
"Tapi bik, aku kan gak bisa bersepeda," desah Titha menanggapi perkataan dari bibinya itu.
"Maka dari itu, bibi minta tolong si Kahfi buat ngajarin kamu, gimana nak Kahfi, mau kan, kamu maukan ngajarin si Titha buat bersepeda? " Tanya bi Mur pada si Kahfi.
"Tapi.. saya gak bisa bilang iya kalau si Tithanya belum setuju," saut Kahfi menjawab pertanyaan yang di ajukan bi Mur.
Sesaat dalam hati Titha ia merasa senang namun malu untuk belajar sepeda dengan Kahfi, entah perasaan apa ini, Titha merasa senang bila belajar bersepeda bersama Kahfi namun disisi lain ia malu untuk mengatakan iya.
*Keesokan harinya.
Di tengah tanah lapang dengan rerumputan nan hijau, bunyi Kayuhan sepeda dari sepeda tua klasik yang di naiki Titha, dengan Kahfi yang memegangi sepeda dari belakang,
"Terus, nah kayuh terus, aku lepas ya, aku lepas nih, satu.. dua.. tiga," ucap Kahfi yang memegangi sepeda dari belakang dan melepaskan pegangannya saat hitungan ketiga.
"Yeee.. aku bisa, fii aku bisa," ucap Titha yang menaiki sepeda dengan girang.
Sepeda tua yang dinaiki Titha itu sangat indah saat di naiki oleh bidadari seperti Titha, sekilas di pikiran Kahfi saat melihat Titha dengan senyuman bahagia saat bersepeda di tengah tanah lapang, dengan hembusan angin yang menerpa jilbab panjangnya, membuat hati Kahfi merasa terpesona, Kahfi larut dalam khayalannya yang indah itu, namun, disaat Kahfi melamun.
"Aaaak! " Teriak Titha yang terjatuh dari sepedanya.
Mendengar suara Titha, Kahfi tersadar dari khayalnya, ia langsung bergegas menuju sumber suara.
"Tha..! Titha," Kahfi bergegas menuju sumber suara dengan cemas.
Disana Titha sudah berdiri sambil membersihkan tangannya yang kotor akibat jatuh dan bergesekan dengan jalan.
"Kamu gak papa?, Apa yang sakit, gak ada yang lukakan? " Tanya Kahfi pada Titha dengan cemas.
"Enggak, Alhamdulillah gak papa, tapi rantai sepedanya," jawab Titha dengan patah semangat karena rantai sepedanya yang telah putus.
"Haaahh... Itu bisa aku perbaiki nanti, tapi kamu bener gak papakan? " Tanya Kahfi yang kedua kalinya.
Melihat Kahfi yang sangat mencemaskannya, Titha merasa sangat aman dan nyaman dengan perlakuan Kahfi padanya, baru kali ini Titha di perlakukan seolah orang yang istimewa setelah ayahnya, tingkah laku Kahfi hampir mirip dengan perlakuan ayahnya saat masih hidup, Titha terlamun melihat Kahfi yang memeriksa semua yang ada di sepedanya.
"Tha.. Titha.. " panggil Kahfi melirik ke arah Titha
Titha tersadar dari lamunannya, dan menjawab panggil Kahfi.
"Ah, ya? " Jawab Titha dengan agak terbata-bata.
"Ada apa? " Tanya Kahfi yang melihat Titha.
"Gak, gak papa," jawab Titha.
"Tenang aja, cuma rantainya aja kok yang rusak, besok juga udah bisa kamu naiki lagi nih sepeda," ucap Kahfi pada Titha.
"Maaf ya," ucap Titha.
"Kenapa minta maaf?" Saut Kahfi dengan raut wajah bingung.
"Ya aku udah ngerepotin kamu seharian ini," ucap Titha.
Kahfi tersenyum dan mendekat menghampiri Titha, hingga mereka saling bertatapan dengan sangat dekat tapi tidak sampai bersentuhan.
"Jangan bilang begitu, ini adalah amanah bagiku yang diberikan oleh bibik, siapa yang gak mau ngajarin wanita sholeha, cantik, baik, guru agama lagi," ujar Kahfi dengan nada pelan tapi masuk ke hati.
Mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Kahfi, Titha menunduk malu, ia sesaat merasa melayang di atas awan, apa yang di ucapkan oleh Kahfi sangatlah manis dan menyentuh, kemudian Titha memberanikan dirinya untuk bertatapan dengan Kahfi yang sedari tadi menatapnya.
"Entah kenapa Titha tidak merasakan adanya nafsu di antara tatapan mereka, apa ini hakikat cinta yang sebenarnya, jikalau tidak ada dinding yang bernama syari'at, mungkin akulah yang duluan mengungkapkan rasa yang terpendam ini," gumam Titha dalam hatinya saat saling bertatapan dengan Kahfi.
"Tha, Titha," panggil Kahfi yang menyadarkankan Titha.
"Hah? Kamu manggil aku? " Tanya Titha pada Kahfi.
"Dari tahun kemarin, sekarang baru nyaut," saut Kahfi sambil bergurau.
Dan pada hari itulah, Titha mulai menyimpan rasa terhadap Kahfi, ia mulai menyimpan rasa terhadap Kahfi yang sudah membuka pintu kelamnya yang terkekang oleh kepergian dari ayahnya, di perjalanan pulang mereka berdua, Kahfi yang mendorong sepeda Titha hanya bicara menceritakan alam di sekitar mereka, sedangkan Titha hanya terus menatap Kahfi dengan tatapan yang kagum, namun tatapannya itu hilang karena suara Kahfi yang memanggilnya sedari tadi.
"Tha.. Titha, assalamualaikum...? " Ucap Kahfi sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Titha.
Titha terbelalak, dan sadar lalu beralih menanggapi panggilan Kahfi.
"Hah? Kenapa? Ada apa? " Tanya Titha dengan mimik sok sokan gitu.
"Huh? Emang dari tadi aku natap kamu? " Tanya Titha yang mengelak.
"Iya, aku panggil-panggil gak nyaut, ada apa sih, kamu bisa lihat hantu ya?" Gurau Kahfi yang membuat Titha salting.
Entah kebetulan atau memang sudah tulisnya, dalam perjalan mereka, Titha dan Kahfi bertemu dengan Salman yang mobil yang di tumpanginya terlihat mogok, pas mereka melintas di sebelah Salman, hal yang tak diinginkan Titha pun terjadi,
"Titha? Ini bener kamukan?" Tanya Salman yang menghentikan langkah Titha dan Kahfi.
Titha terlihat tidak senang dengan adanya kehadiran Salman, dan itu terlihat jelas dimata Kahfi.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Titha dengan nada yang terkesan jengkel.
"Kok kamu ngomongnya gitu, aku ke sini ya mau meyakinkan kamu agar bisa menerimaku, kan aku sudah janji dengan ibumu," ujar Salman dengan optimis.
Mendengar perkataan Salman, Kahfi penasaran siapa pria ini? Dan dia siapanya Titha.
"Maaf menyela mas, tapi kalau boleh tahu mas ini siapa ya?" Tanya Kahfi pada Salman dengan sopan dan santun.
Tapi Salman menjawab pertanyaan dari Kahfi dengan cara yang cukup kasar dan tak beradab.
"Kenalkan, calon suaminya Titha, Salman," jawab Salman dengan nada arogan.
Mendengar jawaban Salman, Kahfi merasa sangat terhantam, Kahfi terdiam dan seolah salah satu mimpi barunya sirna, namun diamnya Kahfi tersentak dengan sautan Titha,
"Kamu apa-apaan sih Salman, kalau kamu kesini cuma buat bilang itu, maaf aku lagi sibuk di sini," sergah Titha dengan nada sedikit emosi.
"Tapi tha, aku tuh sungguh-sungguh sama kamu," ujar Salman yang berusaha menyakinkan Titha sambil menggenggam tangan Titha.
Sontak Titha langsung menarik kembali tangannya menjauh dari Salman.
"Iih, apa-apaan sih kamu, kita bukan muhrim!, Udah! Jangan cari aku lagi, yuk Kahfi, kita pulang," ucap Titha yang mulai naik emosinya dan mengajak Kahfi pulang.
"Jadi kamu lebih milih pria ini dari pada aku, kamu lebih milih pria miskin kayak dia, aku lebih baik tha, aku bakal bahagiain kamu dengan kekayaan aku, dan kamu gak perlu naik sepeda karat kayak gitu," ucap Salman yang sengaja menyinggung si Kahfi karena Salman yang cemburu melihat Kahfi dan Titha.
"Kamu tuh ya!, Aku gak sudi nikah sama laki-laki yang sombong dan kasar seperti kamu!" Saut Titha menjawab perkataan Salman yang menyulut emosi Titha.
Titha sudah geram dan ingin menghampiri si Salman, namun tepat sebelum Titha mau melangkah, Kahfi sudah menggenggam erat pergelangan tangan Titha.
"Udah, jangan di ladenin, jalan aja," ucap Kahfi yang menahan Titha yang ingin menghampiri Salman karena mulutnya yang pedas.
Titha pun terhenti dan menuruti kata Kahfi, ia tak jadi untuk menghampiri Salman, Titha dan Kahfi pun melanjutkan perjalanannya pulang, namun Salman masih saja memanas-manasi Titha.
"Benarkan apa kata aku, pas aku yang ingin memegang tanganmu, kamu bilang kita bukan muhrim, giliran si miskin itu, kamu diam saja, pokoknya aku gak akan berhenti buat kamu akan menerimamu, Titha!" Ucap Salman dari kejauhan.
Kahfi yang mendengar perkataan Salman itu lantas melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Titha.
"Maaf, aku menyentuhmu, tanpa seizin mu," ujar Kahfi pada Titha tanpa melihat ke arah Titha.
Titha menarik nafas dalam-dalam dan sesaat menatap ke arah Kahfi, melihat Kahfi yang tak seceria tadi, Titha tahu kalau Kahfi sudah salah faham, dan Titha harus menjelaskan hubungannya dengan Salman pada Kahfi secepatnya, karena Titha sudah mempunyai rasa terhadap Kahfi yang masih dipendamnya rapat-rapat. Tak terasa mereka sudah jauh dari hawanya Salman, dan sudah tiba tepat di depan halaman rumahnya bi Mur.
"Anu, malam nanti kamu ada kerjaan gak?" Tanya Titha dengan nada segan pada kahfi.
"Kenapa?" Saut Kahfi menjawab Titha.
"Untuk yang tadi-" belum selesai Titha bicara Kahfi sudah memotongnya.
"Gak papa kok, gak usah di bahas, aku juga ngerti," saut Kahfi.
Titha sejenak terdiam, dan berpikir, ia harus tetap menjelaskan pada Kahfi bagaimanapun caranya, jika ia tidak menjelaskan ada apa ia dengan si Salman, ia takut Kahfi akan menjauh darinya, padahal mereka baru saja dekat, lagi pula Titha dan Kahfi tak tahu bahwa mereka sebenarnya sudah saling suka dan saling menyembunyikan perasaan mereka.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, kalau gak ganggu," ucap Titha dengan mata yang terbelalak menatap Kahfi berusaha menyakinkannya.
Kahfi tersenyum kecil melihat Titha yang berusaha menyakinkannya.
"Insyaallah, sudah Isa. aku duluan ya, ini sepeda biar aku bawa kerumah aku dulu untuk diperbaiki, assalamualaikum," saut Kahfi menjawab Titha dan pamit pergi meninggalkan titha.
"Beneran ini, makasih ya," ucap Titha dari pintu pagar rumah bi Mur sambil melihat Kahfi yang sudah jauh.
Kahfi membalas Titha hanya dengan lambaian tangan ke atas tanpa melihat ke arah Titha sambil mendorong sepeda Titha yang putus rantainya.