
Setelah mengantar kepulangan ibu Haura dan ayah Adam. Bella langsung memesan, cleaning service panggilan untuk datang ke rumahnya.
10 orang yang ia pesan untuk membersihkan bunga mawar. Memindahkan bunga-bunga hidup itu ke taman belakang mansion. Taman yang dulunya hanya berisi rumput jepang itu kini ditindihi banyaknya bunga mawar dalam pot berukuran kecil.
Satu per satu bunga itu mulai dipindah, Azam yang turun dari atas tangga langsung menatapnya tak suka. Padahal bunga-bunga itu untuk mencegah istrinya agar tidak selalu kabur.
“Siapa yang menyuruh kalian untuk memindah bunga-bunga itu?” tanya Azam langsung, hingga membuat 5 orang yang bekerja di sana langsung terhenti.
Salah satunya memberanikan diri buka suara.
“Nyonya Bella Tuan,” jawab pekerja itu, takut-takut. Mereka tahu siapa orang yang berdiri dihadapan mereka saat ini, Azam Malik. Pemegang kuasa tertinggi di Malik Kingdom saat ini.
Tanpa banyak bicara lagi, Azam langsung mencari keberadaan sang istri. Sejak Azam bangun tadi, Bella sudah tidak ada disampingnya. Bahkan Azam tidak tahu jika ayah dan ibunya pun sudah pulang.
Entah kenapa, malam ini ia tidur sangat pulas. Hingga bangun kesiangan.
Menebak jika Bella ada di kamarnya, maka Azam langsung menuju ke sana.
Mengetuk pintu kamar itu berulang dan menunggu. Tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka. Dan memang benar, bahwa Bella disini.
Sebelum pintu itu ditutup lagi, Azam dengan cepat mendorongnya kuat dan masuk begitu saja. Membuat Bella jadi tersingkir, masuk ke dalam.
“Azam! Apa yang kamu lakukan?!” tanya Bella dengan membentak.
Baginya, Azam kini selalu saja berbuat kasar. Dan dia tidak menyukai itu.
Bella baru saja mandi, dan hanya menggunakan handuk kimono ditubuhnya. Rambutnya masih nampak jelas basah.
“Kenapa tidak membangunkanku? Kamu malah mencuri kunci di saku celanaku.” Azam, menatap tajam istrinya itu. Susah payah ia mengunci kamar dan menyembunyikan kuncinya, ternyata Bella malah mencuri disaat ia sedang terlelap.
Dan Bella menjawab dengan malas.
“Subuh tadi ibu mengetuk pintu, jadi aku mengambil kunci itu disaku celanamu. Sekarang keluarlah, aku mau ganti baju!” titah Bella pula, seperti biasa, ia sibuk sendiri dan mengabaikan keberadaan Azam.
Membuka lemari bajunya dan mulai memilih yang akan ia kenakan.
“Arra.” Panggil Azam pelan, membuat Bella membuang napasnya kesal. Entah kenapa, kini ia jadi benci sekali tiap mendengar Azam memanggilnya Arra seperti itu.
Seolah muak yang ia rasa semakin bertambah besar.
Bella berbalik dan menatap tajam Azam, ia bahkan melenggangkan kedua tangannya di pinggang.
“Katakan, apa sebenarnya maumu?” tanya Bella langsung. Melihat perubahan Azam yangs seolah ingin memperbaiki hubungan mereka benar-benar membuat Bella jengah, bercampur jijik.
“Bukankah aku sudah mengatakannya, aku ingin kita memperbaiki hubungan ini.”
“hubungan yang mana? Bahkan sejak awal hubungan kita tidak pernah ada, bukankah kamu dan perempuan itu sudah menjalin hubungan sebelum kita menikah?” jawab Bella, seraya mengajukan pertanyaan.
Azam bergeming, jika Bella sedang marah-marah seperti ini, apapun yang akan ia ucapkan pasti selalu salah.
“Kamu benar, aku memang salah. Maafkan aku.” Akhirnya, inilah jawaban Azam.
Membuat Bella tersenyum miring.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah, dulu dengan begitu lantangnya kamu mengatakan padaku jika dia adalah kekasihmu, sementara saat aku bertanya siapa aku, kamu hanya diam.” Ucap Bella, kini ia tersenyum getir kala mengingat itu.
“Dan sekarang kamu mengatakan, ingin memperbaiki hubunga kita. Apa itu masuk akal? Tidak, bagiku itu terdengar seperti omong kosong.”
Setelah mengatakan itu. Bella kembali berbalik membelakangi Azam, lalu sibuk sendiri dengan pakaian-pakaiannya.
Dan Azam terus memperhatikan pergerakan istrinya itu.
“Apa kamu ingin melihatku telanjaang?!” tanya Bella dengan suaranya yang meninggi.
Melihat Azam yang hanya diam, membuat Bella langsung menanggalkan handuk kimononya itu. Memperlihatkan tubuhnya yang polos.
Kemarahan yang ia rasa sudah menutup malu. Ia terus memakai bra dan penutup intinya. Tak peduli meski Azam terus memperhatikannya lekat.
Lalu mengambil gaun yang sudah ia siapkan dan memakainya. Saat hendak memasang pengait di balik tengkuknya. Pergerakan tangan Bella terhenti, saat ia merasa tangan Azam mengambil alih.
Suaminya itu, membantu Bella untuk memasangkan pengait.
Sementara Bella hanya diam, dengan air mata yang tiba-tiba mengalir. Jatuh dengan sendirinya tanpa permisi.
Bella menggigit bibir bawahnya kuat, saat merasa Azam memeluk erat tubuhnya dari arah belakang.
“Maafkan aku Bella,” ucap Azam lirih, membuat air mata Bella semakin deras mengalir. Bella coba menghapus air mata itu, namun tetap saja muncul yang baru.
“Kamu jahat Zam.”
“Iya, aku jahat, maafkan aku.”
Pelan, Bella menggeleng.
“Aku tidak bisa memaafkanmu, mungkin kamu bisa mengatakan untuk memperbaiki hubungan kita, tapi siapa yang tahu apa isi hatimu?” jawab Bella, baginya perubahan Azam terjadi begitu cepat. Membuat ia sulit untuk mempercayainya.
“Aku harus bagaimana agar kamu percaya?”
“Harusnya kamu belajar dari amang Shakir, beliau tidak mendekati acil Sanja sebelum hatinya benar-benar pulih dari ibu Haura.” Jawab Bella, membuat pelukan Azam ditubuhnya melemah.
Jujur saja, nama Raya memang masih terukir dihatinya. Ia hanya sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan nama itu, lalu menggantinya dengan Arra.
Namun semuanya tak mudah, terkadang Azam memang masih mengingat wanita sederhana itu.
Tapi saat teringat ijab kabul yang sudah ia ucapkan untuk Bella, Azam kembali memantapkan hati. bahwa kini, bella adalah istrinya.
Bahwa kini bella adalah tanggung jawabnya.
Merasakan pelukan suaminya melemah saat membicarakan wanita itu, Bella hendak langsung pergi.
Namun urung saat Azam menarik lengan dan memutar tubuhnya. Hingga membuat ia berada dipelukan Azam. Wajahnya langsung jatuh didada bidang suaminya itu.
“Aku tidak mau jadi Amang Shakir, aku akan memilih untuk jadi amang Edgar.” Ucap Azam, ia lalu menahan tengkuk istrinya dan menjatuhkan sebuah ciuman dalam dibibir Bella.
Melumaatnya dengan lembut, menunjukkan ketulusan yang ingin ia beri. Bella bukanlah Luna, yang bisa membanting pria brengsek. Sekuat apapun Bella meronta, namun Azam tetap bisa masuk ke dalam sana, bahkan melilit lidahnya.
“Sekali lagi kamu telanjaang di depan ku, aku tidak akan melepaskan mu,” ucap Azam, setelah melepaskan pagutannya.
Melihat Bella yang bernapas dengan terengah.
“Brengsek!” umpat bella, namun Azam malah terkekeh. Ia sudah terbiasa dengan panggilan itu.
Cerita kisah cinta tentang Edgar dan Luna sudah pernah mereka baca didalam buku amang Edgar.
Dan kisah cinta ibu Haura dan ayah Adam pun sudah mereka baca di buku ibu Haura.
Dan tentang amang Shakir dan acil Sanja, selalu menjadi cerita yang mereka dengar ketika amang Shakir dan acil Sanja berkunjung ke Indonesia. Karena kini mereka sudah menetap tinggal di Malaysia.