
*Sepulang dari sholat tarawih.
Semua orang keluar dari masjid yang sederhana dan bernuansa klasik itu. Hingga Titha muncul dari balik pintu masjid dengan mukena yang masih terpasang, berjalan pelan meninggalkan area masjid.
Namun, disaat Titha sedang berjalan melewati sebuah jembatan yang gelap, ia tampak ragu dan takut, dan disaat itu pula Kahfi tiba-tiba muncul dari belakang Titha dan menghampirinya.
"Assalamualaikum," ucap Kahfi menyapa Titha.
"Walaikumussalam, Kahfi?" Saut Titha.
"Kenapa? Takut?" Tanya Kahfi pada Titha dengan raut wajah sedikit meledek.
"Huh? Enggak, enggak takut," ucap Titha tanpa melihat ke arah Kahfi.
"Udah ayuk, aku temenin," ucap Kahfi mengajak Titha.
"Tapi rumah Kitakan beda arah, terus gak enak diliat orang, kalau kita jalan cuma berdua," ucap Titha pada Kahfi.
"Jadi kamu berani jalan sendri?" Tanya Kahfi menggoda Titha.
"Hmm-"
"Udahlah yuk, gak papa, aku juga gak bakal ngapa-ngapain kamu kok," ucap Kahfi.
"Ya udah deh, makasih ya," ucap Titha dengan malu-malu.
"Sama-sama," jawab Kahfi sambil melempar senyum kecil ke arah wanita yang ada di sebelahnya.
Mereka pun berjalan bersama di tengah jembatan kayu yang sudah di tumbuhi lumut hijau, mereka hening tak ada suara selain bunyi katak dan percikan air sungai yang ada dibawah jembatan yang sedang mereka lalui.
Dan tepat kaki mereka melangkah di tengah-tengah jembatan, Kahfi berhenti dan berkata.
"Titha," panggilnya sambil melihat kedua ujung kakinya.
"Iya?" Jawab Titha dan ikut berhenti melangkah.
Mereka untuk sejenak hening di tengah-tengah jembatan tua yang berlumut, tapi rembulan menyinari mereka dengan cahayanya yang terang.
Kemudian Kahfi mulai membuka mulutnya dan berkata.
"Maaf Tha, bisakah aku minta tolong pada mu?" Ucap Kahfi pada Titha.
"Minta tolong?, Minta tolong apa?" Tanya Titha menjawab Kahfi.
"Kamu biasa sholat subuh dimana?" Tanya Kahfi yang membuat Titha sedikit bingung.
"Huh? Di rumah, ada apa emangnya Fii?" Tanya Titha pada Kahfi dengan sedikit tersenyum ke arahnya.
"Aku cuma mau minta tolong, bisakah kita bertemu sebelum sholat subuh?, sekalian kita sholat subuhnya di masjid," ucap Kahfi pada Titha dengan raut wajah serius tapi tenang.
"Boleh, kebetulan aku juga mau sholat subuhnya di masjid nanti-"
Mendengar jawaban Titha Kahfi tersenyum dan berkata.
"Maaf kalau aku ngerepotin kamu Tha," ucap Kahfi yang merasa sedikit tak enak pada Titha.
"Gak papa kok, ngomong-ngomong ketemunya di masjid?" Tanya Titha pada Kahfi.
"Huh? Aaa disini aja, gimana?" Ucap Kahfi.
"Disini? Di jembatan ini?" Ucap Titha.
"Iya, tapi kalau kamu gak mau kita bisa pindah aja ke masjid," ucap Kahfi.
"Gak, bukan gitu, oke, disini aja," ucap Titha sambil menatap Kahfi dengan tatapan yang berbinar.
"Ya udah, mari aku antar kamu pulang," ucap Kahfi pada Titha dengan tersenyum kecil.
*Sahur.
Titha nampak baru saja selesai makan sahur bersama ibu,bibik, juga pak Harto. Titha tengah membantu bibinya membersihkan dan mencuci piring setelah makan sahur. Dan setelah ia menyelesaikan tugasnya, Titha pun pamit untuk pergi sholat subuh ke masjid dan menepati janjinya dengan Kahfi.
"Buk.. bik.. Titha pamit dulu ya, mau sholat subuh di masjid," ucap Titha pada ibu dan bi Mur.
"Tumben? Serius kamu mau sholat di masjid," tanya ibunya ragu.
"Iya buk," jawab Titha simpel.
"Ya udah hati-hati ya," ucap ibunya.
Titha pun langsung menyalami ibunya dan berlalu pergi.
*Di jembatan tempat yang sudah di janjikan Titha dan Kahfi
Kahfi sudah berada di sana duluan sebelum Titha datang. Kahfi nampak gelisah dan mondar mandir sambil berbicara sendiri. Dan ketika Kahfi hendak berbalik lagi dia tersentak dan hampir menabrak seseorang yang sedang ia tunggu-tunggu.
"Titha!?" Ucap Kahfi yang terkejut dengan kehadiran Titha yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Assalamualaikum," ucap Titha pada Kahfi dengan senyuman kecil yang hampir tak terlihat di wajahnya pada Kahfi.
"Huh? Iya, Walaikumussalam," saut Kahfi yang terbata-bata salah tingkah.
"Kamu kenapa? Mondar-mandir pas aku lihat?" Tanya Titha.
"Hah, enggak, enggak papa," jawab Kahfi.
Mereka pun diam dan memandangi air sungai yang tengah mengalir itu.
Di atas jembatan kayu yang sudah di tumbuhi oleh lumut hijau, terdengar sebuah suara langkah kaki yang berhenti tepat di tengah jembatan, dengan suasana yang tenang dan suara percikan air sungai yang mengalir di bawah jembatan, Kahfi mulai membuka apa yang telah lama di kekangnya,
"Maaf memintamu kesini pagi-pagi buta begini, tapi ada hal yang ingin aku katakan padamu sejak pertama kali kita bertemu," ucap Kahfi serius dengan tatapan tajam kearah Titha.
Melihat Kahfi yang jarang serius dan tegang seperti itu, Titha terbawa suasana, ia pun menanggapi ucapan si Kahfi dengan serius pula.
"Kenapa tidak kamu katakan dari dulu?" Tanya Titha pada Kahfi dengan ekspresi bingung.
"Kalau syari'at Islam membolehkan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya bersentuhan, mungkin akulah laki-laki pertama yang akan memelukmu dengan erat," ucap Kahfi dengan mata yang berbinar-binar sambil menatap Titha.
Titha tersentak mendengar apa yang keluar dari mulut Kahfi, ia tak percaya, laki-laki yang selama ini ia cintai, telah menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya, hati Titha mulai berontak semakin berdegup kencang, ia merasa campur raduk, ia senang ketika mendengar laki-laki yang dicintainya dalam diam selama ini juga mencintainya seperti ia padanya, namun apa yang di katakan oleh Kahfi memang benar hakikatnya, cinta mereka masih terhalang dinding yang sangat besar, dan dinding itu adalah syari'at.
Lalu Titha perlahan membuka mulutnya lalu berkata.
"Maksud kamu.. kamu men-"
"Iya Tha, aku mencintaimu," sergah Kahfi memotong Titha.
Titha pun tersentak dan terdiam, ia seakan di hujani oleh rasa kaku dan bahagia yang luar biasa besar.
Mereka berdua sempat terdiam untuk beberapa saat, namun Titha kembali membuka pembicaraan yang terputus tadi dengan tenang dan senyuman.
"Kahfi!" Panggilnya yang membuat Kahfi terbelalak terkejut.
"Huh?! Iya?" Jawab Kahfi memandang Titha dengan penuh harap.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada mu," ucap Titha yang tambah membuat Kahfi berdegup hingga terasa hatinya seperti akan meledak.
"Apa itu Titha, katakan saja, aku akan mendengarkan," ucap Kahfi pelan dengan melempar senyumannya pada Titha.
Titha mendekatkan dirinya selangkah lebih dekat dari Kahfi lalu berkata sambil menatap Kahfi.
"Jika memang kamu mencintaiku, maka halalkan lah aku," ucap Titha dengan tatapan serius dan di akhiri dengan senyuman kecil di wajahnya.