segera kembali ke Jepang dan menemui sang istri.


Dengan langkah tergesa ia menuruni 69 lantai MK.


Turun hingga akhirnya keluar dari gedung pencakar langit itu.


Langkah Azam terhenti dibeberapa anak tangga yang membawanya menjauh dari pintu utama MK.


Matanya langsung membola saat melihat banyaknya papan bunga tepat dihadapan. Berucap kan kata bela sungkawa atas meninggalnya Aisyah Azahra, nama sang nenek.


Deg!


"Tidak mungkin," gumam Azam pelan.


Langkah kakinya yang tadi terhenti, kini langsung berlari dengan begitu kencangnya. Melewati puluhan papan bunga hingga sampai di jalan raya.


"TAKSI!!" teriaknya dengan begitu keras dan tidak sabaran.


Secepatnya, dia harus pulang.


15 menit dalam perjalanan, akhirnya Azam sampai di mansion sang nenek. Kegundahannya makin jadi saat melihat papan bunga itu juga memenuhi rumah sang nenek.


Dengan langkah kakinya yang bergetar, Azam masuk kesana.


Sontak semua pelayan menunduk hormat. Pelayan yang menggunakan pakaian hitam lengkap. Suasana mansion nampak sepi dan Azam terus melangkah.


Hingga langkah kakinya terhenti di ruang tengah dan mencuri perhatian semua orang yang duduk di sana.


Azam, melihat Bella yang menggunakan hijab berwarna hitam. Memalingkan wajah dan tak sudi menatap kedatangannya.


Lalu Azam melihat semua keluarganya, satu per satu, ayah, ibu dan semuanya yang menatapnya dengan tatapan entah.


Tapi satu yang Azam yakini.


Nenek sudah meninggal. Batinnya, pilu.