Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 17



Tinggallah bi Mur dan Kahfi di ruang tamu yang tadi ramai dan harmonis suasananya, bi Mur meraba tangan Kahfi kerena merasa tak enak padanya, namun Kahfi telah memutuskan apa yang akan ia lakukan, raut wajah Kahfi seketika berubah menjadi serius dengan tatapan optimis, Kahfi berkata pada bi Mur.


         "Aku akan ke Lampung, tapi tidak bersama Titha, aku akan mengawasi mereka dari jauh," ucap Kahfi dengan nada tegas dan meyakinkan.


*Keesokan harinya.


Di halaman rumah bi Mur, sebuah mobil berwarna biru maroon sedang terparkir disana, dan nampaklah si Salman yang keluar dari dalam rumah bi Mur sambil membawa sebuah koper, tak lama setelah Salman, Titha dengan raut wajah murung dan lesu keluar dari dalam rumah, dengan nada jalannya yang pelan, seakan-akan sedang memikul beban yang berat, Titha berjalan menuju ke arah mobil, sedangkan bi Mur yang melihat Titha begitu, lantas menghampiri Titha dan berkata.


         "Tha.. kamu yang sabar ya, maaf bibi gak bisa ikut, tapi bibi yakin kok, kalau ibuk pasti akan baik-baik saja," ucap bibinya itu dengan sayu.


Dengan pelan dan tenang, Titha perlahan mengangkat kepalanya dan menatap sayu ke arah bi Mur.


         "Bik... Titha sangat takut bik, Titha takut ibuk kenapa-kenapa," saut Titha menjawab bibinya dengan usahanya menahan tangis.


Titha pun memeluk bibinya dan disambut hangat oleh bibinya, namun, belum lama mereka berpelukan, Salman memanggil Titha dan menghampirinya.


         "Tha.. Titha, semuanya udah dimasukin ke mobil, kamu udah siap?" Ucap Salman pada Titha.


Mendengar seru Salman, Titha dan bibinya pun melepaskan pelukan mereka, Titha melirik ke arah Salman untuk sesaat dan kembali menatap bibinya dengan tangan mereka yang masih saling menggenggam.


         "Bik.. Titha pergi dulu ya, jaga diri bibik baik-baik, Titha janji, kalau ibuk cepat sembuh, Titha bakal bawa ibuk kesini bik, Titha bakal pindah ke kerinci bersama bibik," ujar Titha dengan nada sayu pada bibinya.


Bi Mur menanggapi Titha hanya dengan anggukan kepala, dan menarik Titha ke arahnya hingga mereka kembali berpelukan, namun untuk yang kesekian kalinya, pelukan kedua mereka kembali di batalkan oleh seru Salman yang sedari tadi memanggil Titha, Salman pun menghampiri dan datang tepat di hadapan Titha dan bibinya.


         "Maaf kalau aku mengganggu, tapi ini sudah saatnya kita berangkat," ucap Salman pelan.


Titha dan bibinya melepaskan pelukan mereka, Titha kembali menatap bibinya dengan sayu.


         "Ya udah bik, Titha pergi dulu, assalamualaikum," ucapan Titha pada bibinya dengan nada pelan dan terkesan berat lalu menyalami dan mencium tangan bibinya.


         "Hati-hati ya, Walaikumussalam," saut bibinya menjawab Titha.


         "Oke bik, kami pergi dulu," ucap Salman pada bi Mur.


         "Tolong jaga Titha ya," saut bi Mur menjawab Salman.


         "Jangan khawatir bik, saya pasti menjaga Titha apapun yang terjadi," saut Salman menjawab bi Mur.


Titha dan Salman pun masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan bibinya Titha atau bi Mur, Titha hanya diam dan melamun saat di dalam mobil, ia tak bicara maupun menjawab apa yang di katakan oleh Salman, melihat hal itu, bibinya sangat cemas dan prihatin melihat Titha yang begitu, klakson mobil pun di berbunyi ikut berpamitan, kemudian mobil mulai melaju perlahan meninggalkan halaman rumah bi Mur, hingga akhirnya mobil yang di tumpangi Titha dan Salman sudah terlihat kecil dari kejauhan.


Bi Mur yang masih berdiri melihat kepergian Titha di depan halamannya kemudian hendak masuk kembali kedalam rumahnya, namun disaat bi Mur baru saja membalikkan badannya, ia melihat si Kahfi dari sudut rumahnya tengah berdiri dengan raut wajah yang kosong menatap dia, lantas bi Mur pun menghampiri si Kahfi.


*Di ruang tamu, rumah bi Mur.


Kahfi dan bi Mur tengah duduk di ruang tamu dengan raut wajah yang serius, Kahfi nampak berpikir dengan keningnya yang mengkerut. Di sisi lain, bi Mur kasian pada si Kahfi, karena bi Mur tahu bahwa si Kahfi mencintai si Titha dengan tulus dan ikhlas, lantas bi Mur membuka pembicaraan duluan.


         "Hahh.. nak Kahfi, bibi tahu kamu pasti kepikiran sama si Titha, tapi kamu pastinya faham akan keadaan Titha yang sekarang," ucap bi Mur pada Kahfi dengan pelan.


Kahfi masih menunduk dengan gerut di keningnya, dan mendengar apa yang di ucapkan oleh bi Mur, Kahfi pun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap bi Mur dengan penuh keseriusan dan keyakinan.


Mendengar ucapan dari bi Mur, Kahfi terkejut karena bi Mur tahu isi hatinya yang sebenarnya.


         "Dari mana bibik tahu? Kalau saya mencintai Titha?" Saut Kahfi menjawab pernyataan dari bi Mur.


Bi Mur tersenyum, dan berkata, " bibi tahu karena bibi juga seorang wanita, bibi rasa Titha lah yang mencintaimu lebih dulu," ucap bi Mur.


         "Jadi maksud bibik, Titha juga, dia juga mencintai ku?" Saut Kahfi yang terkejut dan tak percaya akan apa yang dikatakan oleh bi Mur.


         "Itulah kenapa wanita selalu menyalahkan laki-laki, karena hampir semua laki-laki itu sulit atau tidak peka dengan maksud dan tujuan dari perempuan yang mencintainya," ujar bi Mur pelan.


Setelah bi Mur mengatakan bahwa kalau Titha juga mencintainya, suasana yang serius dan agak tegang sedih tadi perlahan mencair, Kahfi yang baru saja mengetahui tentang isi hati Titha itu lantas malah bertambah yakin dan merasa harus segera mengikuti Titha ke Lampung.


         "Terimakasih bik, saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan," ucap Kahfi dengan nada penuh keyakinan.


         "Jadi kamu gak jadi ke Lampungkan?" Saut bi Mur.


         "Justru itu bik, aku harus ke Lampung dan menemui si Titha, apa lagi sekarang dia bersama orang yang tidak ingin dia lihat, aku takut Salman akan berbuat yang tidak-tidak pada Titha, apa lagi mereka itu bukan muhrim, jadi aku harus kesana, dan aku siap apapun resikonya, ini semua demi Titha bik," ujar Kahfi dengan mata yang tajam menatap ke arah bi Mur.


Bi Mur terkejut mendengar pernyataan si Kahfi, ia tidak menyangka setelah ia mengatakan kalau si Titha juga mencintainya malah membuat si Kahfi tambah nekat dan yakin untuk segera menyusul Titha ke Lampung.


         "Haaahh.." Bi Mur menghela nafas panjang, lalu berkata pada si Kahfi, " apa orang tua nak Kahfi tahu? Bagaimana jika orang tua nak Kahfi tidak mengizinkan nak Kahfi untuk menyusul si Titha?!" Ujar bi Mur yang kembali dengan raut wajah serius.


         "Sebenarnya saya sudah menceritakan pada mereka bahwa saya sedang menyukai seseorang, namun saya belum memberitahukan siapa orangnya pada mereka. Maaf bik, bukannya aku melawan ataupun tidak menuruti nasehat bibik, tapi aku sudah memutuskan, kalau saya akan menyusul si Titha, walaupun saya tahu keadaan dan situasinya saat ini," ujar Kahfi menjawab bi Mur dengan penuh keyakinan dengan pelan.


Bi Mur hanya bisa menghela nafas, dan berdiri lalu pergi ke kamarnya tanpa berkata apapun pada Kahfi, tak lama setelah bi Mur dari kamarnya, ia keluar dengan membawa sehelai kertas dan pena, lalu kembali duduk bersama si Kahfi di ruang tamu, sementara itu, si Kahfi yang melihat bi Mur membawa kertas dan pena membuatnya bingung, bi Mur pun mulai menulis di secarik kertas itu, dan setelah bi Mur selesai menulis, bi Mur pun memberikan kertas itu pada Kahfi.


         "Ini ambil, ini akan membantumu ketika sudah sampai di Lampung," ujar bi Mur pada si Kahfi.


         "Ini kan? Terimakasih banyak bik," ucap Kahfi menjawab bi Mur dengan raut wajah senang.


Bi Mur membalas sautan si Kahfi hanya dengan senyuman, lalu berkata, " Iyah, kalau udah begini, ya bibik gak bisa lagi melarang kamu, karena ini sudah menjadi masalah hati, rasa antara kalian berdua, dan satu hal lagi, bagaimana dengan si Salman? Dia pasti tidak akan membiarkan kamu untuk lebih dekat lagi dengan si Titha, apa lagi kalau dia sampai tahu kalau kalian sama-sama jatuh cinta," ujar bi Mur mengingatkan si Kahfi dengan nada pelan tapi serius.


Sekarang giliran si Kahfi lagi yang tersenyum pada bi Mur, lalu berkata, " bik, kalau masalah itu saya serahkan pada dia yang menciptakan cinta, aku menyukai si Titha dan Titha juga menyukaiku, itu semua juga karena ridho dari yang menciptakan cinta, jadi untuk itu, aku serahkan padanya," ujar Kahfi menjawab bi Mur.


         "Maksud kamu? Memangnya siapa lagi yang menciptakan cinta kalau bukan kamu sendiri dan Titha," saut bi Mur yang rada-rada bingung.


         "Allah bik, Allah lah yang membuat kami saling menyukai, dan ia juga yang mempertemukan kami atas kehendaknya, ingat bik kata Allah di surat Yasin ayat ke 82, "Kun fa yakun," jika Allah berkehendak jadilah! Maka jadilah sesuatu itu," ujar Kahfi menjawab bi Mur.


Mendengar ujar si Kahfi, bi Mur tersentak dan baru sadar, bahwa Kahfi adalah pemuda yang dekat dengan masjid dan juga faham akan agama, ia memang pantas memiliki Titha, dari pada si Salman yang berat ke sisi dunianya, bi Mur terlarut dan senyum dan lamunannya, dan tersadar karena sapa si Kahfi.


         "Baiklah kalau begitu bik, aku pamit dulu mau siap-siap, bibik jangan khawatir, dan terimakasih untuk alamat rumahnya Titha yang bibik tulis ini, aku pamit bik, assalamualaikum," ujar Kahfi dan menyalami bi Mur lalu pergi.


         "Walaikumussalam," saut bi Mur sambil tersenyum kecil melihat Kahfi.


Bi Mur melihat Kahfi dari jendela rumahnya, ia melihat si Kahfi yang terus memandangi kertas yang di berikannya yang tak lain kertas itu berisi alamat rumah Titha di Lampung.


Bi Mur menghela nafas panjang, " Hahh.. akankah dia yang menciptakan cinta dan mempertemukan kalian membuat kalian bersatu, hanya dialah yang tahu," gumam bi Mur dalam hatinya sambil memandangi Kahfi yang tengah berjalan pulang dari jendelanya.