
Sore itu, Bella pulang ke mansion diantar oleh Zura. Awalnya Azam bersikukuh ingin menjemput, namun Zura juga bersikukuh ingin mengantar Bella.
Jadilah, Azam yang mengalah.
Azam menunggu di rumah kepulangan istrinya. Hingga saat tepat jam 5 sore, Bella dan Zura sampai.
Kening Azam berkerut, saat melihat Zura yang datang ke rumahnya dengan membawa sebuah koper.
Jangan bilang Zura mau menginap. Batin Azam.
Ia mendekati kedua wanita itu dan menghalang langkah keduanya.
"Zura akan menginap disini, lusa kan kita pergi ke Jepang, jadi sama-sama saja dari sini." Bella yang buka suara, menjelaskan apa yang terjadi.
Sementara Azam langsung memijat pelipisnya yang terasa pening. Jika ada Zura di rumah ini semuanya akan terasa sulit. Zura, hanya akan mengganggu ia untuk mendekati Bella.
"Tidak ada menginap-menginap, aku akan meminta Ben untuk mengantarmu pulang." Putus Azam, membuat Bella dan Zura sama-sama terkejut.
"Apa-apaan, aku yang mengajak Zura menginap disini!" Bella, meninggikan suaranya, seraya menatap dengan wajah protes.
Pun Azura yang menatap tajam pula pada kakaknya. Azura jadi curiga, kenapa kakaknya itu tidak mengizinkannya untuk menginap.
Jangan-jangan abang mau kasarin Bella! pikir Zura, yakin.
"Pokoknya aku akan tetap menginap!" ucap Zura, dengan suaranya yang tak kalah tinggi.
"Tidak ada menginap-menginap, lusa abang akan dan Bella akan menjemputmu saat kita pergi ke Jepang." Final Azam, ia lalu menarik sang istri untuk mengikuti langkahnya.
Dan Azura kalah cepat untuk menahan lengan sang kakak ipar.
"Abang!" pekik Zura, tapi Azan tidak peduli. Azam terus menarik Bella untuk mengikuti langkahnya, naik ke lantai 2 dan berakhir masuk di kamar mereka.
"Azam!" pekik Bella pula, dengan amarah yang mulai terpancing.
Ia sangat ingin menghabiskan malam dengan Zura, namun seperti itu saja Azam tidak mengizinkan.
"Lain kali saja Zura menginapnya, sekarang kan sedang ada misi," terang Azam. Membuat Bella langsung melipat kedua tangannya didepan dada, kesal.
"Misi apa?" balas Bella, ketus.
"Misi memperbaiki rumah tangga kit," jawab Azam, membuat Bella sampai kehabisan kata-kata.
Bella bahkan hanya diam, saat Azam menarik pinggang dan mendekapnya erat.
"Apa selama ini Arnold baik padamu?" tanya Azam, dengan suaranya yang terdengar lirih.
Persis disebelah telinga Bella, karena berulang kali Azam menciumi tengkuk istrinya itu. Menghirup aroma tubuh sang istri dalam-dalam.
Bella tak langsung menjawab, masih belum memgerti apa maksud Azam bertanya seperti itu. Namun Bella berpikir, mungkin ini ada hubungannya dengan pertemuan mereka siang tadi, Azam, Arnold dan Julian.
"Tentu saja, Arnold baik padaku, dia juga baik pada Zura," jawab Bella, apa adanya.
"Menurutmu, aku dan Arnold mana yang lebih baik?" tanya Azam lagi. Mendadak ingin tahu apa yang Bella pikirkan tentang Arnold.
Ditanya seperti itu, Bella mulai menyadari satu hal. Pasti Arnold sudah memprovokasi Azam untuk mempertahankan dirinya. Jika tidak, Arnold akan langsung merebutnya. Arnold pun sering berucap seperti itu pada Bella. Namun Bella hanya menganggapnya sebagai candaan.
Dan Bella, jadi ingin ikut mempermainkan Azam pula.
"Arnold lebih baik, dia berulang kali pacaran, tapi tidak pernah mendua," jawab Bella setelah cukup lama diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah menjawab itupun, ia mendorong pelan dada suaminya itu berniat untuk melerai dekapan ini.
Azam pun menurut, tapi tidak benar-benar melepaskan Bella.
Azam, masih memegang kedua bahu istrinya dan menatap lekat kedua netra Bella.
"Jika disuruh memilih, kamu akan memilih aku atau Arnold?" tanya Azam lagi, dan lagi.
Membuat Bella, tersenyum miring.
"Arnold!" jawab Bella, menjawab dengan lantang.
Membuat Azam langsung menatapnya tajam dan menarik Bella hingga terbaring disisi ranjang. Azam, lalu menindihnya, seraya mencengkram kedua pergelangan tangan Bella diatas kepala sang istri.
"Katakan sekali lagi, kamu pilih aku atau Arnold?" tuntut Azam, namun ia sangat ingin mendengar Bella akan memilihnya.
"Apa kamu tuli? aku bilang aku pilih Arnold. Andai waktu bisa diulang, aku akan meminta Arnold yang akan jadi suamiku. Aku yakin, Arnold bisa mencintaiku dengan tulus. A_"
Belum selesai ucapan Bella, Azam langsung melumaat bibir yang terus berbicara itu. Melumaatnya dalam, bahkan menyesapnya tanpa ampun. Lidahnya tak tinggal diam, ia menjelajah didalam sana dan membelit lidah sang istri.
Keduanya saling bertukar saliva dengan deru napasnya yang terasa panas. Bahkan Azam pun langsung menanggalkan baju sang istri dan melemparnya asal.
"Tapi sayangnya waktu tidak bisa diputar, dan selamanya aku yang akan menjadi suamimu," balas Azam, tanpa menunggu jawaban Bella, ia kembali menenggelamkan wajahnya di dua gundukan sintal itu, mencetak tanda merah diatas tanda yang ia buat tadi pagi.
Bella hanya bisa menggeliat, merasakan kedua dadanya yang berada dalam kuasa sang suami.
Bella menjerit, saat Azam mengigit pucuknya. Tidak sakit, hanya terkejut.
"Bell, aku akan berusaha untuk mencintaimu, lebih dalam dari perasaan yang sudah kurasakan saat ini," ucap Azam, dengan tatapannya yang dalam.
Bella tak kuasa untuk menjawab apapun, hanya menelan salivanya dengan susah payah.
Semoga. Batin Bella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ben, aku tidak mau pulang," rutuk Zura, pada asisten kakaknya ini.
Tapi Ben terus mengekori langkahnya, meminta sang nona muda untuk segera pulang. Bahkan dia akan senang hati untuk mengantarnya.
"Tapi Tuan sudah memerintahkan saya untuk mengantar Anda pulang Nona."
"Aku tidak mau, aku mau menginap!"
"Mari saya antar."
"Ben!" pekik Zura, jadi kesal.
"Baiklah aku akan pulang!" timpal Zura kemudian, dengan nada ketusnya.
Dengan mengulum senyum, Ben kembali mengikuti langkah Zura, keluar dari dalam mansion ini.