Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 18



Bi Mur melihat Kahfi dari jendela rumahnya, ia melihat si Kahfi yang terus memandangi kertas yang di berikannya yang tak lain kertas itu berisi alamat rumah Titha di Lampung.


Bi Mur menghela nafas panjang, "Hahh.. akankah dia yang menciptakan cinta dan mempertemukan kalian membuat kalian bersatu, hanya dialah yang tahu," gumam bi Mur dalam hatinya sambil memandangi Kahfi yang tengah berjalan pulang dari jendelanya.


*Malam harinya di rumah Kahfi.


Kahfi nampak baru saja selesai sholat dan merapikan sejadahnya, setelah ia merapikan sejadahnya, Kahfi pun keluar dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya di ruang tamu yang juga baru selesai sholat, belum lama Kahfi tiba di ruang tamu, ibunya sudah menyuruhnya untuk menyiapkan makan malam.


         "Fii, tolong ibuk siapin makan malam di dapur," ucap ibunya.


         "Iya buk," saut Kahfi menjawab ibunya.


Kahfi pun pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam bersama kedua orang tuanya, Kahfi membuka lemarinya yang terbuat dari kayu dan melihat hanya ada sambal cabe goreng tanpa lauk dan lalapan, tak lama Kahfi tengah menyiapkan makan malam, akhirnya ibu dan bapaknya menyusul ke dapur dan duduk di kursi makan, setelah semuanya sudah siap, merekapun mulai makan dengan berdoa, disaat mereka makan malam, ibunya Kahfi sempat bertanya pada Kahfi.


         "Tumben kamu gak sholat di masjid malam ini?" Ucap ibunya Kahfi tanpa melihat ke arah Kahfi.


         "Ya gak apa-apa juga kan, sekali-kali, soalnya dia aja yang ngisi itu toa masjid, berilah kesempatan pada yang lain," saut ayahnya Kahfi dengan mulut yang masih mengunyah.


         "Iih bapak, kalau mau ngomong itu abisin dulu makannya," saut ibunya Kahfi.


Sementara itu, Kahfi hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya itu, namun, dibenaknya, masih memikirkan si Titha yang bersama Salman, Kahfi khawatir dengan Titha, apa lagi yang bersamanya sekarang adalah si Salman, orang yang tidak disukainya, pikir Kahfi dalam lamunannya.


Melihat anak semata wayangnya yang hanya melamun dan tidak menyentuh makanannya sedikit pun, ibunya Kahfi berkata padanya.


         "Heh! Kok malah ngelamun, ada apa? Kalau kamu udah ngelamun pasti ada hal penting nih biasanya, kamu bilang aja, mana tahu ibuk dan bapak bisa bantuin," ujar ibunya menyadarkan Kahfi dari lamunannya.


         "Iya, bilang aja, bapak pasti bantuin apapun masalahmu," saut bapaknya pula dengan mulut yang masih penuh juga.


Melihat kedua orang tuanya sangat mempedulikan dirinya, Kahfi pun memberanikan dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya, ia mulai dengan menghela nafas panjang dan perlahan membuka mulutnya.


         "Jadi gini, pak buk, bapak dan ibuk ingatkan pas Kahfi bilang Kahfi sedang menyukai seseorang," ucap Kahfi dengan pelan dan tenang.


         "Ingat, ingat-ingat," saut kedua orang tuanya.


         "Dia sekarang udah pergi dari sini, dia pergi ke Lampung," ucap Kahfi.


         "Lah kok pergi, jadi kamu ditinggalnya begitu saja?" Saut bapaknya.


         "Siapa sih orang yang kamu maksud ini? Ibuk jadi pengen liat wajahnya," saut ibunya pula.


         "Jadi gini pak, buk, dia pergi ke Lampung bukan karena ninggalin aku, tapi ibunya masuk rumah sakit katanya," ujar Kahfi menjawab kedua orang tuanya dengan nada lesu.


         "Emang dia udah tahu kalau kamu suka sama dia?" Tanya ibunya pada Kahfi.


         "Karena itu buk, ternyata dia juga suka sama aku, aku pun tidak menyangka," saut Kahfi menjawab ibunya.


         "Dari mana kamu tahu kalau dia juga suka sama kamu?" Tanya ayahnya pula.


         "Bibinya yang bilang ke aku pak, katanya dialah yang lebih dulu suka padaku, bisa di bilang kami saling menyembunyikan perasaan kami," ucap Kahfi menjawab bapaknya.


         "Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Tanya bapaknya kembali.


         "Karena itu, aku mau minta izin sama bapak dan ibuk buat nyusul dia ke Lampung, soalnya aku khawatir dengan orang yang bersamanya sekarang," ucap Kahfi menjawab bapaknya dengan nada serius dan penuh keyakinan.


Mendengar anaknya ingin ke Lampung, lantas ibunya Kahfi langsung berkomentar.


         "Apa?! Ke Lampung?" Sergah ibunya Kahfi yang terkesan berat untuk membolehkan Kahfi untuk pergi.


         "Kamu tahu kalau kalian itu bukan muhrim," ucap bapaknya pada Kahfi dengan nada tegas dan serius.


         "Karena itu, pak, buk, aku ingin mengatakan apa yang telah lama terkekang di hatiku, dan aku ingin menghalalkannya, aku tahu aku dan dia tidaklah pantas karena dia dari orang yang berkepunyaan, sedang kita hanya orang yang penuh dengan kekurangan, jadi izinkan aku untuk menemuinya, walaupun ini adalah pertemuan terakhir kami," ujar Kahfi pada kedua orang tuanya dengan raut wajah serius dan nada bicara yang yakin.


Kedua orang tuanya sempat terdiam sesaat, ibunya Kahfi nampak belum setuju dengan keputusan yang di pilih oleh anak semata wayangnya itu, ibunya Kahfi berniat tidak membolehkan, namun sebelum bibir ibunya Kahfi terangkat, bapaknya sudah duluan bicara.


         "Kalau begitu pergilah, yakinkan dia, katakan semua yang ada di hatimu padanya," ucap bapaknya pada Kahfi.


Mendengar ucapan dari bapaknya itu, Kahfi sangat tak percaya, Kahfi sangat senang dan gembira mendengar ucapan bapaknya yang masih untuk pergi, namun ibunya agak berat menerima keputusan dari suaminya itu.


         "Biarkan aja buk, Kahfi udah besar, dia seharusnya juga sudah pantas untuk menikah, jadi biarkan dia mencoba mengejar cinta sejatinya," saut bapaknya Kahfi menjawab istrinya.


Lantas ibunya Kahfi tak bisa berkata-kata lagi, mau tak mau ia harus menuruti dan menerima keputusan yang telah suaminya ambil.


Si Kahfi pun sangat senang dan bahagia, ia lantas menghampiri bapaknya dan menyalaminya.


         "Terimakasih pak, bapak sudah mengizinkan aku dan mendukung keputusan yang telah aku pilih ini," ucap Kahfi pada bapaknya.


         "Ah sudahlah, bapak dulu kan juga pernah muda seperti kamu ini, jadi bapak faham betul apa yang kamu rasakan, gak seperti ibumu itu, yang tidak mengerti perasaan anaknya," saut bapaknya Kahfi yang melontarkan sindiran pada istrinya sambil bergurau.


Mendengar perkataan dari suaminya yang sedikit pedas itu, lantas ibunya Kahfi tak tinggal diam dan segera membalas serangan dari suaminya tersebut.


         "Eh kok bapak malah nyalahin ibuk, asal bapak tahu aja ya, kalau gak ada ibuk si Kahfi gak bakalan lahir," ucap ibunya Kahfi dengan lantang.


         "Buset dah buk, bapak bilangnya masalah hati, perasaan, kok malah kemana-mana," saut bapaknya Kahfi dengan tenang.


         "Terserah, yang penting sekarang, kalau ntu anak kagak berhasil bawa pulang ntu calon menantu kita, bapak kudu tanggung jawab, aku gak mau tahu pokoknya," ucap ibunya Kahfi dengan cepat dan agak ngegas.


Kahfi terdiam sambil melihat ibunya, rasanya ada yang aneh dengan apa yang dikatakan oleh ibunya barusan, "menantu!, Bentar-bentar, barusan ibuk bilang apa?" Tanya Kahfi pada ibunya dengan raut wajah penasaran.


         "Ah kamu pura-pura gak ngerti, ibuk bilang.. kalau kamu kagak bisa bawa ntu calon menantunya, bapak yang kudu tanggung jawab," saut bapaknya dengan pelan tanpa melihat ke arah Kahfi.


Mendengar perkataan dari bapaknya itu, dengan ada kata "menantu" di dalamnya, membuat Kahfi faham maksud dari ibunya, berarti ibunya juga setuju dengan keputusannya, lantas Kahfi dengan girang dan wajah tersenyum menghampiri ibunya lalu memeluknya erat.


         "Makasih buk... Kahfi janji bakal bawa pulang ntu calon menantu ibuk, makasih banyak buk," ucap Kahfi dengan pada ibunya dengan pelukan hangat.


         "Jadi kapan kamu berangkatnya? Tiga hari lagi udah mau puasa loh," saut bapaknya Kahfi tanpa melirik ke arah istri dan anaknya tersebut.


Mendengar pertanyaan dari bapaknya, Kahfi melepaskan pelukannya dari ibunya, dan beralih menghampiri bapaknya dan duduk tepat di depan bapaknya itu, Kahfi tidak langsung bicara setelah ia duduk di depan bapaknya tersebut, ia memasang wajah serius dengan mata yang terfokus tajam menatap bapaknya, lalu berkata.


         "Besok pak, besok aku berangkat," jawab Kahfi menanggapi pertanyaan dari bapaknya.


         "Pake apa? Mobil bus aja susah masuk ke desa kita ini," saut bapaknya Kahfi.


         "Insyaallah, aku naik mobilnya temen pak, kebetulan dia juga ada yang mau di urus di Lampung, jadi Kahfi sama dia berangkatnya," ujar Kahfi menjawab bapaknya.


         "Siapa? Temen mu itu?" Tanya bapaknya kembali.


         "Si Rahmat pak," jawab Kahfi singkat.


         "Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di sana, tapi kalau kamu sempat, singgahkan di rumah pamanmu disana," ujar bapaknya Kahfi pada Kahfi.


         "Paman? Memangnya aku punya paman pak?" Tanya Kahfi bingung.


         "Ya punya lah, namanya itu kalau gak salah Winarno Purwanto," ucap bapaknya.


         "Winarno? Aku gak pernah dengar tuh pak, memangnya ngapain paman di Lampung? Kerja?" Saut Kahfi dan kembali bertanya pada bapaknya.


         "Kamu akan tahu sendiri setelah kamu sampai di sana," jawab bapaknya simpel.


Pada malam itu, Kahfi sangat senang namun juga cemas, ia senang karena sudah mendapatkan izin dari orang tuanya, dan yang tidak ia sangka-sangka lagi, bukan hanya izin yang ia dapatkan, tapi ia juga sudah mendapatkan restu dari ibunya, walaupun itu tidak langsung, tapi disisi lain, Kahfi juga merasa cemas, ia mencemaskan Titha yang hanya berdua dengan Salman, walaupun ada supir bersama mereka.


Kahfi sangat tahu kebencian Titha terhadap Salman, entah apa yang sedang dia lakukan dalam perjalanannya sekarang.


*Di sisi lain.


Tepatnya di perbatasan Kerinci, nampak sebuah mobil berwarna biru maroon sedang terparkir di tepi jalan, dan didalamnya terdapat seorang perempuan dengan jilbab panjangnya, dan dua orang laki-laki yang salah satunya adalah supir dari mobil itu, mereka tak lain adalah si Titha dan Salman, serta supir mereka.


Nampak didalam mobil tersebut Titha dan Salman sedang bercekcok mulut entah apa sebabnya.


         "Jadi kamu berbohong! Kamu tahu aku sangat mencemaskan ibu aku, tapi ini semua bohong!" Ucap Titha dengan suara lantang diikuti dengan cucuran air matanya.


         "Tha, Titha aku bisa jelasin ke kamu, tii-" saut Salman yang langsung di potong oleh tamparan keras dari Titha yang tepat mendarat di pipi kirinya.


         "Plaakk!!".