
Jam 9 malam, acara yasinan di mansion keluarga Malik usai. Semua orang yang berkenan datang mulai pulang satu per satu.
Julian dan Arnold masih tinggal. Kini duduk di halaman yang berada di samping rumah bersama Bella dan Zura. Haruka dan Ryu pun datang kesini, sore tadi mereka mendarat di Indonesia.
2 kabar mengejutkan langsung mereka peroleh. Tentang meninggalnya nenek Zahra dan Skandal Azam.
Sama-sama menggunakan baju setelan berwarna hitam, mereka duduk bersama. Angin semilir malam itu begitu terasa dingin dan bulan sedang bersinar begitu terang.
Menguasai langit seorang diri.
"Aku bingung mau bilang apa," ucap Ryu, jujur. Ia bahkan hanya menatap langit ketika mengucapkan kata itu.
Ryu pun tidak menyangka jika Azam bisa berbuat seperti itu, mengkhianati Bella. Meskipun tidak ada cinta diantara mereka, harusnya Azam mulai belajar mencintai. Dan bukannya menjalin kasih dengan orang lain dan menodai pernikahannya.
"Jangan bingung, kapan kalian kembali ke Jepang?" tanya Julian.
Ryu langsung melirik sang tunangan, dilihatnya Haruka sedang saling memeluk dengan Zura dan Bella.
"Mungkin masih lama," jawab Ryu, sebenarnya ia hanya mengikuti keinginan Haruka. Selama Haruka belum meminta pulang, ia akan tetap tinggal di Indonesia.
"Azam sekarang berada di Bar, apa kalian ingin menemuinya?" kini Arnold yang buka suara.
Dan Ryu hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.
"Aku tidak melarang kalian untuk menemui Azam, bagaimanapun masalah diantara kami, Azam juga sahabat kalian," ucap Bella, membuat semua orang langsung menatap ke arahnya.
Meninggalnya nenek Zahra, membuat Bella teringat akan kematian. Rasanya cinta, harta dan semua yang ada di dunia tidak ada artinya jika maut sudah datang.
Dan hanya iman dan amal baik lah yang akan menjadi teman. Berkat kebaikan nenek Zahra selama hidup, kini doa selalu mengalir untuknya. Bukan hanya dari keluarga, bahkan orang asing pun dengan sukarela mendoakan nenek.
Perihal Azam pun sudah Bella ikhlaskan, ia terus berusaha menerima semuanya.
Meyakini jika Azam bukanlah jodohnya dan mulai menata hidup kembali.
"Apa semua masalah ini membuatmu semakin dewasa?" tanya Ryu dengan nada meledek, diantara mereka semua, memang Bella lah yang paling kekanak-kanakkan.
Ditanya seperti itu, Bella mencebik dan semua temannya mulai bisa tersenyum.
"Aku bersyukur melihatmu baik-baik saja," ucap Haruka.
Ketiga wanita ini lantas kembali saling memeluk erat. Memberi ketengan dan kekuatan satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di Bar milik Arnold. Pintu ruangan di lantai 3 di ketuk oleh seseorang.
Dalam benak Azam mulai berpikir, jika yang datang bukanlah mereka berdua.
"Mungkin Ben," gumam Azam, lalu bangkit dari duduknya dan mulai membuka pintu. Ia tidak bisa berteriak dan meminta Ben masuk, karena suaranya sudah habis.
Tubuh Azam seketika terpaku, saat melihat siapa yang datang menemuinya malam ini.
Acil Aida.
"Zam," panggil Aida lirih, seraya menatap nanar pada sang keponakan. Nampak jelas guratan kesedihan di wajah Azam.
Kini, Aida sudah masuk dan duduk persis disebelah Azam.
"Maafkan aku Acil," ucap Azam lirih, ia bahkan terus menunduk. Merasa malu dan tidak memiliki keberanian untuk menatap sang tante.
Azam tersentak, saat merasa punggungnya disentuh oleh acil aida. Sentuhan lembut itu membuat air mata Azam kembali jatuh.
"Acil memang sangat kecewa padamu Zam, acil juga marah. Tapi ... tapi tidak merubah apapun Zam, acil tetap menyayangimu. Ayah dan ibu Haura juga pasti merasakan hal yang sama, tapi mereka butuh waktu untuk menerima ini semua," jelas Aida, pelan. Ia sungguh iba pada Azam.
Aida sadar, tidak ada manusia yang sempurna. Juga Azam yang pasti melakukan kesalahan.
"Gunakan uang ini, ini uang acil pribadi, ayah Adam tidak akan tahu jika acil memberimu uang," ucap Aida.
Uang 250 juta Aida berikan pada sang keponakan. Semua fasilitas Malik sudah ditarik oleh Adam. Kini, Azam tidak memiliki sepersenpun uang.
Dan Azam, menatap nanar pada tumpukan uang di atas meja itu.
"Tidak acil, aku tidak akan menerimanya. Tapi jika boleh, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Azam, ia mulai berani menatap sang tante.
Menatap dengan penuh harap.
"Apa sayang?" tanya Aida, lembut.
"Izinkan aku memeluk tante."
Saat itu juga, Aida langsung memeluk Azam erat. Azamnya yang selalu ia sayangi. Aida yakin, Azamnya tetap sama seperti Azam kecil dulu. Kesalahannya kini hanyalah proses yang harus ia jalani didalam hidup.
Pelukan hangat yang Azam rasa, membuatnya kembali memiliki harapan. Apapun akan ia lakukan untuk kembali ke keluarganya.
Sekaligus kembali merengkuh sang istri.
Malam itu, Aida memaksa Azam untuk menerima uangnya. Dan Azam mengambil 1 juta dari 250 juta itu.