Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 30 - Pesan Azam



Setelah puas menyesapi manis tubuh sang istri. Azam membawa Bella untuk mandi bersama.


Benar-benar hanya mandi dan Azam menggosok lembut punggung mulus istrinya itu.


"Besok, aku akan meminta Ben untuk menjemput Raya. Kita bertiga akan bertemu dan menyelesaikan ini semua," ucap Azam.


Ia membantu Bella untuk memasangkan handuk kimono ditubuhnya. Bahkan Azam pun langsung mengambil handuk kecil dan mengusap lembut rambut sang istri yang basah.


Diperlakukan semanis ini, namun mendengar nama wanita itu disebut, tetap saja membuat Bella kesal. Apalagi kini ia sedang datang bulan, moodnya suka naik turun dan tidak stabil.


"Sana keluar, aku mau pakai pembalut!" ketus Bella.


Ini bukan saatnya bicara yang serius, pikirnya.


Azam terkekeh, sebelum keluar, ia lebih dulu menyesap bibir Bella. Memberi kehangatan dibibir yang terasa dingin itu.


"Baiklah Arra," balas Azam, lalu keluar dari sana.


Sementara Bella hanya berdecak kesal, jadi tidak suka saat Azam memanggilnya dengan sebutan Arra seperti itu.


Terdengar seperti meledek.


Bella keluar setelah ia selesai memakai pembalut. Dilihatnya sang suami yang sudah rapi dan menunggu.


Berdiri persis di deretan baju miliknya.



"Pergilah, kenapa masih disini?" tanya Bella ketus, sekaligus memerintah. Entahlah, Bella pun tidak tau kenapa rasanya mudah sekali ia memarah-marahi suaminya ini. Tapi tidak pernah menolak saat Azam menyentuhi tubuhnya.


Aneh memang, tapi memang seperti itulah yang ia rasa.


Seperti saat ini, Bella tetap membiarkan Azam yang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Terus mengikuti gerak tubuhnya yang mengambil ini dan itu.


"Minggir, aku mau pakai bra."


"Tidak usah pakai," jawab Azam dan terdengar begitu menggelikan ditelinga Bella. Bella bahkan sampai bergidik.


Tidak peduli pada jawaban Azam itu, Bella langsung menanggalkan handuknya hingga tersangkut dikedua lengan sang suami.


Azam, lalu menjatuhkannya begitu saja dan memasangkan pengait bra sang istri.


"Nomor berapa?" tanya Azam, karena ada 3 deretan pengait disana. Azam, belum tau mana yang pas untuk sang istri.


"Yang paling ujung," jawab Bella, membuat Azam mengulum senyumnya. Ingat, jika dada istrinya berukuran besar, meski memiliki pinggang dan lengan yang kecil.


"Sudah pas!" ucap Azam, dengan kedua tangannya yang merayap mengelus gundukan yang setengah tertutup itu.


Dia pun menciumi leher sang istri dari arah belakang.


Melihat Azam yang seagresif ini, membuat Bella bertanya-tanya.


Apa dulu Azam dan wanita pernah melakukannya?


"Zam?"


"Hem," jawab Azam, dengan deheman pelan. Ia terus memainkan bibirnya di kulit bahu polos sang istri.


"Apa kamu dan wanita itu pernah seintim ini?" tanya Bella, seraya menatap kosong kearah baju-baju yang tergantung didalam lemari.


Sebuah pertanyaan yang langsung membuat semua pergerakan Azam terhenti.


Sesaat, hanya ada keheningan di sana. Karena Azam tak langsung pertanyaan sang istri.


"Apa aku sehina itu di matamu?"


"Bukankah kamu juga selama ini memandangku hina?" balas Bella, lirih.


Membuat hati Azam terasa tersengat. Lalu ditusuk pisau tajam tepat di jantung hatinya.


"Maafkan aku," jawab Azam, lirih.


Dan Bella sudah bosan mendengar kata maaf itu.


"Maaf, karena aku selalu berpikir buruk tentangmu."


Bella, hanya diam. Menunggu, apa yang kira-kira akan diucapkan oleh Azam selanjutnya.


"Aku tidak pernah menyentuh Raya, terakhir kamu melihatku memeluknya, itu adalah yang pertama kali," jelas Azam dan memang begitulah adanya.


Tapi Azam merasa, Bella tidak akan mempercayai itu. Apalagi saat dilihatnya Bella yang hanya diam. Bahkan wajahnya datar, tak memperlihatkan ekspresi apapun.


Makin membuat Azam kalut, rasanya ia lebih memilih Bella untuk marah-marah, menggerutuinya lalu menghujaminya dengan banyak pukulan.


Daripada melihat Bella yang diam seperti ini.


Pelan, Azam meluruhkan tubuhnya, hingga bersimpuh dan memegang kedua kaki Bella, ia memeluk kaki itu erat, memohon pengampunan.


Diperlakukan seperti itu, tiba-tiba air mata Bella jatuh lagi. Bella biasa berkata kasar, biasa berteriak dan membentak. Tapi hatinya, begitu lembut. Ia mudah sekali merasa terenyuh.


"Jangan seperti ini," ucap Bella, dengan suaranya yang serak.


"Maafkan aku Bell."


Maaf.


Maaf.


Maaf.


Entah sudah berapa kali Azam mengucapkan kata maaf, bahkan Bella sampai tak bisa menghitungnya lagi.


"Aku dingin Zam, mau pakai baju," jawab Bella akhirnya, dari sekian banyak kata maaf yang Azam ucapkan.


Mendengar itu, Azam tersenyum kecil. Merasa di lubuk hati Bella yang paling dalam, istrinya itu belum memaafkan dirinya.


Azam bangkit saat merasa Bella membantunya berdiri.


"Pakaikan aku baju," pinta Bella dengan manjanya. Membuat Azam tak bisa melakukan apapun selain meraup bibir ranum itu.


Bella, membalasnya. Bahkan menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 8 malam, ponsel Ben bergetar. Ada sebuah pesan masuk di ponselnya.


Pesan dari sang tuan, Azam.


Dalam pesannya, Azam mengatakan jika ia meminta Ben untuk menugaskan seseorang menjemput Raya di Bandung. Lalu membawanya ke salah satu cafe di Jakarta. Nanti, Azam dan Bella akan menemuinya.


Ben pun langsung membalas pesan itu dengan jawaban patuhnya.


Siap Tuan.


Saat itu juga, Ben langsung menghubungi Raya.


Dan tidak butuh waktu lama, panggilan itu dijawab.


"Assalamualaikum Ben," jawab Raya, dan Ben pun membalas tak kalah ramahnya.


Tanpa basa basi, Ben pun langsung mengatakan pesan sang tuan. Dalam dalam ucapannya Ben lupa menyebutkan nama Bella.


Membuat Raya terus tersenyum bahkan setelah panggilan itu terputus.


"Aku tahu kamu tidak mungkin meninggalkan aku Mas," ucap Raya yakin, dengan terus memandangi layar ponselnya yang sudah mati.