Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 10



"Bug! Bug! Bugg!" Suara langkah kaki tadi berganti dengan suara orang yang sedang mendobrak pintu yang ada di belakang Salman, Salman sudah tak bisa kemana-mana lagi, ia berada di lantai paling tinggi di rumah itu dan di kelilingi oleh gantungan mayat manusia yang sudah robek dan tak berbentuk lagi, kaki Salman seolah terpaku di tempat ia berpijak, tangannya seolah lumpuh tak bisa di gerakan, dan matanya seolah dimasukkan sesendok cabe rawit tak bisa menutup karena kepanasan.


Pintu yang tepat berada di hadapan Salman kini sedang di dobrak oleh makhluk yang sepertinya sangat besar dan kuat, semakin lama semakin keras dentuman pukulannya ke arah pintu itu, Salman semakin menggigil dan pucat, suara dentuman dari balik pintu itu semakin keras dan menjadi-jadi, hingga pintupun.


         "Dduuaaarr!!!" Pintu itu terbuka.


         "Aaaaa..!!!" Salman meraung ketakutannya yang tak dapat ia tahan lagi.


         "Mas.. mas.. hey..!" Sergah pak supir yang menepuk pundak Salman.


Salman perlahan membuka matanya dan ia sangat terkejut mendapati bahwa ia ada di dalam mobil yang ia tumpangi tadi.


         "Loh? Kok saya masih disini? Bukannya-" Salman bergumam kebingungan.


         "Mas mimpi buruk ya?" Tanya pak supir yang melihat Salman terhengah-hengah.


         "Mimpi? Ah.. ternyata hanya mimpi," gumam Salman yang merasa sudah baikan.


         "Mas ada-ada saja, mimpi buruk di siang bolong begini," saut pak supir.


         "Pak, kalau boleh tahu kita ada dimana ya sekarang?" Tanya Salman pada pak supir.


         "Kita baru saja tiba mas," jawab pak supir.


         "Tiba? Tiba mana?" Tanya Salman lagi yang tak puas dengan jawaban dari pak supir.


         "Kerinci mas," jawab pak supir dengan singkat.


Salman kembali memasukkan kepalanya kedalam mobil, ia tersenyum kecil dengan penuh khayal di raut wajahnya.


         "Titha, tunggu aku, aku pasti akan membuatmu menerimaku," desah Salman dalam hatinya.


*Di SD 34 desa Betung kuning.


         "Selamat datang buk Titha.." Saut buk Ning dan memberikan kalungan bunga pada Titha.


Sekilas di pikiran Titha. Ini diluar perkiraannya, ternyata pak Akmal dan buk Ning orangnya asyik dan menyenangkan, ini tidak akan membuat Titha bosan mengajar disini, gumam Titha dalam hatinya.


Mereka pun duduk bersama di ruang yang sederhana itu, berbagi cerita dan pengalaman, Titha tak menyangka ia akan akrab secepat ini dengan guru-guru yang lain, ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang ada di depannya saat ini. Namun terganjal dalam hati Titha yang merasa aneh, karena hanya mereka berempat saja guru yang ada di sekolah itu.


         "Maaf, kalau boleh saya tahu guru-guru yang lain dimana ya?" Tanya Titha pada semua orang yang duduk bersamanya.


Mendengar pertanyaan dari Titha, buk Tika, buk Ning, dan pak Akmal terdiam sejenak dan saling melihat. Pak Akmal menghela nafas panjang.


         "Maaf nak Titha, mungkin kamu belum tahu keadaan dan situasi sekolah ini secara menyeluruh, nah saya akan jelaskan pada buk Titha," saut pak Akmal.


Buk Tika dan buk Ning hanya diam sambil menyeruput tehnya.


         "Jelasin apa pak?" Tanya Titha yang semakin penasaran.


         "Jadi bapak dan ibuk mengabdi disini?" Tanya Titha kembali.


         "Bagi saya dan pak Akmal, ini adalah suatu kewajiban dan keharusan kita sebagai guru, kami berdua boleh dikatakan sudah pantas untuk pensiun, namun kami kasihan dengan situasi dan kondisi anak-anak disini, mereka sangat ingin belajar dan sukses, mereka tak jarang pernah memberi kami dengan hasil kebun dan ternak mereka sebagai ganti dari uang SPP, dengan umur saya yang sudah 49 tahun ini dan pak Akmal yang sudah genap berusia 50 tahun, kami khawatir tak ada yang mau mengajar di sekolah ini setelah kami pensiun, dan beruntung kami di bantu oleh buk Ning yang setia dan mau menetap disini bersama kami," saut buk Tika menjawab pertanyaan dari Titha.


         "Walaupun saya lebih muda dari buk Tika dan pak Akmal, saya sejak pertama kali datang ke sekolah ini sangat sadar akan situasi dan kondisi yang ada disini, jadi saya memutuskan untuk tidak pindah dan memilih setia pada sekolah ini, walaupun dulu saya juga berpikiran untuk meninggalkan sekolah ini karena tak ada alat untuk berkomunikasi, hanya bisa pakai surat dan itupun paling cepat sampainya sekitar satu bulanan lebih," saut buk Ning sambil mengaduk air teh di gelasnya.


         "Jadi selama ini, hanya bapak dan ibuk bertiga ini yang mengajar di sekolah ini?" Tanya Titha yang semakin penasaran dan ingin tahu terhadap sekolah tempat ia akan mengajar.


         "Iya.." Jawab jawab buk Ning, buk Tika dan pak Akmal mengangguk.


Titha termenung dan merasa terhormat bisa mengajar dengan orang-orang hebat yang ada di depannya saat ini.


         "Yang kedua buk Titha-" ucap pak Akmal yang melanjutkan penjelasannya dan menyadarkan Titha dari lamunannya.


         "Ya pak!" saut Titha dengan sigap.


         "Selain geografis sekolah ini yang jauh dari pemukiman, kamu juga harus sabar dan banyak tersenyum, karena tak banyak murid-murid disini yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka di kebun dan di tengah sawah, ya itupun  untuk membantu orangtuanya, kemudian ada juga yang sudah harus menghidupi adiknya dan menjadi tulang punggung keluarga, karena di tinggal orang tuanya sedari kecil dan hidup bersama nenek dan kakek mereka yang sudah tua renta. Makanya saya menganjurkan pada buk Titha untuk lebih bersabar dan banyak tersenyum pada semua murid yang ada di sini," ujar pak Akmal.


         "Kasian mereka, padahal masih kecil tapi sudah memikul beban seberat itu," saut Titha yang terlena dan tersesak mendengar cerita dari pak Akmal.


         "Dan yang ketiga buk Titha, kita sebagai guru tetap disini, harus menanamkan ilmu agama pada semua murid, agar semua mereka menjadi murid yang faham akan agama juga," saut buk Ning diakhiri senyum kecil darinya.


         "Dan untungnya, kami sudah tahu siapa yang akan membuat para murid  lebih pintar dan kuat dalam beriman, yaitu kamu buk Titha, dan pas sekali kamu memang di bidang agama," saut  pak Akmal dan menyeruput tehnya.


Titha sepintas terpikir dengan perusahannya yang sudah lama fakum, dari pada dibiarkan Titha berniat menjual perusahan itu untuk membantu sekolah yang sudah tua dan seadanya ini.


         "Inshaallah saya akan bekerja keras untuk itu pak," jawab Titha menanggapi sautan dari pak Akmal.


         "Tok tok!" Suara ketukan pintu.


Titha dan ketiga guru itupun mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.


         "Assalamualaikum buk, kita gak belajar hari ini buk?" Tanya dari seorang murid laki-laki dengan wajah polos dan penuh keringat karena habis bermain.


Mendengar pertanyaan dari murid laki-laki itu, semua guru termasuk Titha tersenyum dilanjutkan dengan tertawa karena pertanyaan dari murid itu. Titha sangat merasa bahagia dan penuh kedamaian di hatinya, melihat kepolosan dan tingkah laku dari semua murid di sekolah itu, Titha kembali mendapatkan pelajaran yang berharga.


         "Siapa bilang kita gak belajar, yok kita baris, upacara dulu," saut pak Akmal yang berdiri dan mengarahkan  anak-anak ke lapangan.


         "Ayok buk kita upacara dulu," saut buk Ning mengajak buk Tika dan Titha.


*Di pekarangan sekolah.


         "Kepada! Sang merah putih, hormaaatt grak!" Suara pemimpin upacara yang nafasnya tak sampai namun tegas.


Anak-anak pun mulai mengangkat tangan memberi hormat, begitupun para guru, lantunan lagu Indonesia raya mulai dinyanyikan oleh anak-anak. Terlihatlah di pertengahan tiang, bendera kebanggaan Indonesia itu diterpa oleh angin yang membuat ia berkibar dengan gagah di udara.


Hari itu, di SDN no 34 desa Betung kuning, dengan suasana yang tenang dan tentram, dibalut dengan kesederhanaan dalam pelaksanaan upacara, Titha beserta guru-guru yang lain, merasa bersyukur dan bangga di bawah kibaran sang merah putih, melihat anak-anak yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, Titha Pramulya, untuk pertama kalinya, meneteskan air matanya.