Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 24 - Kesalahan Yang Tidak Pernah Habis



Menggunakan baju yang dipilihkan Azam, Bella keluar dari mobil suaminya itu, kemudian disusul oleh Azam.


Bella memimpin langkah, masuk ke dalam cafe tempat ia dan Fhia bertemu. Lengkap dengan kardus ukuran sedang yang ia bawa ditumpuan dikedua tangannya.


Rumah yang berantakan dengan bunga mawar, membuat Bella merubah tempat bertemu mereka.


Disebuah cafe yang masih berada di daerah Jakarta Selatan, bahkan tak seberapa jauh dari mansion tempat tinggalnya.


Bella langsung masuk, terus berjalan seolah sudah begitu menghapal cafe ini. Hingga langkahnya berhenti disebuah pintu bertuliskan VIP.


Verry Important Person. Hanya orang-orang penting yang bisa masuk ke dalam ruangan ini. Ruangan yang dibayar dengan harga lebih tinggi.


Didalam sana tak hanya ada meja untuk makan, tapi juga ada tempat untuk bersantai. Sebuah karpet tebal dengan banyak bantal.


Fhia duduk di sana, sambil menikmati beberapa cemilan. Ia tersenyum menyambut kedatangan Bella, namun senyum itu perlahan hilang saat melihat Azam pun ikut datang.


"Untuk apa orang itu datang kesini?" tanya Fhia, dengan nada tak suka. Sudah hilang sopan santunnya pada pria satu ini. Tak peduli meski Azam adalah petinggi perusahaan ataupun suami sahabatnya.


Dimatanya, Azam sudah tidak punya harga diri. Berselingkuh adalah kesalahan terhina untuknya.


Bella tak langsung menjawab ucapan Fhia, ia pun menoleh kebelakang dan melihat Azam masuk.


"Fhia," panggil Azam, sopan. Namun yang dipanggil tetap acuh.


Azam sadar, semua orang yang sudah tahu tentang skandalnya pasti tak akan menaruh hormat.


"Maafkan aku Fhia, tapi sekarang aku ingin memperbaiki semua kesalahanku dan mempertahankan rumah tanggaku dengan Bella," timpal Azam lagi.


Rasanya pun ia harus meminta maaf pada semua orang, termasuk Arnold dan Julian. Juga sang adik, Zura.


Mendengar ucapan Azam itu, jujur saja Fhia tidak percaya, ia melirik Bella, mencari jawaban dari modelnya ini.


Tapi yang dilirik malah mengedikkan bahu, seolah tidak tahu apa-apa.


"Semoga saja ucapanmu itu benar!" jawab Fhia kemudian, dengan nada ketus.


Melihat Bella yang diam saja saat Azam mengikutinya, membuat Fhia berpikir sesuatu, mungkin saja keduanya memang sudah bersepakat untuk berbaikan.


Ah tapi rasanya tidak mungkin, ah terserahlah. Batin Fhia, jadi pusing sendiri.


Fhia lalu mengambil kardus bawaan Bella dan meletakkannya di atas karpet. Kedua wanita ini duduk di sana dan mulai membuka isinya.


Sementara Azam duduk di sofa dan memperhatikan. Azam tahu, izi kardus itu adalah benang wol, juga jarum yang digunakan istrinya untuk merajut.


dilihatnya, Bella dan Fhia asik sendiri. Mulai merajut dengan sesekali bertukar canda.


Hingga pintu ruangan itu diketuk, Fhia buru-buru membukanya, dan mempersilahkan seorang pelayan masuk kesana. Mengantarkan pesanan makanan yang sudah ia pesan.


Setelah pelayan itu pergi, Fhia izin pada Bella untuk ke kamar mandi sebentar. Toiletnya masih berada di ruangannya itu pula.


Setelah Fhia tak nampak, Azam pun turun, ikut duduk bersimpuh disebelah sang istri.


"Kamu siapa?" tanya Azam, ambigu. Membuat Bella menoleh kearahnya seraya mengerutkan dahi.


Pertanyaan macam apa itu? tanya Bella didalam hati, lebih mirip sebuah gerutuan.


"Bicara yang jelas, apa maksudmu bertanya aku siapa?" balas Bella, ia kembali memalingkan wajah dari sang suami dan mulai fokus kembali merajut.


Membuat beberapa pasang sepatu bayi dari kain wol itu.


"Aku seolah tidak mengenalmu," jawab Azam pula. Semakin membuat Bella bingung. Bella yang ia kenal hanyalah gadis yang tidak tahu apa-apa. Hanya suka berpoya-poya dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


Tapi kini Azam baru tahu, jika Bella pun bisa memasak dengan sangat enak. Bisa merajut, bahkan mendirikan yayasannya sendiri.


"Kamu siapa?" tanya Azam lagi.


Hingga membuat Bella menghentikan pergerakan tangannya dan kembali menatap sang suami.


Kini, Bella menatap dengan tatapan tajam. Merasa jika Azam terus saja meledeknya.


Bella, memukul dada suaminya, namun dengan cepat Azam mencekal.


Penolakan Bella terhenti, saat Azam mulai memainkan ritmenya dengan lembut. Membuat Bella akhirnya menutup mata.


Membuka mulutnya bahkan membalas.


Fhia, yang baru keluar kamar mandi langsung terbelalak kala melihat pemandangan itu.


Ia tidak menyangka jika Azam akan berbuat sehina ini, hendak merenggut kesucian istrinya sendiri.


Dengan cepat, Fhia melepas satu sepatu flatshoesnya dan memukul bahu Azam dengan itu.


Plak!


"Rasakan!" maki Fhia, membuat Azam dan Bella sama-sama terkejut, bahkan dengan cepat pula pagutan keduanya terlepas.


Plak!


"Berani-beraninya kamu menyentuh Bella, pergi!" bentak Fhia pula, masih memukuli Azam membabi buta.


Sejenak, Bella mengulum senyum, sampai akhirnya ia buka suara untuk menghentikan Fhia. Apalagi saat melihat Azam, yang tidak memberikan perlawanan, hanya menunduk dan menerima pukulan-pukulan itu.


"Fhia, hentikan!" pinta Bella, ia bahkan memeluk Fhia agar tidak lagi memukul Azam.


"Lepas Bell, pria brengsek ini harus dihukum. Seenaknya saja dia memperlakukanmu!"


Lagi, Bella mengulum senyumnya. Apalagi ciuman tadi, iapun membalasnya.


"Maafkan aku Fhia, aku tidak akan mengulanginya lagi," pinta Azam, cari aman. Ia bahkan mulai bangkit dan berdiri.


Fhia, sudah nampak seperti malaikat pelindung bagi Bella. Memiliki hubungan yang baik dengan Fhia pasti akan membantunya untuk berbaikan dengan Bella, pikir Azam.


Karena itulah, meminta maaf adalah keputusan yang paling tepat.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Bohong, omongan buaya darat mana bisa dipercaya." Balas Fhia dan Bella menganggukkan kepalanya.


Jika sudah seperti ini Azam pasrah, apapun yang diucapkannya pasti hanya akan terdengar seperti kebohongan.


Cukup lama, Fhia terus memarahi Azam. Sampai akhirnya Fhia lelah dan amarah itu mereda.


Azam kembali duduk di sofa dan memperhatikan kedua wanita ini sibuk sendiri. Sampai jam 1 siang akhirnya pertemuan Fhia dan Bella usai.


Kedua gadis inipun, melaksanakan shalat zuhur di cafe itu. Di ruang VIP yang mereka pesan.


Membuat Azam, lagi-lagi seperti tak mengenal Bella. Kembali teringat ucapan sang ibu, yang tidak boleh menilai seseorang hanya dari tampilannya.


Siang itu juga, Azam mendadak jadi diam. Kala rasa bersalah tiba-tiba datang menyelimuti hatinya.


Tentang penilaiannya pada Bella, sang istri.


Hingga saat waktunya Bella bertemu dengan Zura, Azam pun masih setia menutup mulutnya.


"Buka pintunya Zam, aku mau turun," ucap Bella, kini ia dan Azam sudah sampai didepan gedung Malik Kingdom. Zura masih bekerja dan Bella ingin mengunjunginya disini.


Mendengar istrinya buka suara, azam pun menoleh, seraya menatap dalam kedua netra Bella


yang menatapnya tajam itu.


"Maafkan aku Bell," ucap Azam, yang lagi-lagi membuat Bella bingung.


"Maaf apalagi? seolah kesalahanmu tidak pernah habis," sindir Bella dengan suaranya yang ketus.


Membuat Azam sampai menelan salivanya sendiri dengan susah payah.


Ya, kesalahanku memang sudah teramat sangat banyak.