
7 hari berlalu.
Acara yasinan meninggalnya nenek Zahra pun usai. Tapi Adam dan Haura memutuskan untuk tetap tinggal di Mansion neneknya itu. Tinggal bersama dengan Aida dan Yuda.
Sudah jadi keinginan nenek Zahra dulu, jika mansion ini harus selalu dihuni oleh keturunan-keturunannya. Adam sebenarnya menyesalkan, kenapa tidak sedari dulu ia tinggal bersama ibunya itu.
Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi. Kini ia kembali tinggal di mansion namun sang ibu sudah tidak ada lagi disini.
Pagi ini, Bella akan kembali ke Singapura.
Setelah berkumpul dengan keluarga besar, Bella menyatakan jika ia akan menetap tinggal di negeri singa itu.
Sementara masalah perceraiannya dengan Azam sudah ia serahkan kepada papa Agra dan ayah Adam.
Pihak keluarga tidak ada yang bisa menahan kepergian Bella. Mereka tahu bagaimana pedihnya kenangan Bella disini.
Mereka hanya berharap, di Singapura Bella akan kembali menata hidupnya, kembali menemukan kebahagiaannya.
"Kamu tidak ingin memberi tahu Arnold dan Julian?" tanya Haura, kini mereka semua hendak keluar mansion dan mengantar Bella hingga sampai di teras rumah.
Nanti yang akan mengantar Bella ke Bandara hanya mama Sarah dan papa Agra. Karena setelah itu Sarah dan Agra akan langsung pulang ke rumahnya sendiri.
"Tidak usah ibu, aku akan memberi tahu mereka setelah aku sampai di sana," jawab Bella.
"Beri tahu aku juga kalau sudah sampai." Zura memotong, ia dan Bella lalu saling memeluk erat.
"Jangan sering-sering mengunjungi aku."
"Baiklah!" jawab Zura ketus.
Semua orang hanya bisa tersenyum kecil melihat perdebatan itu. Nanti, mereka pasti mereka akan merindukannya.
Tanpa disadari oleh semua orang, jika diam-diam, Aida mengirim pesan kepada Azam. Mengatakan jika kini Bella akan menuju Bandara dan akan pergi menuju Singapura.
Pesan itu terkirim dan Aida langsung menghembuskan napasnya pelan. Harap-harap cemas.
Aida ingin, setidaknya satu kali saja Bella dan Azam bertemu. Apalagi nanti setelah Bella tinggal di Singapura, Azam pasti akan sulit untuk menemuinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ting!
Ia pikir, ini adalah balasan dari banyaknya email yang ia kirim untuk mendapatkan pekerjaan.
Tapi ternyata bukan, pesan itu adalah pesan dari acil Aida.
Bella akan pergi ke Singapura dan menetap di sana. Sekarang ia sedang menuju Bandara.
Deg! seketika, jantung Azam seperti tersengat. Merasa kepergian Bella juga membawa separuh nyawanya.
Tanpa aba-aba, Azam langsung berlari keluar. Mengambil kunci motor matic yang biasa digunakan oleh karyawan Bar.
Buru-buru ia memutar gas dan menuju Bandara. Hatinya terus memohon agar ia diberi satu kali saja kesempatan untuk bisa bertemu dengan Bella.
Satu kali saja ia ingin melihat wajah istrinya itu. Azam, sungguh rindu.
Satu kali saja ia diberi waktu untuk menjelaskan semuanya pada Bella.
"Ya Allah hamba mohon," gumam Azam.
Dengan motornya yang melaju semakin kencang.
Sampai di area parkiran Bandara, Azam langsung berlari masuk kedalam sana. Menuju gate keberangkatan. Ia menatapi layar monitor berlayar biru di atas sana. Membaca jadwal penerbangan Jakarta Singapura.
"Jam 8," gumamnya pelan. Lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu masih menunjukkan jam 7.30 pagi.
Azam, langsung mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan sang istri. Azam sangat berharap Bella belum sampai. Karena jika istrinya sudah lebih dulu datang bisa dipastikan Bella akan menunggu di ruang VIP.
Terus Azam mencari, ia bahkan tidak peduli saat beberapa orang mulai menyadari keberadaannya, Azam Malik.
Hingga 15 menit ia menunggu dalam kecemasan. Akhirnya ia melihat keberadaan sang istri.
Bella, ternyata baru saja tiba. Ia tidak datang sendiri. Tapi bersama mama Sarah dan papa Agra.
Tanpa ingin mengulur waktu, Azam segera menghampiri mereka.
"Bella," panggil Azam, dengan deru napasnya yang memburu.
Sedari tadi ia berlari.