
Pagi itu, semua rombongan dari Indonesia memutuskan untuk pulang. Kecuali sepasang pengantin yang belum pernah melakukan malam pertamanya.
Azam dan Bella masih tinggal di Jepang. Mereka berdua hanya mengantarkan sahabat dan keluarganya sampai di Bandara Haneda Airport Tokyo.
Lalu kembali lagi ke hotel untuk beristirahat, Bella mengatakan ia ingin tidur lagi. Masih merasa lelah dan kurang istirahat.
Ben, mengantarkan keduanya kembali hotel Shangri-La.
"Istirahatlah, aku akan membeli beberapa makanan di bawah," ucap Azam, setelah mengantar sang istri hingga berbaring di atas ranjang, Azam memutuskan untuk turun. Menuju pusat perbelanjaan yang ada di hotel ini juga.
Di kamar tidak ada cemilan apapun.
1 jam Azam pergi dan saat ia kembali ke kamar, Bella masih tertidur. Bahkan Azam bisa mendengar dengkuran halus istrinya itu.
Duduk disisi ranjang dan memperhatikan. Azam bahkan merapikan beberapa rambut sang istri yang mengenai wajah.
Azam tersenyum, seperti melihat Arra kecil, batinnya.
Bergerak pelan, Azam pun mulai menunduk, mengikis jarak dan mencuri sebuah ciuman di bibir ranum sang istri. Melumaatnya pelan hingga Bella membuka mata.
Jarak keduanya sangat dekat, diantara bibir yang menyatu itu mereka saling pandang.
Dan decepan pun terdengar, saat Azam melepaskan pagutannya. Lalu mengambil jarak dan menatapi bibir istrinya yang terbuka, membuatnya kembali meraup bibir itu, dengan tidak sabaran. Membuat Bella akhirnya kembali menutup mata.
Keduanya terus berpaut, sampai Azam pun sudah naik ke atas ranjang dan menindih sang istri.
"Bell, bisakah kita melakukannya sekarang?" tanya Azam, setelah ia berhasil membuat tubuh istrinya polos, kedua dada itu bahkan bergerak sesuai irama pergerakannya.
Azam, menatap penuh harap pada sang istri. Hingga dilihatnya Bella yang mengangguk pelan.
"Pelan-pelan," pinta Bella, saat suaminya dengan tidak sabaran membuka penutup terakhir di intinya.
Membuatnya terbuka dan terpampang nyata.
Azam, lantas membuka kedua kaki sang istri hingga lebar-lebar. Lalu menenggelamkan kepalanya didalam sana. Menjulurkan lidahnya hingga masuk ke dalam liang sang istri.
Bella melenguh, bahkan mengangkat pinggulnya lebih tinggi.
Tubuhnya sudah terasa panas, rasanya ingin sang suami segera menyentaknya kuat.
Cukup lama keduanya saling menyesap satu sama lain. Menikmati tubuh keduanya secara bergantian.
Hingga saat tiba penyatuan, getar ponsel di atas nakas mencuri perhatian keduanya.
Bella mendorong dada suaminya pelan, dia ingin bicara.
"Abang, ponselmu," lenguh Bella.
"Bisakah kita mengabaikannya saja?" tawar Azam, ia sedang berusaha memasuki tubuh sang istri. Bahkan inti keduanya sudah saling beradu dengan begitu nikmat.
"Emh, angkat dulu, siapa tau dari ayah dan ibu," jawab Bella, ia terus menggigit bibir bawahnya, benda tumpul itu benar-benar membuatnya melayang.
"Bang, teleponku juga bergetar. Itu pasti ayah atau ibu, bisa juga zura atau yang lainnya," ucap Bella lagi, matanya benar-benar terbuka lebar saat ponselnya pun berdering.
"Baiklah," jawab Azam akhirnya, meski rasanya tidak terima akhirnya Azam pun bangkit dan melepaskan mangsanya.
Ponsel Bella lebih dulu mati sebelum panggilan itu di jawab.
Sementara ponsel Azam terus bergetar, ada panggilan masuk dari nomor baru.
Sungguh Azam tidak tahu nomor siapa itu.
"Siapa Bang?" tanya Bella, ia bangkit dari tidurnya dan duduk disisi ranjang. Tak peduli meski tubuh keduanya sama-sama polos.
"Nomor baru."
"Ya sudah diangkat saja," jawab Bella.
Awalnya Azam begitu enggan untuk menjawab panggilan itu. Namun karena Bella memintanya, akhirnya Azam menuruti.
Dengan setengah hati, ia menjawab panggilan itu. Belum sempat ia berucap. Si penelpon diujung sana langsung buka suara
Azam, hapal betul suara siapa itu. Suara milik Raya.
Deg!
Seketika, jantungnya seperti berhenti sekejab. Apalagi saat mendengar tangis pilu Raya di dalam panggilan itu.
Mendadak gamang dan pikirannya jadi tidak tenang.
Pak Rusli meninggal.
"Aku akan kesana," jawab Azam langsung, lalu memutuskan panggilan itu.
Buru-buru ia memunguti baju hingga membuat Bella bingung sendiri melihatnya. Sebenarnya, panggilan siapa itu? apa yang dibicarakan hingga tiba-tiba wajah suaminya jadi pias begini.
"Abang," panggil Bella, membuat pergerakan Azam terhenti, baru sadar jika kini ia tidak sendiri.
Ada istrinya, Bella.
Sesaat, hanya ada hening. Dari tatapannya Bella jelas bertanya apa yang terjadi, panggilan siapa itu tadi.
"Bell, ayo kita pulang sekarang," ajak Azam akhirnya, membuat kedua netra Bella langsung membola.
"Pulang?" tanya Bella dengan nada tidak terima, apalagi beberapa menit lalu mereka nyaris saja menyatu, menikmati indahnya memadu kasih untuk pertama kali.
"Raya menelpon, dia mengatakan jika ayahnya meninggal, aku harus kesana. Aku mengenal baik pak Rusli," jelas Azam apa adanya.
Namun mendengar itu Bella menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka, nama itu kembali hadir diantara mereka.
"Raya lagi?" tanya Bella, ia bahkan mundur dan mulai mengambil selimut, menutupi tubuhnya yang polos dengan hati yang begitu kecewa.
"Bukan Raya tujuanku Bell, aku hanya ingin mendoakan pak Rusli secara langsung, aku mengenal baik beliau," jelas Azam, berkeras hati. Ia bahkan menyentuh bahu Bella, meminta istrinya untuk mengerti.
"Ayo kita pergi bersama," ajak Azam, ia bahkan berbicara dengan sangat pelan.
Tapi Bella langsung menepis tangan suaminya itu dengan kasar.
"Pergilah, aku sudah muak melihatmu!" ucap Bella, ia pun memunguti bajunya sendiri dan mulai memakainya dengan kasar.
Hatinya sudah kecewa, bahkan sangat kecewa.
"Tolong mengertilah Bell, kali ini saja," pinta Azam. Melihat Bella yang hanya mengacuhkannya, akhirnya Azam memutuskan untuk pergi.
Kepergiannya memang bukan untuk Raya. Namun untuk penghormatan terakhirnya pada pak Rusli. Pria paruh baya yang dikenalnya dengan baik.
Tapi Bella tidak akan pernah mengerti akan hal itu. Yang ia tahu hanya 1, Azam pergi karena perempuan itu.
Brak!
Pintu tertutup melepas kepergian Azam. Dan Bella langsung ambruk, kakinya tak kuat lagi untuk berdiri.
Ia menangis tak bisa ditahan. Merasakan hatinya yang kembali kecewa, kembali terluka.
Hingga dering ponselnya yang kembali berdering. Membuatnya sedikit teralihkan.
Dengan susah payah Bella bangkit, menjangkau ponselnya. Panggilan masuk dari mama sarah. Juga ada panggilan tidak terjawab yang
entah dari siapa.
Bella, menghapus air matanya, juga menghirup dan membuang napasnya perlahan. Mencoba tenang dan menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum Ma."
"Waalaikumsalam, sayang cepat pulang Nak, nenek Zahra sudah tidak ada," jawab Sarah dengan suaranya yang sesenggukan.
Seketika, dunia Bella terasa terbalik.
"Nenek."