Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband
LGMH BAB 38 - Meninggalnya Nenek Zahra



Bella, langsung bergegas berkemas dan segera kembali ke Indonesia.


Ternyata Ben masih menunggunya, tetap di samping Bella atas perintah Azam. Tapi Bella sungguh tidak peduli dengan kehadiran Ben di sana. Baginya Ben dan Azam sama saja.


Pria brengsek.


Tapi kini Bella tidak punya waktu untuk memikirkan Azam. Seluruh pikiran dan hatinya tertuju pada sang nenek, Zahra.


Rasanya tidak percaya jika nenek sudah meninggal. Bella tidak akan mempercayai itu sebelum melihatnya secara langsung.


Masih terekam jelas olehnya pertemuan terakhir mereka. Saat makan malam perayaan ulang tahun ayah Adam dan ibu Haura.


Saat itu Bella memeluk sang nenek erat. Bahkan Nenek mengatakan jika keadaannya sekarang sudah semakin baik. Tidak merasa sakit-sakit lagi ditubuhnya.


"Ya, Mama pasti salah, nenek pasti masih hidup," gumam Bella, diantara kegundahannya.


Kini ia sudah berada di dalam pesawat, terbang menuju Indonesia. Menempuh waktu 7 jam tanpa transit, Bella akhirnya sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Tepat jam 6 sore, setelah beberapa saat lalu Adzan magrib berkumandang.


Fhia sudah menunggunya dengan air mata. Bella yang melihat tangis itupun semakin teremat hatinya. Seolah meninggalnya sang nenek semakin nyata.


"Nenek Zahra sudah meninggal Bell," ucap Fhia, lirih dengan suaranya yang serak.


Seluruh keluarga dan semua kolega sudah berbela sungkawa atas meninggalnya nenek Zahra. 3 jam lalu saat kepulangan Adam dan keluarganya pun langsung menuju ke kediaman nenek Zahra.


Nenek meninggal di waktu subuh, rencananya akan dimakamkan sore ini juga, menunggu kepulangan Azam dan Bella.


"Jangan asal bicara, jangan menjadikan ini sebuah candaan, nenek pasti masih hidup!" balas Bella cepat.


Dan Fhia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


Bella lantas mempercepat langkahnya, keluar dari dalam Bandara dan segera menuju rumah nenek.


Ben, terus mengikuti. Berulang kali ia mencoba menghubungi sang tuan Azam namun tetap tidak mendapatkan jawaban. Seharusnya, 1 jam lalu Azam sudah sampai di Indonesia.


Tapi Ben tidak tahu kemana arah tujuan tuannya itu. Menemui sang nenek untuk terakhir kali, atau menghadiri pemakan pak Rusli.


"Ya Allah, semoga tuan Azam sekarang berada di mansion nyonya Zahra," gumam Ben. Seraya terus fokus mengemudi, mengikuti mobil nyonya nya didepan sana, nyonya Bella.


Sepanjang perjalanannya menuju mansion sang nenek, sudah berderet papan bunga ucapan bela sungkawa.


"Sabarlah Bell, nenek memang sudah tidak ada," jawab Fhia, ia pun menghapus air matanya dan mengemudikan mobilnya hanya dengan tangan satu.


Lalu mobil itu berhenti diantara banyaknya mobil yang memenuhi halaman mansion nenek Zahra.


Bella turun dengan kakinya yang tidak bertenaga. Kenyataan ini sungguh membuatnya terpukul.


Masuk ke dalan mansion dibantu oleh Fhia, kedua gadis ini berjalan dengan saling memeluk.


Bella langsung ambruk saat melihat tubuh seseorang yang ditutupi kain putih, bersanding dengan foto sang nenek.


"Tidak," lirih Bella.


Lalu merasa tubuhnya bergerak sendiri menghampiri sang nenek. Bella tidak sadar, jika mama sarah dan papa Agra sudah membawanya mendekat.


Hanya Bella sajalah yang belum melihat sang nenek.


Berada di samping mayat nenek Zahra, akhirnya tangis Bella pecah. Tangis pilu itu membuat semua orang kembali menangis. Ikut meneteskan air mata dengan tenggorokan yang terasa tercekak.


Bella, lalu dibawa ke sebuah ruangan agar lebih tenang. Semua keluarga berada di sana, kecuali Alghazali dan Agatha yang sedang membacakan surat Yasin untuk sang nenek.


"Dimana Azam Bel?" tanya Haura, membuat Bella mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.


Bella terdiam, lidahnya kaku sekali untuk berucap. Bahkan iapun masih sesenggukan, memikirkan sang nenek.


"Apa dia meninggalkanmu dan menemui wanita itu?" tanya Adam, membuat semua orang langsung menatap kearahnya.


Juga Bella yang kedua matanya langsung membola.


Tapi lagi-lagi Bella hanya diam, dia dalam keadaan bingung untuk menjawab apa.


"Kita makamkan dulu nenek, tidak perlu menunggu Azam." Putus Adam.


Membuat Haura menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, dengan tangisnya yang tanpa suara.


Memikirkan anak laki-lakinya.