Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 28 - Rindu Kebersamaan Ini



Azam, kini sudah sampai di hotel milik keluarga Julian.


Luxurious Hotel.


Sebelumnya, Azam memang belum membuat janji temu, namun ia tetap mendatangi ruangan sahabatnya itu.


Dan ternyata, pagi itu Julian tidak di sana. Tapi sedang bertemu dengan pelanggan VVIP hotel ini.


Sekretaris Julian mengatakan, jika tuannya itu akan kembali saat jam istirahat siang tiba.


Akhirnya, Azam memilih menunggu. Duduk di kursi tunggu yang tersedia di sana. Sang sektretaris yang tidak tega melihat anak keluarga Malik menunggu pun lantas menghubungi sang tuan.


Mengatakan kepada Julian jika Azam Malik datang. Tapi Julian memilih tidak peduli dan tetap bekerja sesuai jadwalnya.


Julian kembali, saat jam tepat menunjukkan angka 11 siang. Dan Azam sudah menunggu selama 2 jam.


"Ku pikir kamu sudah pergi," ucap Julian sebagai tanda sapanya. Tapi ia terus berjalan dan melewati Azam begitu saja.


Julian masih kesal saat teringat pertemuan terakhir mereka. Saat Azam menjawab panggilan dari wanita itu.


Azam bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Julian. Kini, mereka sudah berada di ruangan itu, duduk di sofa saling berhadapan, dengan meja sebagai penghalang.


"Ada apa?" tanya Julian langsung, tidak ingin basa basi. Tiap ia bertemu dengan Azam seperti ini, ia sudah merasa menghianati Bella pula.


"Maafkan aku Julian," jawab Azam akhirnya, membuat Julian mengerutkan dahinya, mendadak bingung.


"Maaf?" ulang Julian lagi dengan nada tidak percaya. Bagaimana bisa kata Maaf itu sampai keluar dari mulut Azam. Dilihatnya, Azam yang mengangguk.


Lalu menjelaskan duduk permasalahannya. Bagaimana bisa ia memiliki hubungan dengan Raya, mencampakkan Bella dan kini ingin kembali rujuk bersama istrinya itu.


Azam mengaku salah.


Sejak awal, hubungannya dengan Raya memang salah. Azam sudah tahu jika suatu saat nanti ia akan menikah dengan Bella, namun tetap saja berhubungan dengan Raya. Saat ia tumbuh remaja, Azam mulai membandingkan antara Bella dan Raya. Dan selalu melihat jika Raya lebih baik dari calon istrinya itu, Bella.


Sikapnya, tingkah lakunya, kepribadiannya, kerja kerasnya, semuanya dimata Azam Raya selalu lebih terlihat sempurna.


Tapi untuk memperjelas hubungan mereka, Azam belum punya cukup keberanian untuk berbicara pada sang ibu.


Haura, selalu mengatakan kepada Azam, jika ia kelak harus menjadi suami yang baik untuk Bella. Menyayangi Bella dan selalu melindungi sang istri. Bella kecil sudah banyak terluka, karena mengetahui jika ia sudah dibuang oleh kedua orang tuanya. Karena itulah, Haura selalu memohon kepada Azam untuk terus membahagiakan Bella.


Saat itu Azam hanya bisa mengangguk, dan terus menunda mengungkapkan tentang Raya.


Hingga akhirnya pernikahan itu tiba. Dan Azam tetap belum keluar dari ketidakmampuannya untuk bicara jujur.


Di awal pernikahan, Azam tak bisa dengan mudah menerima Bella. Dan saat Bella menyibukkan dirinya, Azam pun kembali berhubungan dengan Raya.


Sampai akhirnya, Bella mengetahui itu semua. Sampai akhirnya, Arnold, Julian dan Zura pun tahu.


Tiap hari Bella selalu memakinya, berteriak dan memandangnya jijik. Jujur saja, Azam tidak terima. Dan berakhir terus memperlakukan Bella dengan kasar. Tapi semenjak hari itu, semenjak Bella mengetahui semuanya, Azam jadi terus memikirkan Bella. Seolah isi hati dan kepalanya jadi selalu penuh tentang Bella. Perasaan bersalah yang membuatnya tidak tenang.


Apalagi saat ia dan Bella akhirnya tinggal bersama.


Azam, mulai merasa jika Bella tidak seperti yang ia pikirkan selama ini.


Satu per satu tentang Bella, mulai meruntuhkan harga dirinya. Seseorang yang ia anggap selama ini begitu rendah, ternyata memilki hati yang begitu mulia.


"Bella adalah gadis yang baik, dan aku menyesal sudah menyakitinya." ucap Azam.


Tapi Julian tidak langsung percaya, ia masih memandang Azam dengan tatapan tak suka.


Azam tak langsung menjawab, ia terlebih dulu membuang napasnya pelan.


"Ya, aku memang menyesal. Harusnya aku tidak menyeretnya dalam masalah ini. Semuanya memang salahku Julian. Tapi mulai sekarang aku akan memprioritaskan Bella, karena dia adalah istriku."


Mendengar itu, kini Julian yang diam. Dia pun bingung harus bagaimana. Di satu sisi ia masih sepenuhnya percaya pada Azam, tapi disisi lain ia pun tak bisa menghakimi orang lain.


Sadar, setiap orang punya kesalahan kesalahannya sendiri.


"Satu yang perlu kamu tahu Zam, Raya itu bukanlah perempuan baik. Jika dia adalah wanita baik seperti di bayanganmu, dia tidak akan pernah mau menjalin kasih saat kamu sudah menikah," ucap Julian, sesuatu yang selalu ingin ia katakan.


Dan Azam tidak menjawab apapun, hanya diam.


Azam sadar, untuk mengembalikan semuanya seperti dulu tidak akan mudah. Yang harus ia lakukan hanya satu, jangan menyerah untuk kembali mendapatkan istri dan teman-temannya.


Azam jadi teringat ucapan ayahnya saat ia kecil dulu.


Bahwa sahabat adalah harta yang paling berharga setelah keluarga.


"Maafkan aku," ucap Azam sekali lagi, dan Julian pun menganggukkan kepalanya.


Siang itu juga, Julian dan Azam mendatangi cafe milik Arnold. Jika siang seperti ini Arnold akan berada di cafe dan saat malam ia akan berada di Bar.


Menggunakan Apron di dadanya, Arnold ikut melayani para pembeli yang datang untuk makan siang. Ia bahkan tak segan untuk mengangkat piring kotor meski cafe ini adalah miliknya.


Cafe yang berada ditengah-tengah kota dengan pasar orang-orang menengah keatas.


Langkah Arnold yang sibuk tiba-tiba terhenti saat ia melihat Julian datang bersama Azam.


Seketika hatinya yang baik-baik saja berubah jadi kesal.


Tak ingin membuat keributan di cafe, akhirnya Arnold mengajak sahabat dan mantan sahabatnya ini menuju atap cafenya. Rooftop yang dijadikan tempat istirahat para karyawan.


Dengan melenggangkan kedua tangannya di pinggang, Arnold menatap Azam.


"Ada apa?" tanya Arnold langsung.


"Tidak bisakah kita makan dulu, aku lapar," Julian yang buka suara.


Membuat Arnold berdecak kesal. Sementara Azam mengulum senyum, ia rindu sekali kebersamaan ini. Kebersamaannya dengan Arnold dan Julian. Juga semua temannya yang lain, Haruka dan Ryu, Bella dan Zura.


Akhirnya Arnold meminta salah satu pelayannya untuk menyajikan makan siang tiga porsi di di atas rooftop itu.


Mereka makan bersama dimeja kayu panjang yang tersedia di sana.


"Aku tidak peduli tentang kisahmu dengan wanita itu, disaat kamu sudah memutuskan menikah dengan Bella, saat itu juga kamu sudah mengambil tanggung jawab tentang hidup Bella, membahagiakan dia, menyayangi juga membimbing," tegas Arnold, saat Azam mengucapkan kata maaf dan penyesalan.


"Kamu tahu kan aku mencintai Bella? sekali lagi kamu menyakiti dia, aku akan merebutnya darimu," ancam Arnold pula tanpa segan.


Membuat Kedua netra Azam langsung membola, bahkan berniat marah mendengar ucapan itu.


Tapi emosinya ia tahan saat Julian menyentuh bahunya.


"Bukan hanya Arnold, ku rasa di luaran sana, juga banyak yang menyukai Bella. Jadi jangan sia-siakan kesempatanmu kali ini." Julian memperingati.


Membuat Azam ingin segera pulang dan menemui sang istri. Mengatakan pada Bella langsung, bahwa kini Bella hanyalah miliknya, selamanya.