Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 36 - Abang Sayang



Malam harinya, pesta pertunangan Ryu dan Haruka di gelar.


Di Ballroom hotel Shangri-La.


Rombongan dari Indonesia pun bersiap-siap menghadiri acara itu. Mengusung tema internasional, para wanita nampak begitu cantik dengan gaun elegan dan para pria nampak tampan menggunakan tuxedonya.


Azam dan Bella bahkan menggunakan baju senada, mengisyaratkan jika mereka adalah pasangan, sepasang suami dan istri.


Bella, menggerai rambutnya. Kata Azam, tanda-tanda merah di tengkuk leher hasil buatannya bisa saja nampak kembali meski sudah ditutup foundation.


"Cantik," ucap Azam, saat melihat rambut sang istri sudah digerai. Ia bahkan mengelus rambut itu dengan penuh kasih sayang.


Membuat Bella mengukir senyum, sama seperti Azam.


Bahkan untuk pertama kalinya, kini Bella berjinjit dan mencium bibir suaminya sekilas.


Membuat Azam terpaku ditempatnya berdiri.


Selama ini, Bella tidak pernah menciumnya lebih dulu. Selalu ia yang memulai, tapi malam ini?


"Apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Azam dengan tatapannya yang dalam dan penuh harap. Maaf dari Bella adalah apa yang selama ini ia doakan.


Dilihatnya, Bella yang tersenyum lalu mengangguk kecil.


"Iya, aku juga minta maaf, selama ini aku pasti membuatmu kecewa," jelas Bella dan Azam langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, kamu tidak pernah mengecewakan aku Bell, aku saja yang bodoh selalu mengabaikan mu," terang Azam, sembari membawa Bella masuk ke dalam dekapannya.


"Bisakah kamu kembali memanggilku Mas?" tanya Azam dan Bella mengangguk.


Tapi teringat perempuan itu juga memanggil Azam dengan sebutan Mas, dia jadi urung.


"Ah tidak, aku panggil abang sajalah, sama seperti dulu," balas Bella, setelah memberi waktu kepalanya untuk berpikir.


"Abang sayang lebih bagus," timpal Azam, membuat Bella langsung mencubit perutnya.


Bunyi bell kamar mereka membuat pelukan itu terlerai, semua orang sudah menunggu di depan sana.


Lantas Azam dan Bella pun memutuskan untuk keluar. Dan benar saja, semua orang sudah berada di sana. Dengan wajah semua orang yang ceria, mereka segera menuju Ballroom.


"Agatha, pegang lenganku," ucap Arnold pada adik sahabatnya itu.


Semua orang sudah berpasang pasangan, hanya tinggal keduanya yang berjalan sendiri sendiri.


Ditawari seperti itu, Agatha mendadak kikuk. Apalagi saat melihat ibunya langsung menoleh kebelakang saat mendengar ucapan abang Arnold.


"Ibu Haura, izinkan Agatha malam ini jadi pasanganku," pinta Arnold membuat Haura tersenyum.


Lalu senyum Haura semakin lebar saat sang suami membisikkannya sesuatu.


"Izinkan sayang, kasihan Arnold, jones," bisik Adam.


"Kalau ibu terserah Agatha saja Nak," balas Haura, membuat Arnold akhirnya bisa tersenyum.


"Ayo," ajak Arnold pula pada si gadis.


Dan dengan canggung, Agatha menggandeng lengan abang Arnold.


Sampai di Ballroom, mereka semua langsung di sambut dan diarahkan menuju meja khusus yang sudah tersedia.


3 jam acara pertunangan itu berlangsung dengan begitu megah. Hingga jam 10 malam, baru acaranya usai.


Bella, lalu mengajak Azura, Haruka dan Agatha untuk melakukan siaran langsung di media sosialnya. Sesuai keinginan para fans kala itu.


Rona kebahagiaan nampak jelas di raut wajah setiap gadis.


Pertama, mereka semua mendoakan agar pernikahan Haruka dan Ryu segera berlangsung tanpa hambatan apapun.


Dan yang ketiga, mereka semua mendoakan agar Bella segera hamil.


"Aamiin," ucap mereka semua kompak, dan suara renyah Agatha yang mendominasi.


Tak sampai lama setelah itu, mereka berpisah dengan Haruka dan kembali ke kamar masing-masing.


Melewati malam yang panjang di negara Jepang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Indonesia, pagi hari.


Jika di Indonesia jam 7 pagi, maka di Jepang saat ini jam 9 pagi. 2 jam adalah selisih waktu di kedua negara ini.


"Lihatlah, bahagia sekali mereka setelah menyakitimu. Apa itu adil Ray?" ucap Sundari pada sang anak.


Potret kebersamaan Azam dan semua keluarganya bisa mereka lihat dengan jelas di media sosial.


Bagaimana tawa mereka, bagaimana mereka begitu menikmati hidup ini.


Sementara ia, yang paling menderita diantara semuanya.


Adil? tentu tidak. Lalu bagaimana caranya agar Adil itu bisa Raya dapatkan.


"Aku harus bagaimana Mah? nyatanya mas Azam memang ingin mengakhiri hubungan kami. Aku tidak bisa mencegahnya," jawab Raya, air matanya kembali mengalir tanpa jeda.


Sang ibu selalu membuatnya semakin merasa. Semakin hilang arah dan tujuan hidupnya.


Perbincangan anak dan ibu itu terhenti, saat mereka berdua mendengar sang ayah yang terbatuk-batuk di kamarnya sana.


Sundari, berlari lebih dulu menghampiri suaminya. Sementara Raya langsung menghapus air mata.


"Papah!" panggil Sundari dengan cemas.


Suaminya bahkan sampai batuk darah.


Diantara batuknya itu, Rusli masih mencoba untuk bicara, "Aku tidak apa-apa Mah, tolong ambilkan minum," pinta Rusli.


Dan dengan segera, Sundari membantu suaminya minum, setelah darah dari mulut Rusli dibersihkan.


Tak lama, Raya juga datang kesana.


"Pah, sebaiknya kita ke rumah sakit," ucap Raya, ikut duduk disisi ranjang.


Dan Rusli, langsung menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik papah di rumah saja Nak, papah tidak ingin sakit papah ini menjadi alasanmu untuk bertemu dengan Azam. Keputusan dia untuk mengakhiri hubungan kalian itu sudah benar Nak," balas Rusli dengan terengah.


Batuk tadi, membuatnya kini sulit untuk bernapas.


Bahkan ucapan Rusli pun mampu membuat hati Raya tersentak. Sudut hatinya membenarkan ucapan sang ayah. Memanfaatkan rasa iba Azam pada ayahnya, agar mereka bisa bertemu.


"Papah kok ngomongnya gitu sama Raya, dia kan hanya berniat baik Pah, membawa Papah ke rumah sakit." Sundari, kembali buka suara.


Dan lagi, Rusli menggeleng. Jika rumah sakitnya hanya di Bandung Rusli pasti mau, tapi ia yakin Raya akan membawanya ke rumah sakit di Jakarta.


"Papah tidak mau ke rumah sakit, setelah minum obat pasti batuknya mereda," jelas Rusli. Membuat Sundari dan Raya tidak bisa berkata apa-apa.


Rusli, kembali membaringkan tubuhnya yang lemah.


"Ray, Papah yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh yang baik untukmu. Jadi bersabarlah, ikhlas dengan apa yang kamu alami saat ini," terang Rusli.


Rusli sadar, sebagai orang tua yang penyakitan seperti ini ia tidak bisa memberikan harta apapun pada sang anak. Hanya nasehat yang bisa ia berikan.


Dan semoga saja, Raya menerima itu.