Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 13



"Astagfirullah! Bibik! Bik.. ada apa ini bik, kenapa banyak darah di sini?! Bik.. jawab Titha bik, bik!" Titha syok melihat bibinya tanggal sudah terkapar di tengah lantai gudang dengan genangan darah yang mengepung seluruh bagian kepala dari bi Mur.


*Setelah bi Mur dirawat dari puskesmas.


Di kamar bi Mur, Titha sedang memijat-mijat bi Mur yang terbaring di atas kasur.


         "Bik.. bibik tuh kenapa gak nunggu Titha pulang dari sekolah dulu sih kalau mau bersihin gudang, kan Titha udah janji sama bibik mau bantu," ujar Titha pada bi Mur dengan resah melihat kepala bibinya yang di perban.


         "Gak apa-apa, bibi cuma ceroboh aja pas bibi sudah gantiin lampunya, kursinya goyang jadi bibi hilang keseimbangan, ya jatuh deh," jawab bi Mur yang biasa-biasa saja.


         "Tapikan Titha khawatir sama bibik," gumam Titha pada bi Mur.


         "Assalamualaikum," bunyi suara seorang laki-laki yang mengetuk pintu rumah bi Mur.


Titha yang mendengar ada orang diluar lantas pergi ke sumber suara untuk membukakan pintu.


         "Bibik tunggu disini ya, Titha bukain pintu dulu, kayaknya ada orang manggil di luar," ujar Titha pada bi Mur dan bergegas ke pintu depan.


         "Iyah," jawab bi Mur.


         "Assalamualaikum," suara ketukan pintu itu kembali terdengar dari luar pintu.


         "Iya, sebentar," ucap Titha sambil memutar anak kunci yang mengunci pintu tersebut.


         "Hai, Titha. Bagaimana keadaan bibik?" Tanya salah seorang yang dikenal oleh Titha.


         "Kahfi?, Bibik Alhamdulillah udah mendingan," jawab Titha setelah matanya terbelalak melihat di Kahfi.


         "Alhamdulillah kalau gitu, ini aku bawa anak-anak juga, gak papakan, sekalian mau jenguk si bibiku," ucap Kahfi di akhiri dengan senyum kecil yang di lempar ke arah Titha.


         "Gak papa, ayo masuk," ajak Titha mempersilahkan Kahfi dan rombongan anak-anak pengajian masuk ke dalam rumah.


Merekapun masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu, sekilas Titha serasa mengenal salah satu dari anak yang di ajak oleh Kahfi, Titha pun menghampiri anak itu.


         "Azfar?" Ucap Titha yang ragu-ragu sambil memanggil salah satu anak-anak yang bersama Kahfi.


         "Eh, buk Titha, apa kabar buk," ucap si Azfar pada Titha yang tak lain adalah gurunya juga di sekolah.


         "Kamu belajar ngaji sama si Kahfi juga?" Tanya Titha pada muridnya si Azfar.


         "Iya buk, ustadz Kahfi juga baik sama kami, saya ingin jadi kayak ustadz suatu hari nanti, bisa ngajarin orang yang gak bisa ngaji jadi bisa," ujar si Azfar menjawab Titha.


Titha terkesima dengan apa yang dikatakan oleh anak didiknya itu, sepintas pertanyaan Kahfi menyadarkan Titha dari lamunannya.


         "Tha.. bibik mana?" Tanya Kahfi menyadarkan Titha.


         "Ah? Bibik, bibik ada di kamarnya," jawab Titha.


Kahfi dan Titha pun pergi ke kamar bi Mur serta anak-anak pengajian, sepintas disaat Kahfi dan Titha menuju ke kamar bi Mur,tepatnya di lorong sebelum pintu masuk ke kamar bi Mur, karena mereka berjalan sejajar di lorong yang besarnya pas untuk dua orang dewasa, tangan mereka sempat bersentuhan secara tak sengaja, dan itu di sadari oleh mereka, Titha yang merasakan gesekan tangan Kahfi dengan tangannya dengan spontan menjauhkan tangannya setelah bersentuhan oleh tangan Kahfi, Titha salah tingkah dan wajahnya memerah. Sedangkan si Kahfi juga sedikit salah tingkah dan merasa malu walau tak diperlihatkan di depan Titha.


         "Maaf tha," ucap Kahfi setelah tangan mereka bergesekan.


         "Iyah," jawab Titha dengan malu tanpa melihat Kahfi.


Akhirnya mereka sampai tepat di depan pintu kamarnya bi Mur, Titha pun masuk duluan membukakan pintu.


         "Assalamualaikum, ayo masuk," ucap Titha sambil membukakan pintu kamarnya bi Mur.


         "Assalamualaikum, bik.." Ucap salam Kahfi dan anak-anak.


         "Haa.. kalian, wah rame ya," ucap bi Mur yang senang dengan kehadiran Kahfi dan anak-anak pengajian.


Bi Mur sangat senang di jenguk oleh Kahfi dan anak-anak pengajian, bi Mur menyambut mereka dengan hangat.


         "Gimana bik? Udah mendingan?" Tanya Kahfi pada bi Mur.


         "Alhamdulillah, sudah nak Kahfi, makasih ya, udah jengukin bibi," ucap bi Mur menjawab Kahfi.


         "Ah bibik kayak gak biasa aja," gumam Kahfi menjawab bi Mur.


         "Tha, bikinin minum gih buat si Kahfi, sekalian cemilan buat anak-anak," ucap bi Mur pada Titha.


         "Ah ya bik, bentar Titha ambilin dulu," saut Titha.


         "Eh gak usah bik, tha jangan tha, gak usah," sergah Kahfi menahan Titha yang sudah berdiri.


         "Eh kenapa.." desah bi Mur menanyakan pada Kahfi.


         "Kami baru aja sudah makan bareng di masjid, itu buk Minah tadi bagiin lemang ke kami, katanya sih dalam rangka menyambut bulan puasa, jadi buk Minah bikin lemang banyak," ujar Kahfi pada bi Mur dan Titha.


         "Lemang?" Ucap Titha bingung.


         "Hhmmm, kamu jelasin gih fii sama Titha, dia gak tahu apa itu lemang," ucap bi Mur pada Kahfi.


         "Iih.. bibik," saut Titha dengan sikap malunya yang bikin gemes.


         "Jadi Titha kagak tahu lemang, hahaha, masa gak tahu sih, lemang itu terbuat dari buluh atau bambu yang besarnya lebih kurang sebesar lengan orang dewasa, terus buluh itu di isiin ama beras ketan, terus di masukin air santan, lalu di bakar deh di bara api," ujar Kahfi pada Titha.


         "Enaklah, kamu mau? Di rumah aku masih ada dua, kalo mau nanti sehabis Isa aku anter yah," ucap Kahfi pada Titha.


         "Boleh?" Tanya Titha dengan rada-rada malu.


         "Kok gitu, kayak orang baru kenal aja," jawab Kahfi.


         "Ciee.. ustadz asyik sama buk Titha, cieee.." canda Azfar yang di ikuti oleh anak-anak lainnya.


Mendengar dan melihat anak-anak mulai heboh, Titha dan Kahfi jadi salah tingkah dan malu-malu entah apa, sedangkan bi Mur yang hanya menyaksikan canda dan gurauan yang romantis itu terkikih tawa dan senang dengan suasana yang langka itu walau sekilas.


         "Ah? Aku lupa mau jemur sepatu," ucap Titha yang sudah salah tingkah dan melarikan diri dari hadapan si Kahfi karena anak-anak yang heboh tadi.


         "Jemur sepatu? Malam-malam gini?" Gumam Kahfi bicara sendiri.


         "Hahaha.. kalian ada-ada saja, itu buk guru kalian jadi malukan," saut bi Mur sambil tertawa kecil pada anak-anak.


         "Kalian gak boleh gitu, besok setor ayat sama ustadz untuk semua surat di juz tiga puluh," ujar Kahfi membalas kejahilan anak-anak muridnya.


         "Aaaallaaaaaa... Ustadz..." Desah para anak-anak yang tak terima dengan tugas yang diberikan oleh Kahfi.


Malam itu suasananya sangat damai dan harmonis, bahkan bi Mur yang sakit bisa tertawa lepas dengan tingkah laku dari anak-anak pengajian, Titha yang sudah mulai akrab dengan si Kahfi, bulan ramadhan yang sebentar lagi akan tiba, memikirkannya saja sudah membuat bi Mur tersenyum bahagia.


*Setelah sholat isya.


         "Assalamualaikum," ucap Kahfi sambil mengetuk pintu rumah bi Mur, dengan sepotong lemang yang di pegangnya.


         "Walaikumussalam, bentar.." Jawab Titha dari dalam dan bergegas membukakan pintu.


         "Nih, lemang yang aku bilang tadi," ucap Kahfi pada Titha yang sudah membukakan pintu.


         "Ah makasih, masuk," ucap Titha mempersilahkan Kahfi masuk.


Kahfi pun masuk dan bertamu untuk kedua kalinya setelah bersama anak-anak tadi.


         "Duduk, mau minum apa?" Tanya Titha pada Kahfi.


         "Ah gak usah, tadi aja udah ngerepotin, bibik udah tidur?" Tanya Kahfi pada Titha.


         "Kayaknya belum, bentar ya aku panggilin," ucap Titha dan pergi menuju kamarnya bi Mur.


Di kamar, bi Mur sedang merapikan mukenanya sehabis sholat, setelah ia merapikan mukenanya, bi Mur pergi ke dekat pintu kamarnya karena mendengar ada tamu, pas Titha juga ada dibalik pintu kamarnya bi Mur.


         "Bik.." Ucap Titha sambil membuka pintu kamarnya bi Mur.


         "Astagfirullah! Kamu ini gak bisa ketuk pintu dulu apa," gumam bi Mur yang terkejut karena melihat Titha secara tiba-tiba.


         "Ah maaf bik, Titha gak tahu kalau bibik ada di balik pintu, hahaha," saut Titha dengan gurauannya.


         "Kamu ini, ada apa kamu nyari bibi?" Tanya bi Mur pada Titha.


         "Itu ada tamu ngasih lemang," ucap Titha pada bibinya.


         "Lemang? Si Kahfi ya?" Tanya bi Mur lagi.


         "Iyah," jawab Titha simpel.


Titha dan bi mur pun ke ruang tamu menghampiri si Kahfi yang sudah cukup lama menunggu.


         "Weehh... Ada nak Kahfi," ucap bi Mur sambil menyapa Kahfi.


         "Eh bibik, maaf bik saya ganggu bibik lagi," ucap Kahfi pada bi Mur.


          "Ah ganggu apa, bibi malah seneng kalo rumah rame terus, apa lagi kayak tadi pas kamu bawa anak-anak," saut bi Mur dan duduk menemani Kahfi.


Titha ikut duduk bersama bibinya dan Kahfi, mereka pun mengobrol seperti biasa orang bertamu, dan sampailah di saat bi Mur membuka percakapan yang menjadi awal mula percikan cinta antara Titha dan Kahfi.


         "Nak Kahfi bisa bersepeda kan?" Tanya bi Mur pada Kahfi.


         "Alhamdulillah, bisa bik, emang kenapa bik?" Tanya Kahfi lagi pada bi Mur.


         "Itu di gudang ada sepedanya bapak, masih bagus, dari pada itu sepeda karatan di gudang mending buat Titha pake ke sekolah," ujar bi Mur pada Kahfi.


Si Titha hanya diam mendengarkan bibinya bicara.


         "Wah bagus tuh bik, lagian sekolahnya Titha kan lumayan jauh," saut Kahfi.


         "Tapi bik, aku kan gak bisa bersepeda," desah Titha menanggapi perkataan dari bibinya itu.


         "Maka dari itu, bibi minta tolong si Kahfi buat ngajarin kamu, gimana nak Kahfi, mau kan, kamu ngajarin si Titha buat bersepeda?" Tanya bi Mur pada si Kahfi.


         "Tapi.. saya gak bisa bilang iya kalau si Tithanya belum setuju," saut Kahfi menjawab pertanyaan yang di ajukan bi Mur.


Sesaat dalam hati Titha ia merasa senang namun malu untuk belajar sepeda dengan Kahfi, entah perasaan apa ini, Titha merasa senang bila belajar bersepeda bersama Kahfi namun disisi lain ia malu untuk mengatakan iya.