
"Bella!"
Panggil Azam seraya bergerak cepat menahan pergelangan tangan sang istri.
Mereka, berhenti tepat disebelah mobil Azam yang berada di parkiran cafe.
Bella hendak menepis tangan itu, namun urung karena Azam lebih dulu menariknya. Membawa Bella masuk ke dalam dekapannya.
Memeluknya erat, memberi isyarat bahwa ia tidak ingin melepaskan Bella.
"Lepas!" lawan Bella dengan tubuhnya yang meronta, namun Azam tak menuruti. Ia terus memeluk Bella erat. Bahkan menyembunyikan wajah istrinya itu di dalam dadanya.
"Aku benci padamu Zam! Benci!" rutuk Bella, seraya memukul punggung sang suami.
Sungguh, Bella sangat kesal. Ada perasaan mengganjal dihatinya yang membuatnya tidak nyaman.
Andai sejak awal mereka tidak menikah, hidupnya tidak akan sekacau ini. Hati yang terus terasa sesak dan menyakitkan. Andai sejak awal Azam mengatakan yang sebenarnya, iapun akan menolak keras pernikahan ini.
Tapi Azam, malah mempermainkan mereka semua.
"Aku benci padamu! kalian menjijikkan!"
Dan Azam hanya diam, menerima pukulan dan cacian itu. Ia terus memeluk istrinya erat. Baru sekarang Azam sadar, jika ia sudah bertindak bodoh. Menyakiti Bella bahkan menghianati kepercayaan kedua orang tuanya.
"Aku memang menjijikkan Bell, maafkan aku."
"Bodoh!"
"Iya, aku bodoh."
"Brengseek!"
Terus, Bella mengumpat dan mencaci maki. Hingga ia lelah sendiri dan membalas pelukan sang suami.
Sementara Raya, menatap nanar pemandangan dibawah sana. Azam dan Bella nampak jelas dari jendela kaca lantai 2 cafe itu.
Saat Raya hendak pergi dari sana, Ben menahannya.
"Kenapa Ben? kenapa aku tidak boleh pergi?" tanya Raya, ia masih meneteskan air mata.
"Maaf Nona, Anda bisa pergi setelah 1 jam kepergian Tuan Azam dan Nyonya Bella. Hal ini untuk menghindari adanya gosip," jelas Ben. Memang begitulah aturannya.
Membuat Raya kehabisan kata-kata. Ternyata bukan hanya Azam saja yang tega padanya. Namun Ben juga begitu. Padahal Raya kira, Ben pun bersimpati padanya. Tapi ternyata, Ben tetaplah patuh pada Tuannya.
Sadar tidak bisa melawan, akhirnya Raya kembali menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi, lalu menundukkan kepalanya di atas meja dan menangis sejadi-jadinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di mansion, Bella hendak masuk ke dalam kamarnya di lantai 1. Jujur saja, ia masih merasa kesal. Rasanya ingin menghindar dulu dari suaminya itu.
Tapi tiba-tiba tubuhnya melayang, kakinya tidak lagi menapak di lantai, Azam menggendongnya. Membawanya langsung naik ke lantai 2. Menuju kamar mereka.
"Jangan hindari aku lagi Bell, seberapapun marahnya kamu," ucap Azam, penuh permohonan.
Bella hanya diam saja, terus memasang wajahnya yang cemberut.
Dilihatnya, Bella yang seperti menimang-nimang. Lalu tak lama kemudian menganggukkan kepalanya.
Membuat Azam akhirnya tersenyum lebar.
Malam harinya, mereka mulai berkemas. Membawa beberapa baju dan persiapan lainnya yang akan dibawa ke Jepang besok.
Sesuai janji Azam pada sang adik, ia dan Bella akan menjemput Zura untuk pergi bersama-sama ke Bandara.
Jam 7 pagi, Azam dan Bella sampai di rumah ayah Adam. Penerbangan mereka dijadwalkan jam 08.30 pagi ini.
Masuk ke rumah kedua orang tuanya, Azam menggandeng sang istri. Sementara Ben memutuskan untuk menunggu diluar.
Zura, sudah menunggu kedatangan kakak dan iparnya itu. Mereka bertemu di ruang keluarga.
"Ayah, ibu dan Agatha akan menyusul kalian Besok," ucap Adam.
Adam pun mengenal baik keluarga Ryu dan Haruka. Tiap kali mereka berkunjung ke negeri Sakura itu, mereka menyempatkan waktu untuk bertemu.
"Iya Yah, kami pergi dulu ya, masih harus menemui Arnold dan Julian." Zura yang menjawab, dan diangguki oleh Adam dan Haura.
Ketiga anaknya ini lantas berpamitan dengan mencium punggung tangan kanan Adam dan Haura secara bergantian.
Dan saat Bella memeluk ibu mertuanya, Haura langsung menahan sang menantu. Lalu membisikkan sesuatu.
"Saat di Jepang nanti ambilah waktu berdua dengan suamimu, nikmati waktu kalian," bisik Haura, tak ingin Azura anak gadisnya sampai mendengar.
Meski umur mereka sama, tapi tetap saja Azura belum menikah. belum boleh tahu tentang hubungan suami dan istri.
Tapi diam-diam, Azura menguping. Meskipun tetap tidak mendengar dengan jelas.
Setelah mengatakan itu, Haura pun melerai pelukannya pada sang menantu dan melihat Bella yang tersenyum kikuk.
Tapi aku sedang bulan Bu, jawab Bella di dalam hati.
Lalu merasakan kepalanya yang dielus sayang oleh ibu Haura.
"Hayo, ibu bilang apa sama Bella? pasti mesum ya kok bisik-bisik?" tanya Azura, membuat Azam menggelengkan kepalanya saat mendengar itu. Dan Adam malah mengulum senyum.
"Ibu sekarang sudah pandai mesum-mesum yaa?" ledek Adam pula pada sang istri, lalu ia dan Azura sama-sama tergelak, kompak.
Tawa keduanya terhenti saat melihat sang ibu yang menatap mereka tajam, mendadak suasana jadi horor.
"Kami pergi Bu," pamit Azam akhirnya.
Mereka semua pergi, menjemput Arnold dan Julian untuk ke Bandara bersama-sama.
Terbang pagi dari Jakarta, dan sampai di Jepang sore hari sekitar jam 4 sore waktu Jepang.
Mereka semua langsung menuju hotel tempat mereka menginap.
Shangri-La Hotel, Tokyo.