
Sampai pagi menjelang, Azam masih juga membuka matanya. Sedikitpun ia tidak terpejam semalam.
Bar sudah tutup sejak jam 4 subuh tadi dan kelak akan buka jam 4 sore. Tapi pagi-pagi begini, sudah terdengar banyak keramaian di bawah sana.
Membuat Julian, Arnold dan Ben yang masih terlelap merasa terganggu. Mereka bertiga bahkan kompak mengerjabkan matanya dan mencoba bangun.
"Suara apa itu?" ucap Arnold dengan suaranya yang parau.
Azam yang terduduk hanya diam saja. Sedari tadi ia terus melamun dan menulikan pendengarannya. Azam melamun, memikirkan banyak hal, mengingat semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Zam!" panggil Arnold dengan suaranya yang meninggi. Lalu saling pandang dengan Julian karena Azam tidak merespon.
"Saya akan turun dan memeriksanya Tuan," ucap Ben.
Dan setelah mengatakan itupun Ben langsung segera turun ke lantai 1. Memeriksa apa yang terjadi disana, didepan Bar milik tuan Arnold.
"Zam," panggil Julian, ia bahkan mendekat kearah Azam dan duduk disamping sahabatnya itu. Hingga akhirnya Azam tersadar dari lamunannya sendiri dan menoleh kearah Julian.
"Kamu tidak tidur?" tanya Julian dan Azam hanya diam seraya mengulas senyum tipis.
Julian cukup tahu, jika Azam benar-benar tidak tidur.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri. Bella dan keluargamu juga butuh waktu untuk sendiri," jelas Julian, iapun menepuk pundak Azam, memberikan dukungan.
Perhatian mereka semua teralihkan kearah pintu, saat Ben membukanya dengan kasar.
"Maaf Tuan," ucap Ben dengan napas memburu.
"Tapi ini penting, di bawah sana banyak para wartawan," jelas Ben kemudian membuat kedua netra semua orang membola.
"Wartawan?" ulang Arnold dengan nada bertanya.
Dan Ben pun langsung menganggukkan kepalanya. Lalu menjelaskan jika skandal perselingkuhan Azam dan Raya sudah terkuak ke publik. Ketidak hadiran Azam di pemakanan sang nenek menjadi bahan pertanyaan publik.
Para media langsung gencar mencari dimana Azam saat itu. Ternyata Azam berada di Bandung, di rumah seorang gadis yang menjadi kekasihnya, Raya Husein.
Bak bola salju, berita itu bergulir semakin lama semakin membesar. Kini Azam, Bella dan Raya menjadi buronan para wartawan. Mencari klarifikasi dari masalah ini.
Fans Bella bahkan langsung menyerukan keadilan untuk idolanya itu. Mereka terus-terus menyerang pribadi Raya di media sosial.
"Bagaimana ini Tuan?" tanya Ben, setelah ia menjelaskan situasi yang terjadi.
"Biarkan saja, memang itulah kenyataannya," balas Azam, dengan suaranya yang pelan. Azam sudah tidak peduli pada dirinya sendiri ataupun Raya.
Satu yang Azam yakini, Bella akan tetap aman dibawah perlindungan keluarga Malik.
Dan benar saja, belum ada 3 jam berita itu menyebar. Adam langsung memadamkannya. Sebuah konferensi pers ia adakan.
Saat ini mereka tengah berduka atas meninggalnya nenek Zahra dan Adam tidak ingin ada berita lain yang menyudutkan keluarga mereka.
Tidak sampai disana, saat itu juga Adam mengumumkan jika Azam tidak lagi menjabat CEO Malik Kingdom. Jabatan CEO itu kembali ia pegang.
Azam, yang menyaksikan siaran langsung konferensi pers itu hanya terdiam. Menatap nanar kearah televisi. Merasakan hatinya yang begitu sakit, seolah di remat-remat dengan paksa.
Dia melihat dengan jelas, wajah ayahnya yang mengisyaratkan kekecewaan. Bahkan Azam melihat, saat ayahnya menundukkan kepala dan meminta maaf kepada semua orang atas kesalahan Azam. Seorang pemimpin yang tidak bisa menjadi panutan.
Melihat itu, air mata Azam kembali jatuh. Ia sudah melemparkan kotoran di wajah ayahnya sendiri.
Dan kini, Azam berada di kubangan penyesalan dan rasa bersalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bandung.
Dasar pelakor!
Kerja jadi babu niat jadi mantu!
Keliatannya kalem, anak baik-baik. Taunya tukang caper sama majikan.
Kasihan pak Rusli, punya anak perempuan nggak bisa jaga kehormatannya sendiri.
Bikin malu kampung kita saja!
Raya menangis dibalik pintu rumahnya yang terkunci rapat. Mendengar semua cacian orang diluar rumahnya.
Sejak pagi ia terus menjadi bulan-bulanan para warga desa. Berita tentang perselingkuhannya membuat simpati semua orang pada keluarga mereka jadi hilang.
Bahkan kini, para tetangga pun mencaci makinya dengan berani.
Di balik pintu itu Raya terus menangis, terselip rasa bersalah yang bersarang di hatinya. Ia tidak tahu, jika kedatangan Azam ke rumahnya membuat Azam tidak bisa menghadiri pemakanan nenek Zahra.
Raya, kini benar-benar merasa bersalah pada Azam dan Bella. Ia baru merasa jika ia sangat jahat.
"Berhentilah menangis Ray, mamah pusing dengarnya!" bentak Sundari, suaminya baru saja meninggal dan kini ia dan Raya tak punya muka untuk keluar.
Seolah kesialan datang bertubi.
"Ini semua gara-gara Mamah, Mamah buat aku terlihat jahat di mata mas Azam," balas Raya.
Saat itu juga Sundari langsung membodoh-bodohi sang anak. Sumber kesialan ini adalah dari Raya. Raya yang tidak pecus mempertahankan hubungannya dengan Azam.
Dan mulai saat itu, percekokan terus terjadi diantara Raya dan ibunya.
Tapi percecokan apapun diantara mereka tidak bisa merubah apapun. Cap perusak rumah tangga orang sudah melekat pada Raya.
Dan semua orang mengetahui itu.