Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 27 - Berlagak Seperti Orang Bodoh



Sehabis mandi panas, kini Azam dan Bella sama-sama berada di walk in closet mereka.


Sama-sama menggunakan handuk kimono berwarna putih dan sama-sama sedang memilih baju.


Pagi ini juga, Azam akan menemui Julian dan Arnold. Sementara Bella akan menemui Zura, karena kemarin mereka gagal bertemu.


Pergerakan tangan Bella yang sedang memilih-milih baju terhenti, saat ia merasa ada 2 lengan besar yang memeluknya erat dari arah belakang.


Dan saat Bella menoleh, ia mendapati pipinya yang dikecup oleh sang suami.


"Jangan pakai baju yang itu, aku tidak suka," ucap Azam, saat melihat Bella memegang baju berwarna peach dengan belahan dada rendah.


"Kenapa? baju ini bagus? apa aku terlihat seperti wanita yang tidak punya harga diri saat menggunakan baju ini?" tanya Bella, bertubi. Lengkap dengan nada bicaranya yang ketus.


Dan Azam menjawabnya bukan dengan kata-kata, melainkan dengan cara memasukkan satu tangannya kedalam handuk sang istri, melalui belahan kimono didepan dada itu.


Meremaat isinya dengan gemas.


"Karena ini hanya milikku, aku tidak rela ada orang lain yang melihatnya," jawab Azam, setelah berhasil membuat Bella menganga.


Azam bahkan langsung menurunkan handuk sang istri hingga jatuh di lengan. Membuat dads itu menyembul dan membuat banyak tanda, kissmark yang begitu jelas.


Bella hanya bisa merintih, merasakan darah haidnya jadi mengalir lebih deras.


"Iya iya, aku akan pakai yang tertutup. Tapi lepaskan dulu aku," pinta Bella, yang tak kuat lagi menahan gejolak. Permainan mulut Azam dikedua pucuknya, membuat ia menegang.


Dan mendengar Bella berucap seperti itu, Azam dengan perlahan menyelesaikan permainannya. Lalu kembali menutup dada sang istri menggunakan handuk itu.


"Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku, jadi hanya aku yang berhak melihatnya."


Bella, langsung mencebik.


Ingin segera ganti pembalut lagi.


Pagi itu, Bella membuat sarapan untuk mereka berdua. Di dapur pun Azam terus memeluk erat sang istri dari arah belakang. Dengan sesekali memainkan tangannya nakal.


Diperlakukan seperti ini, perlahan Bella mulai tersenyum.


Merasa Azam memang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki rumah tangga mereka.


Bella bahkan merasa, kini mereka sudah seperti pengantin baru.


Azam, lebih dulu mengantar Bella ke Malik Kingdom, bahkan ia ikut turun dan mengantar sang istri sampai berada di ruangan sang adik.


Azura, yang kini menduduki posisi sebagai Manajer keuangan di MK.


Melihat Azam ikut datang, Zura pun menatap tak suka pada kakaknya itu. Bahkan Zura terkesan mengabaikan kehadirannya.


"Abang langsung pamit Ra," pamit Azam, dan hanya dijawab deheman oleh sang adik.


Tapi kedua netra Zura langsung membola, saat melihat Azam yang berpamitan pada Bella dengan mengecup sekilas bibir istrinya itu.


Membuat Zura yang melihatnya pun jadi panas dingin.


Setelah sang kakak benar-benar keluar dari ruangannya itu, Azura langsung bangkit dari kursinya dan menarik Bella untuk duduk disofa.


"Ke-kenapa kalian cium-ciuman seperti itu?" tanya Zura, mendadak gagap. Saking terkejutnya melihat pemandangan itu. Jika hanya akting, rasanya Bella tak akan mau. Apalagi Zura pun melihat dengan jelas, jika Bella pun juga memunyungkan bibirnya, menyambut ciuman sang kakak.


Seolah ciuman itu, sama-sama mereka inginkan.


Lalu, apa kabar dengan Raya?


"Kenapa memangnya? kami kan sudah menikah, jadi boleh seperti itu. Kecuali kamu dan Julian, mana boleh cium-ciuman," balas Bella.


"Mak-maksudku bukan seperti itu. Inikan ditempat umum, mana boleh sembarangan ciuman," kilah Zura pula. Mencari aman.


Ia bahkan mencebik, membuat Bella jadi terkekeh.


Bella pun sangat menyayangi Azura. Rasanya pun ia tak sanggup jika pernikahannya harus hancur dan mengecewakan semua orang yang disayanginya.


"Zura, sebenarnya, kemarin Azam sempat membuatku marah. Tapi sekarang dia sudah meminta maaf dan bilang tidak akan melakukan kesalahannya itu lagi. Tapi tetap saja aku ragu, bagaimana menurutmu?" tanya Bella, bertanya dengan penuh teka teki, karena Bella tak menyebutkan apa kesalahan Azam itu. Kesalahan yang membuatnya sampai marah.


Tapi Zura cukup mengerti, kemana arah pembicaraannya.


"Memangnya abang melakukan kesalahan apa?" tanya Zura, pura-pura tidak tahu.


Tapi Bella tetap diam, seolah enggan membicarakan keburukan Azam. Apalagi, membicarakannya pada Zura.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin bercerita secara utuh. Aku menganggap, itu adalah privasi di rumah tanggamu," timpal Zura lagi, bijak.


Ia bahkan menggenggam kedua tangan Bella, seolah memberi dukungan.


"Setiap orang selalu punya kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya, ku rasa abang juga berhak mendapatkan itu," jelas Zura.


Sejak awal, ia memang tidak ingin jika Bella dan Azam sampai berpisah. Tahu jika sang kakak mulai memperbaiki rumah tangganya, tentu saja Zura merasa bahagia. Bahkan akan mendukung keputusan kakaknya itu.


Menganggap Raya hanyalah sebuah kerikil yang menghalau jalan rumah tangga mereka.


Ujian, yang harus mereka lewati.


"Aku tau, aku bahkan sadar jika semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Aku juga berusaha untuk kembali mempercayai Azam, tapi kadang, aku juga masih ragu," balas Bella lagi.


Kadang, saat tengah malam ia terbangun. Bella melihat Azam yang tertidur pulas disampingnya.


Bella masih bertanya-tanya, benarkah ini nyata dan bukan mimpi. Benarkah Azam hanya suaminya dan bukan kekasih wanita itu lagi.


Hanya membayangkan malam-malam itu, Bella malah menangis.


Membuat Zura pun ikut merasakan sesak. Namun sekuat tenaga, Zura berlagak menjadi orang bodoh, seolah tidak tahu apa-apa.


"Loh, loh, kok nangis sih Bell, jangan menangis disini!" pelik Zura, tak terima ruangannya malah dijadikan tempat menangis.


Tapi Zura bergerak, menggeser tubuhnnya dan memeluk Bella erat. Bahkan berulang kali Zura mengelus punggung kakak iparnya itu dengan sayang.


"Percayalah Bell, jika kamu ada masalah dengan abang. Aku akan tetap membelamu dibanding dia," ucap Zura lantang, membuat Bella bisa tersenyum kecil.


"Bohong, pasti kamu akan tetap membela Azam."


"Tidak, aku janji akan selalu berada di sampingmu," balas Zura, ia bahkan langsung melerai pelukan mereka dan mengulurkan jari kelingkingnya.


Membuat sebuah janji, persis saat mereka masih kecil dulu.


Bella, langsung menghapus air matanya dan menautkan jari kelingkingnya pada sang adik ipar.


"Janji?" tanya Bella sekali lagi.


Dan Azura langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Janji!" jawab Zura, lantang.


Dan keduanya langsung tersenyum lebar.


Bersikap kekanak-kanakan seperti ini kadang lebih membantu untuk memperbaiki suasana hati, ketimbang terus memikirkannya dengan keras.