Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 33 - Mandi



Azam dan Bella masuk ke dalam kamar mereka.




Tanpa sadar jika Azura mengikuti, tau tau adiknya ini sudah di sofa ranjang.


"Kenapa kamu ikut masuk kesini? kamarmu disebelah," ucap Azam, berucap dengan nada tak suka pada sang adik.


Azam hapal betul, adiknya ini pasti mau merengek karena tidak berani tidur sendirian. Sudah sedewasa ini Azura masih saja takut tidur sendirian jika ditempat baru seperti ini.


Takut tiba-tiba ada penjahat dan menculiknya. Lalu untuk selamanya ia tidak akan bisa bertemu dengan orang-orang yang disayangi.


Pemikiran Azura memang parah, Azam sampai menggelengkan kepalanya kala mengingat itu.


"Abang saja yang tidur sendiri, biasanya kan kalau pergi-pergi begini aku tidurnya sama Bella."


"Iya Zam, biar aku tidur sama Zura, lagipula aku sedang datang bulang kita tidak bisa melakukan apa-apa." Bella ikut buka suara, membuat Azura terkekeh dan Azam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Menggaruk dengan frustasi.


"Kalau tidak mau tidur sendiri, makanya menikah. Sana keluar, jangan sampai aku meminta Ben untuk menarikmu," ancam Azam, membuat kedua wanita ini mencebik.


Lalu tatapan ketiganya teralih saat pintu kamar itu terbuka lebih lebar. Karena sebelumnya tidak ditutup dengan rapat.


Julian, berdiri disana. Mengira ada Azura ada disini dan ternyata Benar.


Julian masuk dan menghampiri semuanya, bahkan langsung memegang ganggang koper Azura.


"Ayo ku antar ke kamarmu, jangan takut, setelah aku keluar aku akan menelponmu menggunakan video call," ajak Julian, membuat senyum Azura tiba-tiba terbit.


"Janji?!" tanya Azura, menuntut.


Dan Julian pun menganggukkan kepalanya.


Azam, langsung bernapas lega. Istrinya memang sedang datang bulan. Tapi ia masih bisa melakukan ini dan itu, tidak perlu tunggu menyatu.


Julian dan Azura akhirnya keluar, dan Azam langsung menutup rapat pintu kamarnya.


Menatap sang istri seolah ingin memangsa. Bella, langsung melempar suaminya itu dengan bantal diatas ranjang.


Dan Azam menangkapnya, dengan terkekeh.


Sore itu, mereka mandi bersama di dalam bathup. kata Bella, mensnya sudah tidak keluar lagi dari semalam. Tapi belum benar-benar bersih. Hanya menyisahkan bercak.



"Ku dengar-dengar, wanita butuh waktu satu minggu untuk selesai mens, kenapa kamu cepat sekali?" tanya Azam, ia menggosok punggung spon lembut yang tersedia disana.


"Setiap wanita beda-beda, ada yang sebentar ada yang lama. Aku yang sebentar, hanya hari pertama dan kedua yang keluar, selebihnya hanya bercak, hari kelima aku sudah mandi wajib."


Azam, mengganggukkan kepalanya. Dengan satu tangan yang terus membasuh punggung sang istri.


"Ibu tadi membisikkan apa padamu?" tanya Azam lagi, kini ia menyudahi menggosok punggung istrinya. Lalu menarik sang istri agar bersandar dibahu, dikunci menggunakan kedua kakinya. Bella meraskan dengan jelas, sesuatu yang mulai mengeras dibawah sana.


"Ibu bilang, ambil waktu kita berdua selama disini," jawab Bella jujur, ia juga benar-benar menyandarkan tubuhnya didada bidang sang suami.


Menikmati waktu dan sentuhan ini. Mencoba melupakan semua kesedihan yang pernah ia rasakan. Ia mencoba untuk kembali mempercayai Azam, berusaha juga untuk memperbaiki rumah tangganya. Memiliki keluarga utuhnya sendiri.


Bella, bahkan memejamkan matanya, dan sedikit menggeliat saat kedua tangan Azam mulai merayap membelai lembut kedua dadanya.


Memijatnya secara perlahan.


Di dalam matanya yang terpejam itu, Bella membayangkan masa kecil mereka dulu. Yang selalu tertawa dan berbagi kebahagiaan.


Bella tersenyum kecil, rasanya ia lebih memilih untuk menjadi anak-anak terus. Tidak beranjak dewasa dan memiliki banyak masalah.


"Kamu tidur?" tanya Azam, membubarkan lamunan Bella, hingga wanita cantik ini membuka matanya.


"Tidak, ayo cepat kita mandi. Setelah itu makan bersama yang lain," ajak Bella yang mendadak antusias. Ia bahkan langsung mengambil jarak dan berniat bangkit.


Tapi urung, karena Azam menahan


Kembali membuat Bella duduk dan mulai menyesapi bibirnya.


"Naik," lirih Azam dengan matanya yang sudah berkabut. Bella menurutinya, ia naik ke pangkuan sang suami menjadikan kedua inti itu bertemu. Darah keduanya sontak mendidih, ada geleyar nikmat yang tiba-tiba mendatangi.


Dan sesuai naluri, Bella pun mulai bergerak. Sampai ia sendiri yang mendapatkan pelepasan.


Dan melihat Bella yang ambruk seperti ini, Azam merasa puas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jangan dimatikan, aku mau mandi dulu," ucap Azura, pada panggilan videonya dengan Julian.


Ia mengarahkan kamera itu dilangit-langit kamarnya.


Julian menjawab iya, dengan mulut yang terkekeh pelan. Baginya, Zura selalu seperti ini, membuatnya seolah menjadi malaikat pelindung untuk Zura.


Ketergantungan Azura padanya, membuat Julian terbiasa. Hingga ia merasa bertanggung jawab.


Bertanggunh jawab untuk melindungi Azura dan membuatnya merasa nyaman.


Saat Azura pergi mandi, Julian pun mandi juga. Ia lebih dulu selesai, sementara Azura juga belum juga kembali.


"Zura?" panggil Julian, tapi tidak mendapatkan jawaban.


Julian pun memutuskan untuk memakai baju, lalu kembali menghampiri ponselnya. Tidak ada-ada pergerakan Azura disana.


"Zura?" panggil Julian sekali lagi.


Tapi tetap saja Azura tidak menjawab.


"Kenapa lama sekali? jika kamu tidak menjawabku aku akan matikan panggilan ini?" ancam Julian, berharap setelahnya ia mendengar teriakan Zura.


Tapi nyatanya, suara Zura tidak juga terdengar.


Julian lantas benar-benar memutuskan panggilan itu dan coba menghubungi Bella. Meminta Bella untuk memeriksa keadaan Azura.


Tapi 3 kali menelpon, Bella tidak juga menjawab panggilannya. Julian tahu, pasti Bella sedang di eksploitasi oleh Azam.


"Apa aku minta Arnold untuk menemani ya? ah tidak usah, Zura bilang tadi dia akan mandi, bagaimana jika nanti dia sedang tidak pakai baju, dia akan malu jika ada Arnold," gumam Julian, bertanya dan dijawab sendiri.


Julian, lantas benar-benar mendatangi kamar Azura. Masuk ke dalam sana dan langsung mencari. Perlahan ia membuka kamar Azura dan tak melihat wanita itu disana. Hanya ada ponsel Azura yang tergeletak diatas nakas.


Bahkan dari arah kamar mandi pun tidak ada suara gemericik air.


"Dimana Zura?" tanya Julian, mulai cemas.


Ia memutuskan untuk langsung memeriksa kamar mandi itu dan memeriksa isinya.


Seketika kedua netra Julian membola, saat melihat Azura yang tidak sadarkan diri didalam bathup.


Ia segera bergegas menghampiri.


"Zura!" pekiknya cemas.


Ia mengambil handuk dan langsung mengangkat tubuh sang gadis.


Tapi tiba-tiba, mata Azura terbuka. Dan keduanya langsung berteriak


AAA!!!!


BYUR! Azura dan Julian, tercebur ke dalam bathup bersamaan.


"Julian!" pekik Azura dengan kedua tangannya yang menutupi dada. Handuk yang dibawa Julian sudah ikut jatuh dan basah.


"Aku tidak lihat! maafkan aku," jawab Julian gugup, ia bahkan langsung memunggungi si wanita. Meski tubuh polos itu sudah terekam jelas di otaknya.


"Sana keluar!" rutuk Zura.


"Iya iya, lagipula kenapa tidur disini. membuatku cemas," jawab Julian pula, ia pun mulai bangkit dan keluar.


"Aku tidur?" tanya Azura, tidak percaya.


"Iya!" jawab Julian, jadi ketus.


Dan mendadak Azura jadi merasa bersalah, membuat Julian menunggu, cemas dan akhirnya kesini.


"Ambilkan handuk dulu, lalu aku akan mengambilkan baju gantimu," ucap Zura, menghentikan langkah Julian.


Dan Julian menuruti, ia mengambilkan handuk kimono untuk Azura dengan terus memalingkan wajah.


"Lepas bajumu, lalu pakai handuk. Aku akan ke kamarmu dan mengambil baju ganti," ucap Azura dan Julian menganggukkan kepalanya.


Dengan menggunakam handuk kimono itu, Azura berlari keluar dari dalam kamar mandi.


Meninggalkan Julian, yang jadi tergugu.


"Kenapa kamu tidak mau menikah denganku saja Zura?" tanya Julian, dan hanya didengar oleh terlinganya sendiri.