
Lamunan Bella terhenti saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk.
Sesak yang ia rasa atas suaminya pun perlahan buyar. Ia segera beranjak dari meja riasnya dan segera membuka pintu.
Sedari tadi ayah Adam melakukan konferensi pers, Bella tetap setia mengunci dirinya di dalam kamar. Bella sengaja menghindar dari semuanya, bahkan sedari semalam ia tidak membuka ponselnya walau sebentar.
Bahkan ia tahu skandal suaminya terkuak dari sang adik, Alesha.
"Ma," ucap Bella saat ia sudah membuka pintu. Mama Sarah berdiri di sana. Menatapnya dengan sendu.
"Mama antar makanan untukmu," jawab Sarah. Bella menurunkan pandangannya dan melihat banyak makanan yang dibawakan oleh sang ibu.
Bella tersenyum kecil, makanan sebanyak itu tidak akan habis untuknya sendiri.
Kedua wanita ini lantas masuk ke dalam kamar dan duduk bersanding di sofa. Bella, langsung memakan irisan buahnya.
"Konferensi pers ayah Adam sudah selesai, mungkin sebentar lagi ayah Adam dan papa Agra sampai di rumah," jelas Sarah.
Ia menatap iba pada sang anak. Dilihatnya Bella yang mencoba terlihat baik-baik saja. Bahkan berulang kali ia melihat Bella yang bersusah payah untuk tersenyum.
Tapi dari sorot matanya nampak jelas kesedihan, kecemasan, kegundahan.
"Sayang, mama sangat menyayangimu kamu Nak," ucap Sarah, dengan sendirinya ia meneteskan air mata. Merasa bersalah atas nasib yang menimpa sang anak. Dulu, Sarah lah yang meminta kepada suaminya untuk melakukan perjodohan ini.
Sarah pikir semuanya akan berjalan dengan baik, namun ternyata tidak semudah itu.
"Mama kenapa menangis, aku saja sudah tidak menangis lagi," balas Bella, ia menghapus air mata di wajah sang ibu lalu memeluknya erat.
"Maafkan Mama sayang, karena keegoisan mama, mama menjodohkan mu dengan Azam."
Bella, langsung menjawab dengan cepat.
"Mama tidak bersalah, lagipula aku memang mencintai Azam Ma, tanpa adanya perjodohan inipun aku akan tetap memilih Azam untuk jadi suamiku. Tapi sayangnya, cinta Azam bukan untukku," balas Bella dengan mendongakkan wajahnya, lagi-lagi ia tersenyum.
Nampak jelas di mata Sarah jika itu adalah senyum getir.
Sarah kembali memeluk anaknya erat, menyembunyikan wajah Bella didalam dekapannya.
Dan mendengar itu, Bella menganggukkan kepalanya. Ia tak ingin banyak mencurahkan isi hati, tidak ingin membuat sang ibu semakin mencemaskan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari.
Sehabis magrib, di mansion nenek Zahra akan kembali di gelar acara yasinan hingga 7 hari kedepan.
Arnold, Julian dan Ben akan pergi, tapi Azam tidak bersiap-siap.
"Kamu tidak pergi?" tanya Arnold pada sahabatnya itu, Azam masih saja menampakkan wajah sendunya.
"Tidak Ar, ku rasa kedatanganku hanya akan menganggu mereka, aku akan mendoakan nenek dari sini saja," jawab Azam, ia tersenyum getir.
Arnold hanya menganggukkan kepalanya. Membenarkan pula ucapan Azam itu.
Tak lama setelahnya, mereka bertiga benar-benar pergi. Menyisahkan Azam seorang diri di lantai 3 Bar milik Arnold.
Azam, menerawang jauh kesana. Membayangkan kebersamaan keluarganya saat ini di mansion nenek.
Pastilah ibunya dan acil Aida akan sibuk sendiri mempersiapkan semuanya. Lalu ayah tetap berwajah dingin meski amang Yuda dan amang Arga mengajaknya bicara.
Belum lagi tawa Bella dan Zura, serta adik-adiknya.
Azam, sungguh rindu berada diantara mereka semua. Tapi sayangnya, kini ia tidak bisa pulang.
Air mata Azam kembali jatuh, namun dengan segera ia hapus. Lalu buru-buru ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Upnya dikit bet yak 😲🤣
Hari ini aku vaksin kedua, rasanya emm, nyut nyut tan. Sampai ketemu besok ya. Insya Allah besok klezi up lagi, 3 bab 1 hari 🤣🤣💕
Bye bye 😗