
Bonchap 1.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
3 hari sudah Bella berada di negara Singapura. Dia tidak tinggal sendiri, melainkan bersama Fhia. Seseorang yang amat sangat penting untuk Bella, bukan hanya sebagai assisten ataupun manajer. Namun Fhia juga menjelma menjadi seorang saudara perempuan.
Sudah ada beberapa tawaran pekerjaan yang menghampiri Bella, mulai dari show dan beberapa event juga menjadi model untuk beberapa produk.
Tapi Fhia mengatakan, Bella tidak usah bekerja dulu. Seminggu atau bahkan sebulan istirahatlah dulu, masalah rejeki nanti pasti akan ada sendiri.
Lagipula tabungan Bella masih cukup untuk membiayai yayasannya.
Hari ini di jam sama, jam 8 pagi bell apartemen Bella kembali berbunyi.
Seorang pria ber jas rapi berdiri di depan pintu sana. Membawa satu buket bunga mawar merah yang sangat indah.
"Bunga lagi?" tanya Fhia seraya menerima bunga itu.
Si pengantar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Nona, bunga untuk Nona Bella."
"Bella belum resmi bercerai, dia masih seorang nyonya," balas Fhia cepat. Entah kenapa, Fhia rasanya harus melindungi Bella dari orang ini. Seseorang yang selalu mengirimi bunga untuk Bella. Merasa jika orang itu memiliki maksud tersembunyi.
"Beberapa bulan lagi Nona Bella akan bercerai," balas orang itu santai, seolah tahu semuanya. Membuat Fhia menganga.
Lama berdiri diambang pintu, membuat Bella penasaran. Ia pun lantas menghampiri Fhia.
"Siapa?" tanya Bella.
Melihat Bella datang, pria itupun langsung menundukkan kepalanya, hormat.
"Dia lagi," umpat Bella, ia dan Fhia sudah merasa tidak nyaman dengan orang ini. Apalagi di setiap bunga yang ia kirim tidak pernah ada nama, hanya inisial ES.
Sungguh menyebalkan.
Bella, langsung merebut buket bunga di tangan Fhia dan mengembalikannya pada pria itu.
Bahkan memberikannya dengan kasar.
"Ambil ini! dan jangan pernah lagi mengirimi aku bunga!" ucap Bella dengan suara meninggi.
Bella merasa ada seorang penguntit yang selalu mengawasinya tiap teringat bunga itu.
Dan rasanya sungguh tidak nyaman.
"Maaf Nona, kali ini bukan hanya ada inisial. Tuan saya sudah menulis namanya lengkap," ucap pria itu mencari pembelaan.
Karena penasaran, Bella pun langsung merebutnya kembali. Bahkan belum sempat pria itu mengulurkannya.
Membuat seorang pria yang memperhatikan mereka di ujung koridor tersenyum. Semua tingkah Bella selalu membuatnya tersenyum seperti ini, lucu dan mempesona.
Sesuai dengan tebakkan mereka selama ini.
"I-ini Edward Saverun siapa?" tanya Fhia dengan tidak percaya.
Tidak mungkin kan Edward Saverun yang dimaksud adalah pengusaha muda di Singapura.
Orang yang memiliki derajat tinggi di negeri ini.
"Di Singapura hanya ada satu keluarga Saverun Nona. Dan hanya memiliki satu anak laki-laki bernama Edward," jelas pria itu dengan mengulum senyumnya.
Melihat wajah terkejut Fhia dan Bella sungguh menyenangkan.
Senyum itu hilang saat earphone di telinganya berbunyi.
Jaga matamu! ucap Edward di ujung sana.
Membuat sang asisten langsung menurunkan pandangan. Seraya berdesis, maaf Tuan.
Pertemuan mereka usia dan akhirnya Bella kembali menerima buket bunga itu.
"Kenapa dia selalu memberiku bunga Fhia?" tanya Bella, kini kedua wanita itu sudah kembali ke dalam kamar dan duduk di sofa.
"Bukan hanya itu, dia juga tahu kamu dan Azam akan bercerai," jawab Fhia tidak ingin bohong.
"Apa karena aku akan jadi janda jadi dia memandangku hina, mengirim bunga setiap hari lalu berharap aku akan menemuinya?" tanya Bella, namun kini dengan suaranya yang sendu.
Membuat Fhia langsung menoleh kearahnya dan langsung memeluk Bella erat.
"Karena itulah aku ingin memilih pekerjaan yang cocok untukmu, tidak seperti dulu," ucap Fhia.
Ya, Fhia memang mulai memilih dan memilah job yang akan dikerjakan Bella. Tidak menerima jika pakaian yang akan dikenakan Bella adalah pakaian yang terbuka.
"Jangan berpikir buruk tentang status janda, tunjukkan bahwa kamu kuat dan bisa," ucap Fhia lagi.
Sementara Bella hanya semakin memeluk erat Fhia, hingga tanpa sadar menjatuhkan buket bunga itu di atas lantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Edward : Apa dia menyukai bunganya?
Jo : Saya rasa tidak Tuan, saya rasa Nona Bella malah merasa risih.
Edward : Kenapa seperti itu?!
Jo : Saya rasa Nona Bella menganggap anda seorang penguntit.
Edward, menggaruk kepalanya frustasi. Si amatir yang sedang mulai jatuh cinta.