
Bandung.
Azam, sampai di kediaman rumah Raya lebih cepat. Ia menggunakan helikopter untuk menuju Bandung. Lalu mendarat disalah satu atap perusahaan milik koleganya.
Hanya menempuh 15 menit perjalanan menggunakan mobil, Azam sampai di rumah raya.
Rumah yang di pagarnya dipasang bendera berwarna kuning, tanda berduka.
Masuk kesana, ternyata pak Rusli sudah di makamkan, hanya menyisahkan Raya, ibu Rosidah dan beberapa keluarga yang tinggal.
"Assalamualaikum," ucap Azam, dan suara itu sontak membuat Raya dan ibu Sundari menatap kearah pintu.
Seperti menemukan obat dari luka hati keduanya, Raya dan ibu Sundari tersenyum menyambut kedatangan Azam.
Mereka bahkan langsung bangkit dan membawa Azam masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tengah, menjauh dari para keluarga yang duduk di ruang tamu.
"Masya Allah Zam, kamu datang Nak?" ucap Sundari, ia bahkan mengelus pundak Azam dengan sayang, seorang pria dewasa yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Pak Rusli sudah di makamkan Bu?" tanya Azam dan Sundari mengangguk.
Azam, berucap Alhamdulilah didalam hatinya, orang yang meninggal memang harus segera dikebumikan.
"Duduklah bersama Raya, ibu akan ambilkan minum."
Setelah mengatakan itu Sundari masuk, meninggalkan Azam dan anak gadisnya berdua di sana. Duduk saling berhadapan, dengan meja sebagai penghalang.
"Aku turut berduka atas meninggalnya pak Rusli Ray, semoga kamu dan ibu bisa sabar," ucap Azam, ia begitu iba melihat Raya yang menangis seperti itu, seolah air matanya tidak pernah habis untuk mengalir.
"Terima kasih Mas," jawab Raya lirih.
Cukup lama hanya ada hening diantara keduanya, bahkan ibu Sundari juga tak kunjung kembali kesana. Seolah memang memberi waktu untuk Raya dan Azam bersama.
"Mas, maukah kamu mendengar keinginan papah yang terakhir?" tanya Raya, akhirnya dia buka suara dan sedikit mengangkat wajah, memberanikan diri untuk menatap kedua netra Azam.
"Keinginan apa?" tanya Azam pula.
Dan dengan meremaat kedua tangannya, Raya pun mulai menjawab.
"Papah ingin kita menikah Mas."
Deg! seketika itu juga, jantung Azam seperti berhenti berdetak. Ia sungguh terkejut atas ucapan Raya itu.
Setengah tidak percaya, Raya mampu mengucapkannya.
"Benarkah pak Rusli menginginkan itu?" tanya Azam sekali lagi, memastikan. Dan Raya menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Hening.
Lagi-lagi hening kembali mengambil alih diantara keduanya. Bahkan Azam mengusap wajahnya, frustasi. Bella, kini memenuhi seisi kepalanya, bahkan perasaan bersalah itu makin menguasai hati.
Keluar dari hotel Shangri-La tadi, Azam membaca sebuah pesan yang belum sempat ia buka.
Pesan dari pak Rusli, pesan terakhir yang sempat ia terima dari pria paruh baya yang dikenalnya baik ini.
Nak Azam, bapak bangga padamu Nak, karena kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Memutuskan hubungan dengan Raya dan membenahi rumah tanggamu bersama Nyonya Bella. Sebagai seorang pria, kamu harus memiliki pendirian yang teguh. Jangan terombang ambing dengan perasaanmu sendiri. Kamu, sudah bapak anggap sebagai anak, dan bapak ingin hidupmu kembali ke jalan yang benar.
Tapi kini, Raya berucap lain. Raya, sudah membohonginya, memanfaatkan ketidakadaan pak Rusli untuk kepentingannya sendiri.
Azam, sungguh kecewa. Tidak menyangka Raya akan setega ini. Di saat sedang berduka, ia memanfaatkan meninggalnya sang ayah.
Azam, hendak mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan itu pada Raya langsung. Namun berulang kali ia merogoh kantongnya, ponsel itu tidak ada.
Sejenak Azam berpikir, teringat jika ia meninggalkan ponsel itu di Bandara Haneda, Jepang.
"Ray, aku tahu itu bukan keinginan pak Rusli, dan juga bukan keinginanku. Istriku hanya Bella, tidak peduli kamu mau mengerti atau tidak. Dan aku datang kesini bukan demi kamu, tapi demi Bapak."
Setelah mengatakan itu, Azam bangkit. Tak peduli meski wajah Raya sudah berubah jadi pias.
"Mas tunggu!" pekik Raya, buru-buru ia berlari dan mencegah kepergian Azam.
"Mas aku mohon dengarkan aku."
Dengan cepat Azam menepis tangan Raya, agar terlepas dari lengannya.
Belum sempat Raya buka suara, Sundari menghampiri keduanya.
"Ada apa Nak Azam, kenapa kamu pergi?" tanya Sundari yang juga cemas.
Bukan seperti ini rencana ia dan Raya tadi. Seharusnya setelah Raya bicara, mereka akan langsung membicarakan pernikahan.
"Maaf Bu, ini juga akan menjadi yang terakhir saya datang kesini," jelas Azam.
Tak peduli dengan tangis Raya dan tatapan bingung ibu Sundari, Azam langsung pergi.
Tujuannya kini hanya satu, menemui Bella dan memohon ampun pada istrinya itu.
Bella benar, Raya bukan wanita yang baik.
Maafkan aku Bell.