Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 25 - Kejujuran



"Maaf, karena selama ini aku sudah menilaimu buruk," ucap Azam jujur, membuat Bella tiba-tiba diam.


Bella tidak bodoh, iapun sadar jika selama ini Azam pasti menilainya tak baik. Hal itu tentu membuat Bella semakin merasa sakit hati.


Namun setidaknya, saat mendengar ucapan Azam itu, Bella tersenyum tipis, meski senyum getir.


Setidaknya Azam, sudah mau jujur.


"Aku tahu, sejak dulu kamu memang tidak pernah memandang baik padaku," jawab Bella, ia tersenyum dan menatap Azam.


Dan Azam hanya membalas tatapan itu dengan tatapan nanar.


"Maafkan aku Bell."


"Entahlah, aku bisa memaafkanmu atau tidak. Lagipula, aku tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukaiku kan? aku juga sadar, aku memang banyak kurangnya."


Setelah mengatakan itu, Bella menurunkan pandangannya, menahan agar matanya yang terasa panas tidak sampai sampai menumpahkan air mata.


Bella makin terenyuh, kala teringat ia bahkan tak tau seperti apa ibu yang telah melahirkannya dan juga sang ayah.


Mungkin saja, ia memang lahir dari perempuan yang bukan baik-baik, atau bahkan memiliki ayah yang juga brengsek.


"Buka pintunya," pinta Bella lagi, ia bahkan langsung memunggungi suaminya dan berusaha membuka pintu yang masih terkunci itu.


Azam bergeming, merasakan perasaan bersalah yang seperti meremat hatinya.


Bukannya membuka pintu, Azam malah kembali memelajukan mobilnya. Membuat Bella, langsung lupa dengan kesedihannya dan berubah jadi marah.


"Zam berhenti! aku mau turun!" pekik Bella, namun Azam tak peduli, ia terus melaju dan acuh meski Bella berulang kali memukul lengan kirinya.


Hingga terdengar olehnya Bella menghembuskan napasnya berat, dan berhenti memukulinya.


"Apa maumu? aku sudah membuat janji bertemu dengan Zura!"


Azam, langsung mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi sang adik.


"Istriku tidak jadi menemuimu, dia pergi bersamaku," ucap Azam, pada sambungan teleponnya dengan sang adik.


Belum sempat Zura menjawab, panggilan itu langsung diputusnya.


Membuat Zura diujung sana dan Bella yang duduk disini sama-sama terperangah.


"Apa maumu?" tanya Bella lagi.


Dan Azam masih setia menutup mulutnya rapat. Sadar, jika apapun yang ia ucapkan akan selalu salah. Azam memilih diam, seraya menarik tangan kanan sang istri untuk digenggamnya erat.


"Lepas!" pekik Bella, bahkan juga menarik tangannya.


Tangan itu lepas, membuat Azam tak bisa kembali menjangkaunya. Fokusnya terbagi, antara menyetir dan sang istri.


Bella, melipat kedua tangannya didepan dada. Dan terus menatap jalanan dengan wajah kesal.


Ia tak tahu, Azam akan membawanya kemana. Mobil ini terus berjalan tanpa arah dan tujuan.


Bahkan hingga matahari nyaris tenggelam, mobil terus melaju mengelilingi kota Jakarta. Jika dihitung-hitung, mungkin mereka sudah bisa pulang pergi Jakarta Bandung. Tapi Azam, masih juga belum menepi.


"Aku capek Zam," ucap Bella lirih, tak ada lagi kemarahan yang ia tunjukkan.


Ia bahkan menatap Azam dengan tatapannya yang sayu.


Membuat Azam, tiba-tiba menghentikan mobilnya disebuah yayasan. Yayasan kasih ibu milik sang istri, tapi Bella tidak menyadari itu.


"Aku capek," ucap Bella lagi, saat mobil itu akhirnya berhenti dan Azam menoleh, menatapnya dengan lekat. Sementara Bella, sudah bersandar di sandaran kursinya, merebahkan kepala itu dan menghadap sang suami.


"Maaf."


"Aku tahu, kamu tidak akan semudah itu untuk memaafkan aku Bell. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan. Jangan menghindariku lagi, setidaknya biarkan aku berada di dekatmu," pinta Azam, sungguh-sungguh.


Bella yang sudah terlanjur lelah pun hanya bisa mendengarkan, tidak punya tenaga lagi untuk protes, menggerutu, apalagi marah-marah.


Azam, lalu kembali mengambil kedua tangan Bella dan menggenggamnya erat. Ia bahkan mencium punggung kedua tangan istrinya secara bergantian.


"Kenapa Zam? kenapa baru sekarang kamu memperlakukanku baik seperti ini? apa yang membuatmu berubah? apa karena wanita itu meninggalkanmu?" tanya Bella, bertubi.


Namun ia bicara dengan pelan, tidak menggebu ataupun diselimuti amarah yang membuncah seperti tadi-tadi.


Dilihatnya, Azam yang menggeleng pelan.


"Maafkan aku Bell, karena aku butuh waktu yang lama untuk sadar. Bahwa kamu adalah istriku." Balas Azam.


Istri. Ulang Bella didalam hati. Lagi, Bella tersenyum getir. Tetap saja ia merasa jika ucapan Azam itu hanya omong kosong.


"Aku tidak akan memaksamu untuk tetap jadi suamiku Zam. Karena aku pun tidak mau, hidup dengan orang yang tidak mencintaiku," balas Bella.


Perkara cinta, Azam memang belum bisa membalasnya dengan utuh.


"Beri aku kesempatan Bell, aku mohon," pinta Azam.


"Apa aku harus memaksamu?" tanya Azam lagi karena Bella hanya bergeming.


Lantas tak menunggu waktu lama, Azam langsung menarik sang istri dan menghujami bibir ranum itu dengan ciuman dalamnya.


Menyesap bibir itu atas dan bawah secara bergantian.


Tiap kali mendapati sentuhan suaminya seperti ini, Bella merasa langsung lemah. Ia tak bisa menolak, karena hatinya pun menginginkannya.


Pelan, Bella membalas ciuman itu. Membuat Azam, langsung memeluk tubuhnya erat.


Cukup lama keduanya berpagut, bahkan sangat lama. Hingga bibir keduanya terasa kebas dengan napas yang memburu.


Azam, lantas membersihkan bibir istrinya itu, menggunakan ibu jarinya ia menghapus saliva yang tertinggal. Lalu menangkup wajah sang istri dan kembali menciumnya sekilas.


"Sebelum kita pergi ke Jepang, aku akan menemui Arnold dan Julian terlebih dulu. Aku harus mendapatkan maaf dari mereka juga," ucap Azam, berbicara dengan dahi keduanya yang masih menyatu, bahkan napas hangat Azam masih mampu menerpa wajah Bella dengan begitu lembut.


Bella tidak menanggapi ucapan suaminya itu, ia hanya ingin melihat, apa yang akan Azam lakukan untuk menebus semua kesalahannya.


Menebus rasa sakit, hampa dan sepi yang pernah Bella rasa.


"Kita makan dulu ya, baru setelah itu pulang," ajak Azam, tapi ia masih belum menarik diri. Masih menikmati keintimannya dengan sang istri. Bahkan sesekali ia pun menciumi hidung mancung istrinya itu.


Ingin Bella merasa, bahwa iapun menyayangi Bella.


Lagi, Azam memagut bibir istrinya dalam. Membuat Bella meremaat kaos yang suaminya kenakan.


Dan didalam mobil itu, keduanya terus berpaut. Sampai rasa lapar Bella tak sanggup lagi ditahan, barulah ciuman itu putus.


Malam hari, nyaris jam 9 malam. mereka baru menemukan makan malam. Di restoran cepat saji yang menyajikan ayam goreng tepung krispi.


Lengkap dengan minuman kesukaan Bella, Leci Float.


Keduanya makan dengan lahap, meski tanpa ada obrolan sedikitpun. Sesekali Azam tersenyum saat tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu.


Pemandangan indah itu, sontak menjadi pusat perhatian semua orang.


Pasangan yang diagung-agungkan di negeri ini, bisa mereka lihat secara langsung kemesraannya.


Tidak hanya ada foto yang terambil, namun video sepasang suami istri itupun langsung menyebar di sosial media.


Memutuskan semua prasangka mereka jika rumah tangga Azam dan Bella tengah mengalami keretakan.