
"Berhenti," ucap Adam, saat melihat anak laki-lakinya mulai melangkah masuk.
Adam bangkit dari duduknya dan diikuti oleh semua orang. Sementara Azam terpaku, menatap bingung pada semuanya.
"Ayah."
Plak!
Sebuah tamparan keras langsung Azam terima, sesaat setelah ia memanggil sang ayah yang kini berdiri dihadapannya.
Azam langsung menunduk, merasakan pipinya yang panas dan kebas. Tamparan ayah Adam begitu sakit ia rasa.
"Pergi, jangan berani memperlihatkan wajahmu lagi di depanku. Anakku Azam sudah mati," ucap Adam, membuat semua orang yang mendengarnya terperangah tidak percaya.
Juga Haura, namun ia memilih diam. Kekecewaan pada sang anak sudah memuncak. Bagaimana bisa Azam menduakan Bella, istri dan juga sahabatnya sejak kecil.
Hubungan yang suci sudah Azam nodai, bahkan karena wanita itupun Azam sampai tidak bisa bertemu dengan sang nenek untuk terakhir kali.
Air mata Haura mengalir, namun dengan cepat ia hapus kembali menggunakan kedua tangannya.
"Ayah, maafkan aku, aku tidak tahu jika nenek_"
Plak!
Lagi, satu tamparan Azam dapatkan. Tapi bukan dari ayah Adam. Melainkan papa Agra.
"Kesalahanmu bukan hanya tentang nenek, tapi kamu juga menyakiti anak papa Zam. Perempuan itu sudah membuatmu buta dan bodoh sekaligus. Istri dan keluargamu sendiri kamu abaikan!" bentak Agra.
Para wanita tak sanggup lagi menahan air matanya. Mereka kembali menangis melihat pertengkaran ini. Disaat sedang berduka, keluarga mereka juga terpecah belah.
Seolah kepergian nenek, adalah awal mula kehancuran keluarga Malik.
Azam, langsung jatuh. Ia bersimpuh di kaki ayah Adam dan papa Agra. Tapi kedua pria paruh baya itu bergeming. Tidak peduli.
"Beri aku kesempatan untuk Bicara Yah," pinta Azam lirih, bahkan air matanya pun tanpa sadar sudah berjatuhan.
Penyesalan dihatinya begitu kental terasa, perihal nenek dan juga Bella.
"Kesempatanmu sudah habis. Ceraikan Bella dan pergilah dari rumah ini. Kamu bukan lagi anakku, bukan lagi bagian dari keluarga Malik."
Setelah mengatakan kata-kata itu Adam pergi. Diikuti oleh semua orang. Meninggalkan Azam bersimpuh di sana sendirian.
"Ampuni aku Yah, aku mohon, aku tidak ingin berpisah dengan Bella," ucap Azam, semua keluarganya mendengar namun memilih tetap pergi.
"Ibu!" pekik Azam.
Haura yang dipanggil pun menulikan pendengarannya. Ia terus berjalan masuk ke dalam mansion, merasakan sang suami merengkuh pundaknya.
"Bel! Bella!"
Sama, Bella pun sudah tidak peduli lagi.
"Nenek, maafkan aku Nek, maafkan aku," lirih Azam. Ia bersujud dilantai itu. Teringat akan semua kenangannya bersama sang nenek. Bagaimana nenek Zahra begitu menyayangi dan peduli padanya.
Tapi disaat terakhir sang nenek di dunia ini, dia tidak ada di sana.
Tangis Azam makin pecah. Ia merutuki kebodohannya berulang kali.
Tangis itu mereda, saat ia merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang.
Azam mengangkat wajahnya, dan melihat Ben, Arnold dan Julian di sana.
Arnold dan Julian pun merasakan kekecewaan yang sama seperti yang dirasakan oleh semua orang. Mereka juga marah bahkan tidak sudi lagi memiliki hubungan dengan Azam.
Tapi hati kecil keduanya terenyuh, nyatanya mereka tetap tidak tega melihat Azam terpuruk seperti ini. Ikatan yang terjalin diantara mereka bukan hanya sekedar kata sahabat, namun mereka sudah seperti keluarga.
Arnold dan Julian memilih tetap berada di samping sahabatnya itu.
"Bangunlah, aku akan menemanimu ke makan nenek," ucap Arnold.
Dan disinilah kini Azam bersimpuh, di samping makam sang nenek yang masih basah.
Malam semakin larut, dan mereka hanya di terangi oleh lampu sorot di pemakaman itu.
Tidak ada bulan, tidak ada pula bintang. Yang ada malah gerimis kecil yang turun.
"Nek," panggil Azam lirih.
Ia tahu nenek Zahra tidak mungkin bisa menjawab, namun Azam sungguh rindu suara neneknya itu. Bahkan berulang kali panggilan sang nenek terus terngiang di telinganya
Azam.
Azam.
Azam.
Lagi, di samping pusara itu Azam menangis. Cukup lama hingga akhirnya ia menyudahi tangisnya. Lalu bangkit dan menatap Arnold dan Julian yang berada di sampingnya.
"Maafkan aku."
Bugh!
Arnold, langsung meninju wajah Azam dengan sangat kuat. Bahkan Azam pun langsung tersungkur di atas tanah.
"Berhentilah mengucapkan kata maaf, aku sudah muak," jawab Arnold.
Julian dan Ben membantu Azam untuk bangkit.
Malam itu, mereka semua pergi menuju Bar milik Arnold.