
"Maafkan aku Mas, aku sudah gagal membimbing Azam, aku sudah gagal menjadi seorang ibu," ucap Haura.
Memecah keheningan di dalam kamarnya. Kini ia dan Adam duduk disisi ranjang, menatap kosong ke arah jendela kaca kamar mereka.
Hanya melihat gerimis yang turun malam ini. Hawa dingin itu masuk sampai ke relung hati keduanya.
Dan mendengar karta maaf sang istri, Adam pun menoleh kepada Haura. Dan Haura pun melakukan hal yang sama hingga tatapan keduanya bertemu.
"Jangan bicarakan lagi tentang anak itu, lebih baik sekarang kita tidur, malam ini sudah larut," jawab Adam. Ia bahkan mengelus kepala sang istri dengan sayang.
Haura hanya bisa mengangguk, tidak ingin berdebat dengan sang suami. Haura tahu, suami masih diselimuti rasa sedih atas meninggalnya sang ibu.
Malam ini, mereka tertidur dengan saling memeluk. Namun sebenarnya mereka tidak benar-benar tidur. Karena nyatanya baik Adam ataupun Haura masih terjaga, memikirkan banyak hal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar lain, Azura dan Arrabella pun masih duduk disisi ranjang. Zura sungguh malu untuk menghadapi Bella. Perbuatan sang kakak membuatnya tidak punya muka dihadapan sang kakak ipar.
"Maafkan aku Bell," ucap Zura, lirih. Ia bahkan menunduk ketika mengucapkan itu.
"Jangan meminta maaf tentang pria brengsek itu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Lebih baik sekarang kita selalu doakan nenek," jawab Bella, ia menggeser duduknya, mengikis jarak dan memeluk Zura.
Berakhir dengan keduanya yang saling memeluk erat.
Bohong jika Bella tidak merasa sakit hati. Tapi perihal Azam kini sudah bukan lagi jadi prioritasnya. Apalagi semenjak sang nenek meninggal, membuat rasa sakit hatinya pada Azam teralihkan.
Bella memilih tidak peduli pada pria itu, seperti Azam yang selalu mengabaikan perasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lantai paling atas Bar milik Arnold. Keempat pria itu duduk di ruang itu dan menatap sembarang ke arah luar. Dinding kaca itu membuat mereka bisa melihat kota Jakarta yang masih saja ramai meski sudah memasuki jam 2 dini hari.
Lantai 3 ini, biasanya mereka gunakan untuk berkumpul. Tempat mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Apalagi jika Haruka dan Ryu berkunjung ke Indonesia, Bar Arnold adalah basecamp mereka.
Raungan yang diisi dengan beberapa sofa panjang dan beberapa meja kecil. Lengkap dengan televisi dan pantry kecil, juga lemari pendingin berisi banyak makanan ringan dan minuman jus buah.
Biasanya, tawa selalu mendominasi jika mereka semua memasuki lantai 3 ini.
Tapi kini?
Hanya ada keheningan diantara mereka. Padahal di lantai 1, begitu ramai orang yang mengunjungi Bar milik Arnold.
"Apa rencana mu?" tanya Julian akhirnya, ia lebih dulu buka suara.
Azam tahu persis, pertanyaan itu pasti ditujukan olehnya.
"Aku tidak ingin berpisah dengan Bella," ucap Azam lirih, pasokan suaranya seolah habis oleh rasa sedih yang sedang ia rasa.
Perihal nenek Zahra, Bella dan semua keluarganya.
Apalagi saat teringat sang ibu yang menatapnya dingin, membuat Azam merasa hatinya ditikam ribuan jarum tajam.
"Lebih baik ceraikan Bella, ikuti saja keinginan ayah Adam," kata Arnold.
Membuat semuanya kembali diam. Apalagi Ben, yang tidak kuasa untuk mengatakan apapun. Bahkan kopinya di atas meja belum tersentuh sedikitpun.
"Aku mencintai Bella Ar," jawab Azam lirih membuat Arnold berdecih.
"Pria sepertimu memangnya tahu cinta?" tanyanya dengan nada menghina.
Dan lagi-lagi Azam kembali diam. Namun memang itulah yang ia rasa tentang Bella. Perasaan yang baru ia yakini jika ini adalah cinta.
Tawa Bella, sentuhan Bella, suara riangnya sudah mengambil alih hati dan pikiran Azam. Hanya membayangkan semua itu hilang dari hidupnya sudah membuat Azam merana. Bahkan dadanya kini sudah terasa begitu sesak.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Bella."
"Kenapa? apa karena sekarang kamu sudah tidak memiliki segalanya? berharap setelah kembali kepada Bella, ayah Adam akan memaafkan mu?" tanya Julian bertubi, jika benar itu alasannya ia tak akan segan lagi untuk meninggalkan Azam sendirian.
Semua mata sontak menatap kearah Azam, dan dilihat oleh mereka Azam yang menggeleng.
Yang artinya, tidak.
"Aku mencintai Bella dan apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan rumah tangga kami. Aku juga merasa bersalah kepada Ayah dan semuanya, setiap hari aku akan memohon ampun kepada mereka tanpa membawa-bawa nama Bella."
"Aku akan coba mempercayaimu Zam," balas Julian.
Sementara Arnold dan Ben memilih diam. Malam itu, mereka semua tidur di sofa. Tapi Azam tidak sekejab pun menutup mata.
Ia terus memandangi gerimis yang turun malam ini. Mengirim kata rindu pada sang istri melalui gerimis itu.
Aku mencintaimu Bell, Arraku.