
Titha dan buk Tika berjalan di lorong sekolah yang sudah tua dan lapuk, sekilas Titha memandang setiap sudut sekolah yang sudah tua itu, Titha dapat membayangkan bagaimana rasanya belajar di tempat yang tidak layak ini, dengan tiang kayu yang sudah di makan usia, dan atap genteng yang sudah banyak bocor, membuat Titha sangat prihatin dengan kondisi sekolah, belum lagi kondisi para murid, yang sejak kecil sudah ikut memikul beban hidup bersama orang tuanya.
*Sesampainya di dalam ruang guru.
Titha melihat suasana yang sangat sederhana, dengan meja kayu panjang yang berwarna kecoklatan, dan beberapa lemari tua yang tersandar di samping dinding yang penuh dengan retak, serta lantai tanah yang berdebu. Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang guru saja dan ada satu guru laki-laki.
"Assalamualaikum.." Ucap buk Tika yang berdiri di depan dua orang guru.
"Walaikumussalam.." Jawab kedua guru yang tengah mengobrol dalam ruang guru itu.
"Buk Ning, pak Akmal, kita kedatangan guru baru hari ini, ia resmi mengajar di SD ini bersama kita, silahkan pada buk Titha memperkenalkan diri, silahkan buk," ibuk Tika mempersilahkan Titha untuk memperkenalkan dirinya.
Titha menghela nafas panjang.
"Nama saya Titha Pramulya, saya disini mengajar pada mata pelajaran agama, mohon kerja samanya," ujar Titha sambil menundukkan kepalanya pada ketiga guru yang ada di hadapannya.
Titha merasa sangat canggung dan tegang, karena tak ada sautan dari para guru yang ada di depannya itu.
Di tengah suasana yang hening dan sedikit tegang itu, pak Akmal langsung menepuk tangannya.
"Selamat datang, dan berproses haha," saut pak Akmal yang memecahkan suasana canggung dan tegang di hati Titha.
"Selamat datang buk Titha.." Saut buk Ning dan memberikan kalungan bunga pada Titha.
Sekilas di pikiran Titha. Ini diluar perkiraannya, ternyata pak Akmal dan buk Ning orangnya asyik dan menyenangkan, ini tidak akan membuat Titha bosan mengajar disini, gumam Titha dalam hatinya.
*Di perbatasan Kerinci.
Salman baru saja memasuki daerah kerinci, ia mengikuti Titha selama ini, bahkan Salman membawa semua pakaiannya seakan-akan mau pindah rumah. Salman sekarang kehilangan jejak Titha, ia tak tahu kemana dan dimana Titha tinggal, namun sekarang, yang hanya di pikiran Salman adalah, dimana dia akan tinggal untuk sementara di kerinci yang jauh dari kata maju dan kota, di kerinci tak banyak yang menggunakan radio, wilayahnya terlalu tertinggal dengan kota lain, semuanya serba lama dan jadul, jelas sekali wilayah ini masih kuno di dalam pikiran Salman.
Tak lama setelah memasuki kerinci, Salman sudah sampai di Padang teh yang pernah dilewati oleh Titha, disana Salman berniat mencari penginapan dan sejenisnya.
"Pak kita cari penginapan dulu pak," ucap Salman pada pak supir.
"Ada mas, tapi penginapannya masih jauh dari sini," jawab pak supir.
"Ya udah pak kita langsung kesana aja," gumam Salman.
"Baik mas," jawab pak supir dan mempercepat laju mobilnya.
Si Salman pun mencari penginapan di dekat hamparan teh itu, demi bisa mendapatkan cinta Titha, Salman rela mengikuti kemanapun Titha pergi, bahkan ke ujung dunia sekalipun.
Selang beberapa saat Salman mencari sebuah penginapan, pak supir yang membawa Salman itu berkata pada Salman.
"Mas, sepertinya didepan sana ada sebuah penginapan," ucap supir itu pada si Salman.
Salman pun masuk ke area pekarangan penginapan itu, tapi alangkah terkejutnya salman, melihat halaman yang begitu berantakan dengan daun kering yang berserakan, belum lagi penginapannya, terlihat seperti rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni, sontak bulu kuduk Salman berdiri, karena merasa seram dengan suasana rumah itu.
"Pak, ini benar penginapan yang bapak bilang kan?" Tanya Salman pada pak supir.
"Iya mas, ini penginapan yang saya maksud, bentuknya emang gini mas, tapi mas jangan khawatir, ini penginapan gak ada hal gaibnya kok, mas tenang aja," saut pak supir tanpa menoleh ke arah Salman.
"Tok tok!" Sebuah suara yang sedang mengetuk kaca mobil tepat di sebelah Salman.
Salman yang mendengar hal itu kemudian beralih perlahan melihat ke arah sumber suara tersebut.
"Aaaaaaaa...!!" Teriak Salman yang sangat terkejut melihat sesosok nenek-nenek dengan wajah menakutkan melihat kosong padanya.
Salman pun meronta-ronta tak terkendali, dan akhirnya pingsan di dalam mobil.
*Jam 22:00 wib.
Salman sadar dari pingsannya, dan mendapati ia sudah berada di atas kasur lembut yang besar. Salman kemudian bangun dari tempat tidur itu dan melihat semua barangnya sudah tersusun rapi di sebelah kemari besar, Salman semakin bingung melihat nuansa kamar yang ia sadari bahwa kamar itu sangat rapi dan bersih.
Salman teringat kembali kejadian yang tadi terjadi, dia baru ingat bahwa ia pingsan di mobil, tapi kenapa ia bisa berada di kamar yang sangat besar dan nyaman ini, lantas Salman mendekati jendela dan melihat keluar, alangkah terkejutnya Salman bahwa ia menyadari kalau ia sudah berada di dalam penginapan yang ia lihat seperti tempat angker sebelumnya, Salman tertekan dan terlihat tegang, ia lantas mendudukkan dirinya dan menampar pipinya.
"Apakah ini mimpi! Bangun! Bangun!" Desah Salman yang menampar-nampar pipinya.
Sesaat Salman sadar dengan adanya suara langkah kaki yang suaranya semakin lama semakin dekat, Salman lantas ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin di tiap sudut tubuhnya, ia mulai menggigil, sedangkan suara langkah kaki itu semakin lama semakin jelas terdengar, hingga akhirnya pintu kamarnya itu terbuka secara tiba-tiba, tapi Salman terdiam tak bisa berkata-kata, tidak ada orang sama sekali yang berada di depan pintu itu, ia tambah pucat dan keringatnya semakin bercucuran seperti arus sungai.
Salman berdiri dan memberanikan dirinya untuk mendekati pintu yang terbuka sendri itu, ia perlahan turun dari tempat tidurnya dan melangkah perlahan menuju pintu yang terbuka itu, langkah demi langkah Salman dengan tegang dan ketakutan perlahan mengeluarkan kepalanya dari kamar itu.
"Siapa di sana?" Salman melihat keluar pintu kamarnya, namun tak ada seorang pun disana, yang ada hanyalah, sebuah lorong panjang yang gelap dan menyeramkan.
Lantas melihat dan merasa aneh dengan rumah itu, Salman berniat keluar dari rumah itu melalui jendela kamarnya, yang mana kamarnya ada di tingkat 2 rumah tersebut. Salman perlahan menutup pintu kamarnya itu, dan bergegas mengambil barang-barangnya di dekat lemari besar, tapi saat ia memegang salah satu kopernya, tiba-tiba lemari besar itu mengeluarkan suara seperti ada seseorang memukul-mukulnya dari dalam, sontak Salman terduduk menjauh dari lemari itu, suara pukulan dari dalam lemari itupun semakin keras dan menjadi-jadi, Salman tersudut tepat menghadap ke arah lemari besar itu, semakin lama Salman melihat lemari itu, semakin kencang pulang suara pukulan yang di keluarkan olehnya.
"Brraaakkk!" Lemari besar itu terbuka.
Salman spontan berteriak dan menjerit lari keluar kamar itu tanpa melihat apa isi dari lemari besar itu, ia berlari keluar kamar membuka pintu kamar itu, dan menyusuri semua lorong yang ada dirumah itu, hingga Salman menemukan sebuah tangga tua yang mengarah ke atas, Salman sempat terhenti dan berpikir untuk menaiki tangga tersebut, namun belum sempat berpikir, Salman sudah mendengar suara langkah kaki tadi yang membuatnya ketakutan setengah mati, namun kali ini langkah kaki tersebut tidak seperti suara seseorang sedang berjalan, melainkan sedang berlari menuju ke arahnya.
Mendengar langkah kaki itu semakin dekat dengannya, Salman tanpa pikir panjang langsung berlari menaiki tangga tua tersebut, dan mendobrak pintu yang ada di atas tangga itu.
"Astagfirullah hal'aziim.." Sambil terhengah-hengah Salman terus beristighfar.
Salman menutup rapat pintu yang sudah ia dobrak tadi, dan membalikkan tubuhnya, alangkah terkejutnya Salman melihat sekelompok mayat manusia yang bergelantungan seperti daging sapi yang di jual, dengan darah yang masih segar bercucuran seperti hujan, Salman terduduk dan hampir pingsan atas apa yang di lihatnya itu.
"Bug! Bug! Bugg!" Suara langkah kaki tadi berganti dengan suara orang yang sedang mendobrak pintu yang ada di belakang Salman, Salman sudah tak bisa kemana-mana lagi, ia berada di lantai paling tinggi di rumah itu dan di kelilingi oleh gantungan mayat manusia yang sudah robek dan tak berbentuk lagi, kaki Salman seolah terpaku di tempat ia berpijak, tangannya seolah lumpuh tak bisa di gerakan, dan matanya seolah dimasukkan sesendok cabe rawit tak bisa menutup karena kepanasan. Pintu yang tepat berada di hadapan Salman kini sedang di dobrak oleh makhluk yang sepertinya sangat besar dan kuat, semakin lama semakin keras dentuman pukulannya ke arah pintu itu, Salman semakin menggigil dan pucat, suara dentuman dari balik pintu itu semakin keras dan menjadi-jadi, hingga pintupun.
"Dduuaaarr!!!" Pintu itu terbuka.