Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 1



Tepatnya malam hari di rumah seorang gadis bernama Titha pramulya di Lampung, si Titha sedang berdebat dengan kedua orang tuanya.


"Tapi Titha gak mau di rumah sendirian, terus si bibi lagi pulang kampung lagi, kan bosen yah dirumah," keluh Titha pada ayahnya yang akan pergi ke luar kota untuk pekerjaan kantornya.


kemudian ayahnya Titha atau yang sering di panggil pak Candra menjawab sautan dari anaknya.


"Iya mau bagaimana lagi Titha ... Ayahkan sudah bilang, ayah ke Amerika bukan untuk liburan, tapi ayah kesana untuk mengkoordinasi cabang perusahaan kita yang ada disana, udah deh ... kamu gak usah cemberut gitu ... ntar kalau ayah udah pulang kita liburan ke kampungnya bi Mur, gimana?" ucap ayahnya Thita.


Titha dengan muka cemberutnya yang memesona itu duduk di sofa dan memainkan pengeras suara radio, sedangkan ayahnya pak Candra pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


"Ya udah ... ayah mau ke kamar dulu, takutnya besok ayah ketinggalan pesawat," ucap pak Candra sambil pergi.


Titha dengan muka cemberutnya hanya mendengarkan radio dan tidak memedulikan perkataan dari ayahnya.


Ibu Titha menghampiri Titha sambil memeluk Titha.


"Udahlah ... bener kata ayahmu, kita tunggu ayah pulang lalu ke kampungnya bi Mur, yah ...," ucap ibu Titha sambil mengelus-elus rambut anaknya.


Titha mematikan radionya dan menatap ibunya.


"Tapi ... Bu ... Ini udah yang kedua kalinya, masa tahun ini di tunda juga, padahal di kampung bibi di Kerinci katanya alamnya bagus," desah Titha pada ibunya.


Ibu Titha ya ... cuma bisa menenangkan Titha.


"Ya ... kamu sabar aja, setelah ayah pulang kita langsung pergi liburan ke kampungnya bibi, ya ...," saut ibunya.


Setelah Titha dan ibunya berbincang di ruang keluarga, merekapun pergi ke kamar masing-masing dan tidur.


*Keesokan harinya.


Di awali dengan bunyi jam weker, ayah Titha bangun dan tergesa-gesa pergi ke kamar mandi.


"Waduh ... Telat aku, buk.. ibuk ... cepat buk, ayah udah telat nih ...," ayah Titha mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Ibu Titha menjawab dari dalam kamar mandi.


"Bentar yah, ini lagi nyampo," saut ibu Titha.


Sedangkan Titha masih terbaring pulas di kamarnya, ia tidak tidur semalaman karena memikirkan dan penasaran akan kampung halaman bi Mur, saking penasarannya, Titha terbawa mimpi akan kampung halamannya bi Mur, ia seakan sedang melintasi pohon-pohon besar yang rindang, dengan suara gelincing kaleng-kaleng dari pengusir unggas di tepian sawah, melihat danau dengan ombak yang tenang, bukit-bukit nan hijau seperti berbaris seakan-akan sedang menyembah tuhan bersama-sama.


"Kringg ... Kringg ...."


Jam weker Titha berdering, ia pun terbangun dari mimpi indahnya itu, belum sempat merapikan tempat tidur, ibu Titha sudah memanggilnya dari lantai bawah.


"Titha ... Titha ... bangun nak, kita mau pergi ke bandara ngantar ayah," ucap ibunya.


Mendengar panggil ibunya, Titha bergegas bangun tanpa merapikan tempat tidur.


"Iya buk ... Ini lagi pake jilbab," saut Titha yang baru masuk ke kamar mandi.


Dilantai bawah. Ayah Titha keluar dari kamarnya dengan jas dan gaya rambut yang bagaikan gelombang laut dan pantulan cahaya matahari yang mengenainya, licin dan bergelombang.


"Buk ... Titha mana? ini bapak udah telat," desah ayah Titha.


Ibu Titha pun ke lantai atas menghampiri si Titha.


"Ya udah, ayah tunggu sini, Titha ... Titha ... Kamu ngapain di atas sana nak ...," panggil ibu Titha menaiki anak tangga satu-persatu.


Di kamar. Titha sedang mengenakan jilbabnya sambil berkaca di cermin lemarinya.


"Iya buk ... Ini Titha lagi pake jilbab dulu ...," saut Titha dari dalam kamar.


Ibu Titha yang belum sempat mengetuk pintu kamar Titha pun kembali kebawah sembari menjawab saut Titha tadi.


"Ya udah ... cepat ya nak, itu ayahmu udah telat, nanti ayah bisa ketinggalan pesawat Lo ...," ucap ibunya.


Titha bergegas dan mengambil tas kecilnya dan turun ke bawah.


*Sesampainya di bandara.


Tiga beranak itu turun dari mobil, dan masuk ke dalam bandara. Ayah Titha yang akan pergi pun pamit pada istri dan anak tercintanya.


"Ya udah ... ayah berangkat dulu ya, jaga kesehatan ya buk," ucap ayah Titha.


Ibu Titha pun menjawab, "Iya yah ... hati-hati di jalan ya," saut ibu Titha.


"Titha ... tolong jaga ibuk mu ya, ayah gak akan lama ... dan ayah janji kita pasti akan berkunjung ke rumahnya bi Mur di kerinci," Ucap ayahnya.


"Bener ya yah ...," saut Titha.


"Inshaallah ... tapi kamu selesain dulu kkn mu, baru kita pergi ya," ucap ayahnya.


Mendengar ayahnya berkata seperti itu, Titha malah patah semangat.


"Tapi yah ...," saut Titha.


Ibu Titha menyela. 


"Benar kata ayahmu ... sebaiknya kamu selesain dulu kkn mu itu," ucap ibu Titha.


Apa boleh buat mendengar kedua orang tuanya berkata seperti itu, Titha hanya bisa pasrah dan mengiyakan, padahal ia sangat malas untuk ikut serta dalam kkn nya.


Ayah Titha pun pergi dengan lambaian tangan perpisahan sementara mereka.


"Ayah pergi dulu ya," sambil melambaikan tangannya.


"Iya ... hati-hati," saut Titha dan ibunya.


Setelah ayahnya lepas landas dan pesawat sudah tampak kabur di himpitan awan, Titha dan ibunya pun kembali ke mobilnya.


"Buk ... ayah udah pergi, sekarang kita mau kemana?" tanya Titha pada ibunya.


"Kamu mau tolongin ibuk?" saut ibunya.


"Tolongin apa buk?" saut Titha.


"Tolongin bawa belanjaan di pasar, yah?" ucap ibunya mengajak Titha berbelanja di pasar.


Akhirnya merekapun pergi ke pasar di temani oleh supirnya pak Harto.


*Setibanya di pasar.


"Wahh ... udah lama ya buk, Titha ikut ke pasar kayak gini," ucap Titha.


"Ya iyalah, terakhir kamu ikut ibuk ke pasar kalau gak salah pas kamu SMP dulu," jawab ibunya.


Merekapun berbelanja di pasar memilih bahan-bahan makanan karena bahan makanan di rumah sudah hampir habis


Pas tiba di salah satu penjual sayuran. Ibu Titha menawarkan harga pada seorang ibu-ibu penjual sayuran.


"Buk ... bayam ini berapa ya?" tanya ibu Titha.


"Itu cuma Rp.1500 seikat buk," saut ibuk si penjual.


"Wahh.. segar betul sayur ibuk, baru di panen ya buk?" Tanya Titha pada ibuk penjual.


"Gak juga sih neng, soalnya sayur ini dari kerinci, adik saya punya ladang di sana, katanya di kerinci mah tanahnya subur.. terus udaranya sejuk," jawab ibuk si penjual.


"Iya neng, baru saja sampai tadi pagi," jawab ibuk si penjual.


Lama berbincang dengan ibuk si penjual sayuran, Titha pun tak tertahankan menanyakan tempat-tempat indah di kerinci.


"Buk ... apa ibuk ini pernah ke kerinci?" tanya Titha.


"Pernah sekali neng, dulu pas adik saya itu nikah di sana," jawab ibuk si penjual.


"Oh ... jadi adik ibuk nikah sama orang kerinci," saut Titha.


"Iya neng, memangnya kenapa neng nanya soal kerinci? neng mau kesana?" Tanya ibuk si penjual sayuran.


"Iya buk ... ini anak saya udah lama pengen kesana, tapi di tunda terus," jawab ibu Titha.


"Ohh ... mudah-mudahan kesampean ya neng ... saya mah udah ngerasain bagaimana dinginnya kerinci," jawab ibuk si penjual.


"Emang disitu turun salju ya buk," canda Titha menjawab ibuk si penjual.


"Ya enggaklah neng hahaha," ibuk si penjual sayuran ikut tertawa.


Titha dan ibunya pun memborong semua dagangan ibuk-ibuk si penjual sayuran itu, dan kembali ke mobilnya. Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Titha hanya memainkan sayur-sayuran yang dibelinya tadi, di ciumlah, di remes, pokonya di mainin.


"Heh kamu ngapain mainin sayuran begitu, nanti rusak sebelum ibuk masak nanti," ucap ibunya.


"Gak buk ... Titha cuma penasaran sama sayuran dari kampung halamannya bi Mur, ternyata memang benar yang bibi bilang, kerinci memang tempat yang alami dan subur, sayur ini udah membuktikannya, ya kan buk," saut Titha.


"Oh ... jadi dari tadi kamu mikirin itu," saut ibunya sambil tersenyum canda.


*Setibanya Titha dan ibunya di depan pintu gerbang rumahnya.


Titha melihat ada seorang laki-laki yang berada diluar rumahnya dan melihat-lihat ke dalam.


         "Buk ... itu maling ya," ucap Titha.


         "Mana? siapa yang kamu bilang maling, itu mah si Salman, anaknya pak Alwis tetangga kita, iya ya ... ngapain dia di depan rumah?" saut ibu Titha.


Mobilnya Titha pun berhenti tepat di depan gerbang rumahnya, kemudian si Salman pun menghampiri mobil dan mengetuk kaca mobil.


         "Maaf buk ... apa Titha nya ada?" tanya si salman.


         "Ada ... kenapa ya?" jawab ibu Titha.


Merekapun duduk di dalam rumah Titha. Tepatnya di ruang tamu, si Salman dan ibu Titha duduk disana, tak lama kemudian si Titha datang membawakan air.


         "Maaf ya ... cuma air putih aja yang ada, soalnya si bibi lagi pulang kampung," ucap Titha sambil menyuguhkan minuman pada Salman.


         "Ah gak papa ... maaf udah ngerepotin Titha," jawab si Salman.


         "Gak papa," saut Titha.


Setelah Titha membawakan air untuk si Salman, tiba-tiba telepon rumah berdering, kemudian ibunya Titha pergi untuk mengangkatnya.


         "Ibu angkat telepon dulu ya ... Titha temenin si Salman bentar ya," ucap ibunya.


         "Iya buk," jawab Titha.


Titha pun duduk menemani si Salman di ruang tamu.


         "Silahkan diminum airnya mas Salman," ucap Titha menawarkan minum pada Salman.


         "Ah iya Titha, tadi juga udah di minum kok," jawab Salman.


Kemudian tak lama kemudian, si Salman berpindah duduk sekursi dengan si Titha, dan itu membuat Titha tidak nyaman.


         "Maaf Tha ... saya gak ada maksud apa-apa, saya hanya tidak enak duduk sendiri, gak papa kan?" ucap si Salman pada Titha yang sudah merasa curiga.


         "Gak papa mas, asal jangan terlalu dekat," ucap Titha menjawab Salman.


Salman tersenyum mendengar jawaban si Titha, namun lama kelamaan jarak di antara mereka berdua semakin lama semakin dekat hingga tak terasa paha mereka sudah bersentuhan.


Sontak Titha langsung berdiri dan berkata.


         "Maaf mas Salman, kita ini bukan muhrim, dan saya sudah peringatkan itu pada mas," ucap Titha yang sudah terpancing emosinya.


         "Maaf Tha, saya gak bermaksud begitu," ucap si Salman.


         "Terserah apa kata mas Salman, saya mau ke kamar dulu!" ucap Titha yang sudah tak tahan dengan laki-laki satu ini.


Baru saja Titha melangkahkan kaki kanannya, tak terasa tangan si Salman sudah mengaitkan tangannya di pergelangan tangan Titha.


         "Maafkan aku Tha, sebenarnya aku kesini ingin, ingin-"


         "Ingin apa?!" ucap Titha.


         "Aku ingin melamarmu!" ucap Salman dengan raut wajah serius menatap tajam ke arah Titha.


Sontak Titha terdiam, ia baru kali ini mendengar ada seorang laki-laki melamarnya langsung di hadapannya, namun Titha tahu betul bagaimana sifat dan tingkah laku si Salman. Ia tak mau menikah dengan Salman karena Salman adalah orang yang arogan dan suka menghamburkan uang dengan cara yang tak dibolehkan agama, ia kerap pergi ke tempat-tempat hiburan malam. Jadi, Titha menolaknya mentah-mentah.


         "Maaf, aku tidak bisa," ucap Titha.


         "Tidak bisa?!, tapi kenapa Tha ... aku kaya, rumah besar, mobil banyak, belum lagi sahamku yang ada di perusahaan ku, aku pasti bisa membuat kamu bahagia," ucap Salman menjawab Titha.


Mendengar hal itu, si Titha tambah tidak nyaman dan ingin cepat-cepat pergi dari Salman.


Ada alasannya kenapa si Titha tidak menjawab pernyataan dari Salman yang ingin melamarnya, itu karena Salman adalah anak dari pak Alwis, salah satu pejabat negara yang di segani karena hartanya, dan terlebih lagi, sifat dari Salman yang angkuh dan suka menghamburkan uang di tempat-tempat hiburan malam, walaupun nada bicaranya sangat sopan seperti seorang anak yang santun.


Disaat Titha dan Salman sedang bertegang rasa di ruangan tamu, tiba-tiba ibu Titha berteriak histeris dari ruang keluarga tempat ia menelpon.


         "Aaaaa ... ! Lailahhaillah ...! Gusti ...!" teriak ibunya dari ruang keluarga.


Titha yang mendengar ibunya berteriak sontak bergegas menghampiri ibunya dan melepaskan genggaman dari Salman, begitupun Salman, ia juga mendengar teriakan ibunya Titha yang sangat keras, mereka berdua bergegas menuju tempat ibunya Titha, dan sudah membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.


Setibanya mereka di tempat ibunya menelpon, Titha sangat terkejut melihat ibunya terduduk lemas tersandar di meja telepon dengan telepon yang masih menggantung Ter awang-awang.


         "Astagfirullah! Buk ... Ibuk kenapa? Buk?" ucap Titha sambil mendudukkan ibunya yang sudah penuh dengan gelinang air mata.


         "Titha... Titha anakku ...," saut ibunya yang tersedu-sedu.


         "Iya buk ... kenapa? bilang sama Titha ada apa?" saut Titha yang cemas dan penasaran.


Salman hanya diam tak tahu bicara apa, Ibunya Titha semakin menjadi-jadi Isak tangisnya.


         "Ayah ... ayahmu Titha ...," Titha sudah tidak enak lagi perasaannya setelah ibunya menyebut ayahnya.


         "Iya buk ... ayah kenapa buk? ada apa dengan ayah?" ucap Titha yang semakin cemas.


         "Pesawat yang di tumpangi ayahmu kecelakaan," ucap ibunya dan semakin deras cucuran air matanya keluar


Mendengar itu, Titha sangat syok! dan terduduk, melihat hal itu, Salman lantas langsung menenangkan Titha.


         "Astaga Titha, tenanglah," salman menopang Titha yang hampir pingsan.


Titha terduduk lemas tak percaya dengan apa yang di katakan oleh ibunya, hatinya terasa seperti di hempas ke batu kerikil tajam, dan mulutnya seperti di jahit tak bisa bicara apa-apa, matanya terus mengeluarkan air mata seperti sungai yang meluap. Hingga si Titha mencapai batasnya, ia pun pingsan di pangkuan Salman, karena mendengar kabar yang belum bisa diterima di kehidupannya, yaitu.. kabar terburuk yang tak ingin di dengarnya sudah di makan oleh telinganya dan di cerna oleh otaknya, bahwa ayahnya telah tiada lagi.