
Azura, kembali berlari menghampiri Julian di dalam kamarnya. Ia membawa satu stell lengkap baju Julian, bahkan termasuk dalaman.
Julian, ternyata sudah menunggu di ruang tamu, tidak lagi berada di dalam kamarnya.
Duduk, dengan menyandarkan tubuhnya di sofa. Dan mendadak tegap saat melihat Azura sudah kembali dengan napasnya yang terengah.
"Kenapa lari-lari, aku tidak memintamu untuk buru-buru," ucap Julian, ia bangkit dan menghampiri Azura hingga berdiri tepat dihadapannya. Julian, bahkan sedikit menghapus peluh yang mulai membasahi dahi Azura.
"Habis mandi malah jadi gerah kan," ucap Julian pula, penuh perhatian.
Sementara Azura hanya diam, mengatur napasnya agar kembali normal.
"Inih, pakailah bajumuh," ucap Azura dengan napasnya yang terengah. Terdengar menggelikan ditelinga Julian, seperti mendesaah.
Dan sialnya lagi, bayangan tubuh polos Azura kembali terbayang jelas diingatannya.
Seketika, Julian jadi teringat akan sesuatu, perasaannya.
"Zura," panggil Julian, lalu memberi jeda. Membuat Azura menatapnya dengan aneh. Kenapa harus panggil-panggil, langsung saja bicara, pikirnya.
"Apa kamu belum bisa melupakan abang Labih?" tanya Julian, ia dan Azura saling pandang dengan tatapan yang sama-sama lekat.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" jawab Azura, dengan memberi pertanyaan pula.
"Karena aku ingin tahu perasaanmu sekarang, apa benar aku tidak ada disana?"
Hening.
Lidah Azura kelu untuk menjawab pertanyaan itu. Tentang perasaannya pada Julian.
Sahabat sedari kecil yang selalu ada untuknya. Azura, memang merasa kehilangan jika Julian tidak ada. Merasa sedih jika Julian bersedih. Dan ikut bahagia ketika Julian bahagia.
Tapi Azura yakin itu bukan cinta, hanya perasaan diantara sahabat.
"Kenapa diam?" desak Julian, ia bahkan mengikis jarak, sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya di wajah Azura.
Sontak saja, Azura jadi gugup.
"Ja-jaga jarakmu," ucap Azura, gagap. Ia bahkan mundur selangkah. Memberi jarak aman. Apalagi kini Julian tidak memakai baju. Hanya handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aku tanya, apa dihatimu benar-benar tidak ada aku?"
"Ten-tentu saja ada, ada Arnold juga, ada Bella juga, ada abang juga, ada Ryu, ada Haruka," jawab Zura cepat, seraya melihat asal ke sembarang arah.
"Bukan itu maksudku. Sini mendekat!" titah Julian. Namun Azura tetap bergeming, membuat ia yang mengambil langkah dan mendekap pinggang Azura erat.
"Ayo kita ciuman, kalau kamu membalas ciumanku berarti kamu mencintai aku," ucap Julian, membuat kesepakatan.
Membuat kedua netra Azura membola.
"Mana boleh cium ciuman, kita belum menikah."
"Ya sudah ayo kita menikah, apa susahnya," balas Julian, membuat Azura diam seribu bahasa.
Menikah, artinya mengikat janji suci. Seumur hidup waktunya hanya akan dihabiskan bersama sang suami. Sementara dihati Azura, masih berharap jika suaminya kelak adalah abang Labih.
Labih yang kini sudah memiliki kehidupannya sendiri. Mempunyai anak dan menjadi dosen di tempatnya kuliah dulu. Istri Labih sudah meninggal 2 tahun lalu. Membuat Azura kembali berharap.
"Cium aku dan lihat, kamu membalasnya atau tidak."
Dan setelah mengatakan itu, Julian langsung menahan tengkuk Azura dan melabuhkan sebuah ciuman dalam dibibir ranum itu.
Sepersekian detik kedua netra Azura membola, merasakan bibirnya disesapi oleh Julian. Zura pikir ia akan merasa jijik, namun akhirnya ia malah menutup mata.
Tubuhnya seperti tersengat, hingga ia memeluk pinggang Julian erat.
Sementara bibirnya terus dilumaati oleh Julian, membuatnya lambat laun membuka bibir itu dan membalas.
Di dalam ciumannya, Julian tersenyum. Lalu memangku Azura diatas sofa dan terus saling berpaut.
Bibir keduanya terasa kebas dan barulah ciuman itu terlepas. Bibir mereka sama-sama basah dan nampak begitu merah.
"Pulang dari sini kita menikah," ucap Julian.
Membuat Azura langsung memukul dadanya yang polos.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makan malam.
Duduk melingkar di salah satu meja, malam ini mereka bertemu dengan Haruka dan Ryu.
Rencananya, besok malam baru digelar pertunangan itu.
Para wanita duduk berdampingan, heboh sendiri dengan bahan pembicaraan mereka.
Sementara Ryu yang duduk disebelah Azam pun memulai pembicaraan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, ku lihat Arnold menghindarimu?" tanya Ryu, si pengamat terbaik diantara mereka semua.
Azam bingung harus menjawab apa. Diantara mereka hanya Ryu dan Haruka lah yang belum mengetahui ulahnya. Dan Azam pun tak ingin Ryu dan Haruka sampai tahu.
"Tidak ada apa-apa Ryu, semuanya baik-baik saja," jawab Azam.
Kemarin, Arnold memang sudah mengatakan jika ia memaafkannya. Tapi Arnold juga mengatakan jika ia butuh waktu untuk bisa kembali seperti dulu.
Menyakiti wanita yang dicintainya, membuatnya juga merasa sakit hati.
Dan sakit itu, tidak bisa dibohongi.
"Zura, sebaiknya lupakan abang Labih, kamu harus melanjutkan hidupmu juga. Lebih baik terima Julian," ucap Haruka. Kini, Azura duduk diantara kedua sahabatnya.
Bella sudah menikah, Haruka bertunangan dan Dia yang tidak ada kejelasan.
Apa jodohku memang Julian. Batin Azura.
Ia tidak menjawabpi ucapan Haruka, hanya mencebikkan bibirnya.
Makan malam dan pertemuan mereka usai saat jam 9 malam. Haruka dan Ryu pamit pulang.
Sementara Azam dan yang lainnya kembali ke kamar.
Di dalam lift, Julian menggenggam erat tangan Azura. Seraya buka suara.
"Pulang dari sini, aku akan merencanakan pernikahan dengan Azura," ucap Julian, membuat semua orang terkejut. Termasuk gadis yang namanya disebut.
"Julian!" pekik Azura, dengan suaranya yang tertahan.
"Lepaskan tanganmu!" ucap Azam, sinis, saat melihat tangan adiknya digenggam erat oleh Julian.
Dengan terkekeh, Julian melepaskan genggamannya itu.
"Memangnya Azura mau menikah denganmu?" tanya Azam lagi.
"Tanya saja dengan Zura, mau tidak," balas Juliam dengan percaya diri.
Jika didesak seperti ini dan tadi mereka sempat berciuman panas, Julian yakin Azura akan langsung menjawab iya.
Di dalam hatinya, Julian mulai berhitung. Menunggu jawaban Azura.
"Kamu mau menikah dengan Julian?" tanya Azam, mewakili Bella dan Arnold.
Satu. Batin Julian.
Dua.
Tiga!
"Iya mau!" jawab Azura, seperti tidak ihklas. Julian tidak peduli, ia malah terkekeh.
"Ya sudah, katakan saja niat kalian pada ayah dan ibu besok."
Azura, makin mencebik. Tidak menyangka hidupnya akan secepat ini berubah.
Hanya karena sebuah ciuman.
Ciuman pertamanya.