Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 35 - Inilah Dunia Bella



Sampai di depan pintu kamarnya, Bella tiba-tiba menghentikan langkah. Ia, lalu memanggil Azura.


Mengajak sang adik ipar untuk jalan-jalan di GINZA saja daripada langsung tidur.


"Tapi aku mau tidur Bell." Malah Azam yang menjawab.


"Ya sudah tidur saja, kan yang aku ajak Zura, bukan kamu," jawab Bella, membuat Arnold terkekeh.


"Ayolah, biar aku temani," timpal Arnold pula pada kedua wanita itu.


Lalu tanpa persetujuan Azam dan Julian, ketiga orang ini langsung berlalu menuju lobby hotel dan pergi ke Ginza.


"Sabar Zam, malam masih panjang," ledek Julian. Ia bahkan menepuk bahu Azam pelan, lalu terkekeh.


Mau tidak mau, akhirnya kedua pria ini pun mengikuti keinginan para wanita.


Menuju Ginza-Tokyo.



Pusat perbelanjaan termewah.


Berbicara soal Ginza rasanya tidak akan bisa memisahkannya dari kalimat “kelas atas”. Bagaimana tidak, distrik ini memang dikenal sebagai kawasan perbelanjaan khusus orang-orang kaya.


Bahkan kemewahan kawasan ini disebut-sebut mengalahkan Manhattan, Beverly Hills, hingga Champs Elyssee yang tersohor itu. Dengan pamornya yang demikian, tak heran jika seluruh jalanan dan gedung-gedung yang menjulang di daerah Ginza terlihat begitu elegan.


Bella dan Azura begitu antusias, bahkan mereka dengan senang memilih ini dan itu. Juga membeli beberapa barang yang mereka suka.


Bella, membeli lebih banyak. Beberapa baju yang pas ia gunakan saat menghadiri acara-acara mode.


Saking asiknya berbelanja, tidak terasa kini sudah tengah malam. Bahkan nyaris menyentuh jam 1 dini hari.


Julian, langsung mencekal tangan Azura dan mengajaknya pulang.


Arnold hanya terkekeh saja melihat kedua gadis itu, ternyata mereka sama saja, yang suka kalap ketika melihat barang bagus.


"Aku akan pulang bersama Julian dan Zura," ucap Arnold pada Azam, karena kini Bella sedang mencoba beberapa heels di kursi yang tersedia.


Azam, hanya menganggukkan kepalanya. Lalu menoleh pada sang istri yang masih sibuk sendiri.


Akhirnya, ia menghampiri dan ikut duduk disebelah Bella.


"Bukannya kamu sudah beli heels, kenapa beli lagi?" tanya Azam.


"Itu untuk baju yang warna merah, ini untuk baju yang warna hijau."


Azam, terkekeh. Merasa lucu dengan jawaban istrinya itu.


"Pilih yang warna netral, bisa kamu pakai di semua baju."


"Tidak mau, fans ku sangat teliti, mereka pasti tahu jika aku tidak mengganti heels."


Azam terdiam. Inilah dunia Bella yang masih sulit ia terima. Tapi kini, Azam akan coba mengerti, memahami jika ini adalah profesi sang istri.


"Tenang saja, aku tidak akan meminta uangmu untuk membeli ini semua," ucap Bella, membuat senyum Azam perlahan surut.


"Kenapa begitu, harusnya kamu habiskan uangku," balas Azam.


Sebuah jawaban yang membuat Bella mengulum senyumnya.


"Benarkah? kamu tidak marah aku banyak belanja seperti ini?" tanya Bella, bertubi.


Dan dilihatnya Azam yang menggeleng.


"Tidak," jawabnya singkat.


Saat itu juga, Bella langsung memeluk Azam erat dan Azam pun membalasnya tak kalah erat.


Ternyata, melihat Bella yang bahagia seperti ini, membuat hatinya menghangat. Ikut merasa bahagia dan tenang sekaligus.


"Besok kita kembali lagi jika masih ada yang ingin kamu beli, sekarang kita pulang ya? ini udah larut, besok adalah hari penting," jelas Azam dan Bella mengangguk dengan patuh.


Kembali ke kamar hotel mereka saat jam setengah 2 dini hari.


Azam langsung mengirim pesan di grup whatsapp mereka. Mengatakan jika besok pagi ia dan Bella akan sarapan di kamar. Tidak ikut turun ke restoran.


Pesan itu tidak ada yang membalas, karena semua temannya sudah terlelap. Hanya tinggal ia dan Bella saja yang masih terjaga.


Berbenah beberapa menit, baru mereka merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Azam, langsung memasang lengannya, meminta Bella untuk menjadikannya bantalan. Dan tanpa perdebatan, Bella menuruti.


Malam itu, mereka tertidur dengan saling memeluk erat.


Bahkan saat pagi menyapa, Bella terbangun diposisi yang sama.


Azam, masih memeluknya erat.


Dengan mata yang rabun, Bella tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore harinya, Adam, Haura dan juga Agatha sampai di Tokyo. Mereka juga menginap di hotel Shangri-La.


Berderet dengan kamar anak-anaknya, sebelumnya mereka memang sudah melakukan pemesanan di awal.


Agatha, tidur bersama sang kakak, Azura.


"Harusnya kamu kemarin saja kesininya, tadi malam mbak takut tidur sendirian," ucap Azura, seraya membantu sang adik untuk membereskan koper miliknya.


"Kemarin kan aku masih kuliah mbak, ads bimbingan lagi," jawab Agatha yang terdengar seperti sedang mengeluh.


"Kan bimbingannya sama abang Labih, pasti dipermudah."


Agatha, langsung mencebik.


Abang Labih memang abang mereka. Tapi saat di kampus abang akan bersikap sangat profesional, tidak ada abang adik di sana. yang ada hanyalah dosen dan mahasiswa.


"Kamu sudah makan?" tanya Azura pula, saat mereka selesai berberes.


"Sudah, ayah dan ibu juga sudah. Tinggal menunggu nanti malam saja, pertunangan kak Ryu dan kak Haruka."


Azura, menganggukkan kepalanya.


Lalu keluar dari dalam kamar itu dan memutuskan mengunjungi kamar ayah dan ibunya.


masuk ke sana, kedua netra Azura langsung membola, saat ia melihat Julian sudah di sini. Duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya dengan tatapan yang serius.


Apa? jangan-jangan Julian mau bilang tentang pernikahan itu? oh my god!. Batin Azura, merutuk.


"Nah ini, yang dibicarakan datang, sini duduk," ucap Adam pada kedua anaknya.


Dengan pikiran yang berkecamuk, Azura duduk lalu disusul oleh sang adik.


"Ada apa Yah? kok serius banget," tanya Agatha, yang tidak tahu apa-apa.


Dan dengan tersenyum, Adam menjelaskan apa yang terjadi. Julian, meminta izin untuk kelak saat mereka kembali ke Indonesia Julian akan langsung melamar Azura.


Dan tak lama setelahnya menggelar pernikahan. Adam setuju setuju saja, asalkan Azura bahagia iapun akan bahagia.


dalam kesempatan itu juga Adam menanyai sang anak, benarkah Azura bersedia menikah dengan Julian.


Setelah menelan Saliva nya dengan susah payah, akhirnya Azura pun menjawab iya, dia bersedia.


Haura, langsung mengucap syukur. Ia sangat bahagia mengetahui sang anak sudah siap untuk menikah.


Apalagi dengan Julian, seorang pemuda yang ia tahu pasti memiliki kepribadian yang baik, bertanggung jawab dan bisa membimbing Azura.


"Ayah dan ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucap Adam, mengakhiri pembicaraan mereka sore itu.