
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusanmu!" jawab Bella ketus. Ia duduk di kursi meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
"Apa ingin menemui Fhia?" tanya Azam lagi, ia duduk dimeja rias istrinya itu dan memperhatikan Bella yang asik sendiri.
"Iya, setelah itu bertemu dengan Zura."
Sebenarnya Bella tidak mau menjawab, tapi entah kenapa mulutnya berucap sendiri. Seolah otomatis.
Dirasa rambutnya cukup kering, Bella lantas menyisirnya dan memposisikan semuanya dibelakang. Lalu mulai merias wajahnya yang polos seperti bayi menggunakan beberapa cream.
Ada yang aneh dihati Azam. Dulu, sepertinya ia begitu tak suka tiap kali melihat Bella yang selalu berdandan seperti ini. Namun kini saat ia melihatnya secara langsung, ada desiran dihati Azam. Desiran aneh yang membuat ia mengukir senyumnya.
Bella, memang selalu cantik mau di apapun juga wajahnya.
Bahkan tanpa izin Bella, lagi-lagi Azam mencuri sebuah ciuman dibibir ranum itu. Menghisapnya dalam hingga dada Bella terasa tertarik.
Anggaplah Azam gila, wanita yang dulu tak ingin disentuhnya, kini sudah membuatnya candu. Apalagi, Bella sudah halal baginya.
"Azam!" pekik Bella, sungguh geram. Dilihatnya sang suami yang tersenyum tanpa dosa. Setelah membuat bibirnya sampai terasa kebas.
"Ganti baju yang lebih tertutup, aku akan mengantarmu pergi." ucap Azam, ia lalu mengecup sekilas kening Bella dan beranjak dari sana.
Menuju kamar mereka dilantai 2 dan bersiap-siap.
Meninggalkan Bella yang hatinya berdebar tak karuan.
Sejak dulu, Bella menunggu Azam melarangnya ini dan itu. Ingin tahu bahwa Azam peduli padanya. Ia sempat kecewa, saat Azam tak peduli, bahkan tetap diam saat ia nyaris telanjang dulu di apartemen singapura.
Bahkan tadi saat ia telanjaang pun Azam hanya diam dan memperhatikan. Membuat air matanya mengalir.
Tapi tadi, saat Azam memintanya untuk menggunakan baju yang lebih tertutup. Tiba-tiba hatinya tersentak. Mulai merasakan jika harapannya menjadi kenyataan.
Mendapatkan perhatian dan peduli dari Azam.
Tapi Bella yang sudah terlanjur marah, memilih untuk tidak peduli pada perintah suaminya itu.
Ia tetap menggunakan gaun merah ini dengan belahan dada yang rendah.
Azam, selesai lebih dulu. Sementara Bella masih juga belum usai didepan meja rias itu. Kini ia memasang softlens dimatanya, membuatnya terlihat berbeda.
"Kenapa belum mengganti baju?" tanya Azam, saat ia sudah kembali menghampiri istrinya.
Bella melirik dari dalam cermin, melihat sang suami yang terlihat sangat tampan dengan setelan sederhana itu. Menggunakan kaos berwarna hitam dan celana jeans. Tidak ada jas yang membuatnya terlihat seperti CEO.
Jujur saja, Bella menyukai suaminya itu, terlihat lebih santai.
Melihat Bella yang lagi-lagi mengacuhkannya, Azam dengan sendirinya membuka lemari pakaian istrinya itu. Mencari baju yang kira-kira lebih tertutup. Setidaknya dada sintal istrinya tak sampai kelihatan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bella dengan nada tak suka, tapi dia diam memperhatikan.
"Mencari baju untukmu," jawan Azam pula seraya terus mencari.
Hingga akhirnya ia menemukan satu yany baginya cukup manusiawi. Gaun berwarna hitam dengan lengan setengah tiang. Dada dan bahu istrinya akan tertutup rapat jika menggunakan baju ini.
"Pakai ini saja," ucap Azam, seraya menyerahkan baju pilihannya pada sang istri.
"Ini baju untuk menghadiri pemakaman, aku tidak mau memakainya," tolak Bella. Baju itu, memang pernah ia pakai saat menghadiri pemakaman kerabat salah satu teman modelnya.
Sebuah jawaban, yang membuat Azam bingung sendiri. Harus menjawab apalagi.
"Baju hitam tidak harus untuk ke pemakaman, pakailah," titah Azam lagi, karena hanya baju ini sajalah yang tertutup. Lain-lainnya sama saja seperti yang dikenakan Bella saat ini.
Memperlihatkan kedua dadanya dengan jelas.
"Apa ingin ku bantu menggunakan baju ini?" tawar Azam, karena Bella hanya diam. Azam, coba mengancam.
Dan Bella langsung mencebik, merebut paksa baju itu dari sang suami. Ia ingat jelas ucapan Azam tadi, yang tidak akan melepaskannya jika ia kembali telanjaang didepan Azam.
Bella hendak melangkah ke kamar mandi, namun urung ketika tiba-tiba banyak pemikiran muncul didalam kepalanya.
Benarkah Azam akan menyentuhnya?
Bella masih tak percaya, merasa jika dia bukanlah wanita yang ingin disentuh Azam.
Merasa, bahwa Azam hanya akan menyentuh Raya.
Menyadari itu, ada sesak dihatinya yang tiba-tiba datang. Teringat sejak awal, Azam memang tidak ingin menyentuhnya.
Menyadari itu, Bella berbalik dan kembali menghampiri suaminya.
"Pakaikan," pinta Bella seraya kembali menyerahkan baju itu pada sang suami. Membuat Azam langsung menelan salivanya dengan susah payah.
Ucapan Bella tak pernah main-main.
Tanpa banyak kata, Azam kembali menerima baju itu, menyampirkannya di kursi meja rias Bella dan mulai menanggalkan baju sang istri.
Melepas pengait baju dibalik tengkuk Bella, dan menurunkannya secara perlahan melalu lengan.
Baju itu jatuh di atas lantai, menyisahkan tubuh sang istri yang hanya menggunakan dalamann.
"Ku harap kamu masih ingat apa kata-kataku tadi," ucap Azam, ia lalu menarik pinggang sang istri dan menciumi bibirnya.
Melumaat dan menyesapnya dalam. Hasratnya sudah bangkit dan tak bisa dibendung lagi. Bella selalu saja mengujinya.
Apalagi saat merasa Bella membalas ciumannya itu, Azam langsung mendorong sang istri hingga terbaring di atas ranjang, menindihnya dan terus memperdalam pagutan.
Suara decapan terdengar jelas.
Menjadi tanda bahwa bukan hanya Azam yang menginginkan ini, tapi juga Bella.
Bahkan Bella mendorong pelan dada suaminya, menjadikan Azam yang berbaring lalu ia yang menindih tubuh suaminya itu.
Bella menarik diri, dengan napasnya yang memburu, ia menatap lekat wajah sang suami yang berada dibawahnya.
Lalu tangannya bergerak, untuk melepaskan baju suaminya itu. Membuat Azam bertelanjang dada.
"Apa kamu akan melakukannya?" tanya Bella.
sebuah pertanyaan yang membuat Azam bangkit dan memangku istrinya itu.
Menjawabnya dengan sebuah ciuman dalam dan tangan yang berkelana kemana-mana. Membuka pengait bra sang istri dan membuangnya asal. Lalu menghujami banyak ciuman di kedua dada yang terbuka itu.
Tubuh Bella terasa panas, namun ia tak bisa bohong. Ia menginginkan sentuhan suaminya ini.
"Apa kamu benar-benar sudah mengakhiri hubunganmu dengan wanita itu?" tanya Bella.
Membuat Azam melepaskan kulumannya. Dan membalas tatapan sang istri tak kalah lekat.
"Iya, aku sudah mengakhirinya sebelum aku menjemputmu di Singapura."
"Jangan bohong."
"Tidak."
"Apa buktinya?"
"Kamu mau bukti apa? aku akan menunjukkannya langsung."
"Ajak aku bertemu dengan wanita itu." ucap Bella, membuat hati Azam sesaat tersentak.
Sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala.
"Baiklah," jawab Azam.
Sebuah jawaban yang membuat Bella bisa bernapas lega.
Setelah itu, Bella turun dari tubuh suaminya, memungut bra dan kembali memakainya.
"Ayo pergi, Fhia sudah menunggu." ajak Bella.
Membuat Azam, sampai kehabisan kata-kata.