
*Setelah satu hari satu malam dalam perjalanan.
Sekitar jam 04:30 wib. Si Titha masih tertidur pulas di mobil, kemudian salah satu penumpang menghampirinya dan membangunkannya.
"Mbak ... mbak bangun mbak," ucap salah satu penumpang yang membangunkan Titha.
"Hmmm ...," Titha membuka matanya perlahan.
"Ayuk ... kita sholat bareng mbak ... penumpang yang lain juga baru udah selesai ambil air wudhunya," ucap salah satu penumpang yang melihat Titha sudah bangun.
"Huh? Iya.. saya ambil mukena saya dulu di tas," jawab Titha.
Pagi hari itu. Lantunan adzan subuh yang merdu mengawali perjalanan Titha yang baru, sebagai guru, tentu ia harus menerapkan nilai-nilai moral dan etika pada muridnya nanti. Setelah semuanya selesai sholat, Titha nampak sedang merapikan mukenanya dan salah satu penumpang yang tadi kembali menghampiri si Titha.
"Maaf mbak, boleh saya temani mbak disini?" tanya si penumpang itu.
"Boleh mbak," Jawab Titha.
Mereka mengobrol lama di dalam surau itu, sampai akhirnya pak supir memanggil mereka berdua karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke kerinci. Setiba di dalam mobil dan semua penumpang sudah duduk, mobil perlahan melaju dan Titha kembali menikmati perjalanannya, saat Titha sedang melamun melihat keluar jendela mobil, penumpang yang tadi menghampiri Titha lagi dan duduk di sebelahnya.
"Permisi mba," ia duduk di sebelah Titha.
"Silahkan mbak," saut Titha
"Ngomong-ngomong kalau boleh tahu kenapa mbak ke kerinci? Liburan?" tanya gadis yang sepertinya seumuran dengan si Titha itu.
"Ah ... saya mau ngajar di situ ... kalau mbak sendiri?" titha balik nanya.
"Eh ... kok sama ya, saya juga mau ngajar loh disana ... emang mbak sendiri ngajar apa di sana?" tanya si penumpang itu pada Titha.
"Saya ... saya inshaallah ngajar agama," jawab Titha.
Lama mengobrol, si Titha mulai dekat dengan si penumpang yang seusianya itu.
"Hahaha ... ada-ada aja mbak ih ... oh ya kalau boleh tahu nama mbak siapa yah..?" tanya Titha pada si penumpang mobil yang sudah mulai akrab dengannya itu.
"Oh iya ... saya lupa memperkenalkan diri ya, perkenalkan ... nama saya Puti Andini, saya lulusan tes CPNS yang baru ini dan bertugas di kabupaten kerinci sebagai salah satu guru seni disana," ujar si Puti.
"Wah ... sama dong, kok saya gak ketemu ya sama mbak Puti pas tes," tanya Titha.
"Jangan pake mbak lagi deh ... panggil aja Puti kayaknya kita seumuran kan," jawab Puti.
"Iya ... Puti, kamu di tempatkan dimana? mungkin kita bisa jadi teman," ucap Titha pada puti.
"Boleh ... tuh teman, kalau perlu sahabat hahaha ... kalau gak salah aku di ... Dimana yah..? Oh iya ... aku di Sungai Penuh ngajar di SMA di sana, kalau kamu ... e ... siapa namanya?" jawab Puti.
"Oh ... aku belum memperkenalkan diri ya..? Hahaha ... maaf. Aku Titha Pramulya, panggil aja Titha, kalau untuk dimana aku di tempatkan itu aku belum tahu pasti.. tapi sudah pasti di SMA juga kayaknya," Jawab Titha.
Tak lama mengobrol mereka sudah seperti saudara saja, Titha dan Puti tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa akrab, yah.. namanya juga perempuan ya.. susah di tebak.
*Malam harinya di perbatasan wilayah kerinci.
Mobil yang di tumpangi Titha dan Puti mulai memasuki wilayah kabupaten kerinci, belum lima menit mereka memasuki kerinci dengan hutannya dan pohon-pohon nya yang besar rindang, semua penumpang terbangun karena merasakan hawa dingin dari udara di kerinci, terutama Puti yang berasal dari tanah rendah, yaitu Sumatra barat.
"Tha ... kamu gak kedinginan? Sumpah dingin banget nih Kerinci, mungkin kutub selatannya Sumatra," ujar si Puti sambil mendekap tangannya ke mulutnya.
"Emang ya ... Indonesia kaya akan alamnya yang alami dan subur," saut Titha.
Baru saja sampai ke kerinci waktu itu, tiba-tiba mobil yang di tumpangi si Titha dan Puti mendadak berhenti dan menepi di tengah hutan yang gelap gulita, pak supir kebelakang menjelaskan apa yang terjadi.
"Maaf bapak ibuk ... sepertinya ban mobil ada yang bocor, jadi harap tenang ya menunggu selesainya di perbaiki bapak dan ibuk boleh keluar mobil untuk minum buang air silahkan, cuma jangan jauh-jauh, takutnya terjadi hal yang tidak kita inginkan," ujar pak supir dan turut keluar untuk membantu perbaikan ban mobilnya yang bocor.
Titha dan Puti masih duduk di kursinya karena kedinginan, Puti melihat jam tangannya.
"Astaga ... udah jam 05:30 pagi, kita malah terjebak di hutan ini, tapi sumpah ini udah kayak kutub Utara, dingin ... Banget tha...," ucap si Puti sambil *******-***** jari-jarinya.
"Ya ... mau gimana lagi, kita turun yuk," saut Titha dan beranjak dari kursinya lalu keluar mobil untuk melihat-lihat alam di luar mobil.
"Eh ... Tha ... kita di dalam mobil aja udah mau mati beku.. apa lagi kalau kita keluar," saut Puti.
"Eh ... tunggu aku ikut deh," Puti ikut beranjak dari kursinya dan mengikuti Titha dengan bibir dan mulutnya yang tak hentinya bergetar akibat kedinginan.
Setelah keluar dari mobil, Titha dan Puti melihat bahwa mereka sedang berada di dekat tebing di dataran tinggi kerinci, nampak sebercak merah yang mulai muncul bak melukis di langit kelam, belum lama di kerinci mereka sudah diberi kejutan yang tak terduga dari Tuhan yang maha esa, yaitu sebuah pemandangan sunrise yang menjadi pembuka dan awal petualangan mereka di tanah sakti alam Kerinci.
Titha yang belum pernah melihat sunrise sama sekali terdiam dengan keindahan yang belum pernah ia lihat selama ini, ia bersyukur masih bisa melihat hal yang indah seperti ini.
"Masyaallah ... indahnya ... ini pertama kalinya aku melihat matahari terbit yang membuat mata ini ingin bersujud kepada Tuhan, dan badan ini seakan ingin berzikir dengan bergerak atas kemauannya, dan mulutku tak bisa berkata-kata kecuali untuk melantunkan sholawat kepada Rasulullah yang maha mulia.. terimakasih ya Allah, karena sudah membiarkan hamba melihat salah satu ciptaan mu yang indah ini," ujar si Titha yang berdecak kagum karena ini sunrise pertamanya.
"Masyaallah Tha ... kata-kata mu itu loh, puitis banget ... kalau aku ini adalah sunrise kedua bagiku," saut Puti yang berdiri di sebelah Titha.
"Kedua? Lalu dimana kamu lihat sunrise pertamamu?" Tanya Titha pada Puti.
"Sunrise pertamaku itu ... saat aku masih kecil ... mungkin itu pas aku kelas 5 SD, aku digendong oleh ayahku di pinggir pantai, saat itu keluargaku hanyalah keluarga yang sederhana, ayahku itu adalah nelayan di kampungku di Sumatra barat, dan ibuku membuka usaha gorengan dan jual kelapa muda di pinggir pantai itu, bagaimana dengan mu tha..? Apa kamu pernah punya kenangan bersama dengan ayahmu ataupun ibumu yang sulit untuk kau lupakan?" Tanya Puti.
Mendengar Puti bertanya seperti itu, Titha jadi teringat dengan ayahnya yang sudah meninggal, Titha mengalihkan pandangannya ke sunrise dan mendesah.
"Haah ... kenangan yah," desah Titha sambil tersenyum kecil.
"Teet ... Teet...!" suara klakson mobil yang mengagetkan Titha dan Puti.
"Mandeh..! Mandeh..!" ucap Puti yang terkejut.
"Mbak ... mobilnya udah siap berangkat lagi ayok naik nanti ketinggalan," ujar pak supir dari jendela mobil.
"Haah ... untung gak copot ini jantung," saut Puti yang mengelus-eluskan dadanya.
"Ya udah yuk ... nanti kita di tinggal mobil," saut Titha pada Puti dan berjalan memasuki mobil kembali.
Merekapun melanjutkan perjalanannya. Dalam mobil Titha dan Puti mulai mengantuk lagi padahal hari baru pagi, merekapun tertidur pulas di mobil.
*Satu jam kemudian.
Kilauan cahaya matahari yang mengenai kelopak mata Titha memancingnya untuk membuka matanya, dan Titha perlahan terbangun dari tidurnya.
"Hooah ...," Titha menguap.
"Masyaallah ... Ti ... Puti ... Bangun, coba kamu lihat deh," ucap Titha sambil membangunkan Puti yang masih tertidur pulas di bahunya Titha.
"Huh? Udah sampe ya..?" saut Puti sambil mengelus matanya.
"Coba kamu lihat kita lagi dimana," ucap Titha dengan senang.
Kemudian si Puti melihat ke luar jendela mobil dan ia disambut dengan hamparan Padang teh yang luas dan hijau seperti gelombang air laut, dan kegirangan mereka tidak sampai di situ saja, terdengar dari suara pak supir di depan.
"Bapak ibuk sekalian ... sekarang kita sudah sampai di kerinci, nah bapak ibuk bisa lihat kiri kanan kalian hamparan Padang teh yang luas, dan gak cuma itu aja buk pak sebentar lagi pas kita udah sampai di atas nanti bapak ibuk bisa lihat daya tarik utama yang membuat turis-turis asing berdatangan kesini," ucap pak supir pada semua penumpang.
Tak lama kemudian mereka melihat sebuah pemandangan yang cantik dan gagah perkasa, yaitu pemandangan gagahnya gunung tertinggi di Sumatra, yaitu gunung kerinci.
"Wahh ... besar sekali," ucap Puti.
Pak supir kembali ngomong kayak udah jadi tour guide aja.
"Nah ... ini yang saya bilang tadi, daya tarik kabupaten Kerinci, yaitu gunung Kerinci yang gagah perkasa," ujar pak supir.
Saat itu Titha hanya diam menikmati suguhan alam yang memanjakan matanya, ia hanya bersenandung dalam hatinya, dan sedang asyik melamun, Puti mencubit pipi si Titha.
"Aak...!" desah Titha yang kesakitan di cubit Puti.
"Dari tadi tuh aku manggil kamu," ujar Puti pada si Titha.
"Aduh ... emang ada apa?" tanya Titha pada Puti.
"Kitakan udah sampai nih, jadi kamu mau turun dimana? Kalau kamu belum tahu udah sama aku aja dulu di sungai penuh, aku ngontrak kok disana, cuma sendiri," ucap Puti pada Titha.
"Gak usah Ti ... Terimakasih, aku nginep dirumah bibiku," jawab Titha.
"Oh gitu ... kapan-kapan kita ketemu ya.. Titha," saut Puti sembari bergurau dengan Titha.