
Hari itu, di SDN no 34 desa Betung kuning, dengan suasana yang tenang dan tentram, dibalut dengan kesederhanaan dalam pelaksanaan upacara, Titha beserta guru-guru yang lain, merasa bersyukur dan bangga di bawah kibaran sang merah putih, melihat anak-anak yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, Titha Pramulya, untuk pertama kalinya, meneteskan air matanya.
*Malam harinya di rumah bi Mur.
Titha dan bi Mur sedang merapikan meja makan karena mereka baru saja selesai makan malam. Titha nampak sangat lelah dan lesu karena ia pulang jalan kaki dari SD sampai ke rumah.
"Kamu kenapa tha?" Tanya bi Mur melihat Titha lesu dan lemah.
"Enggak bik, aku cuma kelelahan aja sepulang dari ngajar tadi," saut Titha.
"Ngajar?" Bi Mur merasa kebingungan dan penasaran dengan jawaban Titha.
"Oh iya aku belum bilang sama bibi ya, kita keruang tamu yuk bik," ucap Titha mengajak bi Mur ke ruang tamu.
Merekapun menuju ruang tamu dan duduk di temani dengan teh hangat buatan Titha.
Titha mula-mula ragu untuk mengatakannya pada bi Mur, tapi ya sudahlah.
"Jadi gini bik, Titha ke sini tuh gak hanya silahturahmi sama bibi, tapi Titha mungkin akan pindah kesini gak lama lagi," ujar Titha pada bi Mur yang yakin mendengarkan Titha.
"Maksud kamu, kamu akan tinggal di kerinci?" Tanya bi Mur yang dilimpahkan pada Titha.
"Iya bik, sebenarnya Titha udah jadi PNS, Titha ngajar agama di SD 34 desa Betung kuning bik," ungkap Titha pada bi Mur.
"Kok kamu gak bilang sama bibi sih, Alhamdulillah.. terus perusahan ayah mu gimana?" Bi Mur dengan senang dan bahagia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Titha.
"Kalau itu semenjak ayah meninggal, perusahan udah gulung tikar separoh, sekarang hanya tinggal gedungnya aja, Titha berniat ingin menjual gedung itu untuk Titha pakai buat renovasi SD tempat Titha ngajar bik," saut Titha menjawab pertanyaan dari bi Mur.
"Masyaallah.. bibi gak nyangka kamu udah sangat berubah tha.. tapi, apa ibuk mu tahu soal ini?" Tanya bi Mur.
"Kalau ibuk mah pasti setuju untuk itu, dari pada bangunannya terbengkalai begitu mending di jual aja," ujar Titha pada bi Mur.
"Ya baguslah kalau gitu, maaf ya bibi gak ada pas kamu wisuda," gumam bi Mur tak enak pada Titha.
"Ah bibi udah lama juga, jangan di bahas ah," saut Titha sambil menyeruput teh nya.
Bi Mur untuk sesaat termenung teringat ada yang bisa membantu Titha untuk pergi ke sekolah tempat ia mengajar.
"Nggak terasa ya, seminggu lagi udah masuk bulan ramadhan, tolongin bibi besok ya," ucap bi Mur.
"Boleh, emang mau nolongin apa bik?" Tanya Titha
"Bersihin gudang, ada yang mau bibi tunjukkin ke kamu, mana tahu bisa membantu kamu," ucap bi Mur yang membuat Titha penasaran.
"Hah? Bantu aku?" Saut Titha yang masih penasaran.
"Kamu bulan puasa liburkan? Gak sekolahkan?" Tanya bi Mur pada Titha.
"Kayaknya enggak deh bik, kenapa ya bik?" Saut Titha menjawab pertanyaan dari bi Mur.
"Tadi si Kahfi kerumah nyari kamu, dia sangka kamu udah pulang dari sekolah," ujar bi Mur.
"Kahfi? Nyari aku bik, kenapa?" Tanya Titha dengan matanya yang seketika membesar ketika mendengar bibinya menyebut nama Kahfi.
"Katanya, bentar lagi mau bulan puasa, jadi si Kahfi mau minta tolong ke kamu buat ikut ngajarin anak-anak ngaji pas malam bulan puasa," ujar bi Mur pada Titha.
"Ngajar ngaji? Bukannya dia yang ngajar?" Tanya Titha pada bibinya.
"Iya sih, katanya kalau pas bulan puasa ia gak sanggup, banyak anak-anak dari desa lain datang ngaji sama dia juga, jadi dia minta tolong kamu bantuin dia buat ngajarin anak-anak yang perempuan," ujar bi Mur menjelaskan pada Titha.
Titha nampak berpikir dari apa yang di ucapkan oleh bibinya itu, ia melamun entah mengkhayal apa. Bi Mur yang tak mendengar jawaban dari Titha beralih memandang Titha, bi Mur mendapati Titha yang sedang melamun.
"Hey! Kok malah ngelamun," ucap bi Mur menyadarkan Titha.
"Ah gak bik, Titha cuma kepikiran hal lain," ujar Titha.
"Jadi gimana? Mau gak ngajar ngaji?" Desah bi Mur menanyakan Titha lagi.
"Kalau gitu, nanti biar bibi bilang sama si Kahfi kalau kamu mau membantunya," saut bibinya.
"Ya udah kalau gitu bik, Titha ke kamar duluan, takutnya besok kesiangan," ucap Titha pada bibinya.
"Iya, bibi juga mau tidur, ayok ayok, jangan lupa matiin lampu," ucap bi Mur yang pergi duluan meninggalkan Titha di ruang tamu.
Titha mematikan lampu ruang tamu dan pergi masuk menuju kamarnya. Setibanya ia di dalam kamar, Titha merebahkan seluruh tubuhnya di atas kasur sambil memandang langit-langit.
"Kahfi, guru ngaji, hmm.." gumam Titha bicara sendiri sambil tersenyum sendiri.
*Keesokan harinya di SD 34 desa Betung kuning.
Titha nampak baru saja memasuki sebuah ruang kelas, ia hanya membawa dua potong kapur dan satu penggaris kayu.
"Assalamualaikum.." ucap Titha pada anak-anak murid yang dengan ceria dan bersemangat menjawab salamnya.
"Baiklah anak-anak, ada yang kenal dengan ibuk?" Tanya Titha pada semua murid di ruang itu.
"Tidaaak! Buukk!" Semua anak-anak menjawab secara kompak.
"Kalau gitu, hari ini kita hanya perkenalan saja, karena ada pepatah mengatakan, tak kenal maka tak-" perkataan Titha langsung di sambung oleh semua murid-murid dengan kompak.
"Saayaang...!" Sambung para murid dengan penuh semangat.
Dan pada hari itu, Titha mulai mengajar dan bercengkrama dengan anak-anak dari berbagai desa itu, semuanya penuh dengan keceriaan dan senyuman yang terlihat jelas di tiap wajah mereka, itu membuat Titha sangat damai dan tentram, melihat tawa dan canda dari murid tercintanya, yang menunjukkan dan mengajarkan Titha agar tetap menikmati hidup yang telah di berikan oleh yang kuasa, dengan terus bersyukur dan sabar.
*Kring kring kring.
Bunyi suara bel yang menandakan berakhirnya kegiatan belajar-mengajar pada hari ini, Titha menyudahi hari pertamanya mengajar dengan mengajak anak-anak membaca doa, dan setelah itu, di saat Titha sedang merapikan spidol dan satu penggaris kayu dengan membelakangi para muridnya, seorang murid memanggilnya, Titha pun beralih melihat ke sumber suara, ia mendapati semua anak-anak murid itu sudah berbaris rapi menunggu gilirannya untuk menyalami Titha sebelum pulang.
Titha sangat tersentuh dan kagum pada murid-muridnya itu, karena mereka memiliki akhlak yang sangat mulia, Titha merasa penuh dengan keharmonisan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ia hampir meneteskan air mata saat para murid menyalaminya.
Pas di salah satu murid terakhir yang menyalaminya, Titha terheran-heran melihat anak itu membawa pancingan dari batang bambu kecil dan jaring kecil tempat menyimpan ikan, lantas Titha menghentikan anak itu.
"Nak.. siapa nama kamu?" Tanya Titha pada anak yang membawa pancingan itu.
"Azfar buk.." jawab anak itu pelan dengan malu-malu.
"Azfar, azfar kok bawa pancing ke sekolah?" Tanya Titha pada Azfar yang terlihat ingin cepat pergi.
"Saya pulang sekolah langsung ke sungai buat mancing ikan buk, soalnya adik saya gak ada lauk untuk ia sarapan," jawab Azfar dengan polosnya.
Titha terdiam mendengar jawaban dari Azfar, ia merasa begitu kasian pada Azfar.
"Ibu dan ayah kamu kemana?" Tanya Titha lagi pada si Azfar.
"Kata nenek, emak dan bapak udah lama meninggal di Malaysia, jadi saya yang bantu nenek buat nyari makan untuk adik saya," ujar si Azfar.
Titha kembali terdegup, ia terdiam kembali mendengar ujar si Azfar, Titha tak bisa melihat keadaan Azfar yang penuh dengan beban dan tanggung jawab itu, ia pun mengeluarkan uang Rp.50.000 dari saku bajunya dan memberikan uang itu pada Azfar.
"Azfar.. ini ibuk ada rejeki sedikit buat Azfar, Azfar terima ya, bilang sama nenek, jangan beli yang tidak-tidak," ucap Titha pada Azfar.
"Tapi buk, ini banyak sekali, nanti nenek nanya dari mana uang ini, Azfar harus jawab apa buk?" Saut Azfar yang terkejut dengan jumlah uang yang di berikan Titha padanya.
"Padahal bagi orang yang berkepunyaan seperti Titha, uang lima puluh ribu itu tak seberapa sama sekali, melihat mata Azfar yang sepertinya belum pernah melihat uang besar seperti itu, menunjukkan bagaimana kehidupan yang dijalani Azfar jauh dari kata ringan, ia pasti sudah banyak menanggung beban untuk menghidupi adiknya," gumam Titha dalam hatinya.
Titha mengambil tangan Azfar dan menaruh uang itu dalam genggaman tangan Azfar.
"Ini, bilang sama nenek ini hadiah dari ibuk untuk Azfar," ucap Titha pada Azfar yang ragu-ragu mengambil uang yang di berikan oleh Titha.
"Terimakasih buk, adik saya pasti senang, karena saya bisa beli beras, terimakasih banyak buk, Azfar pamit dulu, assalamualaikum.." Azfar dengan girang dan menyalami Titha lalu bergegas pulang untuk memberitahukan pada adik dan neneknya.
Titha merasa lega dan tenang melihat pancaran kebahagiaan dari wajah Azfar yang sangat girang sambil membawa uang yang di berikannya.