Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 21 - Selamat Malam



Bella, masih berada di walk in closet itu, sengaja menunggu Azam keluar di sana.


Dalam benaknya sudah terbayang, wajah Azam yang akan berubah jadi kesal. Mungkin Azam akan langsung mengatainya wanita murahan.


Bella bukannya tidak tau, kenapa Azam lebih mencintai Pelayan itu dibanding dirinya.


Hidup sederhana pelayan itulah pasti yang membuat Azam tertarik.


Mengingat itu, Bella berdecih. "Aku tidak akan mau hidup susah," gumamnya sendiri, dengan nada yang sangat kesal.


Ia dan Pelayan itu berbeda, dan sampai kapanpun Bella tidak akan berubah seperti pelayan itu, hanya untuk mendapatkan cinta Azam.


Bella menginginkan seseorang yang mencintainya apa adanya. Bahkan menerima semua kekurangannya, tanpa membanding-bandingkan orang lain.


Dan itu semua, tidak ada pada diri Azam.


Kekesalan Bella berujung, saat ia mendengar pintu kamar mandi sudah terbuka. Saat itu ia langsung menoleh dan langsung bertemu tatap dengan kedua netra sang suami, mereka saling pandang.


Bella bahkan langsung pura-pura menjatuhkan baju, lalu menunduk untuk mengambil itu dan memperlihatkan belahan dadanya.


Membuat Azam sampai beristigfar saking terkejutnya.


Astagfirulahalazim.


Selesai mengambil baju itu, Bella langsung melemparnya ke keranjang baju kotor. Lalu berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri Azam yang terpaku diambang pintu kamar mandi.


"Minggir! aku mau masuk!" titah Bella dengan suaranya yang ketus, ia bahkan menatap tajam sang suami. Seraya membusungkan dadanya.


Membuat Azam mengulum senyum melihat tingkah istrinya itu.


"Masuklah," jawab Azam akhirnya. Ia pun menyingkir dan membiarkan Bella masuk.


Didalam sana, Bella langsung memegangi dadanya yang terasa berdebar.


"Hii, aku seperti seorang jalaang," gerutu Bella pada dirinya sendiri.


Lalu segera menggosok gigi dan mencuci wajahnya.


"Semangat Bella, jangan mau kalah dengan pria brengsek itu," gumamnya sendiri meyakinkan hati. Bahwa ia tak boleh goyah, dan tetap menjadi jalaang agar Azam mengusirnya dari dalam kamar ini.


Bella tak akan sanggup, jika harus tidur di ranjang yang sama, namun hanya ada kedinginan di sana.


Sebelum keluar, Bella sengaja membasahi tubuh area dadanya, ingin terlihat lebih nakal di mata Azam.


Bela membuka pintu dengan kasar, dan tatapannya langsung bertemu dengan Azam yang bertelanjaang dada.


"Astagfirulahalazim," ucap Bella terkejut, kedua matanya bahkan membola dengan begitu lebar.


Kenapa Azam, jadi se vulgar ini.


"Tutup tubuhmu itu, tidak punya malu," ucap Bella, ia menutup kedua matanya menggunakan jari-jari, tak ingin melihat sang suami yang malah bertelanjang dada.


Tubuh kekarnya langsung terekspos dengan sempurna, bahkan kotak-kotak di dada itupun nampak jelas.


Bella, jadi merasa geli sendiri saat melihatnya.


Berjalan menyingkir, Bella ingin segera keluar dari ruangan walk ini closet itu. Niatnya untuk menggoda Azam ia urungkan. Mendadak jijik dan tak sanggup melihat dada terbuka suaminya.


Langkah Bella terhenti saat Azam malah menahan tubuhnya, menggunakan satu tangan Azam merengkuh pinggang sang istri. Membawanya mendekat hingga membuat tubuh keduanya saling menempel.


Membuat Bella tersentak dan semakin menutup matanya erat.


"Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan!" pekik Bella, dengan tubuhnya yang meronta.


Ia tak tahu jika Azam mengulum senyumnya melihat tingkah istrinya itu. Bahkan Azam bisa melihat dengan jelas, kedua dada sang istri yang nampak basah.


Dulu, mungkin Azam akan merasa enggan untuk melihat itu. Namun kini, ia malah menikmatinya.


"Buka matamu, aku hanya ingin bertanya, kamu ingin melihatku memakai baju tidur warna apa," ucap Azam, sengaja mencari-cari alasan.


Ia tahu, Bella menggunakan baju tipis ini hanya untuk membuatnya kesal. Dan untuk membalas sang istri, iapun membuka dadanya.


"Lepaskan aku dulu!" pekik Bella, ia masih menutup matanya menggunakan kedua tangan. Menutupnya rapat-rapat.


Dan pelan-pelan pula, Bella menurunkan kedua tangannya. Seketika, tatapannya langsung bertemu dengan dengan kedua netra Azam.


Dan seperti orang bodoh, Bella malah berdebar.


Buru-buru menurunkan pandangannya, Bella melihat salah satu tangan Azam yang memegang beberapa baju. Dengan asal Bella mengambil salah satunya dan melempar baju itu di dada bidang Azam.


"Gunakan itu! warna norak sama sepertimu!" ketus Bella lalu buru-buru berlalu.


Azam kembali mengulum senyum, dan benar-benar memakai baju pilihan sang istri. Baju tidur berwarna ungu tua.


Selesai menggunakan baju itu, Azam ikut keluar, melihat istrinya yang sudah duduk disisi ranjang dengan gelisah.


Azam, memilih langsung duduk disebelah sang istri. Membuat Bella langsung memalingkan wajah.


"Keringkan tubuhmu," ucap Azam, mengulurkan handuk kecil pada istrinya itu.


Bella hanya diam, sungguh enggan berinteraksi dengan Azam.


"Apa perlu aku bantu untuk mengeringkannya?" tanya Azam pula, menggoda.


Merasa terintimidasi, jiwa kompetisi Bella pun bangkit, ia memutar setengah tubuhnya hingga menghadap Azam.


"Cepat keringkan!" titah Bella dengan membusungkan dada.


Dan tanpa ekspresi apapun, Azam langsung mengangkat tangannya untuk mengeringkan tubuh istrinya itu.


Ia bahkan merapikan rambut Bella yang menempeli leher sang istri.


Diperlakukan seperti itu, membuat Bella bergeming dengan hatinya yang menghangat.


"Ayo tidur," ajak Azam, setelah tubuh sang istri kering. Ia bahkan menatap dalam kedua netra istrinya itu.


Membuat Bella seperti terhipnotis dan hanya bisa menurut. Setelah Azam bangkit dari duduknya, Bella mengangkat kedua kakinya dan naik keatas ranjang.


Lalu Azam yang sudah lebih dulu naik, menarik selimut untuk mereka berdua.


Bella berbaring, dan tidur memunggungi sang suami. Sementara Azam, terus memperhatikan punggung istrinya itu.


Hingga waktu berlalu beberapa menit, menciptakan keheningan yang ditakutkan Bella. Hawa dingin yang membuatnya sulit untuk menutup mata.


Menciptakan pemikiran yang melayang jauh entah kemana.


Kedua netra Bella kembali terbuka saat ia mendengar Azam buka suara.


"Maafkan aku Bell, bisakah kamu memberikan aku kesempatan kedua?" tanya Azam.


Namun cukup lama menunggu, Bella tak juga menjawab apapun. Bahkan seolah, Bella tidak mendengar pertanyaannya itu.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya Azam lagi, namun Bella masih setia membisu.


Bahkan tidak bergerak sedikitpun dari posisinya tidur.


Ia masih setia diam dan memunggungi suaminya, meski kedua matanya masih terbuka.


Hingga perlahan, Bella merasakan tangan kekar suaminya itu memeluknya dari arah belakang. Melingkarkan satu tangannya diperut Bella, sementara tangannya yang lain bergerak menjadi bantalan sang istri.


Azam, mendekap erat tubuh istrinya itu dari arah belakang. Bahkan sesekali menciumi pucuk kepala Bella dengan sayang.


"Maafkan aku, selamat malam," ucap Azam.


Ia tahu Bella belum tidur, hanya enggan untuk menanggapi ucapannya.


Cukup lama mata keduanya terbuka dengan posisi seperti itu. Hingga lambat laun Bella yang lebih dulu terlelap. Hembusan napasnya yang teratur sampai terdengar oleh Azam.


Pelan-pelan, Azam pun membaringkan tubuh Bella dan melihat wajah sang istri yang seperti bayi. Wajahnya polos tanpa polesan sedikitpun, dan tidur dengan begitu pulasnya.


Azam, memberanikan diri untuk mendekat, mengikis jarak dan mengecup sekilas bibir ranum Bella.


Lalu menarik diri dengan senyum yang terukir dibibirnya.


"Selamat malam," ucap Azam, sekali lagi.